Jumat, 13 Mei 2016

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 10.5 Chapter 3 : Ada Sebuah Deadline Yang Tidak Boleh Dilewatkan (2/3)

   Kalau ada yang tanya soal halaman terjemahan LN, ada di bagian kanan atas blog ini. Cobalah cermati dahulu sebelum bertanya.
x x x






  Agar bisa membicarakan ini lebih dalam, Isshiki pergi kembali ke sekretariat OSIS untuk membawa beberapa materi diskusi. Sementara menunggu dirinya kembali, Yukinoshita mengisi kembali gelas kami dengan teh yang baru.


  Ketika teh dituang, aromanya mulai mengisi ruangan ini. Meski pemanas ruangannya tidak berfungsi, tapi kombinasi dari teh dan jaketku sudah cukup untuk mengusir rasa dingin di ruangan ini.

  “Maaf sudah menunggu!”

  Pintu terbuka dan Isshiki yang terlihat antusias masuk ke dalam ruangan.

  Dia membawa sebuah dokumen. Dia menaruhnya di meja dan mulai membukanya. Kedua matanya bersinar terang seperti seorang anak kecil yang melihat pajangan mainan di toko sebelum Natal.

  Melihat ekspresinya yang seperti itu, membuat keinginanku untuk mewujudkan ide koran gratisnya mulai muncul. Tapi, konsep-konsep spiritual seperti energi, keberanian, dan motivasi tidaklah cukup untuk mewujudkannya.

  Pertama-tama, kita harus mengatasi situasi ini. Semakin kau mengerti situasinya, maka semakin tersudut dirimu; hal itulah yang disebut oleh orang-orang dengan sebutan pekerjaan.

  Jika dana dan jadwalnya tidak memungkinkan, maka ini tidak bisa diwujudkan. Jika menyadari hal itu dan terus memaksa, maka itu hanya akan menurunkan moral saja. Di lain pihak, jika dana dan jadwal memungkinkan, orang akan merasa yakin kalau mereka akan dengan mudah mewujudkannya. Mereka akan lengah dan akhirnya akan mengacaukan semuanya. Ew, ada apa dengan itu? Punya pekerjaan memang hanya akan berujung dengan kegagalan...

  Tapi itulah poin pentingnya, yaitu menolak bekerja ketika kau tahu kemampuanmu seperti apa. Jika kau berada dalam situasi dimana kau tidak bisa menolak, maka kau harus bernegosiasi untuk mengurangi beban kerjamu. Karena telah lama menghabiskan waktuku di lingkungan yang memaksaku untuk bekerja, alias Klub Relawan, akhirnya aku memperoleh pencerahan ini.

  Aku menunggu Isshiki menyiapkan dokumen-dokumennya dan akupun berbicara padanya.

  “Pertama-tama, kita belum memutuskan kalau kita akan melakukan atau tidak. Kita akan memutuskan itu setelah mendengarkan pemaparanmu dan mendiskusikan itu apakah memungkinkan atau tidak.”

  “Ya. Aku tidak ada masalah dengan itu!”

  Dia menjawabnya dengan suara yang ceria ditambah dengan senyum yang mengembang.

  Argh...Tatapan matamu yang bersinar terang ditambah ekspresi yang memelas itu membuatku menjadi semakin sulit untuk menolak itu.

  Akupun hanya bisa diam dan menggerutu saja dari kursiku. Seperti terpengaruh juga, Yukinoshita memulai percakapan untuk meneruskan topiknya.

  “Well, kenapa kita tidak mulai dulu pemaparanmu?”

  “Ya. Jadi, umm, ketika kita membuat cetakan poster tentang event kolaborasi Natal tempo hari, kita memakai jasa percetakan. Aku menghubungi mereka dan menanyakan beberapa pertanyaan, gitu loh?”

  Sambil menjelaskan itu, dia mengambil beberapa dokumen. Itu adalah pamflet dan data transaksinya. Melihatnya sudah berkomunikasi dengan perusahaan percetakan...Mungkin dia terlihat seperti gadis yang tidak bisa merencanakan sesuatu, tapi dia pastinya punya kemampuan untuk bertindak...

  “Jadi inilah yang mereka rekomendasikan kepadaku...”

  Isshiki menunjuk sebuah bagian di pamflet itu. Yukinoshita yang ada di sebelahnya melihat apa yang dia maksudkan.

  “Delapan halaman berwarna...Kurasa ini bisa dikategorikan berskala besar...”

  Yukinoshita memegangi keningnya seperti terkena sakit kepala. Isshiki yang berada di sebelahnya lalu tertawa dengan malu-malu.

  “Well, aku lalu tiba-tiba bilang akan membicarakan itu setelah mendengar penjelasan dari pihak percetakan.”

  “Penjelasan apa maksudmu...?”

  Dengan malu-malu, Isshiki menjelaskan.

  “...Maksudku, kau kan pasti secara tidak sadar mengatakan ‘ya’ ketika ada orang dewasa yang memberitahumu tentang sesuatu, benar tidak?”

  “Aku paham maksudmu. Aku benar-benar paham.”

  Yuigahama mengangguk dan setuju dengannya.

  Mmhm, gadis-gadis jaman sekarang...Aku mulai khawatir kalau suatu hari nanti ada orang dewasa atau Senpai mereka yang menipu mereka...

  “Jadi begini...Berdasarkan dana yang kita punya, kita bisa mengetahui berapa banyak cetakan yang bisa kita buat...Jadi kita bisa menyiapkan tempat penampungannya di sekolah, dan kita bisa mendaur ulang kertas-kertasnya yang tidak terpakai...Jadi sepertinya kita tidak perlu mengkhawatirkan tentang tempat untuk menampung koran-koran itu.”

  Di lain pihak, Yukinoshita tidak mempedulikan keduanya dan menggumamkan itu ke dirinya sendiri sambil membolak-balik kertas tersebut.

  Mmhmm, Nona Diskomunikasi...Aku juga mulai mengkhawatirkanmu juga!

    Setelah membaca-baca seluruh pamfletnya, Yukinoshita lalu memberikannya kepadaku. Akupun mengambil pamflet itu. Di pamflet itu, ada semacam instruksi bagaimana caranya agar bisa menerbitkan sesuatu.

  “Kita bisa menyerahkan bagian desain isinya ke perusahaan percetakan...Ini artinya selama kita bisa menangani isi artikel dan bisa memberikan penjelasan mengenai desain halamannya seperti apa, kurasa tidak akan ada masalah yang lain.”

  “Itu kedengarannya tidak jauh berbeda dengan request dari majalah lokal ke kita tempo hari.”

  Sederhananya, selama kita tahu apa yang ingin kita cetak di koran itu, maka tidak akan ada masalah lagi. Begitulah, meski begitu itu tidak mengubah fakta kalau kita harus menangani masalah gambar dan isi artikelnya. Sial, aku tiba-tiba merasa kurang senang ketika memikirkan kata “menangani”.

  “Tapi jumlah halaman waktu request tempo hari jauh berbeda dengan yang kita hadapi saat ini...”

  Jawab Yukinoshita. Nada suaranya terlihat kurang bersemangat. Oleh karena itulah, Yuigahama menambahkan sesuatu dengan antusias.

  “Tapi begini, kita kan kali ini dibantu oleh para Pengurus OSIS. Jika kita membagi beban pekerjaan kita dengan mereka, kurasa kita bisa mengatasinya, benar tidak?”

  “Yeah, itu benar. Kurasa itu memang sesuatu...”

  Tepat ketika aku hendak melanjutkan itu, aku bisa melihat ekspresi Isshiki yang memalingkan wajahnya dengan pucat.

  “....”

  “...Isshiki-san? Mengapa kau menjadi sangat diam?”

  Yukinoshita tersenyum dengan manis, suaranya sangat lembut dan tatapannya terlihat hangat. Tapi entah mengapa, aku tidak melihat adanya kehangatan di senyumnya itu dan melihatnya saja sudah membuat diriku ketakutan. Jujur ya, kau terlihat sangat menakutkan.

  Isshiki juga terlihat ketakutan – tidak, dia terlihat panik sehingga dia membalasnya begitu saja.

  “Ah! Bu-Bukan! Umm...Hanya saja semua orang tampaknya sibuk dengan laporan keuangan kita. Jadi kupikir mungkin ada suatu cara jika kita tidak menambah kesibukan mereka, atau sejenisnya...”

  “...Dengan kata lain, kau ingin mengatakan kalau kita harusnya tidak mengharapkan bantuan mereka?”

  “Ya...”

  Isshiki merendahkan bahunya dan meminta maaf ketika Yukinoshita mengatakan itu dengan sedikit kesal.

  “Be-Begini, kurasa kita tidak bisa melakukan apapun soal itu. Jika kita benar-benar butuh bantuan, aku bisa meminta bantuan teman-temanku atau sejenisnya...Jadi, umm...Kita bisa melakukannya dengan santai!”

  Yuigahama mengepalkan tangannya dan mengatakan itu. Tapi definisi gadis ini mengenai melakukan dengan santai mungkin berbeda dari melakukan sesuatunya dengan benar atau tepat...

