Minggu, 15 Mei 2016

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 10.5 Chapter 3 : Ada Sebuah Deadline Yang Tidak Boleh Dilewatkan (3/3)


x x x





  Kami menyelesaikan wawancara dan sesi foto bersama Hayama. Setelah itu, kami mengunjungi klub yang lainnya, dan akhirnya menyelesaikan semua itu. Kami bahkan berhasil mendapatkan foto Hayama yang melambaikan tangannya ke depan, jadi tidak ada yang perlu mengkhawatirkan kualitas dari fotoku ini.

  Yuigahama dan Yukinoshita harusnya sudah selesai melakukan tugasnya mewawancarai klub para gadis juga. Pekerjaanku yang tersisa adalah mengambil foto dari Isshiki Iroha untuk sampul koran.

  Sesuai permintaan dari modelnya, Isshiki, kami menuju ke perpustakaan untuk mengambil foto.

  Kami berjalan menuju pintu masuk sekolah dengan memutari halaman, mengganti sepatu indoor, melewati Ruang Guru, dan akhirnya masuk ke perpustakaan.

  Memasuki jam pulang sekolah, perpustakaan sangat jarang didatangi oleh siswa. Sebuah momen yang damai terlihat di ruangan ini.

  “Jadi, kenapa kau memilih perpustakaan...?”

  Isshiki melihat ke semua sudut yang ada di perpustakaan untuk mencari tempat pengambilan gambar yang bagus. Ketika kutanya itu dari belakang, dia membalikkan badannya.

  “Bukankah perpustakaan itu, seperti, menampilkan kesan intelektual?”

  “Kata-katamu barusan terkesan tidak intelektual...”

  “Itu tidak masalah. Yang terpenting itu bagaimana mengesankan diriku di foto.”

  Dia memalingkan wajahnya dan mulai berjalan, lalu berhenti tiba-tiba. Akhirnya berhenti di sebuah spot, dia lalu duduk di meja dengan membelakangi rak buku. Lalu, dia mengambil cermin kecil dari sakunya dan mulai memperbaiki penampilannya.

  Rak buku yang tinggi agar mengesankan Isshiki bukan gadis yang pendek, dan punggung buku yang berwarna gelap membuat kulitnya terlihat lebih putih karena warna yang kontras. Cahaya di ruangan perpustakaan terlihat sangat cerah ketika mendapat cahaya matahari sore, ini juga memberikan kesan tertentu bagi pembaca koran, yaitu membuat kulit Isshiki terkesan hangat.

  Aku tidak tahu banyak soal teknik pencahayaan dalam pengambilan foto karena aku sendiri masih amatir, tapi kurasa tampilan Isshiki kali ini akan membuat sebuah gambar yang bagus. Itulah yang kauharapkan dari Isshiki Iroha; dia tahu bagaimana menampilkan pesonanya secara maksimal.

  “Baiklah, akan kuambil fotonya.” aku memberitahu Isshiki.

  Dia menjawabnya dengan menopang wajahnya dengan tangannya, sedang sikunya menempel ke meja.

  Matanya yang bercahaya dan bulu matanya yang panjang mengesankan sesuatu yang indah dan mengesampingkan keluguannya yang tercermin di senyumnya, bibirnya yang berwarna pink itu terlihat lembut.

  Meski lensa kameraku mengarah padanya, aku lupa untuk menekan shutternya. Setelah mendengar suara batuk entah dari siapa, kesadaranku mulai kembali.

  Aku lalu menekan shutternya beberapa kali dan merendahkan kameranya. Setelah memeriksa hasilnya, aku mencoba berbicara kepada Isshiki untuk mencari alasan dari sikapku yang melamun tadi.

  “Kau tampaknya sudah terbiasa dalam pemotretan ya...” kataku.

  Isshiki yang hendak mengganti posenya, berpikir sambil berkaca ke cermin kecil miliknya. Setelah menatap kaca tersebut, dia memiringkan kepalanya.

  “Benarkah? Bukankah normal jika kita setiap harinya mengambil foto?”

  “Tidak setiap waktu.”

  Kurasa hanya event-event tertentu saja seperti darmawisata atau event yang membuatku mengambil foto sebagai kenang-kenangan. Setidaknya, itulah yang terjadi dalam hidupku selama ini.

  Tapi Isshiki mengatakan sesuatu yang berbeda. Dia menutup cermin kecil itu dan menatapku. Meski tanpa adanya kamera yang mengarah padanya, dia tersenyum dengan lembut.

  “Kenangan itu adalah sesuatu yang penting, bukankah begitu?”

  Itu adalah sesuatu yang normal bagi Isshiki Iroha.

  Dia mengatakan bahkan pemandangan yang biasa-biasa saja merupakan kenangan yang harus diingat.

  “...Yeah, kurasa begitu.” aku menjawabnya dengan singkat.

  Akupun membetulkan kameraku kembali. Kalau dipikir-pikir, foto-foto ini akankah menjadi sebuah kenangan yang biasa-biasa saja, ataukah menjadi kenangan yang spesial? Aku memikirkan itu sambil menekan shutter kamera ini.









x x x









  Setelah mendapatkan mayoritas materinya, kami mulai mengerjakan artikelnya. Beberapa hari sudah berlalu sejak saat itu. Artikel promosi klub-klub dan tempat-tempat rekomendasi mayoritas sudah selesai. Desain halamannya terlihat bagus dan kami mulai mengisi artikel di tiap halamannya.

  Untuk artikel-artikelnya, hanya kurang penulisan judul dan penempatan header, selebihnya selesai. Komentar para ketua klub tentang sekolah ini di halaman akhir koran juga hampir selesai.

  Kemajuan pekerjaan kita sudah bagus. Harusnya menjadi koran yang bagus.

  Kita juga memastikan kalau artikel-artikel tentang klub dan tempat-tempat rekomendasi, juga wawancaranya menggunakan gaya bahasa ala Isshiki. Kami juga menerima konfirmasi dari setiap klub mengenai foto mereka juga. Kami bahkan sempat menjahili sampul depan yang bergambar Isshiki tersebut.

  Tapi. Tapi, meski begitu, kenapa tulisanku tidak selesai-selesai.

  “Kenapa bisa begini...?”

  Apa karena aku menganggap pekerjaan ini sesuatu yang serius? Memang, aku ini bekerja dengan serius; tidak hanya mengerjakan jatah pekerjaanku, aku juga membantu Yukinoshita, dan kami berdua pergi ke Klub Gamers untuk wawancara untuk menggantikan Yuigahama.

  Bagi orang sepertiku, aku bekerja sangat keras, belakangan ini menghabiskan hari-hariku dengan kesibukan. Mungkin karena itulah...Ketika kau terlalu sibuk, kau terlihat melupakan pekerjaanmu yang lain...

  Aku punya banyak sekali kolom untuk ditulis, sedangkan yang kuhadapi saat ini adalah “Dua hari sebelum deadline!”

  Akupun menaruh kedua tanganku di kepalaku, sedang Isshiki terlihat duduk di sebelahku. Lalu dia menuangkan teh dari botolnya.

  “Ini, minum ini. Tolong lakukan yang terbaik!” katanya.

  Dia lalu menaruh botol itu di kulkas kecil yang ada di bawah meja. Dia lalu duduk berseberangan denganku.

  Teh, meja, kursi, dan yang terakhir, ruangannya berbeda dari biasanya.

  Saat ini, aku terkurung di Ruang Ketua OSIS, dipaksa menulis sisa kolom yang tersisa sambil diawasi. Karena pemanas ruangan klub sedang rusak, maka Isshiki menawarkan Ruang Ketua OSIS sebagai alternatif untuk menulis artikel.

  Aku lalu melihat ke arah jendela, ternyata matahari sudah tenggelam. Biasanya, aku menggunakan HP-ku untuk melihat waktunya, tapi aku tidak bisa melakukannya karena HP-ku disita Isshiki untuk efektivitas penulisan. Aku lalu melihat ruangan ini dan tatapanku terhenti di jam dinding, jarum jamnya sedang menunjuk ke angka-angka yang terasa kejam bagiku.

  Aku langsung diseret ke ruangan ini segera setelah jam pelajaran terakhir selesai dan aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di luar ruangan ini setelahnya. Itu karena deadlinenya adalah besok.

  Oooooooooh sial...Aku belum menulis satupun kata...Aku tidak bisa membayangkan diriku menyelesaikan ini tepat waktu...

  Akupun memukul keyboardku untuk pelampiasan emosiku itu. Aku sedari tadi hanya mengulang-ulang hal tersebut. Sial, siaaaaaal. Kalau begini, kita tidak akan bisa selesai tepat waktu, ahhhhhhhh!

  Ketika menyandarkan diriku di kursi, Isshiki terlihat menjauhkan dirinya dariku. Ekspresinya seperti hendak mengatakan, “Ugh...” sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu, ada sesuatu yang menarik perhatiannya dan mulai mencari-cari sesuatu di kantong blazernya.

  “Senpai, ada telepon,” katanya, dia lalu mengambil HP-ku dari kantongnya, mencoba memberikan itu kepadaku.

  Tapi, sebuah panggilan telepon sebelum deadline bukanlah sesuatu yang bagus. Pertama-tama, jika kau meminta sesuatu yang seperti itu, maka tidak akan ada episode anime yang hanya berisi kesimpulan cerita sementara. Menunda jadwal rilis karena penulis Light Novel berkata tidak sanggup dengan deadlinenya juga tidak akan pernah terjadi.

