Rabu, 11 Mei 2016

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 10.5 Chapter 3 : Ada Sebuah Deadline Yang Tidak Boleh Dilewatkan (1/3)

  Ini tidak ada dalam anime Zoku, kemungkinan besar ini adalah materi OVA karena kencan dengan Iroha adalah 'trigger' chapter ini. Juga berhentilah membuat anime serasa sumber yang valid, karena Oregairu itu sumber aslinya berasal dari Light Novel. Mungkin chapter ini ada yang sudah menterjemahkan ke Indonesia, entah kalian merasa terjemahan disini lebih baik atau lebih buruk, saya harap kita semua tetap mengapresiasi siapapun itu yang telah meluangkan waktunya untuk sekedar menterjemahkan gratis semua chapter di berbagai judul Light Novel.

x x x







  Semakin beranjak sore, ruangan klub terasa semakin dingin saja.

  Kami sudah memberitahu Hiratsuka-sensei tentang pemanas ruangan klub yang menimbulkan suara bising sejak beberapa hari yang lalu. Setelah itu, kami diberitahu kalau kami tidak boleh menggunakan itu hingga selesai diperbaiki oleh pabriknya.

  Kehidupan sekolah kami berjalan dengan biasanya – karena ruangan klub tidak digunakan ketika jam pelajaran tiba – tapi ceritanya akan berbeda setelah jam pelajaran sekolah telah usai.

  Dengan matahari yang beranjak tenggelam dan suhu yang mulai terasa dingin, kami masih harus berpartisipasi dalam kegiatan klub.

  Oleh karena itulah, meski berada di dalam ruangan klub, aku masih memakai syalku. Satu-satunya sumber panas yang layak untuk kusebutkan hanyalah pemanas air listrik yang menyala.

  Tapi, pemanas air itu memang tidak didesain untuk menghangatkan kita. Lagipula, itu digunakan untuk membuat teh untuk hari ini. Begitulah, sedikit kehangatan dari itu kurasa masih lebih baik daripada tidak sama sekali di ruangan yang terasa seperti tanah lapang yang beku.

  Manusia adalah makhluk yang tidak terbiasa menukar kebiasaan sehari-hari mereka dengan sesuatu yang hampa seperti ini. Setiap kali ada rasa dingin yang berusaha memanjat lewat kakiku, tanganku mulai membuka halaman buku ini dengan cara yang aneh.

  Kalau dipikir-pikir, klub kami ini bukanlah klub yang memiliki banyak pengunjung. Akan lebih nyaman jika menghabiskan waktu untuk membaca buku ini di rumah daripada disini. Sial, mungkin agak memalukan untuk mengatakan ini, membaca di Starbucks dan dikelilingi oleh orang-orang alay masih lebih baik daripada ini. Tambahan lagi, kenapa orang-orang alay itu selalu duduk di dekat jendela dan berusaha pamer bermain-main dengan MacBook mereka atau pura-pura membaca buku yang baru mereka beli? Apa mereka hendak menjadi serangga yang terlihat menempel di jendela di malam-malam terakhir musim panas?

  Tentunya, membaca dengan tenang di lokasi populer seperti Starbucks tidaklah mudah. Kalau kita mempertimbangkan betapa ramainya tempat itu, maka ruangan klub adalah tempat terbaik daripada itu. Dan aku jelas tidak membenci suasana tenang dan sejuk di klub itu sendiri. Tapi kalau sudah memasuki musim dingin, bagian ‘sejuk’ tadi mulai berada di level yang jauh lebih tinggi.

  Tempat dudukku, biasanya, berada di dekat tembok yang memisahkan ruangan klub dengan lorong. Hanya saja, tembok ini tipis seperti Sesuatu-21. Mungkin menyebut dinding tipis ini semacam triplek pemisah ruangan mungkin akan terasa lebih tepat. Saking tipisnya, aku sampai bisa merasakan udara dingin yang bertiup di lorong dari celah-celah kecil di pintu.

  “...Hei, bisakah kita akhiri kegiatan klub hari ini? Ini sangat dingin sekali.”

  Bahuku akan bergetar setiap kali aku menyadari betapa dinginnya tempat ini. Karena sudah tidak kuat lagi akan dinginnya, aku mengatakan itu kepada mereka berdua yang duduk di dekat jendela.

  Seperti diriku yang sedang membaca buku, Yukinoshita memiringkan kepalanya dan bertanya.

  “Benarkah...? Well, menurut kalian bagaimana?”

  “Ehhh, kenapa harus pulang? Aku sendiri tidak kedinginan.”

  Yukinoshita menaruh tangannya di dagu dan berpikir. Sedang yang menjawab pertanyaannya barusan adalah Yuigahama.

  Sial, tentu saja Yuigahama tidak akan merasa kedinginan.