  Kalau begitu, kita bisa menghitung dana yang diperlukan dan apa saja yang harus dikerjakan. Dan mungkin, kita juga sudah punya gambaran berapa orang yang bisa mengerjakan ini. Yang tersisa sekarang adalah jadwalnya. Setelah kita tahu itu, maka kita bisa menilai apakah request ini memungkinkan atau tidak.

  Kita punya gambaran kasar mengenai rencana bulan ini, tapi kita perlu rencana detail mengenai jadwalnya.

  “Jadi, kapan tepatnya semua ini harus diselesaikan?”

  “Segera.”

  Isshiki mengambil daftar rencana dan menaruhnya di meja.

  “Saat ini, dengan dana yang tersisa seperti apa, maka rencana yang sempurna adalah memilih paket diskon yang ini, benar tidak? Jadi ketika kutanya mereka tentang paket yang itu, perusahaan percetakan itu bilang kalau kita harus mengirimkan materi dan data artikel kepada mereka di tengah Februari.”

  Hoh, diskon ya. Jadi mereka punya paket seperti itu. Jika dananya memang benar-benar pas untuk paket diskon itu, maka itu tidak jadi masalah. Kalau memikirkan tahun baru anggaran akan dimulai kembali bulan depan, ini berarti Irohasu sendiri sangat pintar dalam mengatur dirinya!

  Aku memikirkan itu untuk menghindari realitanya, tapi ada satu hal yang tidak bisa hilang dari pikiranku.

  Hm? Tengah Februari ini? Akupun memiringkan kepalaku dan Isshiki menambahkan sesuatu.

  “...Jadi, kita...Cuma punya waktu dua minggu.”

  “Huh? Mustahil itu bisa terlaksana. Dua minggu? Kau meminta sesuatu yang mustahil.”

  Akupun menjawabnya sambil melambai-lambaikan tanganku. Yukinoshita-pun terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.

  “Itu benar. Itu memang bukan hal yang realistis untuk dikerjakan. Dan yang terpenting, kita masih harus memeriksa dan mengedit isinya, jadi kita harus membuat artikelnya dalam satu minggu.”

  “Malah bertambah pendek!?” Yuigahama mengatakan itu sambil melihat Yukinoshita dengan ekspresi terkejut.

  “Kurasa, ini lebih tepat bila disebut deadline sebuah koran daripada majalah...Tentunya, ini deadline ini jauh dari kata ideal karena start yang terlambat. Belum lagi masalah-masalah lain yang timbul dalam pengerjaannya.”

  Meski Yukinoshita menjelaskannya dengan logis, dia tetap mengatakan itu meskipun tahu kalau request ini tidaklah realistis.

  “...Tentunya, ini ‘jika’ kami menerima requestmu.”

  Yukinoshita menambahkan itu sambil melihatku untuk mengkonfirmasinya juga. Sepertinya, dia mempercayakanku untuk mengambil keputusan kali ini. Jujur saja, jadwal deadlinenya sangat tidak masuk akal, tapi tidaklah benar-benar sesuatu yang bisa kita anggap sangat mustahil.

  Satu minggu, huh...? Tunggu. Kalau aku tidak mau bekerja di akhir pekan dan hari ini adalah...Aku lalu mencoba menambahkan hari, tapi entah mengapa, aku tidak bisa melakukan perhitungannya. Huuuh? Hachiman-kun, apa kau seburuk itu dalam matematika?

  Tidak, sebenarnya angka-angka itu sudah ada di kepalaku, tapi hatiku, entah mengapa, tidak bisa menerima itu.

  “Oke, coba beritahu aku. Kalau seandainya kami mengikuti jadwal itu, berapa hari yang kita punya sebelum deadline itu?”

  “Umm...”

  Yuigahama melihat ke arah atap ruangan dan mulai menghitung dengan jari-jarinya. Ekspresinya terlihat sangat terkejut.

  Yukinoshita melihat ke arahku dengan tatapan yang menyedihkan.

  “...Apa kau berpikir masih ada harapan meski tanpa perlu menghitung harinya?”

  “Melihatmu mengatakan itu saja sudah memberitahuku kalau ini sudah tidak ada harapan sama sekali...”

  Kurasa ini tidak akan bisa? Yeah? Akupun menatap Isshiki dan ekspresinya bertambah suram.

  “...Kurasa...Kalian tidak bisa?”

  Isshiki mengatakan itu dengan pelan, suaranya seperti terdengar putus asa dan wajahnya seperti hendak menangis saja. Kedua matanya seperti mengeluarkan air mata. Kedua tangannya yang meremas roknya terlihat bergetar hebat. Bahunya yang kecil itu terlihat turun dan secara perlahan dia melihat ke arahku. Dia seperti menaruh semua perasaan dan harapannya ke setiap gerakan itu dan membuatku serasa ingin menerima requestnya.

  Tapi tunggu dulu Bung! Aku sudah terbiasa dengan trik Komachi yang menangis seperti itu! Jika kau punya adik yang seperti itu, kau secara otomatis akan punya kekebalan dengan itu, suka atau tidak suka! Oleh karena itu, aku sudah terbiasa untuk menerima permintaan semacam itu tanpa ragu.

  “Jadi sederhananya, kau ingin sesuatunya selesai dalam beberapa hari saja, benar?” tanyaku.

  Aku menjawabnya dengan suara yang mirip ketika menjawab permintaan Komachi. Sial, aku benci ini! Aku benci sifat Onii-chan yang ada di diriku!

  “Terima kasih banyaaaak,”

  Isshiki mengatakan itu sambil tersenyum. Sebaliknya, gadis yang ada di sampingnya menatapku dengan dingin.

  “...Begitu ya, ternyata kau ini sangat lemah.”

  “W-Well...Itu adalah salah satu poin bagus dari diri Hikki...Dan juga salah satu poin yang menyedihkan darinya.”

  Meski Yuigahama mengatakan itu dengan senyum, dia juga menatapku dengan dingin.

  Er, Maafkan aku...Aku benar-benar meminta maaf karena telah menyebabkan masalah bagi kalian...

  Secara spontan, aku ingin meminta maaf kepada mereka berdua, tapi yang membawa request ini adalah Isshiki. Jadi ini sebenarnya adalah salahnya, bukan salahku.

  Akupun menatap ke arah Isshiki, dan dia terlihat sedang menepuk-nepuk dadanya karena lega.

  “Phew, kau ini benar-benar penyelamatku. Aku awalnya berharap Senpai bisa mengambil keputusan ini sebelum aku mengeluarkan ‘daftar belanja’ kita.”

  Dia terlihat sangat gembira, kontras dengan sikapnya barusan. Maksudku, kurasa tidak masalah karena aku sudah menduga cepat atau lambat ini akan terjadi.

  Tapi setidaknya kau teruslah konsisten bersikap licik sampai akhir! Ya Tuhan, aku benar-benar sudah tidak punya harapan atau impian lagi.









x x x










  Meski jadwalnya sangat ketat, entah mengapa akhirnya kita bisa menyelesaikan sesuatu. Langkah kita dari titik ini memang berpengaruh dengan ketersediaan dananya, tapi untuk masalah kali ini, kita tidak ada satupun masalah yang berhubungan dengan dana.

  Tapi, kita belum memutuskan apa yang akan kita lakukan, ini adalah momen terpenting dalam rencana ini.

  “Okeeeee, ayo kita mulai rapat perencanaannya!”

  Isshiki mengatakan itu dengan gaya seorang pembawa acara. Hanya Yuigahama yang bertepuk tangan. Meski Isshiki yang memulai diskusi ini, dia langsung menatap ke arah Yukinoshita untuk bertanya bagaimana selanjutnya.

  Setelah itu, Yukinoshita menaruh tangannya di dagu.

  “Kurasa kita harus memikirkan konsepnya dahulu.”

  “Apa yang disebutkan oleh Iroha-chan sebelumnya kurang bagus? Seperti memperkenalkan olahraga yang menyenangkan atau restoran dengan makanan enak dan sejenis itu.”

  “Oh ya! Kurasa itu bagus! Kupikir kita bisa mengeksplorasi itu semua dengan mencicipi itu dan mereviewnya, kurasa bagus!”

  Isshiki tampak setuju dengan Yuigahama, tapi entah mengapa makna kata-katanya terasa berbeda...

  Mendengar pendapat mereka berdua, Yukinoshita menggeleng-gelengkan kepalanya.

  “Kalau kita punya waktu, maka itu tidak masalah, tapi kalau melihat situasi kita, mengisi delapan halaman dengan hal-hal tersebut membutuhkan waktu yang lama. Kita harus memikirkan jenis artikel yang lain.”

  “Apa kau punya hal lain yang terpikirkan olehmu?” tanya Yuigahama kepada Isshiki.

  Isshiki menyilangkan lengannya dan memiringkan kepalanya. Setelah itu, dia hanya berbisik.

  “...Tidak juga.”

  Setelah mendengarkan jawabannya, Yukinoshita terlihat kecewa dan Yuigahama memasang senyum yang kecut. Well, begitulah dia...

  Usul dari Yukinoshita – brainstorm konsepnya – merupakan konsep dasar. Mungkin kau bisa katakan itu adalah cara yang umum jika hendak menerbitkan koran. Tapi, dalam kasus Isshiki, menerbitkan koran ini harus selaras dengan tujuannya, jadi konsepnya harus setidaknya disetujui olehnya.