  Oleh karena itu, yang terbaik adalah mencari tahu siapa yang menelpon lalu tidak mempedulikan panggilannya.

  “...Dari siapa? Editor?” tanyaku.

  Isshiki mendesah seperti tidak percaya.

  “Apa editor adalah satu-satunya hal yang terpikirkan olehmu? Kalau begitu situasinya ternyata benar-benar buruk ya...Umm...Oh, disini tertulis [ Ibu ]. Mungkinkah dari Ibu Senpai?”

  “...Ibunya editor? Apakah mereka akan terus mengawasiku dengan menyamar sebagai salah satu anggota keluargaku?”

  “Tidak, kenapa Senpai sampai berpikiran seperti itu? Kupikir ini dari Ibu Senpai.”

  “Oke. Biarkan saja, nanti aku akan menelponnya balik.”

  “Oh, ya sudah kalau begitu.”

  Isshiki menjawabnya dan menaruh kembali HP-ku ke kantongnya. Dia lalu membuka kembali dokumen-dokumen di atas meja, mungkin itu laporan keuangan OSIS, lalu menstempelnya satu-persatu.

  Melihatnya bekerja di seberangku membuatku merasa kalau aku harus menyelesaikan pekerjaanku... Secara otomatis, aku mulai menekan-nekan tombol keyboardku.

  Dan begitulah, waktu berlalu.

  Di luar mulai terlihat gelap, ini adalah waktu dimana para siswa harusnya pulang ke rumah. Aku tidak lagi mendengar suara stempel itu lagi, tidak menyadari kalau Isshiki ternyata sudah menyelesaikan pekerjaannya. Aku lalu menatap ke arahnya dan dia terlihat sedang menatap layar HP-nya.

  Bisakah aku berhenti untuk hari ini...? Bukankah masih ada besok? Aku berjanji akan berusaha lebih keras besok. Aku akan menyelesaikannya besok...

  Setelah itu terbayangkan olehku, konsentrasiku langsung buyar seperti asap.

  “Aku selesai, aku tidak bisa menulis lagi. Aku tidak bisa menulis sesuatu jika panik seperti ini. Kurasa yang bisa kulakukan saat ini adalah pulang dan tidur.” akupun mengatakannya dengan keras.

  Isshiki menoleh ke arahku. Dia mendesah seperti tidak percaya.

  “Baiklah, kurasa itu mungkin adalah ide yang bagus.”

  “Benarkan, benar? Apa tidak masalah jika kita sedikit saja melewati jadwal deadlinenya?”

  Apakah ini yang kau sebut dengan kondisi sakaw dari penulis? Terbebani oleh semua stress sebelum deadline, kelelahan karena bekerja tanpa henti, perasaan yang gembira karena berusaha kabur dari kenyataan, lalu secara spontan aku tertawa dengan nada yang menakutkan.

  Isshiki lalu menatapku dengan kaku.

  “...Huh? Apa Senpai berencana untuk tidak menyelesaikannya tepat waktu?”

  “W-Well, aku sendiri tidak yakin.”

  Tapi jujur saja, kolom-kolom ini kurasa butuh sekitar ribuan kata untuk mengisinya, jadi jika kulakukan yang terbaik hari ini dan besok, aku merasa kalau aku bisa menyelesaikan ini. Tapi tidak semudah itu karena aku hanya bisa mengerjakan beberapa ratus kata dalam beberapa jam.

  Aku sangat ragu untuk berteriak keras-keras. Alasannya karena Isshiki sudah memegangi kepalanya sebelum aku bisa menjelaskan itu kepadanya.

  “Oh tidak...Itu tidak bagus...Umm, bukankah itu, seperti, buruk sekali jika telat dari deadline?”

  Isshiki lalu menyandarkan kepalanya di atas meja. Dia lalu menatapku dengan tatapan yang suram. Setelah itu, dia menggumamkan secara pelan, “Semua pengeluaran! Sudah memesan paket diskon! Belum biaya ekstra! Belum tagihan yang ternyata diluar perkiraan! “.

  Reaksinya sudah memberitahuku semuanya. Isshiki mengharapkan kami untuk menyelesaikannya tepat waktu sehingga rencana paket diskonnya tidak batal dan tercantum dalam laporan keuangan. Dia juga sepertinya sudah menuliskan pengeluaran OSIS soal koran ini dalam laporan keuangan yang akan disetor ke sekolah.

  Tentunya, harusnya masih memungkinkan untuk merevisi laporan keuangan itu.

  Tapi ini semua merupakan harga diri dari Sesuatu-gaya Sesuatu-man; meski dia mengatakan dengan yakin kalau ini akan selesai dalam beberapa hari, dia malahan terlihat bersantai-santai dalam pengerjaannya, “Jangan khawatir, tentang saja, aku bisa menyelesaikannya dengan sangat cepat”. Kurasa bukan hal yang bagus jika terlalu bangga dengan diri sendiri...

  “...Ku-Kurasa itu memang buruk...Yeah. A-Aku akan berusaha lebih keras lagi, oke?”

  “Be-Benarkah? Tolong ya Senpai...”

  Isshiki melihatku dengan matanya yang berkaca-kaca. Dia tidak terlihat licik dimana dia harusnya tampil seperti itu, kurasa dia cukup jujur kali ini. Melihatnya seperti ini, kurasa aku harus menyelesaikan ini...

  Ada sebuah deadline yang tidak boleh dilewatkan.









x x x









  Jujur saja ya, aku sudah tidak sanggup lagi. Maaf karena mengatakan ini tiba-tiba. Tapi aku tidak bisa.

  Dalam beberapa jam lagi, suara bel akan berbunyi.

  Itu adalah bel dari deadline.

  Hati-hatilah dengan kedatangan editor yang berdada kecil itu.

  Ketika dia muncul, maka kiamat akan datang beberapa saat kemudian.

  Pikiran itu terus muncul di kepalaku.

  Dihantui deadline yang tidak boleh dilewatkan – aku menghadapi momen yang sama esok harinya – aku meminjam ruangan Ketua OSIS, dikurung disana.

  Meski kemarin aku sudah berusaha yang terbaik untuk mengumpulkan semua motivasiku, tubuhku sepertinya mencapai limit seperti Chinofuji Mitsugu, dan akupun pulang ke rumah. Meski aku melanjutkannya sebentar di rumah dan curi-curi kesempatan untuk mengerjakannya di kelas, akhir dari tulisan ini masih tidak bisa kulihat.

  Dan sekarang, dari jendela ruang Ketua OSIS, aku menatap ke arah matahari yang mulai tenggelam. Tentunya, tidak ada perkembangan dalam manuskripku.

  Sial, sial... Aku bahkan tidak menuliskan satupun kata di keyboard, malahan aku hanya berputar-putar di kursiku. Lalu, ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan ini.

  “Hei Hikki, bagaimana perkembangannya?”

  Orang yang menyapa dan masuk ke ruangan ini adalah Yuigahama. Sepertinya dia kesini untuk memeriksa perkembangannya.

  “...Ku-Kurasa masih di bawah 70%.”

  “Whoa, itu luar biasa...”

  “Dari yang tersisa...”

  Setelah aku mengatakan itu, Yuigahama terlihat kecewa. Akupun ingin mengekspresikan kekecewaanku terhadap situasiku ini...

  Ketika menggeleng-gelengkan kepalaku, Yuigahama berjalan ke arahku dan menepuk pundakku.

  “Kau bisa melakukannya! Jangan khawatir, kita pasti akan bisa menyelesaikannya! Aku akan mengerjakan pekerjaanku disini denganmu juga!”

  Mengatakan itu dalam situasi seperti ini hanya membuatmu terlihat seperti seseorang yang datang untuk mengawasiku...

  Aku biasanya menolak jika bekerja di bawah pengawasan, tapi situasi kali ini berbeda. Mengawasiku mungkin adalah satu-satunya cara agar aku mengerjakan tugasku. Well, jika ini kerja paruh waktu, aku pasti tidak akan peduli dengan pekerjaanku. Tapi dengan Isshiki kemarin, dan Yuigahama yang hari ini mengawasiku, aku harus mengerjakan pekerjaanku. Begitulah pria, kita adalah makhluk yang bandel...

  Seperti termotivasi, akupun menatap kembali layarku. Melanjutkan kembali pekerjaanku. Setelah menuliskan beberapa baris kata, aku mulai putus asa lagi. Setiap kali melihat kata-kata yang berjarak itu, membuat mataku seperti terbakar.  Aku seperti dihantam oleh realitas kalau aku tidak berusaha dengan baik mengingat banyaknya waktu yang sudah kuhabiskan.

  Dalam satu hari, aku hanya menyelesaikan kurang dari 20%. Dan itu berarti tersisa 80% yang harus diselesaikan dalam beberapa jam, dan itu sangat mustahil. Jika aku pada akhirnya bisa menyelesaikannya tepat waktu, maka ini benar-benar menentang hukum alam.

  Ugh... Ketika aku dihantam realita, aku mendengar sebuah suara yang berbeda. Ketika kulihat, Yuigahama sedang menggunakan kalkulator.

  “...Apa yang kau lakukan?” tanyaku.

  Yuigahama menaruh pena di telinganya dan menatapku.