  Lagipula, dia duduk di samping Yukinoshita setelah sadar betapa dinginnya ruangan ini. Dia lalu menumpang selimut Yukinoshita. Biasanya, Yukinoshita akan berusaha mengusirnya menjauh sambil komplain betapa menganggunya sikapnya itu, tapi hari ini, dia membiarkan Yuigahama melakukan apa yang dia suka.

  Sialnya lagi, ekspresi mereka berdua terlihat santai-santai saja.

  Mereka berdua duduk di posisi dimana cahaya matahari menyinari mereka, dan alasan terbesarnya karena mereka saling bertukar kehangatan tubuh mereka. Kalian berdua terlihat lebih hangat...

  Akupun menatap mereka berdua dengan kesal. Yuigahama yang sejak tadi memeluk Yukinoshita tiba-tiba membenarkan posisi duduknya.

  “H-Hei Hikki, apa kau tidak kedinginan disana?”

  “...Yeah, dingin sekali.”

  Ketika menjawabnya, aku merasakan sensai dingin mulai menyelimuti tubuhku dan secara spontan aku menggosok-gosok lenganku.

  “Oh...”

  Yuigahama lalu melihat-lihat selimutnya seperti memperkirakan ukurannya. Setelah itu, dia terlihat agak ragu dan mendesah kecil.

  Ketika dia melihatku dan membanding-bandingkan itu dengan selimutnya, aku mulai curiga.

  Dia mulai menarik napas yang panjang seperti berusaha untuk mengatakan sesuatu. Lalu, dia membuka mulutnya, suaranya yang pelan tersebut terlihat tidak cocok dengan perilakunya sebelumnya.

  “Ka-Kalau begitu, bagaimana kalau kau...”

  Yuigahama menghentikan sejenak kata-katanya seperti kesulitan akan sesuatu dan Yukinoshita menambahkan kalimatnya dengan senyum yang lembut.

  “...Memakai jaketmu?”

  Sudah kuduga. Akupun mengambil jaketku dan menyelimutkan itu ke bahuku, tidak memakainya seperti biasanya, mirip bagaimana karyawati kantor yang sangat sensitif dengan dingin akan komplain terhadap AC di musim panas.

  Apa kita akan pulang cepat hari ini...Sambil menatap jam dinding, aku mendengar suara orang yang mengetuk pintu. Ah, sialan, ternyata ada yang datang...Kurasa aku tidak akan pulang dalam waktu dekat.

  “Silakan masuk,”

  Yukinoshita menjawab, tidak mempedulikanku yang sejak tadi terlihat depresi. Setelah mendengar suara Yukinoshita, pintu itu terbuka.

  “Kerja bagus semuanya!”

  Masuk ke ruangan ini dengan membungkuk, membuat rambut gadis ini melambai. Terlihat diantara poninya, kedua matanya yang lebar dan dia memasang senyum di wajahnya.

  Hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, Isshiki Iroha datang ke klub kami. Kali ini, entah mengapa, dia menyapa kami dengan lebih sopan, ini membuatku merasa kurang nyaman. Aku mulai tidak menyukai kemana adegan ini akan berujung...

  “Ohh, Iroha-chan. Yahallo!”

  Yuigahama menaikkan tangannya dan memanggil namanya. Isshiki melambai balik dan lengan cardigan miliknya yang kebesaran itu seperti berkibar.

  “Halo semuanya, selamat sore juga...Umm, apa cuma perasanku kalau ruangan ini terasa lebih dingin dari biasanya?”

  Isshiki menyapa balik, masuk ke dalam ruangan, dan berhenti. Lalu dia menatap Yukinoshita dengan penuh tanda tanya.

  Yukinoshita tersenyum, ekspresinya terlihat sedikit bingung.

  “Ya, pemanasnya sedang rusak saat ini.”

  “Huh, begitu ya?”

  Isshiki mengatakan itu seperti tidak tertarik dengan topiknya. Dia lalu mengambil kursi dan duduk di samping Yukinoshita. Lalu, dia menarik selimut yang ada di pangkuan Yukinoshita, dan menjadi sebuah pseudo-human kotatsu.

  “Tu-Tunggu dulu...”

Melihat Isshiki yang tiba-tiba menempelnya, Yukinoshita komplain dengan nada kesal, tapi Isshiki tidak peduli. Dia malah menggumam, “Hangatnyaaaa!! Dia lalu bersandar ke Yukinoshita dan mulai memeluknya.

  “Oh, mau lebih dekat lagi tidak?”

  “Bolehkah? Terima kasih banyaaak!”

  Yuigahama menawarkan itu dan Isshiki berterima kasih dengan suara yang ceria. Dari situ, Yukinoshita digencet dari dua sisi seperti sandwich.

  Tolong hentikan itu! Jangan jepit Yukinon lagi! Dia sudah disibukkan dengan tiupan angin yang bertiup dari daratan Kanto, alias dadanya! Kalau kalian berencana hendak menjepitnya bersama-sama, setidaknya lakukan dari atas ke bawah, jangan dari samping!