  Kurasa yang harus kita pikirkan saat ini bukanlah konsep yang kita miliki, alias konsep penerbitnya, yang digunakan sebagai dasar menerbitkan korannya, tapi konsep yang bisa menangkap perhatian dari pembaca-pembacanya.

  “Kalau kita tidak yakin bagaimana kita harus memulainya, kenapa kita tidak mencoba menelusuri dari siapa sasaran koran ini?”

  “Huh?”

  Tampaknya ideku tidak bisa dipahami oleh Isshiki. Dia memiringkan kepalanya ke kanan dan melihatku dengan tatapan penuh tanda tanya. Sangat mengganggu...Aku ini sebenarnya mencoba untuk menolongmu, tahu tidak...

  Meski Isshiki tidak paham itu, tapi Yukinoshita pasti paham.

  “Sasaran...Dengan kata lain, siapa pembacanya?”

  “Yeah. Pada dasarnya kita melihat siapa yang akan membaca koran ini dan kita mulai menelaah apa saja yang kelompok pembaca seperti ini suka untuk dibaca disana.”

  “Pembaca...Bukankah koran ini nantinya akan diedarkan ke kalangan warga sekolah ini saja?” tanya Yuigahama, dan Isshiki mengangguk.

  Well, kita memang tidak punya ide tentang apa materinya, tapi ada satu hal yang pasti, yaitu koran itu akan dibagikan kepada warga sekolah ini.

  Jadi kita mulai memilah-milah berdasarkan kelompok pembaca kita.

  “Jadi kemungkinan korannya akan didistribusikan sekitar bulan Maret, benar tidak? Itu artinya kelas 3 sudah lulus, dan target utama kita adalah pembaca yang berasal dari kelas 1 dan kelas 2 saat ini.”

  “Tergantung kapan korannya akan dibagikan, bisa jadi kita harus mempertimbangkan target pembaca untuk siswa baru juga.”

  “Oh, aku pikir juga begitu, akan ada banyak siswa baru yang mau membaca koran seperti ini!”

  “Itu benar, siswa baru kemungkinan akan membaca ini karena ini menjelaskan banyak hal baru sedang lingkungan sekolah mereka sendiri masih terasa asing.”

  Setelah memilih siapa target pembaca kita, maka selanjutnya adalah merencanakan apa yang harus dilakukan menurut info itu.

  Yukinoshita, yang sedari tadi mencatatnya di kertas, membuka mulutnya.

  “Jika kita menarget siswa baru, maka tema koran itu bisa tentang memperkenalkan sekolah ini dan kita bisa membuat artikel yang memperkenalkan aktivitas harian warga sekolah...Kurasa itu bisa memberikan kita sesuatu yang bagus.”

  “Kurasa itu cukup umum, tapi itu salah satu cara untuk mencapai tujuan kita. Kalau bisa, kita membuatnya seperti semacam bacaan panduan bagi siswa baru, kita harusnya bisa membuat sesuatu yang bagus.”

  “Ohh, itu terdengar bagus...”

  Yuigahama mengatakan itu dengan terkesan. Seperti dirinya, Isshiki menepuk kedua tangannya seperti mendapatkan hal yang memuaskan dan setuju.

  “Itu terdengar bagus bagiku! Jadi, bagaimana kita bisa memperkenalkan sekolah?”

  Isshiki menatap Yukinoshita seperti mengharapkannya untuk menjawab itu. Tapi, Yukinoshita malah menatapnya dengan kesal, sepertinya dia memberitahunya untuk berpikir sendiri. Oh, ternyata dia tegas juga...

  Melihat tatapan Yukinoshita yang seperti itu, Isshiki terlihat gugup. Sambil menatap Yukinoshita, dia berbicara secara perlahan.

  “Kita bisa...Mempromosikan klub-klub sekolah, atau sejenis itu...? Mungkin?”

  Isshiki mengatakan itu dengan pelan dan meremas lengan cardigannya.

  Sebaliknya, Yukinoshita hanya diam mendengarkannya dan menatapnya seperti mempertanyakan apakah itu yang benar-benar dia inginkan.

  Dan terakhir, Yuigahama melihat ke arah mereka berdua dengan gugup.

  Kesunyian melanda ruangan ini. Tolong kalian berdua hentikan! Aku merasa tidak nyaman ketika melihatnya, tolong beritahu saja kalau usulnya itu bagus, tolonglah!

  Meski aku tidak yakin apakah pikiranku ini tersampaikan kepadanya, Yukinoshita tiba-tiba tersenyum.

  “...Kurasa itu tidak masalah.”

  Yukinoshita mengibaskan rambutnya yang ada di bahu dan mengangguk. Isshiki terlihat seperti bernapas lega.

  “Kita akan memakai itu. Oke, jadi kita akan memperkenalkan klub-klub di sekolah ini. Klub, klub...”

  Yuigahama mengangguk dan mulai menulis berbagai macam klub. Yukinoshita melihat catatan yang dibuatnya.

  “Kurasa kita bisa membuat beberapa artikel disini. Kurasa ini bisa sekitar dua halaman.”

  “Kurasa akan bagus jika kita bisa menambah lagi satu halaman untuk bagian klub.”

  Delapan halaman mungkin terdengar sedikit, tapi sebenarnya, itu banyak sekali. Ketika kau membacanya, kau tidak akan merasa kalau itu banyak. Tapi ketika kau disuruh untuk mengisi delapan halaman, itu akan memakan banyak sekali waktu. Bahkan mengisi satu halaman di majalah lokal tempo hari saja sudah sangat merepotkan.

  “Kau benar...Kurasa kita harus memilih satu klub, dan membahasnya secara spesial di satu halaman penuh.”

  “Sepertinya Klub Tenis paling tepat!”

  “Sepertinya Klub Sepakbola paling tepat!”

  Isshiki dan diriku menjawab hampir bersamaan ketika mendengar saran Yukinoshita. Lalu kita saling menatap satu sama lain.

  “Pasti itu Klub Tenis. Semua orang ingin bergabung dengan klub itu, tahu tidak?”

  Maksudku, semua orang membaca Prince of Tennis, dan tenis juga cukup populer belakangan ini. Tapi Isshiki tampaknya tidak terpengaruh oleh itu.

  “Jelas Klub Sepakbola. Semua orang ingin melihat itu, dan juga disana ada Hayama-senpai.” Isshiki mencoba berargumen.

  M-Mmm...Kurasa aku sudah mulai kalah ketika nama Hayama muncul...Memang benar jika ada sebuah halaman spesial dengan foto Hayama disana akan disukai banyak orang...Misalnya Sagami Minami, dia pasti akan mengoleksi itu. Juga ada Miura yang akan menatap terus ke foto Hayama ketika tidak ada seorangpun yang melihatnya. Tunggu, tidak, jika kita menampilkan foto Totsuka, semua orang pasti akan – baiklah, kurasa itu tidak perlu ditanyakan lagi. Satu-satunya orang yang akan senang dengan foto Totsuka hanyalah aku!

  Ketika Iblis lain dari dalam tubuhku merasa frustasi, Yuigahama melihatku dengan aneh.

  “Mmm. Orang-orang mungkin akan mengkritik kita jika kita memberikan perlakuan khusus ke satu klub saja...”

  “Ahh, kurasa itu ada benarnya.”

  Siapa lagi yang jeli dengan perasaan semua orang. Itulah Gahama-san. Meski kita tidak berniat seperti itu, tapi kita tidak tahu bagaimana pendapat orang lain. Kurasa akan lebih baik jika kita menghindari berbagai konflik yang tidak perlu.

  Tapi Isshiki, punya pendapat yang berbeda. Kedua alisnya tampak menyatu dan dia seperti tidak setuju dengan hal itu.

  “Ehh, bisakah kita tidak mempedulikan itu?”

  Ohh, ternyata dia punya tekad baja juga...Meski, “Tidak peduli apa kata Isshiki, tapi akan ada orang yang komplain soal itu!” mungkin lebih akurat begitu.

  Yukinoshita mengembuskan napasnya dan menatap ke Isshiki.

  “Tidak sesederhana itu. Koran ini akan diedarkan atas nama OSIS SMA Sobu. Kau harus mempertimbangkan beberapa hal soal ini...Lagipula, satu-satunya orang yang akan dikritik tentang isi koran ini nantinya adalah Ketua OSISnya, yaitu dirimu.”

  Kata-katanya memang kasar, tapi nadanya itu terdengar penuh kebaikan dan demi nama baik Isshiki.

  “...Well, kurasa begitu.”

  Kata-kata Yukinoshita tampaknya diterima dengan baik oleh Isshiki yang mengangguk ketika mengatakan itu. Meski agak sulit kukatakan, Yukinoshita seperti bersikap selayaknya seorang Senpai baginya.

  “Oh, tapi, hei, kenapa kita tidak mewawancarai Hayato-kun? Bukankah dia ketua dari Persatuan Seluruh Ketua Klub SMA Sobu? Jadi jika kita memuat wawancara dirinya sebagai perwakilan dari seluruh ketua klub, kurasa tidak akan ada yang berkeberatan, benar tidak?”

  Yuigahama mengatakan itu dengan nada positif, bersikap selayaknya Senpai bagi Isshiki.

  Isshiki tersenyum ceria.

  “Kedengarannya bagus! Aku akan mewawancarainya!”