  “Hmm? Oh, umm, aku sedang menghitung pengeluaran kita sampai saat ini. Tampaknya sedikit berbeda dengan yang ada di laporan keuangan.”

  “Lagipula Isshiki memang kurang bagus dalam matematika...”

  “Ahh, itu benar...Well, disitulah dimana Yukinon dan diriku datang!”

  Yuigahama mengatakan itu, sambil tersenyum kecut. Dia tampak seperti seorang kakak. Aku yakin kalau dia memperlakukan Isshiki layaknya sebagai adik kelas.

  Satu-satunya masalah adalah mengapa adik kelas yang manis ini selalu membawa masalah kepada kita. Sebenarnya, request pertamanya ke klub dulu itu adalah request yang paling bermasalah...

  Tapi, mungkin inilah realitas bagaimana semua ini seharusnya.

  Satu orang membuat sebuah kebohongan. Lalu kebohongan itu berubah menjadi sesuatu yang berwujud, menyebabkan munculnya sebuah pekerjaan. Dalam komunitas sosial, seorang pembohong besar seperti itu juga dikenal dengan sebutan produser. Jadi dalam hal ini, Isshiki mungkin punya kualitas untuk menjadi seorang produser. Untuk request kali ini, Yukinoshita akan menjadi sutradaranya, sementara Yuigahama menjadi asisten sutradara. Sedangkan aku, seperti biasanya, adalah kelas bawah, budak perusahaan yang sedang outsourcing.

  Aku lalu menatap lagi layar komputerku untuk mengerjakan pekerjaan buruh ini. Tapi setelah beberapa kalimat, akupun berhenti lagi, jadi sebenarnya aku tidak banyak mengerjakan sesuatu.

  Entah mengapa, aku merasa kalau waktu yang kuhabiskan untuk menatap keluar jendela sekedar melihat matahari tenggelam atau menatap ke arah jam dinding terasa lebih lama daripada aku menatap layar komputer ini.

  Menghitung banyaknya waktu yang sudah terlewati saja sudah cukup untuk membuat pikiranmu terpojok. Aku secara tidak sengaja mendesah kesal, juga merasakan lelah karena duduk dan menatap komputer dalam waktu yang lama.

  “Kau baik-baik saja, Hikki?”

  Yuigahama berdiri dari kursinya, mendengarkan desahan kesalku, dan berdiri di sampingku. Dia lalu melihat ekspresi wajahku.

  Jaraknya cukup dekat, jika aku melemaskan tanganku ke samping maka aku akan menyentuh wajahnya. Aku bahkan bisa mendengar suara napasnya yang samar-samar. Situasi yang dekat ini dan rasa malu ketika kedua pasang mata kami bertemu membuatku untuk pura-pura melemaskan leherku dan menatap ke arah lain.

  “Jadwal deadlinenya kurasa tidak akan bisa kalau seperti ini...”

  Akupun menggerutu, berusaha mencairkan suasananya. Lalu punggungku terasa lebih berat dari biasanya.

  “Kalau kita tidak bisa tepat waktu, maka kita tidak bisa menyelesaikan ini.”

  Ketika aku menoleh, Yuigahama sedang menaruh tangannya di bajuku. Jari-jarinya yang kurus itu meremas blazer yang menempel di bahuku.

  “Aku akan menemanimu meminta maaf dan aku yakin Iroha-chan akan mengerti juga. Lagipula requestnya memang sejak awal terlihat tidak masuk akal.”

  “Memang benar, requestnya tidak masuk akal.”

  Sambil mengatakan itu, aku menggoyang-goyangkan tubuhku untuk melepaskan tangannya dari bahuku, tapi dia tidak mau melepaskannya. Malahan, dia mulai memukul bahuku dengan pelan menggunakan interval yang pendek.

  “Ini bukan salahmu, Hikki. Meski kau menyerah sekarang, tidak akan ada satupun orang yang menyalahkanmu. Dan ini bukanlah sesuatu yang harus kita selesaikan.”

  Kata-katanya tadi sedikit di luar dugaan, karena Yuigahama tidak pernah mengatakan menolak semua request yang datang ke Klub Relawan sampai saat ini.

  Karena penasaran, akupun menolehkan kepalaku dan melihat Yuigahama yang tersenyum kecil.

  “...Aku benar-benar tidak suka melihatmu kesakitan, Hikki.”

  “Kata-katamu itu terasa kurang adil.”

  Mengesampingkan responku yang spontan, aku bisa merasakan seberapa lembut jawabanku. Mungkin karena aku kelelahan. Mendengar kata-kata yang lembut semacam itu sambil memijat bahuku hanya membuat bahuku terasa rileks.

  Tiba-tiba, aku menaikkan bahuku.

  Bagi seorang gadis yang sangat baik dan memberiku kata-kata yang seperti itu, ini adalah sesuatu dimana aku tidak boleh menyerah dan lari. Itu karena ketika kau memberikan semacam kata-kata manis kepadanya, kau harusnya tidak boleh kabur dari itu. Oleh karena itu, ini membuatku untuk tidak menyerah entah sebodoh apapun situasi atau sesulit apapun masalahnya.

  “Kau pikir begitu...?”

  Yuigahama menghentikan gerakan tangannya dan membiarkannya menekan bahuku, lalu secara perlahan, dia mengangkat tangannya.

  “Oh, uh, sebenarnya maksudku tidak seperti itu.”

  Aku memilih kata-kata yang salah ketika aku menjawab orang yang mengkhawatirkanku dengan ‘tidak adil’. Akupun memutar kursiku dan menatap Yuigahama. Aku duduk dan memikirkan kata-kata yang tepat. Tapi Yuigahama tidak memberikan waktu untuk itu dan dia mengangguk.

  “...Yeah, kupikir aku memang tidak adil!” kata Yuigahama, suaranya terkesan ceria dan dia berpikir seperti mendapatkan sesuatu.

  Aku tidak begitu paham maksudnya, tapi aku ingin memberinya tanggapan positif sehingga aku membuka mulutku.

  “Aku tidak bermaksud seperti itu, tapi uh, maksudku dalam hal positif...”

  Tapi Yuigahama, mengartikan berbeda.

  “Kupikir...Aku memang tidak adil...Itu karena aku tidak pernah bisa menghentikanmu ataupun membantumu. Dan juga...Untuk beberapa hal lainnya.”

  Kata-kata Yuigahama seperti berputar-putar di kepalaku, mungkin karena dia berbicara sambil berpikir. Tapi entah kenapa, aku merasa di mengatakan itu dengan jujur. Sama halnya dengan cara dia tertawa untuk menyembunyikan rasa malunya atau menggumamkan sesuatu sambil memalingkan pandangannya, aku yakin dia sedang berusaha menyembunyikannya.

  Meski begitu, dia melihat ke arahku, seperti hendak memberitahuku tentang sesuatu.

  “Oleh karena itu...Oleh karena itu, ketika sesuatu seperti ini terjadi lagi, aku meyakinkan diriku untuk melakukannya.”

  Ekspresinya yang terkesan jujur dan bagaimana dia menambahkan sebuah realita dalam kata-katanya itu terasa seperti sebuah ambiguitas yang hampa. Sebenarnya, semua orang pasti akan melakukannya. Mereka harus melakukannya, meski jika mereka tidak tahu apakah mereka harus melakukan itu atau mereka bisa melakukan itu. Aku yakin kalau itu adalah pemikiran semua orang, meski jika itu terlihat abu-abu.

  Tentunya, aku bukanlah pengecualian. Oleh karena itu, untuk sementara itu, aku perlu melakukan sesuatu yang kuanggap benar di depan mataku. Aku lalu memutar kembali kursiku dan menatap ke layar komputer lagi.

  “Kurasa tidak masalah. Akulah yang selalu terlihat egois ketika melakukannya. Kau tidak salah karena tidak menghentikanku. Jika ada sesuatu, maka orang yang membuat janjilah yang bersalah...Oleh karenanya, uh...Aku akan memberikan apa yang kubisa.”

  “...Oh...Oke, ayo kita lakukan yang terbaik kalau begitu!” kata Yuigahama. Suaranya terdengar ceria dan dia kemudian mendorong punggungku.










x x x









  Tidak, tidak! Aku ingin pulang! Aku tidak tahu lagi! Lupakan saja soal mengirim naskah atau mengeditnya! Aku lelah dihantui deadline ini dan terisolasi di ruangan ini! Aku tidak mau mengerjakan manuskrip lagi!

  Akupun berteriak seperti itu dan tertidur di mejaku. Saat ini, aku adalah satu-satunya orang di Sekretariat OSIS. Akupun berteriak sesukaku.

  Aku sudah memberikan Yuigahama printout naskah yang sudah kukerjakan dan dia pergi untuk memberikannya ke Yukinoshita. Setelah dia pergi, konsentrasiku yang melemah mulai kambuh lagi.

  Well begini, entah mengapa aku akhirnya menyelesaikan 80% sisa kolomnya. Aku menerima beberapa motivasi dari Yuigahama, jadi kupikir aku sudah mengerjakan beberapa pekerjaan yang bagus disini, terutama kalau mempertimbangkan kalau itu adalah diriku.

  Tapi untuk 20% terakhir, tidak ada satupun, kata-kata yang muncul di pikiranku, dan akupun seperti tersendat sambil melihat atap dan bersandar di kursiku.