  Tentunya, aku tidak bisa mengatakan itu dengan keras. Tapi ketika aku bingung antara apa aku harus menghentikan Isshiki-Yuigahama ‘sandwich’, keduanya malah melanjutkan permainannya dengan menempelkan punggung mereka ke Yukinoshita.

  “...Ya ampun.”

  Yukinoshita mendesah dan membiarkan mereka berdua. Dia lalu membetulkan posisi duduknya dan memberikan porsi selimut yang lebih banyak ke Isshiki. Isshiki lalu mengatakan “Yaay” sambil menarik kursinya agar lebih dekat ke Yukinoshita, dan sekarang Yukinoshita benar-benar terjepit oleh mereka.

  Meski Yukinoshita memasang ekspresi terganggu, tangannya mengatakan hal yang berbeda. Dia mengambil poci teh yang ada di depannya dan menuangkannya di gelas kertas.

  “...Teh?”

  “Te-Terima kasih banyak.”

  Setelah mengambil gelas teh yang hangat itu, Isshiki mulai meminumnya.

  Mmm, kalian bertiga terlihat hangat sekali...

  Tapi tahu tidak, Nona Yukinoshita, apa kau ini tidak sadar kalau kau belakangan ini terlalu memanjakan Yuigahama dan Isshiki, benar tidak?

  Kalau dipikir-pikir, bagi Yukinoshita, Yuigahama adalah teman pertamanya sedang Isshiki adalah adik kelas pertama yang dekat dengannya. Melihat dirinya bersikap seperti layaknya kakak kelas adalah hal yang enak untuk dilihat.

  Akupun terus melihat kehangatan yang dibuat oleh ketiga gadis itu dari tempatku yang terisolasi, tempat yang beku. Setelah meminum tehnya dan terlihat nyaman, Isshiki menyapaku.

  “Oh, Senpai, terima kasih atas waktunya tempo hari.”

  “Mm, yeah,” jawabku.

  Yukinoshita dan Yuigahama melihat ke arahku, seperti penasaran tentang apa yang terjadi.

  Uh, ini sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata...

  Kita berdua hanya jalan bersama, hanya kami berdua. Sebenarnya itu saja, tapi jika membayangkan mengatakan, “Kami hanya bersenang-senang berdua, tidak terjadi apapun”. Kalau aku menjelaskan itu ke Yukinoshita dan Yuigahama dengan alasan semacam itu, aku merasa diriku terlihat sangat mencurigakan.

  Tapi itu sama saja jika aku diam tidak menjawab. Tidak, merasa bersalah saja sudah membuatmu terlihat berlebihan. Ya ampun, Hachiman-kun, kau sangat menakutkan...

  Pada akhirnya, aku hanya duduk terdiam, bernapas seperti desahan yang panjang dan menggerutu kesana-kemari. Seperti melihat kalau sikapku ini mencurigakan, Yukinoshita terlihat tidak senang sementara Yuigahama hanya melihat bolak-balik antara Isshiki dan diriku.

  Ya ampun...

  Untuk sejenak, ruangan ini seperti diselimuti oleh kesunyian. Meski ruangan ini terasa membeku, aku bisa merasakan kalau kepalaku ini mulai berkeringat.

  Seperti berusaha mencairkan suasananya, Isshiki pura-pura batuk.

  “Jadi ini seperti, aku berpikir, aku ingin membuat semacam koran gratis yang diterbitkan oleh Pengurus OSIS.”

  “Maaf? Koran gratis?”

  Yukinoshita menatap Isshiki dengan tanda tanya karena topiknya berbeda dengan sebelumnya.

  Tapi, hei, kerja bagus, Irohasu! Kau baru saja membuatku terbebas...

  “Koran gratis, um, itu ya, benar tidak?”

  “Ya, yang itu.”

  Yuigahama dan Isshiki hanya memakai kata-kata singkat untuk percakapan mereka. Beberapa hari lalu ketika Zaimokuza datang kesini, aku pernah membahas tentang koran gratis dalam diskusi. Kurasa itu sudah cukup untuk memberitahuku apa maksud koran gratis tersebut.

  Tapi yang mengherankan bagiku, adalah alasan untuk melakukannya.

  “Tapi mengapa menerbitkan koran yang gratis?”

  Yukinoshita menanyakan itu sambil memiringkan kepalanya.

  Isshiki menarik keluar tangannya dari selimut dan mulai menjelaskannya.

  “Kami akan menggelar perhitungan data keuangan OSIS karena jadwal tutup buku yang sebentar lagi harus disetorkan ke sekolah. Jadi setelah Wakil Ketua dan yang lain mengumpulkan data-datanya, ternyata kita masih memiliki banyak uang yang tersisa di kas.”

  “Kurasa wajar...”

  Ketua OSIS periode lalu adalah Meguri-senpai. Sebagai Megurin yang menyenangkan, dia tidak terlihat seperti orang yang tamak akan penggunaan keuangan OSIS. Kurasa dia akan membiarkan sisa uang di kas itu dan mengembalikannya ke sekolah.