  “Ya, ayo kita isi satu halaman dengan wawancara itu.”

  Setelah menentukan rencana kita, hal selanjutnya adalah mengisi halaman itu dengan detail.

  Yukinoshita menulis hal-hal yang perlu diisi seperti nama ketua, fotonya, dan komentar yang menjelaskan tentang klub tersebut. Isshiki melihat catatan itu dan berbicara.

  “Apa kita tidak akan memperkenalkan Klub Relawan di koran itu?”

  Setelah Isshiki mengatakan itu, Yukinoshita dan Yuigahama saling menatap satu sama lain. Kesunyian melanda ruangan ini. Lalu aku mencoba untuk mencairkan suasananya.

  “Kita tidak perlu menulis apapun mengenai klub ini.”

  “Kenapa begitu?”

  “Uh, begini...”

  Isshiki menanyakan itu kepadaku karena penasaran sambil memiringkan kepalanya. Karena dia menatapku secara langsung, akupun kehilangan kata-kata. Akupun mengatakan apapun yang terlintas di kepalaku untuk menjawabnya.

  “Ayolah, akan sangat memalukan jika kau menulis tentang klubmu sendiri, benar tidak...?” kataku.

  Yuigahama mengangguk. “Ugh, itu benar...”

  “Lagipula, tidak ada seorangpun yang tahu tentang klub ini, jadi menulisnya di koran tidak akan membuat satupun orang merasa senang.” akupun menambahkan.

  Yukinoshita menaruh tangannya di dagu dan berkata.

  “Kurasa begitu, dan kita juga tidak sedang mencari anggota baru...”

  “Benarkah? Lagipula, akan lebih mudah bagi kita jika pekerjaan kita difokuskan ke edit artikelnya saja karena itu akan mengurangi beban pekerjaan kita.”

  Meski aku mengatakan itu, aku tahu apa alasan yang sebenarnya.

  Itu karena aku sendiri tidak tahu apa yang harus kutulis tentang klub ini. Aku sendiri tidak yakin menyebut aktivitas klub kita ini seperti apa dan bagaimana cara menjelaskannya ke publik.

  Isshiki membuka mulutnya seperti hendak menambahkan sesuatu, tapi dia mengurungkan itu dan hanya mendesah saja.

  “...Well, kalau itu alasannya, kurasa mau bagaimana lagi.”

  Untuk saat ini, sepertinya dia sudah yakin. Isshiki lalu mengambil catatan itu. Sambil membaca catatan itu, dia melihat ke arah Yukinoshita dan Yuigahama.

  “Jadi, apa tidak masalah jika kita memakai materi ini untuk mengisi artikel koran?”

  “Ya. Juga, tentang foto-fotonya...”

  Isshiki kemuadian mengambil HP-nya sambil mendengarkan Yukinoshita.

  “Oh, sebenarnya, aku sudah menyiapkan itu. Aku sudah menyiapkan beberapa foto yang bagus di HP-ku.”

  “Oh, aku ingin lihat!”

  Isshiki menggeser-geser layar HP-nya sementara Yuigahama melihat itu. Secara tidak langsung, karena Yukinoshita terjebak diantara keduanya, Yukinoshita terpaksa melihat gambar-gambar di HP Isshiki.

  Isshiki tampak menggeser-geser layar di HP-nya. Setiap dia menggesernya, mereka seperti terlibat pembicaraan ala gadis.

  “Ini manis sekali!”

  “Ini manis kan?”

  “Bisakah kau geser kembali ke foto sebelumnya? Ya, yang ada gambar kucing sedang berjemur tadi.”

  Akupun mendengarkan obrolan mereka dari tempat dudukku yang terpisah dari mereka. Untuk mengisi waktu luang, aku bermain-main dengan HP-ku juga.

  Tiba-tiba, obrolan mereka terhenti.

  Melihat itu sebagai sesuatu yang janggal, aku lalu melihat ke arah mereka. Isshiki memasang ekspresi “Oops”. Sementara Yuigahama dan Yukinoshita, hanya melihatku dengan curiga.

  “Huh, apaan...?”

  “Oh, umm, ahaha, ini seperti, ku-kupikir akan sangat bagus jika aku mencoba pergi ke tempat itu juga...”

  Ketika kutanya, Yuigahama terlihat memasang senyum yang dipaksakan. Di sebelahnya, Yukinoshita terlihat tersenyum dengan manis kepadaku.

  “...Sepertinya kau terlihat sangat menikmati momen itu di gambar ini, benar tidak?”

  Kenapa ruangan ini terasa sangat dingin? Dingin sekali? Kira-kira apa mereka bisa mempercepat perbaikan pemanas ruangannya?








x x x









  Clack, terdengar suara cangkir teh yang ditaruh di piring cawannya.
[note: satu-satunya orang yang memakai cangkir teh di klub adalah Yukinoshita Yukino. Yui memakai mug, Iroha gelas kertas, Hachiman gelas teh.]

  “Dengan begini, kurasa kita tidak perlu khawatir mengenai foto-foto di tempat hiburan dan restoran rekomendasi.”

  “Ya, kupikir begitu.”

  Isshiki menjawabnya sambil menaruh kembali HP-nya. Gambar yang diambil Isshiki waktu kita pergi bersama tempo hari ternyata digunakan untuk artikel koran. Begitulah yang kudengar dari Isshiki barusan. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Yukinoshita dan Yuigahama, tapi aku akhirnya bisa terbebas dari tatapan dingin mereka.

  “Oke, Iroha-chan yang akan bertanggung jawab untuk itu,” kata Yuigahama, sambil melingkari sesuatu di catatannya.

  Jadi kita sudah memutuskan apa yang akan kita lakukan. Sekarang, yang tersisa adalah membagi tanggung jawab. Tentunya, kita juga harus membagi siapa yang menulis di halaman berapa.

  Yukinoshita mengatur apa yang tertulis di catatan itu.

  “Aku akan memegang bagian layout halaman, jadwal, dan desainnya. Yuigahama-san, kau akan bertanggung jawab untuk mengumpulkan data klub, dan berkomunikasi dengan mereka.”

  “Oke!” Yuigahama menjawab itu dengan ceria sambil mengangguk.

  Lalu, Yukinoshita menatapku. “Sedang Hikigaya-kun...”

  “Cameraman, oke.”

  Cameraman, tugasnya mengambil foto-foto dari tiap klub. Itu artinya aku punya alasan yang legal untuk mengambil foto Totsuka. Saking termotivasinya, aku mengatakan, “Serahkan cameraman kepadaku! scratch scratch!”

  Tapi jawaban Yukinoshita sangat dingin.

  “Kau akan menangani bagian penulisannya, latar, foto, perencanaan, produksi, humas, akuntansi, dan kegiatan harian.”

  Ngomong-ngomong soal banyak...Bahkan ada beberapa pekerjaan yang tidak perlu disana. Akupun menatap dengan penasaran dan Yukinoshita membalasku.

  “Apa kau merasa tidak puas dengan sesuatunya?”

  Tidak sesuatu lagi, tapi semuanya. Kemudian, Yuigahama menepuk pundak Yukinoshita.

  “O-Oke, oke, Yukinon. Kita sudah selesai dengan bagian info-info restoran dan artikel lainnya, jadi...”

  Ketika Yuigahama mencoba menengahi, Yukinoshita terlihat masih memiliki ekspresi yang keberatan di wajahnya. Dia lalu mendesah dan mengibaskan rambutnya ke samping.

  “...Itu benar. Kalau begitu, Hikigaya-kun akan bertanggungjawab dengan tulisan dan kegiatan harian.”

  “...Oke.”

  Aku mengangguk, sambil mengatakan “Beres bos!” dengan membuat tanda ‘peace’. Well, kalau membahas tentang menyatukan berbagai tulisan, aku adalah pilihan yang tepat untuk hal kecepatan. Aku bisa menduga kalau Yuigahama dan Isshiki akan membuat banyak sekali typo sementara tulisan Yukinoshita akan terlihat kaku dan tidak memiliki kesalahan.
[note: Dalam festival budaya, Hachiman diserahi tugas yang hampir mirip dengan ini oleh Yukino.]

  Setelah kita membagi tugas kita, ini artinya kita sudah siap untuk bekerja, dan Isshiki tiba-tiba mengangkat tangannya.

  “Umm, kalau aku tugasnya apa?”

  “Bukankah secara otomatis kau ini menjabat sebagai Pimpinan Produksi?”

  “Ohhh...Kedengarannya keren.”

  Yukinoshita mengatakan itu sementara Yuigahama bertepuk tangan karena kagum. Well, Isshiki sebenarnya adalah orang yang membawa requestnya, jadi normal jika dia diberi posisi yang memiliki tanggungjawab terbesar. Jadi Ibu Pimpinan Produksi yang terhormat ini tampaknya tidak sadar akan hal itu dan memiringkan kepalanya.

  “Apa tugas dari Pimpinan Produksi?”

  Setelah mendengarkan itu, Yukinoshita mendesah.

  “Begini...Pertama, kau harus mengurus ijin untuk menampilkan semua informasi dan foto yang akan muncul di koran.”

  “Ya! Aku akan melakukannya!”