  Ahh, bisakah Illuminati datang langsung kesini? Aku ingin segera dibebaskan dari pekerjaan ini selamanya, tolonglah.

  Aku, sendiri, berpikir kalau konsentrasi adalah sesuatu yang spontan, dan bukan sesuatu yang berkelanjutan. Daripada melakukannya semalaman dalam beberapa hari dimana kau sendiri tidak membuat perkembangan yang berarti, akan sangat penting jika melakukannya secara terencana dan dari jauh hari. Meski, semuanya terasa sia-sia ketika kau menyadari kalau deadlinenya sudah dekat. Ini seperti sehari sebelum ujian, serius ini.

  Aku terus menatap ke arah atap ruangan ini seperti sebuah baterai yang mati dan ada suara pintu yang diketuk. Tanpa adanya energi yang tersisa untuk menjawab, aku hanya menatap ke arah pintu dan orang yang mengetuk itu masuk ke ruangan ini tanpa menunggu responku.

  “Apa kau sudah selesai?”

  Orang yang datang kesini dan bertanya itu sedang memegang tas di bahunya, Yukinoshita.

  “...Kalau selesai, aku akan memberitahumu.”

  “Kurasa itu benar,” Yukinoshita mengatakan itu karena setuju.

  Lalu, dia berjalan menuju sebelahku dan mengambil sebuah dokumen yang banyak coretan warna merah dari tasnya.

  “Ini kirimanmu sebelumnya. Ada banyak kalimat-kalimat yang kurang baik di separuh terakhir.”

  “Be-Benar.”

  Aku lalu mengambil dokumen itu darinya dan membacanya dengan cepat. Selain dari kalimat yang salah, aku melihat banyak sekali kesalahan lainnya. Aku lalu memperbaiki bagian manuskrip yang dicoret itu di layar laptopku dan aku masih bisa merasakan kehadiran orang di sebelahku.

  “...Apa kau perlu sesuatu?”

  “Ah, tidak...Tidak ada apapun.”

  Yukinoshita mengatakan itu dengan malu-malu dan dia menyilangkan tangannya ke belakang. Dia lalu berjalan ke belakangku dan menarik kursi kosong yang ada di belakang lalu duduk di sampingku. Setelah mencari-cari sesuatu di tasnya, dia lalu melihat-lihat dokumen itu dan mengerjakan sesuatu.

  Tampaknya Yukinoshita datang kesini untuk mengerjakan sesuatu sambil mengawasiku. Fakta kalau dia hadir disini berarti kalau kita sudah dekat dengan deadlinenya.

  Tertekan atau tidak, aku sudah tahu horor dari deadline.

  Setelah aku selesai membuat revisi dari manuskripnya, aku lalu scroll ke bawah untuk menyelesaikan 20% sisanya.

  Hanya beberapa ratus kata tersisa.

  Kalau aku bisa menulis sebanyak itu, aku bisa mengisi satu halaman yang kosong.

  Jika andai saja, aku menulis sesuatu yang jelek, maka orang yang akan dikomplain adalah Pimpinan Produksinya, Isshiki. Mengerjakan sesuatu yang bisa membuat Isshiki menjadi orang yang disalahkan adalah sesuatu yang tidak bisa kulakukan.

  Untuk menghindari hal tersebut, itu artinya aku harus menulis sesuatu yang berkualitas. Daripada, mengirim sesuatu yang jelek, pastinya, Yukinoshita sebagai editor dan juga Isshiki sebagai pimpinan akan memintaku untuk merevisi manuskripnya. Mungkin ada baiknya jika aku sejak awal serius dalam mengerjakannya daripada bolak-balik revisi.

  Aku lalu mengumpulkan apa yang tersisa dari diriku dan melanjutkan lagi ke layar komputer. Jam digital yang berada di bawah layar menunjukkan waktu yang bergerak, menit demi menit, dan kolom yang kosong terisi, baris demi baris.

  Tidak lama kemudian, tanganku tidak mau bergerak, satu senti-pun.

  “...Aku sudah selesai.”

  “Oh, benarkah?”

  Setelah mendengar suaraku, Yukinoshita terlihat senang dan hendak berdiri. Akupun menaikkan tanganku untuk menghentikannya, lalu aku bersandar ke mejaku.

  “Aku sudah selesai. Ini mustahil, aku tidak bisa melakukannya lagi. Aku tidak bisa memikirkan apapun. Aku tidak bisa memikirkan satupun kata lagi...”

  “Itukah maksudmu...”

  Yukinoshita mengembuskan napasnya seperti terkejut dan duduk kembali di kursinya. Lalu, dia menambahkan.

  “Tapi kita tidak bisa seperti itu. Kita tidak punya waktu lagi, tahu tidak?”

  “Well, yeah, aku tahu itu, tapi...”

  Aku sadar betul kalau aku muak dengan ini. Tapi otakku tidak mau berfungsi meskipun aku menginginkannya. Otakku sudah menolak untuk bekerja, jadi aku mulai merasa kalau tidak ada yang bisa kulakukan lagi. Ini mirip ketika kau meremas handuk basah hingga tetes terakhir, tidak ada satupun kata yang muncul di kepalaku.

  Aku lalu bersandar ke kursiku dan melihat ke atap ruangan ini. Aku sudah kehabisan opsi...

  Aku biarkan ujung-ujung jariku berada di keyboard meskipun aku tidak bisa menggerakkannya. Dengan kedua tanganku seperti itu, tubuhku seperti menghadap ke surga, aku ini seperti sebuah mayat serangga. Aku tidak lebih dari serangga...Seekor serangga kecil yang tidak berkompeten untuk menyelesaikan deadline. Mari kita panggil Hachiman sebagai seekor serangga mulai saat ini. Dan mari kita buang tubuh manusia ini ke lautan...

  Ketika kulihat atap ruangan ini dengan damai, aku melihat Yukinoshita. Dia melihatku dari atas, wajahnya terlihat penasaran.

  “...Ini, ambil ini.”

  Yukinoshita mengatakan itu sambil memberikan sesuatu yang dibungkus sarung tangan di dekat dadaku.

  Akupun mengambil bungkusan itu darinya; ini hangat sekali. Sarung tangan ini berbentuk seperti cakar kucing. Setelah membukanya, yang terlihat di depanku adalah sekaleng MAX COFFEE hangat. Sepertinya dia memang berusaha keras agar ini tetap hangat.

  Melihat hal ini, membuat wajahku tersenyum.

  “Istirahatlah dulu. Kau tidak akan bisa menyelesaikan sesuatu jika kau melihat ke arah layar terus-terusan. Akan lebih baik jika kau istirahat sejenak,” kata Yukinoshita, sambil memalingkan wajahnya dariku.

  Dia lalu kembali ke kursinya dan melanjutkan pekerjaannya.

  “Terima kasih...”

  Aku sangat menghargai pemberiannya dan segera kuminum. Aku lalu meminum MAX COFFEE tersebut sambil memandangi Yukinoshita.

  Sementara itu, tangan Yukinoshita tidak berhenti bergerak. Suara yang terdengar darinya hanyalah gerakan bolpoin merah miliknya. Meski begitu, aku merasa kalau suara gerakannya agak aneh.

  “...Maaf ya, apakah seburuk itu?”

  “Eh?”

  Ketika kutanya dirinya, Yukinoshita memalingkan wajahnya ke arahku. Dia lalu menatap ke arah kertas-kertas di tangannya, sepertinya paham apa maksudku. Sambil memutar-mutar bolpoin itu di depan bibirnya, dia membuka mulutnya.

  “...Ada kesalahan-kesalahan, tapi kebanyakan dari kesalahan itu hanyalah salah pengejaan dan typo. Tidak ada yang benar-benar fatal, jadi jangan khawatir. Mungkin lebih tepatnya, typo-typo yang ada disini kebanyakan berasal dari mereka berdua,”

  Yukinoshita mengatakannya dengan nada penuh candaan diselingi tawa kecilnya. Dia benar-benar terlihat seperti gadis seumurannya ketika seperti ini, senyumnya jauh lebih mengembang dari biasanya.

  “Mau bagaimana lagi, kulihat kau memberikan banyak sekali coretan merah, jadi itu membuatku khawatir.”

  “Oh. Kau hanya kebanyakan lupa menambahkan beberapa huruf dalam katanya, jadi aku hanya menambahkan kurangnya. Aku akan membantu merevisinya nanti.”

  “Maaf ya sudah menyusahkanmu.”

  Meski aku sudah mengatakan itu dengan nada yang biasa, tapi Yukinoshita tiba-tiba menghentikan pekerjaannya dan menaruh secara perlahan bolpoinnya di meja. Setelah itu, dia terlihat menurunkan bahunya.

  “...Aku juga ingin meminta maaf. Harusnya aku memeriksa perkembanganmu ketika ada kesempatan. Aku harusnya tahu kalau kau juga ternyata bisa membuat kesalahan.”

  “Ah, bukan begitu, itu hanya miskalkulasi saja. Sebenarnya, apa kata-katamu barusan itu sejenis sarkasme level tinggi...?” tanyaku.

  Yukinoshita lalu tersenyum dan mencondongkan wajahnya ke depan.

  “Itu pasti bagian dari itu, tapi...Intinya itu kalau aku juga mengalami miskalkulasi.”

  Jadi kau benar-benar bersarkasme...