  Tapi Ketua OSIS saat ini adalah Isshiki Iroha. Karena Irohasu adalah gadis yang lihai, dia pasti mempermasalahkan uang itu...

  Seperti dugaanku, dia menepuk kedua tangannya di depan dan tersenyum.

  “Kita berpikir untuk menggunakan uang itu karena itu uang sisa, benar tidak? Akupun mengkalkulasi berapa uang kita, dan tampaknya itu cukup untuk menerbitkan koran gratis.”

  “Tapi itu bukan berarti kau bisa merencakan pekerjaan tambahan sesukamu...”

  Tidak masuk akal. Mengesampingkan adanya uang yang tersisa, memikirkan sebuah kegiatan yang hanya akan menambah pekerjaan adalah hal yang tidak masuk akal...Gadis ini jelas-jelas merencanakan sesuatu yang mencurigakan...

  Akupun menatapnya dengan tatapan kurang percaya, tapi Isshiki malah berpura-pura santai dengan mengatakan “aha!” dan tersenyum. I-Ini sangat mencurigakan...

  “Tapi begini, Iroha-chan. Kalau aku punya uang yang tersisa, bukankah kau harusnya menyimpannya saja? Menyimpan uang itu penting, tahu tidak?”

  Yuigahama mengatakan itu seperti menasehatinya. Itu terdengar seperti kata-kata dari Ibu-Ibu...

  Memang itu terdengar masuk akal; itu jika kita menganggap kalau uang itu adalah uang pribadi Isshiki. Tapi itulah masalahnya. Uang itu bukanlah uang pribadinya, tapi uang itu adalah uang kas dari OSIS.

  Yukinoshita yang sedari tadi mendengarkan percakapan kami, menaruh tangannya di dagu seperti menyadari hal itu. Dia lalu berbicara dengan perlahan.

  “Kupikir, itu tidak semudah yang dikatakan.”

  “Kenapa?”

  Tanya Yuigahama, sambil memiringkan kepalanya dan menempel ke bahu Yukinoshita.

  “Jika masih ada uang tersisa dari anggaran tahun lalu, itu akan membuat uang yang akan dianggarkan untuk tahun ini berkurang. Jika aku adalah orang yang menangani keuangan sekolah, aku pasti akan mengurangi alokasi anggarannya.”

  “Ya! Tepat sekali! Oleh karena itu, untuk menghindari pemotongan anggaran, aku sebaiknya menggunakan uang itu sebelum tahun ajaran berakhir, benar tidak?”

  Setelah mendengarkan penjelasan Yukinoshita, Isshiki menempel lebih dekat ke Yukinoshita. Seperti memperoleh ijin saja, Isshiki menempel kepadanya seperti seorang anak kecil.

  “Terlalu dekat...”

  Aku bisa mendengar suara yang pelan. Terperangkap di dua sisi, Yukinoshita digencet seperti berada di gerbong kereta yang sesak. Yep yep, baguslah kalau kalian semua bisa akrab.

  Begitulah, perhatian Isshiki kali ini sebenarnya tidak beralasan. Itu bukanlah uang Isshiki, tentunya. Seperti yang benar saja, “Uangku...?” Ini bukan uangmu, tapi uang OSIS. Tapi jika dia memang berniat untuk menghabiskan uang itu, kurasa menerbitkan koran yang gratis bagi seluruh penghuni SMA Sobu bukanlah hal yang sulit.

  “Ya sudah, wujudkan saja. Meski aku tidak tahu apa yang ingin kau tulis di koran itu,” kataku dengan santai.

  Isshiki lalu melepaskan pelukannya dari Yukinoshita dan menatapku.

  “Sebenarnya, soal itu, aku sudah memutuskan akan memuat apa. Aku sedang berpikir untuk menerbitkan artikel semacam olahraga apa saja yang cocok untuk bersenang-senang, tempat makan yang cocok, atau bahkan kafe yang terlihat manis.”

  “Oh, itu terdengar keren! Bagaimana kalau tentang pakaian atau aksesoris!? Orang-orang mungkin menyukainya!”

  “Koran kita akan terlihat seperti majalah lokal. Isinya terlihat seperti hal-hal yang umumnya disukai orang...”

  Yuigahama yang antusias itu membuat dirinya menggeser lebih dekat lagi ke Yukinoshita. Karena itu, Yukinoshita kini berada dalam posisi terjepit lagi.

  Hmm, tapi, tempat dimana kau bisa bersenang-senang, tempat makan yang enak, dan kafe yang terlihat manis, huh...? Aku sepertinya pernah dengar itu sebelumnya. Kupikir itu berasal dari “Sangat Enak Menjadi Manusia”. Sebuah tempat yang enak dan nasi yang hangat, tapi bagian mana ya ada bahasan kafe yang imut? Mungkin bagian yang masuk akal adalah nasi yang hangat. Oke, ini pasti sesuatu yang lain.

  “Jadi seperti majalah lokal berarti...Sejenis majalah Chiba Walker?” tanya Yuigahama.