  Respon Isshiki sangat ceria, mungkin itu bukti kalau dia benar-benar akan melakukannya dengan serius. Untuk mengkonfirmasi itu, Yukinoshita menambahkan lagi.

  “Juga, kau harus memastikan jalur distribusinya. Apa kau sudah memutuskan akan dibagikan dimana korannya?”

  “Kurasa tempat seperti di depan Sekretariat OSIS, depan Ruang Guru, dan tempat-tempat yang sering dilewati orang?”

  “Kalau begitu, segera urus ijin untuk menggunakan tempat-tempat itu.”

  “Ya! Aku akan pergi dan bertanya ke Hiratsuka-sensei.”

  “Juga bisakah kau fotokopi dokumen-dokumen ini ketika kembali kesini?”

  Yukinoshita memberikan Isshiki catatan-catatannya. Isshiki menerima itu dan menepukkan itu ke dadanya dan memberi hormat.

  “Ya, saya mengerti Bu! Tunggu dulu, bukankah ini kertas-kertas berisi daftar pekerjaan kalian, mana punyaku?”

  Ohh, dia sadar rupanya.

  “Pekerjaanmu itu adalah mengawasi dan mereview semua situasinya, bernegosiasi dengan pihak ketiga, memeriksa hasil akhir pekerjaan semua orang, dan membantu jika dibutuhkan.” Yukinoshita menjelaskan itu.

  Isshiki terlihat bernapas lega dan berdiri.

  “Oke, kalau begitu aku akan memberitahu dulu Hiratsuka-sensei.”

  “Tolong lakukan itu.”

  Ketika dia hendak keluar ruangan, tepat ketika hendak melewatiku, dia menarik lenganku.

  “Ayo kita pergi, Senpai.”

  “Apa?!...Pergilah sendiri!”

  “Ayolah, Senpai. Kalau Senpai ada disana, Senpai bisa menjadi penolak bala bagiku – maksudku, aku mungkin akan mengatakan sesuatu yang diluar dugaan, tahu tidak!? Aku benar-benar bergantung padamu, Senpai!”

  Kau harusnya membetulkan sendiri kata-katamu...Tapi seperti kata Isshiki, aku mungkin punya reputasi sebagai penolak sial. Jika kehadiranku disana membuat percakapannya menjadi lancar, kurasa aku harus pergi kesana juga.

  “Ya sudah, ayo pergi.”

  Akupun melepaskan lenganku dari tangannya dan berdiri dari kursiku. Dan kemudian, tiba-tiba Yuigahama juga berdiri dari kursinya.

  “Oh, aku akan pergi juga!”

  “Ya ampun...Kurasa aku akan ikut juga, sekalian menjelaskan dokumennya.”

  Yukinoshita mendesah dan berdiri.

  “Oke! Ayo kita semua pergi bersama!”

  Yuigahama memegangi lengan Yukinoshita dan Isshiki, menarik mereka untuk berjalan menuju pintu.

  Mmm, itu bisa membuat lorong yang dingin menjadi sedikit hangat.

  Well, jika ketiganya ada disana, kurasa aku akan berdiri dan tidak melakukan apapun disana. Akupun mengikuti mereka bertiga dari belakang dan kami meninggalkan klub.









x x x










  Kami masuk ke Ruang Guru dan menuju meja Hiratsuka-sensei.

  Diantara seluruh meja di ruangan ini, mejanya adalah meja yang paling berantakan. Dia sedang mengetik sesuatu di komputer. Secara bersamaan, ada semangkuk mie di sebelahnya, seperti berasal dari restoran cepat saji. Wow, dia sedang memakan sesuatu lagi...

  “Hiratsuka-sensei.”

  “Hmm? Ohh, Hikigaya. Kenapa semua orang ada disini?”

  “Kami ingin mendiskusikan sesuatu dengan Sensei...”

  “Hmm? Mmm...”

  Hiratsuka-sensei menatap sejenak ke mangkuk mienya dan berpikir.

  “Tidak masalah jika Sensei mendengarkan kami sambil memakan itu,” kata Yukinoshita.

  “Begitu ya? Kalau begitu maaf ya.”

  Hiratsuka-sensei mengatakan maaf dan mengambil mangkuk mienya. Lalu dia mengambil sumpit di dekatnya.

  “Jadi, apa yang ingin kalian diskusikan?” Hiratsuka-sensei mengatakan itu sambil memakan mienya.

  “Umm, kami berpikir untuk menerbitkan koran yang gratis.”

  “Koran, gratis...?”

  Isshiki kemudian menjelaskan detail rencananya. Yukinoshita lalu sesekali memotong ketika ada penjelasan yang kurang tepat sambil menunjukkan dokumen, pamflet, dan keterangan yang tertulis.

  “Kami sudah menghitung biayanya, dan diperkirakan kas kami cukup untuk membiayainya. Kami hanya memiliki ide kasar tentang artikel yang akan diterbitkan, tapi inilah yang kami miliki saat ini.”

  “Mmmhmm.”

  Hiratsuka-sensei melihat dokumen-dokumen itu dengan antusias sambil memakan mienya. Setelah dia membaca seluruh dokumen itu, tampaknya dia sudah menangkap sebagian besar rencananya.

  “Well, aku sendiri tidak ada masalah dengan ide ini...Tapi tidak bisakah ini dilakukan dengan mesin stensil dan straw paper?”
[note: Sensei berpikir alternatif yang lebih murah. Tentunya, dua hal di atas dilakukan percetakan di jaman dulu.]

  Setelah dia bertanya itu, Yuigahama memiringkan kepalanya.

  “Straw paper?”

  “Huh? Mesin stensil?”

  Isshiki menatap Hiratsuka-sensei dengan penuh tanda tanya, atau mungkin, tatapan yang kurang sopan. Ya ampun, gadis ini punya sikap yang buruk...

  Kalau ini Hiratsuka-sensei yang biasanya, dia akan menceramahi mereka, tapi dia sepertinya tidak dalam mood yang baik untuk itu.

  “Oh, jadi kalian tidak tahu apa itu...?”

  Ketika dia mengatakan itu, sebuah senyum yang penuh depresi terlihat di wajahnya.

  “Sebenarnya saya tahu itu, tapi saya sendiri belum melihatnya secara langsung selama ini...”

  “Kupikir begitu...”

  Yukinoshita mengatakan itu dengan lemah seperti sudah tahu kalau topik ini akan memunculkan peti mati bagi Hiratsuka-sensei.

  Well, kita sendiri tidak bisa melakukan apapun mengenai kemajuan teknologi dalam bidang percetakan. Lagipula, sangat mencurigakan kalau Sensei tahu soal mesin stensil...Jangan salah paham, bukannya aku tahu umurnya berapa atau semacamnya, oke?

  Seorang guru wanita dengan usia yang misterius – mungkin sekitar 30-tahunan – memakan mienya.

  “Well, silakan saja lakukan apa yang kalian inginkan.”

  Setelah itu, dia mulai memakan mienya dengan ekspresi yang lebih suram...









x x x









  Setelah memperoleh ijin dari Hiratsuka-sensei, kita langsung bekerja.

  Dalam memenuhi tugasku, aku meminjam laptop dan mulai mengetik di keyboardnya.

  Lalu, Yukinoshita berjalan ke arahku dan berbicara kepadaku.

  “Hikigaya-kun, ada waktu sebentar?”

  “Mmm,” jawabku.

  Yukinoshita duduk berseberangan denganku dan menunjukkan contoh halaman koran itu. Di contoh halaman itu, ada contoh layout dan isi artikelnya.

  Menggunakan ujung pena miliknya, dia menunjuk salah satu sudut kertas itu.

  “Jadi, masalah kita adalah bagaimana kita mengisi sampulnya.”

  “Bukankah akan lebih mudah jika kita memakai gambar yang sudah jadi daripada kita mendesain sendiri?”

  “Apa gambarnya itu ditutupi kata-kata atau kata-katanya tidak bercampur dengan gambar?”

  “Ahh, mungkin akan bagus jika kita membuat sampulnya mirip seperti majalah Times atau Forbes?”

  “Ya, kurasa itu akan menjelaskan isi dari koran itu, kurasa itu sangat bagus.”

  “Jangan lupa, itu bisa menghemat tenaga kita juga.”

  Ketika kita berdua terlibat dalam sebuah diskusi, aku merasa ada yang melihatku dari kejauhan. Ketika kulihat, Isshiki sedang melihat ke arah kita.

  “Sebenarnya, apa yang mereka bicarakan sih...?”

  “Ah, benar kan!? Itu yang kupikirkan selama ini!”

  Yuigahama mengatakan itu sambil berusaha melirik ke arah meja. Apa dia senang karena dia punya teman saat ini? Dua sahabat itu, sebenarnya sedang membuat daftar pertanyaan wawancara yang akan ditanyakan ke setiap klub. Kami menyerahkan itu kepada mereka karena Yukinoshita dan diriku harus mendiskusikan hal ini.

  Yukinoshita lalu menambahkan coretan di kertas itu. Lalu dia tiba-tiba berhenti dan menyentuhkan penanya ke pipi.

  “Sekarang kita sudah selesai mengenai sampulnya seperti apa, tapi kita ada masalah baru, foto siapa untuk sampulnya?”