  Itu artinya, kita berdua sama-sama telah melakukan kesalahan. Entah itu diriku, dirinya, atau kami berdua, kami masih belum sepenuhnya bisa memahami satu sama lain. Ketika kau bisa membedakan antara siang dan malam, maka kau akan menjawabnya kalau perbedaannya terletak dari perubahan warnanya.

  “Pada akhirnya, akulah orang yang kebanyakan tidak bisa melakukan sesuatunya,”

  Yukinoshita mengatakan itu dengan pelan, melihat ke arah matahari yang sedang tenggelam di kejauhan.

  “Yang kau lakukan itu sudah lebih dari cukup. Ini bukan seperti Yuigahama dan diriku sangat bagus dalam menjadwalkan ini. Isshiki sendiri sangat pintar dalam menyeret kita ke agendanya, tapi dia sendiri bukanlah orang yang bisa merencanakan sesuatunya...”

  Ketika menjawabnya, aku melihat ke arah yang sama dengannya, matahari yang sedang tenggelam. Meski, anggapan kita berdua tentang warna yang kita lihat mungkin berbeda. Merah, pink, atau scarlet. Mungkin, vermillion, ataupun merah pekat. Mungkin juga orange.

  Tapi, tidak peduli seberapa berbeda kita melihat warna tersebut, aku tidak memiliki masalah dengan itu.

  “Tetap, kau sendiri...sudah memberikan bantuan yang sangat berarti.”

  Aku lalu memalingkan pandanganku dari jendela dan kembali menatap ke arah ruangan ini.

  Cahaya matahari yang tenggelam itu menerangi ruangan ini, mewarnainya dengan warna merah. Ketika aku melihat ke arah Yukinoshita yang ada di sampingku, aku tidak bisa membaca ekspresinya. Tapi kedua telinganya dan lehernya yang kuintip dari celah-celah rambutnya, berwarna kemerahan.

  “...Begitukah menurutmu? Kalau begitu, kuharap aku benar-benar begitu.”

  Yukinoshita terlihat mendesah, dan mengatakan itu dengan suara pelan, mungkin dia tidak percaya diri ketika mengatakannya, atau mungkin, dia tersinggung.

  Tapi, itu hanya sebentar. Dia lalu menegakkan kepalanya, mengibaskan rambutnya yang ada di bahu, lalu mengatakan sesuatu yang lebih dingin dari biasanya.

  “Aku akan melakukan sesuatu tentang pekerjaan ini sehingga bisa memberikanmu waktu ekstra.”

  “Ah, te-tentu...Huh, apa kau bisa melakukan itu?” tanyaku, tapi Yukinoshita tidak menjawabku.

  Malahan, dia mulai menekan-nekan nomor di HP-nya.

  “...Yuigahama-san? Ada perubahan rencana. Jaga-jaga kalau manuskripnya tidak selesai tepat waktu, tolong isi kolom yang kosong dengan apapun yang kau bisa dan kirimkan kesini. Tolong pisahkan tambahan itu dan beri tanda. Kami akan membacanya dan merevisinya nanti. Itu saja. Bisakah kau beritahu Isshiki-san soal ini juga...? Ya, tolong lakukan.”

  Setelah Yukinoshita menutup teleponnya, dia menatapku seperti hendak mengkonfirmasi apa yang sudah kudengar sebelumnya.

  “...Apa itu tidak masalah?” tanyaku.

  “Itu hanya rencana B ketika kita tidak bisa menyelesaikannya sesuai deadline. Kita sudah menghitung biaya seandainya rencana B yang dipilih sehingga kita bisa mengoreksi dananya nanti, jadi harusnya tidak ada masalah. Aku takut kita tidak bisa memeriksa ulang semuanya, tapi...Ada yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya,”

  Yukinoshita mengatakan itu dan tersenyum. Untuk mengatasi semua hal yang tidak terduga, dia ternyata mempersiapkan rencana cadangan sebagai usaha terakhir.

  Untunglah. Bukankah dia yang selalu memberitahuku kalau aku ini lemah, tapi sekarang siapa yang sebenarnya lemah?

  Well, aku tidak menyangkal kalau diriku lemah. Tapi orang yang lemah bisa dengan mudah menjadi Iblis yang menakutkan. Karena itulah aku tidak ingin terlihat dimanjakan olehnya.

  Aku lalu menelan sisa MAX COFFEE di kaleng ini dan menaruhnya di samping. Terdengar suara keras dari kaleng yang menyentuh meja ini.

  “Saatnya untuk menyelesaikan ini,” kataku, dan menatap ke arah komputer lagi.

  “...Begitu ya. Kalau begitu, lakukan yang terbaik!”

  Meski kata-katanya terdengar pendek dan lembut, itu sudah lebih dari cukup untuk didengar oleh telingaku.









x x x









  Mungkin itu hanyalah istirahat sejenak, atau karena gula dari MAX COFFEE mulai memenuhi otakku, entah mengapa tanganku terus menulis, dan mulai mengisi kolom-kolom kosong tersebut.

  Aku terus menulis tanpa mempedulikan waktu, dan tanpa sadar, Yuigahama dan Isshiki ada di ruangan ini.

  Ketiga gadis tersebut duduk di seberangku dan menungguku menyelesaikan ini dengan diam.

  Ka-kalian malah membuatku semakin sulit untuk menulis...

  Meski begitu, aku terus menuliskan kalimat demi kalimat, dan akhirnya berhasil mengisi kolom terakhir. Aku lalu menekan tombol enter, tapi tidak begitu saja bisa memindahkan tanganku dari keyboard. Aku lalu membacanya, baris per baris. Setelah menyadari kalau aku tidak bisa menulis apapun lagi, aku sadar kalau manuskrip ini akhirnya selesai.

  “Aku sudah selesai disini...”

  Tubuhku langsung lemas dan aku bersandar di kursi dengan kedua lenganku bergantungan di bawah kursi. Akupun mengembuskan napas yang panjang karena lega dan Yukinoshita datang ke kursiku.

  “Boleh kulihat?”

  “...Yeah.”

  Aku lalu menyodorkan laptop ke arahnya dan Yukinoshita langsung memeriksa pekerjaanku. Yuigahama dan Isshiki melihatnya dengan penasaran. Yang tersisa, hanyalah rasa gugup saja.

  Lagipula, aku bebas! Apa sih deadline itu? Aku tidak tahu apa itu? Fuhaha! Aku merdeka!

  Aku mencoba untuk menahan diriku agar tidak berteriak histeris dan menunggu Yukinoshita selesai memeriksanya.

  Tidak lama kemudian, Yukinoshita mengatakan sesuatu.

  “...Kurasa tidak masalah. Isshiki-san, tolong periksa lagi.”

  “Y-Ya!”

  Selanjutnya, Isshiki mulai memeriksanya, tapi karena itu sudah lolos dari pemeriksaan Yukinoshita, harusnya tidak ada masalah lagi. Jadi begitulah, pekerjaanku selesai. Ya ampun, dunia tanpa deadline adalah dunia yang terbaik!

  Ketika diriku menikmati bagaimana rasanya merdeka, Yuigahama dan Yukinoshita berbicara kepadaku.

  “Kerja bagus, Hikki.”

  “...Kerja bagus hari ini.”

  “Ahh, kalian juga. Maaf sudah membuat yang lainnya menunggu.”

  Yang terhormat diriku, rasa merdeka itu membuat diriku merasa kalau aku sudah menyelesaikan semuanya sendirian, tapi kali ini, aku berterimakasih kepada ketiganya karena telah mengawasiku dan membuatku tidak kabur dari semua ini.

  Kalau dipikir-pikir lagi, semua euforia ini karena aku bekerja sambil diawasi.

  ...Jadi ini artinya editor dan deadline adalah sebuah obat-obatan yang berbahaya! Mereka berdua harusnya dibuat peraturan yang jelas. KATAKAN TIDAK UNTUK DEADLINE!

  “Aku selesai memeriksa ini. Tidak ada masalah,” kata Isshiki, lalu dia menutup laptopnya.

  Yukinoshita mengangguk.

  “Kita bisa menyelesaikannya tepat waktu, jadi kenapa kita tidak meminum teh bersama-sama di klub?”

  “Kita sebaiknya merayakan itu!”

  “Aku setuju!”

  Yuigahama dan Isshiki menyetujui itu dengan antusiasme yang luar biasa. Tapi, Yukinoshita menatap Isshiki dengan dingin.

  “Kau harus memeriksa ulang semuanya dahulu. Setelah itu, tolong perlihatkan ke Hiratsuka-sensei juga. Itu tugasmu sebagai Pimpinan Produksi.”

  “Aww.”

  Melihat Isshiki yang komplain itu menyebabkan alis Yukinoshita bergerak-gerak. Melihat hal itu, Yuigahama berusaha menengahi itu.

  “Sekarang, sekarang begini, kita masih lama di sekolah, jadi segera ke klub setelah kau selesai dengan itu.”

  “Uuuugh...Siap Bu! Aku akan menyelesaikannya dengan cepat, tolong tunggu saya!”

  Isshiki lalu mengambil bolpoin hitam sebelum mengakhir kata-katanya dan mulai mereview semuanya dengan teliti. Kami lalu meninggalkannya di ruangan itu dan menuju klub kami.

  Dalam perjalanan, Yukinoshita berkata.