  Isshiki mengangguk sambil mengatakan “Yep, yep” dan duduk sambil condong ke depan. Akhirnya Yukinoshita terbebas dari tekanan mereka dan bisa bernapas lega.

  Isshiki lalu menambahkan penjelasannya.

  “Semacam, majalah yang memberikan informasi, dimana aku bisa pergi dengan mudah dan berbelanja, berbelanja, berbelanja ke apapun yang tertulis disana, benar tidak?”

  Isshiki memasang senyum ala ka-ching! sambil mengatakan hal-hal yang buruk. Apa maksudmu dengan “berbelanja, berlanja, dan berbelanja...?” Apa kau hendak memuat artikel yang merayu orang untuk menghabiskan uang di game sosial mereka ke situ...

  Yukinoshita dan diriku terkejut. Di lain pihak, Yuigahama memiringkan kepalanya.

  “Berbelanja...”

  Kuharap kau tahu maksudnya...Tanpa mempedulikan Yuigahama, ketika Isshiki melihat reaksiku, dia mengembungkan pipinya.

  “Bukankah Senpai sendiri yang memberitahuku? Kalau uang itu pada akhirnya pasti akan dibuat untuk belanja sesuatu, jadi aku akan menggunakan uang itu sesukaku?” kata Isshiki.

  Yukinoshita lalu menatapku dingin.

  “Kau tidak mengajarinya aneh-aneh, benar kan?”

  “Tunggu dulu, aku tidak mengatakan itu.”

  Aku berusaha mempertahankan harga diriku, Isshiki lalu mencondongkan kepalanya dan melihat ke arahku.

  “Ya, Senpai pernah. Ketika kita sedang mempersiapkan Event Kolaborasi Natal, Senpai mengatakan itu.”

  Benarkah begitu...? Lagipula itu event bersama sekolah lain, jadi kita harusnya menggunakan uang sebisa kita tanpa perlu berpikir banyak...Oke, aku memang pernah mengatakan itu. Irohasu yang bisa menangkap hal apapun memang menakutkan. Sebenarnya, dia sepertinya menangkap dengan salah kata-kataku itu...

  “Isshiki-san, tindakanmu itu mungkin bisa dikatakan sebagai penggunaan dana yang tidak semestinya...”

  “Tapi semua orang akan mendapatkan informasi yang bagus dan tahu bagaimana caranya bersenang-senang. Bukankah ini semacam, seperti, WIN-WIN bagi semua orang?”

  Yukinoshita mencoba menasehatinya, tapi Isshiki berargumen balik seperti mengatakan kalau itu tidak ada hubungannya.

  Ya ampun! Tamanawa-kun ternyata berpengaruh buruk kepada gadis ini...Ayah tidak akan membiarkanmu bersama pria seperti itu, kau dengar!?

  “Tapi kalau kau beralasan seperti itu, memang itu terdengar tidak terlalu buruk...”

  Yuigahama mengatakan itu. Dalam realita, jika sesuatu yang kaulakukan itu terasa menyenangkan bagimu dan itu bisa membuat semua orang senang, kau tidak bisa menyebut tindakanmu itu tidak tepat. Malahan mungkin itu sangat bagus jika bisa memenuhi ambisi pribadi sementara itu bisa memberikan keuntungan bagi semua orang.

  Jadi Isshiki tidak hanya mengoceh tentang hal-hal yang absurd. Kurasa aku bisa paham itu. Sekarang kita harus mempertimbangkan apakah sarannya itu bisa direalisasikan atau tidak.

  Yukinoshita lalu menyilangkan lengannya dan berpikir. Lalu dia berbicara.

  “Tapi, apakah usulmu itu tentang membelanjakan uang ke koran gratis itu disetujui?”

  “Oh, Yukinoshita-senpai, apa maksudmu? Tahu tidak, yang bertanggung jawab menyetujui atau tidak adalah Sekretaris OSIS.”

  Isshiki menjawabnya sambil tertawa. Jangan kau pikirkan, dia memang mengusulkan hal yang absurd...Well, kalau terjadi sesuatu, Isshiki-lah yang akan bertanggung jawab. Kalau tugas Sekretaris sendiri adalah menyetujui penggunaan dana kas, maka tugas Isshiki adalah bertanggung jawab dalam kegiatannya! Lagipula, itulah tanggung jawab dari jabatan yang dipikulnya!

  Entah apa Isshiki sadar atau tidak, aku sendiri ragu soal itu, tapi sepertinya dia terlihat sangat termotivasi.

  “Jadi, kembali ke masalah koran...Menurut kalian, korannya nanti akan dibuat seperti apa?” tanya Isshiki, seperti merestart pembicaraan dan melompat ke topik utamanya.

  Mmhmm, kurasa ada bagusnya juga jika kau terlihat antusias mengerjakannya...

  “Kau tidak akan mendapatkan banyak hal dari kami...Kami sendiri tidak pernah membuat hal-hal semacam itu sebelumnya...”