  “Kenapa tidak pakai foto Isshiki saja? Bukankah dia Ketua OSIS SMA Sobu?” Akupun menunjuk Isshiki dengan jari telunjukku.

  Isshiki lalu mengibas-ngibaskan tangannya.

  “Huh? Maksudmu foto gravure? Maaf ya, tapi aku kurang bagus jika memakai pakaian renang.”
[note: Gravure ini bisa diartikan tampilan sexy atau foto pribadi. Jangan tanya saya soal saya tahu ini dari mana!]

  “Kau pikir aku mau melihat itu di sampul koran? Lagipula, tidak ada yang mengharapkan itu darimu.”

  Memangnya apa lagi hal yang kau anggap tidak bagus...? Well, kelicikan dirinya itu adalah salah satu bagian dari sifat lugunya, kurasa aku tidak tahu apa maksudnya mengatakan itu. Tapi, orang-orang seperti diriku ini sudah didesain untuk tidak begitu saja percaya dengan kata-kata seperti kemurnian, amatir, dan juga cermin ajaib.

  “...Oh yang benaaar?”

  Kupikir topik ini mulai mengarah ke jalan yang salah, suara Isshiki berubah menjadi dingin, dan tatapan matanya menajam. Dia lalu menyilangkan tangannya dan berpikir. Tiba-tiba, ada senyum yang kurang menyenangkan muncul darinya seperti sudah menemukan sesuatu. Dia lalu mengatakan sesuatu dengan ceria.

  “Ya ampun, jadi kau mengharapkan foto ‘itunya’ siapa? Ohhh, mungkinkah foto itunya Yui-senpai?”

  “Wh-Whoa! Mu-Mustahil! Aku jelas tidak bisa melakukan itu, pasti begitu!”

  Isshiki mendorong Yuigahama. Itu mengakibatkan efek lanjut seperti dadanya terdorong ke depan dan ada sesuatu yang bergoyang-goyang diantara dada dan kerahnya. Meski tatapanku auto-fokus kesana, aku tetap memaksakan diriku untuk memalingkan pandanganku.

  Aku tidak akan kalah! Umat manusia tidak akan kalah oleh hawa nafsu.

  Karena menghadapi kesulitan yang luar biasa ketika berusaha memalingkan pandanganku, akhirnya aku mencoba menatap mata Yuigahama. Wajahnya memerah dan dia memegangi bahunya seperti berusaha menyembunyikan tubuhnya.

  “Ah, umm...Sa-Sangat memalukan melakukan hal itu...Dan aku juga tidak ingin orang-orang melihatku, dan sejenis itu...”

  Yuigahama yang memerah mengatakan itu dengan gugup. Setelah itu, dia melihatku dengan emosi.

  Jujur ya, jika kita menampilkan foto dia berpakaian seperti itu di sampul, aku sangat yakin kalau akan ada kumpulan orang-orang yang merasa sangat berbahagia melihatnya, tapi aku tidak begitu. Maksudku, lihat orangnya saja, dia sendiri tidak setuju, mengerti?

  “Well, uh, yeah...Aku sendiri tidak akan memasang foto seperti itu di koran.”

  “Be-Benarkah...? Untunglah.”

  Tekanan tampaknya sudah menghilang dari Yuigahama. Begitu juga diriku, akupun bernapas dengan lega.

  Tapi setelah itu, aku terpikirkan sesuatu tentang topik ini.

  “Ngomong-ngomong, gravure itu tidak selalu berarti tentang foto memakai baju pantai. Misalnya apa itu, rotogravure? Itu juga bisa dibilang gravure juga, kupikir begitu.”

  Benar tidak, Yukipedia-san? Akupun melihat ke arah Yukinoshita, dan dia sedang memegangi tali pita dasinya. Ketika kedua mata kami bertemu, dia tampak terkejut dan memalingkan pandangannya. Dia lalu mengikat kembali pitanya.

  “...”

  Aku bisa mendengar suara desahannya yang sangat dalam. Bisakah kau tidak menjadi pendiam dalam situasi seperti ini...?

  “Ngomong-ngomong, fotomu yang memakai seragam sekolah kurasa cukup. Oke, selanjutnya. Yukinoshita, mengenai sampul belakangnya bagaimana?”

  Akupun bertanya ke Yukinoshita, merubah topiknya. Lalu dia melihatku sejenak dan berpikir. Meski dia tidak meresponku, kurasa dia bisa mendengarku dengan baik. Jadi aku terus melanjutkan itu.

  “Apa kita akan menampilkan iklan? Seperti bola-bola kaca misterius, atau bagaimana agar bisa membaca cepat, atau peralatan yang bisa memperkuatmu, atau produk-produk kesehatan?” tanyaku sambil membayangkan betapa lucunya jika ada gambar Zaimokuza bermandikan lautan kata-kata di belakang koran. Tiba-tiba, Yukinoshita membuka mulutnya.

  “Membuat sampul belakang sebagai tempat iklan kurasa tidak realistis. Mungkin bisa dipertimbangkan jika koran ini akan terbit secara rutin, tapi karena kita hanya menerbitkannya sekali, kurasa tidak memungkinkan. Kita juga tidak punya sponsor untuk itu, jadi kita harusnya mengisi itu dengan teks.”

  Tatapannya masih terfokus ke kertas-kertas yang ada di atas meja. Akupun berpikir sejenak.

  “Jadi kita akan mengisinya dengan kolom komentar dari siswa atau editorial koran...Kurasa kalau itu kita bisa.”

  “Ya, itu bisa,” jawab Yukinoshita.

  Dia terus mengerjakan sesuatu dengan tangannya, tapi dia terus memalingkan wajahnya dariku. Tidak seperti biasanya, suara gesekan pena darinya terdengar lebih keras.

  Apa dia masih memikirkan kejadian barusan...Dia harusnya tidak perlu terganggu soal itu...

  Kurasa kau akan baik-baik saja! Kau masih punya harapan! Maksudku, secara genetis!









x x x









  Sekarang, tugasku adalah menuliskan hal-hal yang berhubungan dengan ini dan sebagai cameraman. Kenyataannya, aku sendiri harus melakukan wawancara dengan setiap klub. Dengan deadline yang sudah mendesak, tim wawancara dibagi dua. Isshiki bersama diriku, sementara tim lain berisi Yuigahama dan Yukinoshita. Melihat skill komunikasi tiap orang dan kemampuan akademis masing-masing, well, kurasa pembagian timnya cukup adil. Isshiki dan aku bertugas ke klub pria, sedang Yuigahama dan Yukinoshita ke klub gadis...

  Klub pertama yang kita wawancarai adalah...

  Pastinya Klub Tenis!

  Tim Yuigahama sudah berangkat ke klub lainnya, jadi Isshiki dan aku mendatangi lapangan tenis ditemani oleh tiupan angin laut yang menemani latihan mereka.

  “Caramu menerima bola agak lamban! Kau bisa melakukan yang lebih baik dari itu!”

  Suara manis yang menggema dari lapangan tenis itu berasal dari Ketua Klub Tenis, Totsuka. Sambil menaruh raket di bahunya, dan tangan lainnya di pinggang, dia berteriak untuk memberitahu juniornya yang sedang berlatih. Tampaknya dia sudah terbiasa untuk menjadi kapten tim.

  Setelah sampai di lapangan tenis, Totsuka menyadari kehadiran kami. Dia berlari ke arah kami sambil melambaikan tangannya.

  “Hachiman! Halo juga, Isshiki-san.”

  “Halo yang disana, maaf sudah menyita waktumu untuk hari ini.”

  “Maaf sudah memotong waktu latihanmu.”

  Mengikuti Isshiki yang menyapanya dengan membungkuk, aku hanya mengibaskan tanganku untuk menyapa Totsuka.

  “Ah, tidak juga! Umm, kau sedang mengambil foto, benar tidak? Silakan ambil foto sepuasnya.”

  Totsuka mengatakan itu sambil melemaskan tangan-tangannya dan melihat ke arah lapangan tenis. Dia lalu memalingkan kepalanya ke arah kami dan tersenyum.

  Yep, aku sudah siap untuk mengambil fotomu!

  “Baiklah, ayo kita mulai...”

  Karena Totsuka terlihat sangat manis ketika melakukan pemanasan seperti itu, akupun mulai mengambil fotonya. Aku mengambil jarak yang pas dan mengambil foto. Ketika melakukan itu, Totsuka tampak kebingungan – akupun terus mengambil fotonya. Dia sangat manis ketika bingung, jadi akupun mengambil fotonya lagi. Ketika aku hendak mengambil foto lagi, dia membuka mulutnya karena heran.

  “Umm...Bukankah Hachiman harusnya mengambil foto latihan Klub Tenis di lapangan?”

  “Ya, kau benar. Benar sekali, tapi kita perlu foto Kaptennya juga.”

  Akupun mengatakan itu kepadanya, seperti memaksakan sesuatu. Totsuka tiba-tiba merasa malu mendengar kata-kataku.

  “Be-Benarkah...? I-Ini agak memalukan...Mmm...”

  Totsuka menaruh tangannya di pipinya untuk menyembunyikan rasa malunya karena fotonya sedang diambil. Tapi setelah dia menatap ke arah lapangan tenis, dia mengatakan sesuatu.

  “Tapi kuharap kita bisa mendapatkan anggota baru jika siswa baru melihat ini...”