  “...Isshiki-san harusnya termotivasi seperti itu sejak awal.”

  “Iroha-chan bisa melakukannya jika dia mau mencoba.”

  “Yeah, orang-orang kadang memang begitu. Mereka memilih tidak melakukan apapun kecuali mereka sendiri sudah benar-benar tersudut,” kataku, sambil tersenyum kecut setelah mendengar kata-kata Yuigahama.

  Lalu, Yukinoshita memasang senyum yang menyindir sambil melihat ke arahku.

  “Oh, sebenarnya siapa orang yang sedang kau bicarakan barusan?”

  “Maksudku orang-orang pada umumnya.”









x x x









  Tampaknya pemanas ruangan di Klub Relawan sudah selesai diperbaiki oleh pabriknya dan sudah dipasang kembali kemarin, sekarang ruangan ini terlihat hangat dan nyaman, tidak seperti beberapa hari yang lalu.

  Ruang Sekretariat OSIS bukanlah ruang yang nyaman bagiku, tapi pada akhirnya, aku kembali ke ruangan klub yang nyaman ini. Maksudku bukan secara emosional, tapi dalam level insting; ini seperti penguasaan area atau semacamnya. Dan ketika kita menempati tempat yang sama hampir setahun lamanya, bahkan anjing dan kucing akan mulai memperlakukan itu sebagai tempat mereka. Aku bukanlah pengecualian dalam hal itu.

  Tapi ruangan klub ini terlihat kurang terawat karena kita semua disibukkan oleh pekerjaan dalam beberapa hari belakangan.

  Sementara Yukinoshita menyiapkan teh, Yuigahama dan aku membersihkan ruangan ini.

  Kami mengumpulkan dokumen-dokumen yang tidak terpakai dan membuangnya. Setelah selesai, kami duduk di kursi kami dengan dipenuhi rasa lelah sementara Yuigahama mengatakan “ah”. Ketika kulihat, dia sedang memegang kamera yang kita pakai untuk mewawancarai klub-klub.

  “Hei, apa kalian mau mengambil gambar? Foto dari Klub Relawan!” kata Yuigahama.

  Itu menyebabkan alis Yukinoshita mengerut. Melihat hal itu, Yuigahama menganggukkan kepalanya. Yukinoshita lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, dibalas lagi oleh Yuigahama yang menganggukkan kepalanya.

  Mereka berdua terus seperti itu hingga seseorang membuka pintu ruangan ini.

  “Aku selesai menyetorkan sampah itu!”

  Isshiki datang dan berbicara seperti itu. Uh, kau tidak perlu benar-benar mengatakan ‘sampah’...

  Ketika dia menyadari kamera di tangan Yuigahama, dia terlihat terkejut.

  “Oh, jadi disini ya kamera milik OSIS. Apa kalian masih membutuhkannya?”

  “Sepertinya dia berniat untuk mengambil foto dari Klub Relawan,” kata Yukinoshita, mengatakan itu seperti orang asing.

  Hmmm, kau sebenarnya member klub juga...Bahkan, kau ini ketuanya, tahu tidak?

  “Oh, kalau begitu, aku bisa mengambilkan fotonya untuk kalian.”

  “Iroha-chan, kau juga harusnya ada di foto itu juga.”

  “Tentu, tapi bisa dilakukan setelahnya...! Tapi pertama-tama, mari kita ambil foto seluruh member Klub Relawan!”

  Isshiki menolaknya dengan senyuman dan menjulurkan tangannya ke Yuigahama. Yuigahama lalu memberikan kamera tersebut.

  “Benarkah? Terima kasih banyak. Kuserahkan kepadamu kalau begitu! Ayo kita berfoto ramai-ramai setelahnya!”

  “Umm, aku sendiri belum mengatakan satupun hal soal berfoto-foto...”

  “Yukinon, kau ini terlalu keras kepala.”

  Yuigahama mengatakan itu dengan spontan dan Yukinoshita terlihat gugup. Well, suka atau tidak, dia tetap akan berakhir dengan membiarkan dirinya difoto...Bersikap keras kepala tidak akan mengubah apapun, dan aku juga tidak berbeda dengan itu.

  Tapi, aku memiliki masalah dengan kamera ini.

  “...Aku sebenarnya tidak peduli soal ini, tapi kartu memori di kamera ini penuh, tahu tidak?”

  “Oh, itu benar. Itu karena Senpai terlalu banyak mengambil foto dari Klub Tenis.”

  “Sebenarnya kau memfoto apa saja disana sehingga memakan banyak sekali memori...?”

  Yukinoshita mengatakan itu seperti tidak percaya dan Yuigahama memikirkan itu sejenak, lalu dia mengangguk.

  “Klub Tenis ya...Oh, jadi Sai-chan, huh...? Kurasa kita tidak bisa melakukan apapun soal itu.”

  “Yui-senpai, apa kau merasa itu benar-benar normal!?”

  Jadi dia sudah menyerah...Tidak, mungkin ada peluang kalau dia mengakui itu... Atau begitu pikirku hingga Isshiki menepuk kedua tangannya dan mengambil sesuatu di kantong blazernya.

  “Jika memorinya kurang, bagaimana kalau mengambil foto dengan HP ini?”

  Dia menunjukkan HP milikku. Ngomong-ngomong, HP-ku juga disita untuk hari ini karena deadline.

  “Ahh, well, banyak memori yang kosong disana, jadi aku tidak ada masalah dengan itu.”

  “Oke, kita pakai ini saja,” kata Isshiki, mengedipkan matanya dan mempersiapkan HP-ku.

  Ini mungkin seperti balas-budi dari Isshiki. Jujur ya, aku tidak paham apa maksudnya...

  “Umm, oke Senpai, kau duduk disitu. Yui-senpai dan Yukinoshita-senpai berdiri di belakang Senpai.”

  “Okeee!”

  “U-Um...Ya ampun...”

  Isshiki meneriakkan instruksi dan Yuigahama menarik lengan Yukinoshita. Dan akhirnya, Yukinoshita menyerah. Keduanya berdiri bersama di belakangku...BELAKANGKU?

  “...Huh? Tunggu dulu? Bukankah susunan ini agak aneh? Bukankah ini semacam foto keluarga jaman dulu? Mungkin kalian berdua harusnya agak jauhan saja?”

  Ngomong-ngomong, kalian berdua terlalu dekat! Terlalu dekat, kataku! Maksudku, mengambil foto bersama itu adalah masalah lain, tapi kalau kalian terlalu dekat itu akan membuatku gugup, jadi hentikan itu.

  Kursinya agak bergoyang ketika aku mencoba berdiri, tapi bahuku ditahan oleh seseorang dan tidak bisa berdiri. Ketika kulihat, Yukinoshita sedang menatapku dengan senyum yang manis dan dingin.

  “Hikigaya-kun, kau sangat keras kepala kali ini.”

  “Bukankah itu harusnya ke dirimu...”

  “Iroha-chan, kita sudah siap.”

  Yuigahama membantu Yukinoshita untuk menekan bahuku dan memanggil Isshiki.

  “Oke, ayo siap. Katakan cheeese!

  Lalu muncul kilatan cahaya diselingi suara lensa kamera. Ahh, aku pasti membuat sebuah ekspresi wajah yang konyol...Itu pasti terlihat seperti foto-foto jaman dulu...

  Ketika aku duduk dan merenungi sikapku, Isshiki mendekatiku dan memberiku kembali HP milikku.

  “Ini, Senpai...Fotonya bagus-bagus looh!” kata Isshiki, sambil tersenyum manis.

  Aku tidak perlu bertanya lebih jauh karena aku tahu kalau maksudnya sama dengan kata-katanya.

  “Hikki, bisa kau nanti kirim fotonya kepadaku? Oh, sebenarnya, Iroha-chan, ayo kita berfoto!”

  “Okeee! Tolong ambil foto kami, Senpai.”

  Isshiki menepuk pundakku dan  berlari kecil ke arah Yuigahama dan Yukinoshita.

  “Aku tidak ikut saja deh...”

  “Kubilang tidak. Kita semua akan berfoto bersama!”

  “Jadi kita mengatur urutannya bagaimana?”

  Ketika ketiganya sedang mendiskusikan pengaturannya, aku secara diam-diam melihat layar HP-ku. Di layar, ada sebuah foto dari Klub Relawan yang baru saja diambil.

  ...Dia benar, tidak seburuk yang kukira. Tidak seperti foto jaman dulu.

  Juga, dulu aku tidak tahu harus menulis apa mengenai Klub Relawan atau kita ini seperti apa, kurasa aku bisa melakukan itu sekarang. Oleh karena itulah foto ini tidaklah seburuk yang kukira.

  Aku tidak tahu harus menyebut Klub ini apa atau mendefinisikannya bagaimana. Tapi aku yakin kalau akan ada sesuatu yang bisa kita rasakan dengan melihat gambar ini, meskipun tidak ada satupun kata yang tertulis. Jika kita berusaha menuliskan sesuatu, mungkin kita akan berakhir dengan memendam perasaan kita masing-masing.

  “Hikki, kau yang pertama ambil fotonya!”

  “...Oke!”

  Aku lalu berdiri setelah Yuigahama mengatakan itu. Aku mengarahhkan kamera HP-ku ke arah para gadis dan mencari posisi yang tepat.

  Yuigahama memasang senyumnya yang ceria, seperti biasanya.