  “Benar...Mungkin lebih tepatnya, kami tidak tahu prosesnya seperti apa ketika melakukannya.”

  Yukinoshita mengatakan pendapatnya. Yuigahama yang mendengarkan itu dari samping, menepukkan kedua tangannya seperti menemukan sesuatu.

  “Hei, bukankah kita pernah membuat sebuah halaman di majalah lokal beberapa waktu yang lalu?”

  Seingatku, itu adalah request yang Hiratsuka-sensei berikan kepada kita. Sebuah majalah lokal ingin menerbitkan tentang gaya hidup masyarakat muda di daerah sekitar. Kita diminta untuk membuat sebuah halaman tentang masalah pernikahan dalam benak anak muda. Kita benar-benar melalui banyak sekali hambatan dalam melaksanakannya.
[note: Vol 7.5 side A.]

  Ketika aku sedang mengingat-ingat hal itu, Isshiki lalu langsung memecahkan kesunyian ini.

  “Oh, itu bagus sekali! Sekarang kita sepertinya mendapatkan titik terang!”

  “Kami waktu itu hanya diminta mengisi satu halaman saja. Jika kita diminta membuat semuanya dari nol, maka situasinya berbeda. Itu adalah hal yang mustahil.” kata Yukinoshita, menolak ide Isshiki.

  Isshiki membetulkan tempat duduknya dan menurunkan bahunya. Dia lalu melihat ke arah Yukinoshita dengan mata yang memelas.

  “...Benarkah?”

  “Ya.”

  Yukinoshita menjawabnya. Tapi, dengan Isshiki yang terlihat sedih, memberinya sebuah tekanan, bahkan Yukinoshita sendiri seperti kehilangan kata-kata dan memalingkan wajahnya.

  Oh tidak, ini buruk sekali! Kalau begini, Isshiki pasti akan mendapatkan Yukinoshita!

  Dalam hal kata-kata yang logis, Yukinoshita sangat ahli dalam menolak orang. Tapi ketika dia sedang ditekan oleh ekspresi  wajah dan kata-kata yang memelas, dia sangat lemah. Sumber: Sikap Yuigahama kepadanya.

  Menghadapi tatapan memelas Isshiki, Yukinoshita mulai tidak nyaman. Yuigahama lalu mencoba menengahi.

  “Oke, oke, jadi tentang membuat koran gratis itu, kenapa kau tidak mencari tahu dahulu bagaimana pembuatannya? Coba dulu bertanya ke orang-orang yang tahu bagaimana membuatnya dan meminta bantuan mereka...Setelah itu, kita bisa membantumu untuk membuatnya bersama-sama!”

  “Kau baik sekali, Yui-senpai!”

  Isshiki tersenyum ceria ketika Yuigahama mengatakan itu dengan hangat. Tapi kalau kau teliti lagi kata-katanya, Yuigahama sebenarnya mengatakan secara tidak langsung “kembalilah lagi lain kali”.

  Kurasa itulah yang kau harapkan dari Yuigahama. Dia sangat ahli dalam merayu Yukinoshita, jadi rayuan Isshiki tidak akan efektif melawannya.

  “Yeah, Yuigahama benar. Jika kau ingin melakukan itu, maka yang terbaik adalah mempersiapkan itu dengan matang.”

  Kami bertiga menyuarakan ketidaksetujuan kami. Isshiki lalu terlihat kurang senang, kedua alisnya terlihat menyatu.

  “Begini, itu tidak semudah yang kalian katakan.”

  “Kenapa?” tanyaku.

  Isshiki menatap ke arah bawah. Dengan suara yang pelan, dia berkata.

  “Karena laporan keuangan OSIS harus sudah disetorkan ke sekolah dalam waktu dekat.”

  Kurasa alasannya barusan benar-benar sesuatu yang penting.

  Benar, kalau jadwal untuk menyetor laporan keuangan deadlinenya sebentar lagi. kedua orangtuaku mungkin akan terlihat lebih sibuk dari biasanya.

  Tampaknya, dalam masa-masa seperti ini, para budak perusahaan punya banyak hal yang harus mereka kerjakan.

  Begitulah, kalau menurut gosip yang menyebar di internet, kurasa itu ada hubungannya. Menurut gosip, salah satu alasan mengapa banyak sekali merchandise seperti BD dan OVA di Februari dan Maret karena mereka hendak tutup buku.

  Tentunya, ini tidak berlaku ke hal yang berhubungan dengan anime. Masa-masa itu adalah masa dimana perusahaan akan membuat laporan keuangan agar memenuhi ekspektasi pengeluaran dana mereka dengan memproduksi lebih banyak merchandise untuk menggenjot penjualan. Sumber: kedua orang tuaku. Hari ini, mereka berdua jauh lebih sibuk dari biasanya...