  “Itu benar, kemungkinan para siswa baru itu akan mempertimbangkan foto ini untuk memutuskan akan memilih klub apa.”

  Ketika Yuigahama membuat janji dengan seluruh klub, kita juga memintanya untuk memberitahu tujuan dari koran ini. Bagi setiap klub, ini adalah peluang emas untuk mempromosikan klub mereka. Ketika aku meresponnya, Totsuka terlihat sudah siap.

  “A-Aku akan melakukan yang terbaik...”

  Lalu dia mengepalkan tangannya di depan dadanya dan terlihat sangat termotivasi.

  “Y-Yeah...? Baiklah, ayo kita lakukan yang terbaik!”

  Kurasa tidak masalah jika aku bisa meyakinkan Totsuka, tapi entah mengapa, aku mulai merasa seperti sudah membohonginya agar bisa difoto. Perasaan bersalah ini...Tunggu, tunggu dulu. Ini bukanlah perasaan bersalah, tapi...Tidak bermoral! Sial, tapi ini sudah kepalang tanggung, aku tidak boleh mundur!

  “Baiklah, ayo kita buat gambar-gambar gila.”

  “Yeah!”

  Setelah mendengarkan jawabannya yang antusias, aku mempersiapkan kameranya.

  “Bisakah kau berpose dengan mengayunkan raketmu?”

  “Te-Tentu.”

  Akupun mengambil foto dari arah bawah Totsuka yang sedang mengayunkan raketnya, kuambil secara beruntun sehingga terlihat seperti gerakan lambat Totsuka mengayunkan raketnya. Aku bahkan berhasil menangkap gambar Totsuka yang hampir kehilangan keseimbangan. Gambar bagus!

  Akupun mengambil gambar Totsuka sesuka hatiku dan melanjutkan ke tahap selanjutnya.

  “Selanjutnya, bisakah kau memeluk raketmu?”

  “Tentu...Hmm?”

  Totsuka terlihat bingung sambil memegangi raket di dadanya. Disitulah aku mulai mengambil beberapa foto secara beruntun, gambar yang spektakuler, bahkan ini bisa dimasukkan foto yang panoramic. Sekalian saja, mari kita lemparkan handuk ke arahnya. Ini bagus, bagus sekali. Mari kita ganti dengan pose yang lebih berani, benar tidak? Akupun terus mengambil fotonya. Disampingku, Isshiki terlihat kesal melihat sikapku.

  “Senpai, bukankah kau sudah mengambil banyak sekali foto?”

  “Benarkah? Well, kurasa begitu.”

  “Ya.” Isshiki mengangguk. Benar sekali, kata-katanya memang masuk akal.

  “Kurasa kau benar. Kupikir kita sudah punya banyak fotonya dengan raket. Mari kita ambil fotonya yang tanpa memegang raket.”

  Akupun tidak mempedulikannya, aku lalu memikirkan pose selanjutnya.

  “Totsuka, bisakah kau melakukan ini?”

  “...Tentu.”

  Respon Totsuka terlihat lemah, kupikir dia sedikit kelelahan. Aku tahu ini. Dia bereaksi seperti kucing di rumahku yang kehilangan energi karena terlalu banyak berpose. Dengan kata lain, dia sangat manis sekali!

  Mendengarkan instruksiku, Totsuka menaruh raketnya dan jongkok di bawah sambil memegangi kedua lututnya. Akupun mengambil fotonya dari depan dan samping. Aku bahkan mengambil foto dengan posisi kepalanya yang berbeda-beda meski posenya sama. Tapi ekspresinya, terlihat berada diantara tersenyum dan kebosanan.

  “H-Hachiman...Apa kau masih mau mengambil lagi?”

  Totsuka mengatakan itu dengan senyum yang dipaksakan dan suara yang lemah.

  “O-Oh, benar...”

  Kurasa Totsuka mulai kelelahan. Apa yang harus kita lakukan...? Sesuatu terpikirkan olehku.

  “Kita istirahat dulu.”

  “Jadi kau masih ingin lanjut...” Bahu Totsuka terlihat menurun.

  Yep, jadi ini keputusan yang tepat untuk istirahat sejenak. Untuk menyiapkan sesi selanjutnya, akupun melihat layar kamera itu dan memeriksa fotonya satu-persatu. Lalu aku menyadari satu hal yang penting.

  “Isshiki.”

  Akupun memanggil Isshiki, yang sudah menyerah kepadaku dan hanya melihat kami berdua dari kejauhan. Dia lalu berjalan ke arahku dengan ekspresi yang kesal.

  “Ya?”

  “Apa kau punya kartu memori lain yang masih kosong? Kartu memori di kamera ini sepertinya sudah penuh.”

  “Memangnya Senpai sudah mengambil berapa banyak foto...?”

  “Aku sebenarnya tadi juga sudah menghapus beberapa foto yang tidak penting juga...” kataku.

  Isshiki terlihat kesal dan menarik lenganku. Dia lalu menarikku pergi dari lapangan tenis.

  “Kita sudah punya cukup foto disini! Totsuka-senpai, terima kasih banyak,” kata Isshiki.

  “Ah, tentu. Terima kasih juga kepada kalian, benar-benar terima kasih banyak.”

  Totsuka tersenyum dan membalas balik, dia sedari tadi mungkin kurang senang karena dari tadi duduk di lantai sambil memegangi lututnya.

  Maksudku jika mungkin, aku ingin mengambil fotonya yang tersenyum, tapi dengan Isshiki yang menarik lenganku, ternyata keinginanku itu hilang begitu saja. Setidaknya, senyumnya itu akan menjadi foto yang akan terus tersimpan di dalam hatiku.









x x x









  Isshiki terus menarik lenganku dan tidak lama kemudian, kita sampai di Klub Sepakbola.

  Lapangan sepakbola berada di sebelah lapangan tenis, jadi tidak bisa dikatakan jauh juga. Mungkin kutambahkan pula, kalau aku tidak tertarik dengan satupun hal yang ada di Klub Sepakbola itu.

  Kupikir kita akan mengambil dua atau tiga gambar saja disini, tapi ternyata Isshiki tidak mau begitu.

  “Ohh, tolong fokus untuk mengambil foto Hayama-senpai disana. Oh, benar begitu, ya ambil lagi!”

  Isshiki menepuk pundakku dan mengarahkanku untuk mengambil foto di momen-momen tertentu. Setelah itu, kami memeriksa hasilnya satu-persatu.

  “Biar kulihat dulu...Oh, beberapa foto ada gambar Tobe-senpai, jadi kuhapus saja foto itu ya?” katanya sambil menghapus foto itu. Lalu dia mengembalikan foto itu kepadaku.

  Oh ayolah, memangnya kenapa? Itu hanya Tobe...Tahukah kau kalau tidak akan ada satupun orang yang peduli apakah dia ada di gambar atau tidak?

  Adegan ini terus berlanjut untuk beberapa saat, jadi kita sebenarnya tidak membuat sebuah perkembangan disini.

  “Hei, ini cukup, bukan? Memori yang tersisa tidak cukup...”

  “Dan Senpai pikir itu salah siapa hingga memorinya tidak cukup?” Isshiki mengembungkan pipinya dan menatapku.

  Aku tidak bisa menyangkalnya. Pada akhirnya, aku terpaksa menurutinya dan terus mengambil gambar latihan Klub Sepakbola hingga mini-game mereka selesai.

  Setelah berakhir, Hayama berjalan ke arah kami berdua.

  “Hayama-senpaaaai!” Isshiki berteriak sambil melambaikan tangannya.

  Hayama melambai balik.

  “Jadi kudengar dari Yui kalau kau sedang membuat koran gratis atau sejenisnya? Kau selalu melakukan semua request yang diberikan orang lain, huh?”

  Hayama memasang senyum yang menyegarkan bercampur dengan rasa kagumnya.

  “Kan sudah kubilang kalau klubku adalah klub yang semacam itu. Aku tidak ingin mendengar itu dari seseorang yang sengaja menghentikan latihannya lebih awal hanya untuk diwawancarai. Maaf sudah menyita waktumu.”

  “Caramu berterimakasih sungguh aneh.” Dia menaikkan bahunya dan tersenyum. Lalu, dia melihat ke arah halaman sekolah. “Disini dingin, benar tidak? Bagaimana kalau kita lakukan wawancara disana?”

  “Oh oke.”

  Karena halaman sekolah itu dikelilingi oleh gedung-gedung sekolah, itu memblokir tiupan angin yang dingin. Dengan senyum yang ceria, Isshiki mengarahkan kami menuju tempat yang bagus. Tempat dimana ada mesin penjual minuman dan bangku untuk duduk. Isshiki duduk disana dan menepuk tempat kosong disampingnya, memberitahu kami untuk duduk disana.

  Dasar licik...

  Akupun tahu maksudnya dan meminta Hayama untuk berjalan terlebih dahulu, sedang aku sendiri membeli dua kaleng kopi hitam dan sekaleng teh hitam dari mesin penjual minuman. Sambil melempar-lempar kaleng itu dari tanganku karena panas, aku lalu duduk di seberang Hayama.

  “Aku cuma ingin mengatakan sesuatu di luar topik. Kau ternyata sangat jago dalam hal itu, benar tidak?”