  Isshiki memasang pose camera-face miliknya.

  Dan yang terakhir, dipeluk dari dua arah, Yukinoshita, meski dia terlihat agak gugup, wajahnya terlihat berwarna kemerahan karena menahan malu.

  Entah berapa hari lagi hal-hal kecil seperti ini bisa terus terjadi jika kita terus seperti ini?

  Sakit seperti apa yang akan terjadi setelah kita tua nanti dan dihinggapi oleh nostalgia setelah melihat foto ini?

  Sambil memikirkan semua itu, aku menekan shutter kamera HP-ku.





x Chapter III | END x






ANALISIS





  Bagi yang punya analisis sendiri ataupun percaya dengan analisis yang lain, bisa skip tulisan ini. Bagian ini hanyalah analisis penerjemahnya saja, dan bukanlah analisis yang pasti benar.




  Pertama, apa sih yang sebenarnya dibicarakan Yui dan Hachiman ketika berada di ruang OSIS?

  Kita lihat kalimat sebelum Hachiman mengatakan 'tidak adil' tersebut. Yui mengatakan kalau "aku tidak ingin melihatmu kesakitan, Hikki". Jika Hachiman mengatakan tidak adil, maka sebenarnya Hachiman ingin mengatakan kalau ada sesuatu yang salah dengan pernyataan Yui. Ini sebenarnya cukup mudah jika kita mengikuti LN-nya. Yui tidak ingin melihat Hikki kesakitan, tapi sebenarnya selama ini si Hikki tersandera oleh perasaannya.

  Jika kita flashback ke volume 3 chapter 6, mereka berdua sepakat akan memulai dari nol. Hachiman juga mengatakan kalau dia tidak ingin dilihat sebagai nice guy. Tapi kenyataannya, di vol 5 chapter 6 Yui tetap menganggap Hachiman begitu. Harusnya, Hachiman menjelaskan (lagi) seperti volume 2 chapter 5, insiden nice girl. Tapi Hachiman tidak mengambil langkah tersebut dan memilih untuk menggantung perasaan Yui. Mungkin menganggap kalau menjelaskan ulang lagi, Yui tidak akan berubah. Sedang sekarang, Yui adalah teman dari Yukino. Semuanya menjadi runyam.

  Ini juga dikuatkan adegan volume 7 chapter 9 dimana Hachiman memilih untuk menggantung jawabannya terhadap permintaan Ebina untuk menjadi pacarnya. Jika merunut monolog Hachiman di atap Stasium Kyoto, 100% Ebina harusnya ditolak. Kemungkinan besar, Hachiman belajar dari situasinya dengan Yui, kalau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, adalah hal yang sia-sia. Ebina kemungkinan akan mengulanginya lagi.

  Lalu kita cermati, sebelum Hachiman mengatakan soal deadline dan pekerjaannya yang menulis itu, Yui terlihat sedih. Tapi setelah mengatakan 'apapun yang terjadi, orang yang membuat janji-lah yang bersalah...Aku akan melakukan apa yang kubisa'. Lalu setelah itu Yui terlihat ceria secara tiba-tiba. Ada yang aneh dengan respon situasinya. Hachiman membahas tentang masalah deadline itu, jelas. Tapi sepertinya Yui ini menangkap sesuatu yang berbeda dari Hachiman. Kira-kira, yang Yui tangkap ini apa dari kalimat Hachiman itu?

  Kita semua tahu Yui menyukai Hachiman. Kira-kira, apakah ada sesuatu dimana Hachiman memiliki janji, dan kata-kata Hachiman barusan itu seperti sebuah kejelasan tentang janji itu? Ada, yaitu janji kencan yang Hachiman setujui di volume 6 chapter 7. Yui meminta Hachiman mengganti roti panggang madu tersebut dengan kencan, dan Hachiman menyetujui itu. Tapi, setelah ditanya, Hachiman meminta waktu. Waktu itu dalam momen festival budaya, awal Oktober. Lalu tanggal belasan Desember, Yui menanyakan lagi tentang janji itu, kali ini Yui sudah menetapkan kalau dia ingin berkencan dengan Hachiman di Disney Land, vol 9 chapter 7. Tapi lagi-lagi Hachiman mengulur itu.

  Jelas, jawaban Hachiman itu membuat Yui ceria, karena itu memberikan kejelasan tentang janji kencan mereka. Meski kita tahu, Hachiman tidak pernah mewujudkan janjinya tersebut, dan ini berakhir di volume 11 chapter 8. Yui yang langsung proaktif meminta Hachiman menebus hutangnya tersebut di Akuarium Teluk Tokyo. Sepertinya, dua orang ini menangkap dua hal yang berbeda.




  Kedua, apa yang sebenarnya terjadi dalam percakapan Yukino dan Hachiman di Ruang OSIS?

  Disini, Watari banyak sekali memainkan lagu lama di adegan ini. Entah apa alasannya. Misalnya tentang anggapan Hachiman kalau dirinya adalah serangga. Ini adalah sebutan Yukino ke Hachiman di volume 1 chapter 8. Hachiman dalam monolognya kesal ketika disebut serangga, tapi disini dia mengakui kalau dirinya serangga.

  Tidak sampai disitu, Watari kembali memainkan lagu lama Oregairu di adegan ini. Yaitu di monolog ketika Hachiman melihat sikap Yukino yang terlihat seperti gadis normal seumurannya. Ini mengingatkan kembali ke volume 1 chapter 2. Dimana waktu itu Hiratsuka-sensei bertanya pendapat Hachiman mengenai Yukino. Sensei mengatakan kalau apapun sebutan Hachiman ke Yukino, Yukino tetaplah gadis normal seumurannya yang manis. Hachiman waktu itu menyangkalnya. Tapi kali ini Hachiman mengakui kalau Yukino memang seperti itu. Entah Watari kebetulan saja menulisnya seperti itu, atau sengaja? Saya kembalikan kepada pembaca.

  Melihat bagaimana Watari menulis flashback request Yui di volume 11, kemungkinan besar Watari memang sengaja menulis adegan ini seperti itu. Ini menunjukkan kalau Hachiman secara perlahan berubah menjadi lebih baik, meski tidak meninggalkan idealisme penyendirinya.

  Lagi-lagi, Watari mengulang lagu lama, aransemen baru, adegan Yukino memberikan Hachiman MAX COFFEE. Anda merasa nostalgia akan sesuatu? Yep, volume 1 chapter 3. Yukino berhutang minuman kaleng Strawberry Mix dan belum dibayar, Hachiman waktu itu juga menggerutu. Tapi kali ini, Yukino yang mentraktirnya MAX COFFEE. Banyak sekali adegan lama yang diselesaikan di adegan Yukino-Hachiman, entah mengapa Watari mengulang banyak sekali adegan di volume 1 dan menyelesaikannya disini.

  Yukino yang membawa Max Coffee untuk menghilangkan stuck dan lelah Hachiman ini, sebenarnya realisasi kata-kata Hachiman di vol 6.5 chapter 1 tentang Max Coffee yang bisa menghilangkan lelah. Sederhananya, Yukino ingat akan kata-kata Hachiman tersebut, dan memutuskan untuk membawa Max Coffee. Tapi ini unik, timeline vol 6.5 adalah Oktober sedang timeline 10.5 adalah Januari. Sederhananya, Yukino ingat apa yang dikatakan Hachiman tiga bulan yang lalu.

  Baik Hachiman dan Yukino sama-sama tahu kalau kata-kata mereka berdua adalah sarkasme, alias sindiran akan sesuatu. Tapi disini Yukino meminta maaf, dia juga mengakui telah miskalkulasi. Apakah ini soal deadline koran? Tidak, karena Yukino sudah menyiapkan rencana B. Jika menyiapkan rencana B, berarti ini bukanlah miskalkulasi, alias sudah diprediksi dengan baik. Jadi, ada sesuatu dimana Yukino di masa lalu telah miskalkulasi. Yukino mengatakan harusnya tahu kalau Hachiman sekalipun bisa salah. Jadi, sebenarnya mereka berdua merujuk sebuah kejadian, dimana Yukino tidak menyangka kalau Hachiman berbuat salah. Tapi yang bisa Yukino lakukan hanyalah menyalahkan Hachiman, tanpa menyadari kalau dirinya sendiri juga bertanggungjawab dalam hal itu.

  Kira-kira, kejadian apa? Well, pastinya pembaca akan membayangkan hal yang sama dengan saya, vol 7 chapter 9. Hachiman memilih untuk melindungi grup Miura dan Hayama. Ending chapter tersebut, Yukino membenci Hachiman. Dan awal volume 8 Yukino terus mempermasalahkan itu. Kali ini, Yukino meminta maaf atas hal itu. Jika keduanya mengakui kalau sama-sama salah, bukankah ini sama saja mengakui kalau mereka berdua berbagi tanggung jawab atas kejadian itu?

  Karena adegan Yukino-Hachiman adalah edisi nostalgia/lagu lama/pengulangan adegan volume-volume lalu, kira-kira ada tidak kejadian dimana Hachiman dan Yukino berbagi tanggung jawab bersama? Ada, yaitu volume 9 chapter 9, rapat Kaihin-Sobu. Hiratsuka-sensei sendiri yang mengatakan kalau Yukino-Hachiman berbagi rasa sakit bersama-sama.

  Kita lanjut lagi ke monolog berikut:
    Tapi, tidak peduli seberapa berbeda kita melihat warna tersebut, aku tidak memiliki masalah dengan itu.

  Karena ini edisi lagu lama, memangnya ada sesuatu yang mengatakan kalau Hachiman dan Yukino berbeda? Ada, volume 6 chapter 10. Ini seperti kelanjutan monolognya.

  Masih dalam edisi sarkasme, Yukino mengatakan kalau dia tidak begitu banyak membantu. Apakah tentang koran OSIS? Tidak, dia sangat membantu. Jadi ini tentang kejadian yang mana? Well, tentunya ini volume 10, gosip Hayama-Yukino. Yukino tidak sebodoh itu menganggap Hayama akan muncul di panggung marathon dan berusaha menghentikan gosip itu, karena faktanya di gosip serupa ketika SD Hayama tidak melakukan apapun. Fakta kalau Hachiman mengejar Hayama di marathon dan terlibat percakapan serius, sedikit banyak pasti ada campur tangan Hachiman.




  Ketiga, komentar saya (bwuahaha) tentang adegan Yui-Hachiman dan Yukino-Hachiman.

  Keduanya sama-sama membahas masalah di masa lalu. Bedanya, masalah Yui-Hachiman jalan di tempat, sedang masalah Yukino-Hachiman menemukan titik terang.

  Adegan Yui-Hachiman, mereka berdua salah paham. Yui mengira kalau ini tentang janji kencan mereka. Hachiman mengira kalau ini soal koran OSIS. Berbeda dengan Yukino-Hachiman, mereka berdua tahu apa yang sedang mereka bicarakan.

  Yang saya cermati, sikap Yukino di adegan ini sangat natural, seperti gadis pada umumnya ketika dalam posisi berduaan dengan Hachiman.Yukino memilih duduk di sebelahnya. Soal tempat duduk, ini agak lucu, karena di klub posisi tempat duduk mereka berseberangan. Berbeda dengan Yui yang memakai pendekatan sentuhan fisik (memijat), Yukino mengambil pendekatan berbeda. Dia memilih menggunakan sesuatu yang disukai Hachiman (Totsuka Max Coffee).




  Keempat, sadar atau tidak, ada hal menarik lainnya di adegan Yukino-Hachiman.

  Waktu itu Yukino mengatakan kalau menatap terus-terusan layar komputer tapi dengan pikiran stuck tidak akan menyelesaikan sesuatu. Lalu, Hachiman meminum Max Coffee sambil terus memperhatikan Yukino. Apakah anda menangkap maksud saya?

  Lalu ketika Yui berdiri tepat di sebelahnya, Hachiman memilih untuk memalingkan wajahnya karena jarak yang dekat. Tapi Hachiman dengan tenangnya memperhatikan Yukino yang duduk di sebelahnya. Do you get it what I mean?

  Fakta kalau selama ini Yukino sengaja menaruh MAX COFFEE di sarung tangannya, kemungkinan dia membelinya di mesin penjual minuman di halaman sekolah. Lalu sengaja melepas sarung tangannya untuk menjaga Max Coffee itu tetap hangat. Ini bisa juga untuk memecahkan mitos tidak akan ada gadis yang rela berkorban untuk Hachiman, volume 3 chapter 4.




  

  Kelima, percakapan:

    “Yeah, orang-orang kadang memang begitu. Mereka memilih tidak melakukan apapun kecuali mereka sendiri sudah benar-benar tersudut,” kataku, sambil tersenyum kecut setelah mendengar kata-kata Yuigahama.

  Lalu, Yukinoshita memasang senyum yang menyindir sambil melihat ke arahku.

  “Oh, sebenarnya siapa orang yang sedang kau bicarakan barusan?”

  Cukup mudah, Yukino menyindir Hachiman tentang pengakuannya di Klub Relawan soal hal genuine, vol 9 chapter 6. Karena malam sebelumnya, Hachiman sudah tersudut oleh Yukino tentang hubungan mereka, adegan Mall Marinpia vol 9 chapter 5. Next...




  

  Keenam, situasi tidak wajar, Yukino menghentikan Hachiman untuk kabur dari sesi pemotretan. Bukankah ini aneh, karena Yukino sendiri awalnya terkesan tidak mau difoto?

  Sebenarnya mudah, Yukino tidak punya foto Hachiman dengannya. Sedang Iroha punya.

  Apakah kebetulan jika Watari menulis monolog Hachiman tentang Miura dan Sagami yang diam-diam akan melihat ke foto Hayama? Bukankah masuk akal jika Hachiman dan Yukino akan diam-diam melihat foto mereka?

  Bagaimana dengan Yui? Yui sudah memiliki banyak sekali foto Hachiman, terutama edisi darmawisata dan Disney Land.





  Terakhir, monolog Hachiman di akhir chapter.

  Ini sebenarnya mudah (mudah melulu!), oke begini saja, ini agak sulit. Hachiman mengatakan tidak tahu sampai kapan bisa bertahan jika mereka bisa seperti ini. Padahal, ini cukup jelas. Mereka member Klub Relawan, artinya setidaknya sampai lulus SMA mereka akan seperti itu. Tapi mengapa Hachiman seolah-olah mengatakan seperti bisa saja berakhir lebih cepat? Hachiman juga memastikan akan ada rasa sakit yang terasa jika mereka tua nanti melihat foto tersebut.

  Ini sudah dibahas di analisis pertama. Hubungan mereka bertiga adalah sebuah hubungan yang rumit. Yui dan Yukino berteman. Yui menyukai Hachiman. Yukino menyukai Hachiman. Dan Hachiman menyukai...Harusnya anda tahu dari melihat adegan di chapter ini (nyahaha). Melihat volume 3 chapter 1, Yui bergabung ke Klub Relawan karena Hachiman. Juga Yui membohongi Yukino yang dianggap temannya, karena hubungannya dengan Hachiman memburuk. Sedang Hachiman tidak ingin merusak dan menyakiti siapapun.



  Mungkin, volume 11 chapter 9 itu merupakan realisasi kata-kata Yui kalau dia tidak ingin melihat Hachiman kesakitan lagi.

  Terima kasih karena telah meluangkan waktu anda membaca analisis tidak penting ini...Nyahaha...

  

10 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Aduh... Sayang banget di OVA nya banyak yg kepotong, bahkan di OVAnya bisa disebut bikin cerita sendiri bukan adaptasi dari LN Oregairu, padahal di sana tertulis adaptasi LN Vol 10.5 :(

    BalasHapus
  4. Untuk analisis keenam sepertinya bertabrakan sama analisis volume 12 yg interlude ke 2 yg monolog Yui tentang melihat harta Karun Yukino (Foto), di sana admin bilang kalau itu foto saat Disneyland dan analisis di sini admin bilang Yukino belum punya foto bersama Hachiman, jika kita melihat waktunya saat pergi ke Disneyland itu Desember sedangkan di Volume ini waktunya yaitu Januari.

    Untuk percakapan Yukino yg :
    “Pada akhirnya, akulah orang yang kebanyakan tidak bisa melakukan sesuatunya,”

    Di sana Yukino berbicara sambil memandangi Matahari tenggelam.

    Bila admin analisisnya mengarah ke gosip Hayama-Yukino, tapi analisisku mengira kalau percakapan tersebut mengarah ke Volume 9, yaitu tentang hubungan mereka yg mulai renggang, di sana Yukino tidak bisa melakukan sesuatu tentang hubungan mereka agar bisa kembali lebih baik. Mengapa analisis saya mengarah ke sana? Karena di sana Yukino memandangi langit sore sambil memikirkan arti kata genuine yg di katakan Hachiman sebelumnya, dan di volume ini Yukino mengatakan tidak bisa melakukan sesuatu nya sambil memandangi langit sore.

    Maaf bila saya sok tau, Saya hanya fans berat Novel ini dan juga Fans berat Web ini hihihi....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Diperkuat oleh monolog yg ini :

      Tapi, tidak peduli seberapa berbeda kita melihat warna tersebut, aku tidak memiliki masalah dengan itu.

      Di monolog tersebut Hachiman mengatakan perbedaan mereka, dan di volume 9 juga Hachiman mengatakan perbedaan mereka juga. Memang bener sih.. di volume ini lebih banyak ke arah nostalgia.

      Hapus
    2. Dan juga di percakapan ini :

      “Tetap, kau sendiri...sudah memberikan bantuan yang sangat berarti.”

      Ini saya rasa masih mengarah ke Volume 9, di sini Hachiman mengatakan sambil melihat langit sore juga. Apa sih bantuan yg berarti dari Yukino ke Hachiman? Yah.. tentang rapat event Natal bersama SMA Keihin di sana Hachiman sudah mencoba menjadi kambing hitam tetapi masih juga gagal, dan akhirnya Yukino juga menjadikan dirinya Kambing Hitam, bantuan tersebut "mungkin" sangat berarti bagi Hachiman sendiri yg membuat event Natal tersebut menjadi berjalan lancar.

      Hapus
  5. Soal yukino belum punya foto dengan hachiman , bukannya yukino udah punya pas naik atraksi di Disneyland di vol 9 , malah di vol 12 Yui Berhasil liat itu foto pas bantu packing barang rumahnya yukino

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di volume ini, pemirsa masih belum tahu kalau Yukino punya fotonya.

      Hapus