  “Seperti, aku sebenarnya tidak tahu terlalu detail soal itu. Kalau kita ingin benar-benar memaksimalkan pengeluaran di akhir tahun anggaran, maka kita harus mengerjakannya sebelum awal Maret, dimana itu adalah awal tahun anggaran yang baru. Sekarang kita sudah masuk awal Februari, jadi kita hanya punya waktu kurang dari sebulan!”

  Isshiki mengatakan itu dengan tidak sabaran. Dia mengibas-ngibaskan jarinya seperti menjelaskan situasinya dengan detail. Meski dia terlihat manis ketika melakukannya, mendengar dia mengatakan “Tahun Anggaran”, “Mengerjakan”, dan “Memaksimalkan” bukanlah hal yang manis untuk didengar...

  Sederhananya, aku paham kalau dia tidak punya waktu lagi. Sebulan ini, dia harus fokus untuk mengumpulkan data-data keuangan dan membuat laporan keuangan.

  Jadi artinya, jika dia tidak bisa menerbitkan koran itu sebelum akhir bulan, maka itu adalah hal yang buruk baginya...

  Sementara kita baru saja masuk Februari, Februari itu sendiri tergolong bulan yang pendek. Dan yang terpenting, meski dia hanya bilang ingin menerbitkan koran gratis, membuatnya dari nol merupakan hal yang berat.

  “Itu jelas mustahil, sudah kau menyerah saja,” kataku.

  Yukinoshita terlihat mengangguk sementara Yuigahama hanya bisa tersenyum kecut.

  Dia terlihat seperti hendak menangis, menolehkan badannya, dan melihat ke arahku...Kau tidak bisa mempengaruhiku. Apa yang mustahil, akan tetap menjadi mustahil. Akupun menggeleng-gelengkan kepalaku. Lalu, Isshiki berdiri.

  “Senpai...Aku ingin meminta pendapatmu...”

  Isshiki lalu berjalan ke arahku. Dia berhenti tepat di depanku dan melihatku dari atas sementara aku duduk di kursi. Meski dia ada di depanku, dia terus menatapku.

  “Saran untuk...?” tanyaku.

  Tapi, Isshiki tidak mengatakan apapun. Yukinoshita dan Yuigahama hanya menatap kami dengan penuh tanda tanya.

  Seperti tidak mempedulikan tatapan kami bertiga, Isshiki mulai melepas kancing blazernya.

  Whoa, apa-apaan yang gadis ini lakukan?

  Aku terkejut, begitu juga Yukinoshita dan Yuigahama.

  Tidak, serius ini, apa-apaan yang dia lakukan? Ya ampun, tunggu, tunggu, apa kamu hendak melepas bajumu!? Tolong!

  Isshiki lalu melepas jas blazernya dan menggerutu seperti memegangi sesuatu. Dia lalu memasukkan tangannya di celah cardigan pinknya dan mulai mencari-cari sesuatu di kantong dada blusnya.

  “Umm...”

  Isshiki mengatakan itu sambil mencari-cari sesuatu di blusnya. Sementara itu, kerah bajunya terlihat sedikit terbuka dan menunjukkan bentuk tulang selangkanya. Aku secara otomatis auto-fokus karena disuguhi hal itu secara langsung, apalagi ditambah suara berisik dari desahan napasnya dan tangannya yang sedang mencari-cari sesuatu.

  “Entah apa maksudmu, tapi serius ini, kau lakukan ini di pojokan belakang saja sana.”

  Akupun melihat ke arah bawah dan mengusirnya menggunakan kibasan tanganku.

  Isshiki kemudian mengatakan sesuatu.

  “Oh, ini dia!”

  Dia lalu menarik keluar tangannya yang sedari tadi mencari sesuatu dan ternyata itu adalah beberapa potong kertas. Dengan menggunakan tangan satunya, dia menarik tanganku dan memberiku potongan kertas itu.

  Sentuhan yang tiba-tiba dengan tangan Isshiki. Jari-jarinya yang kurus dan gemulai itu memberikan sensasi kulit gadis yang entah mengapa terasa lembut membuatku mematung di tempat dudukku. Isshiki lalu melepaskan tanganku dan yang tersisa di tanganku saat ini adalah beberapa potong kertas.

  Ada beberapa potong kertas. Ketika aku mencermati kertas-kertas itu, aku melihat kata-kata yang familiar. Tertulis “struk kasir” di atasnya dan di bawahnya ada tulisan permainan bowling dan kafe. Bahkan ada struk dari restoran ramen.

  Jangan bilang, kalau struk-struk ini dari...

  Tiba-tiba aku terpikirkan sesuatu. Ketika aku lihat ke arah Isshiki, dia tersenyum menatapku.

  Senyumnya itu seperti mengatakan, “Apa kau sudah melihat kertas apa itu? Sudah tahu bukan? Jadi kau tahu aku akan melakukan apa dengan kertas-kertas ini, benar tidak?"

  Isshiki menjulurkan tangannya kepadaku, memintaku untuk mengembalikan struk-struk itu. Akupun mengembalikannya dan dia memasukkan itu kembali ke kantong dada blusnya.