  Aku lalu melemparkan sekaleng kopi ketika mengatakan itu. ketika Hayama menerima itu, dia tampak terkejut. Lalu dia mengembuskan napasnya dan tertawa sinis. Dengan nada yang mengejek, dia berkata.

  “Apa kau mencoba bersarkasme?”

  “Aku hanya ingin memujimu saja. Aku sebenarnya tidak peduli soal itu, tapi kami sangat mengandalkanmu untuk itu.”

  “...Well, aku akan memberikan yang terbaik dariku agar bisa memenuhi ekspektasimu,” Hayama mengatakan itu dan tersenyum. Dia lalu menaikkan tangannya ke arahku dan menghadap ke Isshiki.

  “Okeeeee, ayo kita mulai wawancaranya!”

  Isshiki mulai menyalakan aplikasi merekam di HP-nya dan menaruhnya di dekat kaleng tehnya. Akupun mengambil dua langkah ke belakang dan mulai mengambil gambar. Dari kamera ini, aku melihat sosok Hayama Hayato yang semua orang tahu. Tapi, Hayama yang baru saja tersenyum kecut dan becanda terlihat berbeda dari yang biasanya. 






x x x








ANALISIS


  Ini hanya bagian analisis saya sebagai penerjemahnya. Bukan analisis yang 100% benar dan anda tidak harus mempercayai itu. Jika anda punya keyakinan sendiri tentang apa yang terjadi, anda skip saja bagian ini. Atau jika mau, anda bisa menulis analisis anda sendiri di komentar.

  Pertama, foto apa yang membuat Yui dan Yukino terdiam? Foto itu ada di HP Isshiki. Di volume 10.5 chapter 2, Isshiki meminta pelayan kafe untuk memotretnya bersama Hachiman memakai HP miliknya. Jelas, itu adalah foto Isshiki-Hachiman di kafe dekat Stasiun Chiba, tempat yang sama dimana Wakil Ketua OSIS dan Sekretaris OSIS berkencan. Yui sebenarnya juga memiliki foto bersama Hachiman, tapi mereka berdua sedang memakai seragam, tepatnya darmawisata Kyoto di vol 7. Sedang foto Isshiki-Hachiman sedang memakai baju bebas, artinya mereka dalam posisi kencan.

  Setelah Isshiki menjelaskan kalau itu bukan kencan dan hanya survei materi koran, tatapan dingin Yui dan Yukino berhenti. Tapi, Yukino tetap kesal dengan Hachiman, terlihat dari bagaimana caranya memberi tugas ke Hachiman. Sedang Yui, tidak mempermasalahkan hal itu lagi.

  Kedua, mengapa Yui berusaha menenangkan Yukino yang masih cemburu soal foto Hachiman-Isshiki? Bukankah Yui juga harusnya kesal? Mengapa Yui seolah-olah memaklumi sikap cemburu Yukino? Kita juga harus ingat timeline chapter ini ada di awal Februari. Adegan UKS vol 10 chapter 7 ada di akhir Januari. Yui kemungkinan besar menyimpulkan kalau baik Hachiman-Yukino memiliki semacam komitmen bersama, dimana dirinya merasa tidak perlu ikut campur lebih jauh lagi.

  Ketiga, sadar atau tidak, Watari berusaha sarkasme dengan pengandaian Yui atau Iroha memakai baju renang. Juga ditegaskan dengan monolog Hachiman yang autofokus dada Yui. Ini mengulang adegan volume 4 chapter 6 di sungai, bukit perkemahan Desa Chiba. Hachiman pasti akan auto-fokus ke dada Yui lagi. Lucunya, adegan auto-fokus ke dada Yui ini berulang kali ditampilkan di LN. Misalnya vol 1 chapter 3, vol 1 chapter 7, vol 4 chapter 6, vol 7 chapter 5, vol 7.5 side B, vol 10 chapter 2, dll. Entah apa maksudnya Watari secara konsisten menulis appeal Yui adalah dadanya di mata Hachiman.

  Keempat, Hachiman dalam monolognya tahu kalau Yukino merasa minder dengan ukuran 'dadanya' (pura-pura membetulkan dasinya). Juga Hachiman mengatakan Yukino harusnya tidak perlu terpengaruh oleh itu, apakah itu artinya Hachiman menyukainya bukan karena bentuk fisiknya? Juga ada keyword lagi dari Watari, yaitu ketika Hachiman dalam monolognya mengatakan Yukino ada harapan, secara genetis. Itu adalah kata-katanya di volume 4 chapter 6, adegan sungai. Waktu itu Hachiman tetap terpesona oleh Yukino meskipun memakai semacam kain yang menutupi tubuhnya.

  Terakhir, apa sih maksud percakapan terselubung Hachiman dan Hayama? Sebenarnya ini mudah. Pertama Hayama tahu kalau Hachiman mencoba sarkasme, tapi Hachiman mengatakan itu adalah pujian. Karena sarkasme, pujian itu sebenarnya sindiran. Lalu apa maksudnya sindiran Hachiman dengan mengatakan "Kau ternyata sangat jago dalam hal itu". Untuk mengetahui itu, kita harus tahu kalau percakapan mereka ini tentang apa dahulu.

  Kuncinya ada di awal percakapan, Hayama mengatakan hal yang sama seperti di volume 10 chapter 4, yaitu Hachiman selalu bekerja berdasarkan request. Juga, Hachiman menjawab hal yang sama, yaitu klubnya memang seperti itu. Watari memberikan clue kalau ini tentang sesuatu yang ada hubungannya dengan volume 10.

  Lalu, kita membahas sindiran Hachiman, yaitu Hayama sangat jago. Apa yang membuat Hayama terlihat seperti ahli dalam sesuatu? Jika kita membicarakan ahli, maka dia mengerjakan itu seperti sebuah rutinitas harian baginya, dalam hal ini, sebuah rutinitas bagi Hayama selama ini. Jadi apa yang selalu dilakukan Hayama secara berulang-ulang?

  Ingat, ini adalah sindiran, artinya ini hal yang negatif. Saya hanya bisa menangkap satu hal, yaitu Hayama suka menggadaikan kepercayaan orang. Pertama kasus gosip pacaran Yukino-Hayama waktu SD, Yukino mengakui kalau Hayama temannya. Tapi Hayama tidak mau terlibat dalam menyelesaikan masalah gosip itu, tentunya karena Hayama menyukai gosip itu. Kedua, kasus backstab Tobe di darmawisata. Tobe menganggap Hayama teman baiknya selama ini. Ketiga, kasus hubungan Miura-Hayama. Hayama hanya memanfaatkan status Miura sebagai Ratu SMA Sobu, sedang Miura berpikir kalau Hayama benar-benar tulus mau berhubungan dengannya.

  Lalu, apa hubungannya dengan Hachiman? Bukankah ini bukan urusannya? Ada satu momen dimana Hachiman sangat kesal ke Hayama, bahkan menyebut Hayama bajingan! Ya, volume 10 chapter 9. Hayama memberikan nomor Hachiman begitu saja ke Haruno.

  Lalu mengapa Hachiman hanya menyindirnya saja, kenapa tidak menegur Hayama? Ingat, Hachiman dalam chapter ini mengatakan "Kami sangat mengandalkanmu". Ini adalah off-topic dari masalah wawancara, jadi kami ini merujuk ke siapa? Kami ini merujuk ke dua orang atau lebih. Jika mengatakan mengandalkan Hayama, maka Hayama sudah melakukan sesuatu bagi minimal 2 orang. Tentunya, percakapan ini ada hubungannya dengan volume 10. Ya, Hayama sudah membantu Hachiman dan Yukino untuk menghilangkan gosip Hayama-Yukino dalam sambutan pemenang marathon vol 10 chapter 7. Jika berpedoman dengan cerita Hayama dan Yukino di masa lalu, maka Hayama tidak akan pernah mau mencoba menghilangkan gosip itu, karena dia juga menyukai Yukino. Jadi, Hayama melakukan itu karena permintaan Hachiman di vol 10 chapter 7.

  Sederhananya, Hachiman menyindir sikap Hayama yang memberikan nomornya ke Haruno. Tapi Hachiman tidak mau memperpanjang lagi karena Hayama sudah membantunya untuk menghilangkan gosip itu, dimana Hachiman sendiri mengakui kalau dirinya dan Yukino terganggu oleh itu. Tentunya, Hachiman berharap kerjasama dari Hayama soal ini di masa-masa mendatang (tidak ada lagi gosip Hayama-Yukino). Sederhananya, ini impas selama tidak ada lagi gosip Hayama-Yukino muncul.


3 komentar:

  1. Kalau menurutku, sindiran hachiman bukan soal hayama yg menghilangkan gosip deh, soalnya dia bilang "aku sebenernya tidak peduli tentang itu". Sedangkan soal gosip Hayama-Yukino itu jelas mengganggu hachiman dan ga mungkin ga mempedulikan. Jadi IMO "itu" merujuk pada sesuatu yg lebih simpel, yaitu soal sosok Hayama yg jago "berakting" memerankan sosok orang baik yang mana sangat cocok untuk jadi "bahan" free paper yg akan dibuat. Dan kami itu merujuk ke klub relawan. Gimana aoi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga mikirnya gitu, karena lebih masuk akal yg ini di pikiranku.

      Hapus