  “Jadi, Senpai, tentang konsultasiku tadi...”

  Isshiki mengatakan lagi tentang hal sebelumnya, hanya saja kali ini, dengan suara yang terkesan manis.

  Sebagian besar, aku paham apa yang hendak Isshiki katakan. Dia ingin memberitahuku kalau posisiku kali ini adalah sebagai tangan kanannya.

  Tapi harusnya aku tidak bersalah dalam hal ini. Maksudku, aku membayar sendiri tagihan disana, jadi aku sebenarnya tidak berhutang atau sejenisnya. Tapi, mengapa aku merasa sangat bersalah...? Itu memang kegiatan yang menyenangkan dan terlebih lagi, dia yang harusnya berhutang kepadaku karena aku yang membayarnya, tahu tidak? Tapi, meski begitu...Tapiiii....

  Ini pasti karena Isshiki yang terlihat sangat yakin ketika dia menunjukkan struk-struk ini kepadaku, maka aku akan merasa kalau telah melakukan sesuatu yang salah. Sekarang aku tahu rasanya ketika menjadi orang luar dalam suatu insiden dan akhirnya diseret masuk menjadi bagian di dalamnya...

  Akupun pura-pura batuk dan melihat ke arah Isshiki.

  Ya sudahlah, kurasa ini adalah momen dimana aku menunjukkan skill negosiasiku!

  “...Ngomong-ngomong, kenapa kita tidak dengar requestnya dulu secara utuh?”

  “Sepertinya dia habis diancam olehnya, benar tidak!?”

  “Ya ampun...”

  Suara Yuigahama yang terkejut dan suara desahan napas dari Yukinoshita mulai terdengar.





x x x





  1. Hachiman menganggap Yukino dan Yui adalah teman akrab.
  2. Lihat kembali adegan ketika Iroha berterima kasih soal tempo hari ke Hachiman. Yukino melihat Hachiman dengan kesal, sementara Yui hanya melihat Iroha dan Hachiman berulang kali.
  3. Lalu cermati adegan setelah Iroha menunjukkan struk kencan mereka, Hachiman merasakan perasaan bersalah.
  4. Sangat mudah untuk menyimpulkan kalau Hachiman merasa bersalah karena dia merasa punya hubungan dengan salah seorang gadis di ruangan itu. Teman si gadis itu menyukainya juga. Iroha tahu situasi itu, dan memanfaatkannya.

  Pertanyaan sederhana, darimana Iroha tahu kalau Hachiman ada hubungan dengan salah seorang gadis di klub? Mari kita sederhanakan saja, Iroha tahu darimana kalau menunjukkan struk kencan itu akan membuat Hachiman tersandera olehnya?

  Sebenarnya ini sangat mudah, karena dijelaskan sendiri di volume 11 chapter 1. Mari kita forward ke volume 11 chapter 1.


  "Aku tadi bertanya kepadanya apakah ada perlu datang kemari, tetapi dia bilang ingin menunggu kalian berdua datang dahulu. Jadi dia dari tadi menunggu kalian disini," kata Yukinoshita sambil menghembuskan napasnya. Lalu dia memberikan tatapan yang sangat dingin kepadanya. Meski begitu, dia tidak lupa untuk bersikap ramah dan menyiapkan teh untuknya.

  Dan seperti sikap Isshiki yang kukatakan sebelumnya, dia bahkan tidak peduli terhadap tatapan dingin Yukinoshita. Lalu dia mendekatkan tubuhnya kepadaku, menaruh tangannya di mulut, dan berbisik kepadaku.


  "Yukinoshita-senpai tadi tersenyum manis kepadaku ketika aku baru sampai disini, tapi dia tiba-tiba berubah setelahnya...Dia selalu bersikap seperti itu setiap aku datang kesini."

  
   Disini kita melihat kata setiap kali Isshiki datang. Menurut anda, apakah ada alasan lain mengapa seorang gadis terlihat benci dengan gadis lainnya? Yeah, pasti persoalan pria. Ini ada hubungannya dengan teguran Yukino di Marinpia ke Hachiman mengenai kedekatannya dengan Isshiki (vol 9 chapter 5). Dan disitu tertulis setiap kali, jadi kejadian itu pernah terjadi sebelum vol 11 chapter 1 dimana Isshiki datang lebih dulu ke Klub daripada Hachiman. Memang, pernah terjadi, yaitu vol 10 chapter 3.

  Kesimpulannya, Isshiki tahu kalau Hachiman ada sesuatu dengan Yukino. Dan struk kencan itu akan mengobarkan sesuatu yang berbahaya jika diketahui Yukino. Ini dikuatkan adegan setelah Iroha berterima kasih, Yukino adalah satu-satunya gadis yang terlihat kesal ke arah Hachiman, sedang Hachiman sendiri bungkam. Seperti kata Hachiman di monolognya, volume 8 chapter 8, Iroha ini adalah versi SMA dari Haruno.

  

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar