Sabtu, 21 Mei 2016

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 10.5 Chapter 1 : Suatu Hari, Mungkin Zaimokuza Yoshiteru Akan Menemukan Pekerjaan Yang Mudah Untuknya

  Ilustrasi di atas salah, harusnya gambar Yui diganti gambar Iroha. Entah miskomunikasi antara Ponkan8 dengan Watari, atau bagaimana.


x x x








  Seperti yang semua orang tahu, sangat jarang terjadi hujan salju di Chiba pada musim dingin. Tentunya, itu tidak berarti tidak dingin hanya karena tidak turun salju; lagipula, ini musim dingin. Aku bahkan berani menyatakan kalau cuaca dingin di Chiba melebihi dinginnya musim dingin di negara lain.

  Tentunya, aku sendiri tidak tahu bagaimana dinginnya tempat lain karena aku menghabiskan akhir Januari sampai Februari hanya di Chiba saja.

  Yang bisa kubandingkan adalah suhu tempat lain yang kuketahui dari laporan cuaca, meski begitu, aku benar-benar tidak tahu seberapa dinginnya hingga aku mengalaminya sendiri.

  Hal lainnya, angka yang ditunjukkan oleh termometer tidaklah selalu melambangkan seberapa dinginnya Chiba.

  Di dunia ini, ada sesuatu yang disebut panas tubuh.

  Kau mengalaminya secara langsung, menerima itu, mempelajari itu, dan untuk pertamakalinya, aku juga merasakan itu.

  Sebagai contoh, saat ini, aku bisa merasakan perbedaan yang jelas antara suhu ruangan ini dengan suhu tubuhku.

  Ini semua gara-gara seorang siswa yang berdiri di depanku.

  Keringat bermunculan di seluruh tubuhnya meski ini adalah puncak dari musim dingin, bibirnya seperti orang yang kejang-kejang, dan dia sedang menyeka keringat yang menempel di alisnya dengan punggung tangan yang diselimuti sarung tangan model fingerless.

  “...Mu.”

  Ketika dia menggumamkan itu dengan suara yang keras, siswa itu – Zaimokuza Yoshiteru. Sambil mengatakan itu, dia menyelimuti wajahnya dengan kerah mantelnya seperti meniru pose-pose patung populer. Kalau kau tidak teliti, kau mungkin akan menganggap ada patung selamat datang di sekitar apartemen elit daerah Musashi Kosugi sedang tersesat di ruangan ini.

  Setelah menggerutu, Zaimokuza terdiam dan Ruangan Klub Relawan ini tetap sunyi seperti sebelumnya.

  Selain Zaimokuza dan diriku, ada tiga orang lagi yang ada di ruangan ini, tapi mereka bertiga sibuk dengan urusannya masing-masing: satu sedang membaca buku dengan satu tangan sedang memegangi cangkir teh, satunya sedang bermain dengan HP-nya sambil memakan kue, dan yang terakhir sedang membetulkan poni rambutnya sambil melihat ke cermin kecil.

  “...Muuun.”

  Zaimokuza menggumamkan itu sambil melihat ke arah atap ruangan. Kali ini suaranya tidak seperti sebelumnya, agak lemah. Meski begitu, tidak ada yang peduli dengannya.

  Ketika tidak ada satupun orang – tidak ada satupun makhluk – yang bereaksi, Zaimokuza mulai menggerutu kesana-kemari.

  Seperti kesal dengan itu, sebuah desahan terdengar dari seberang tempatku duduk saat ini.

  Ketika kulihat, Ketua Klub Relawan, Yukinoshita Yukino, menaruh cangkir ke piring cawan dan menekan-nekan keningnya.

  Yukinoshita lalu menatap Zaimokuza dan kemudian dia melirik ke arahku.

  “...Untuk saat ini, mungkinkah kita harus tanya kepadanya tentang keperluannya disini?”

  “Ehh...? Tapi satu-satunya orang yang bisa berbicara dengan chuuni cuma Hikki.”

  Orang yang menjawab barusan dan sambil memakan crackersnya adalah Yuigahama Yui. Sambil menyandarkan tubuhnya ke meja, dia lalu menatap ke arahku.

  Well, tindakan Yukinoshita dan Yuigahama yang memberikan respon ke Zaimokuza, kurasa itu bisa disebut sebagai kebaikan hati mereka.

  Tapi yang bermasalah adalah satu-satunya orang yang benar-benar tidak mempedulikan Zaimokuza, malahan dari tadi hanya sibuk bercermin saja, Isshiki Iroha.

  Lagian, kenapa kamu ada disini? Maksudku, bukannya ini sesuatu yang besar atau semacamnya. Aku juga tidak akan bertanya atau semacamnya.

  Isshiki tidak sedikitpun melirik ke Zaimokuza. Setelah merapikan poninya, dia mengambil lotion dari sakunya dan mulai mengoleskannya ke seluruh tangannya sambil menggumamkan lagu. Aroma citrus dari lotion itu mulai tercium di udara.

  Kalau tidak salah, Zaimokuza dan Isshiki tidak saling kenal, benar tidak?

  Meski, kenal atau tidak, sepertinya Isshiki tidak akan mempedulikan Zaimokuza.

  Ini berarti...Itulah yang kupikirkan, tapi Yuigahama yang sedari tadi menyandar ke meja bertanya kepadaku,

  “Hikki, kenapa kau tidak tanya saja kepadanya?”

  Yukinoshita-pun mengangguk seperti menyetujuinya.

  “...Itu benar. Biasanya, Hikigaya-kun adalah orang yang menangani masalah-masalah semacam ini.”

  “Jangan sembarangan menunjukku hanya karena kalian merasa itu cocok denganku...”

  Satu-satunya yang ingin kutangani adalah Totsuka-tan, tahu tidak? Saking gilanya, aku mau saja membuat komunitas fans garis keras dan mensupportnya ketika menggelar konser, tahu tidak? Tapi level manis dari Totsuka-tan memang tidak wajar.

  Ngomong-ngomong, satu-satunya orang di ruangan ini yang bisa berkomunikasi dengan Zaimokuza adalah diriku. Meski aku tahu kalau ini tidak akan berakhir tanpa sesuatu yang merepotkanku, tapi dia tidak menunjukkan tanda kalau dia mau meninggalkan ruangan ini tanpa menerima pertanyaan dariku.

  “Zaimokuza, ada apa kau kesini...?” aku memberanikan diriku untuk bertanya.

  Lalu dia menunjukkan wajahnya, dan sebuah senyum yang ceria muncul.

  “Ohh, Hachiman! Kebetulan sekali!”

  “Tidak, kau tidak perlu bersikap seperti itu...”

  “Hapon, terserah kau saja. Aku saat ini sedang menginginkan sesuatu...”

  Zaimokuza berhenti sejenak. Dia lalu membetulkan posisi berdirinya seperti hendak berpose yang berbeda. Sambil mendengarkan, akupun membetulkan posisi dudukku juga.

  “Apa kau ingat obrolan kita tempo hari tentang kekhawatiranku menjadi editor penerbitan?”

  “Yeah, tentu saja aku ingat. Kalau tidak salah, itu obrolan hari ini dan saat ini juga.”

  Ya ampun, dia akan memulai lagi, mengoceh kesana-kemari tentang sesuatu yang tidak masuk akal...begitulah pikirku.

  Yuigahama yang mendengarkan percakapan kami mengatakan sesuatu.

  “Bukannya dulu tentang menjadi penulis light novel atau sejenisnya...?”

  Ya ampun, Yuigahama serius sekali meresponnya. Dibandingkan dua orang lainnya, mereka berdua hanya meresponnya dengan dingin. Bahkan Yukinoshita yang tampak tertarik pada awalnya sekarang sudah tidak tampak mendengarkan jawaban Zaimokuza dan mulai membalikkan halaman bukunya, membaca buku itu dengan santainya. Sedang Isshiki yang memang sejak awal tidak tertarik, dia tampak tidak peduli dan melanjutkan kegiatannya, yaitu merapikan bulu matanya dengan curler.

  Tapi, apa yang Yuigahama katakan memang benar. Impian Zaimokuza harusnya menjadi penulis light novel. Ada juga, masa-masa dia ingin menjadi penulis skenario game. Tapi dia tiba-tiba berubah haluan dan kembali menjadi penulis novel lagi. Sikapnya yang plin-plan itu membuatku berpikir kalau dia lebih cocok menjadi politikus.

  Dengan begitu, aku melihat ke arah Zaimokuza untuk mencari tahu mengapa dia tiba-tiba berubah haluan, dia lalu menyilangkan lengannya sambil memasang wajah yang kesusahan.

  “Hmm, itu karena penulis light novel adalah sampah dunia hiburan. Itu adalah sebuah pekerjaan yang tidak membutuhkan latar belakang apapun, sebuah pekerjaan dimana semua orang bisa melakukannya. Jujur saja, tidak akan ada orang yang iri kepadaku jika aku menjadi penulis light novel dan mereka hanya dianggap orang-orang terbuang karena hidup di dunia light novel...”

  Zaimokuza tampak kesal ketika berbicara, lalu dia membuka matanya lebar-lebar dan mengatakan sesuatu dengan nada yang sedih.

  “...Dan disitulah aku menyadari sesuatu.”

  “D-Dan itu adalah...?”

  Meski aku sudah menyadari sesuatu yang buruk akan terjadi ketika melihat matanya dari balik kacamata itu, aku harus menanyakan itu. Setelah itu, Zaimokuza tiba-tiba melompat, membuat kursi yang sebelumnya dia pakai untuk duduk tergeser ke belakang.

  “Menulis berarti siap untuk dikritik! Selain itu, dianggap tidak ada! Dalam dunia bisnis, kau hanya dianggap batu kerikil di pinggir jalan! Memangnya pekerjaan semacam itu ada nilainya!?”

  Suaranya yang keras itu menggema di ruangan ini dan kepalaku. Setelah itu, Zaimokuza duduk kembali di kursinya, ruangan ini kembali sunyi.

  Mengesampingkan suaranya yang keras tadi, penghuni ruangan ini tampak tidak menunjukkan ketertarikannya. Bahkan Yuigahama yang dari tadi mendengarkan Zaimokuza, kembali lagi bermain-main dengan HP-nya.

  Satu-satunya orang yang memperhatikan cerita Zaimokuza saat ini adalah aku. Aku mungkin sudah terbiasa menjadi penyendiri, tapi kesunyian semacam ini benar-benar menyiksaku.

  “O-Oke...Kau tampaknya paham betul yang kau bicarakan...”

  Aku sendiri tidak tahu bagaimana harus meresponnya dan mengatakan sesuatu yang terkesan normal.

  Zaimokuza terlihat menyeringai.

  “Itu karena aku membacanya di internet.”

  Wow. Internet sangat luar biasa. Internet seperti punya semuanya.

  Aku sudah kenyang dengan percakapan seperti ini, saking kenyangnya hingga aku ingin muntah. Tapi, Zaimokuza terus melanjutkan kata-katanya.

  “Seperti yang kusebutkan tadi, editor penerbitan lebih keren! Selain kehidupan yang stabil, mereka adalah faktor penting industri kreatif. Juga, mereka dekat dengan industri anime! Dengan begitu, aku bisa menikahi gadis pengisi suaranya! Fuahaha!”

  “Kau pasti mabuk Happy Meals dengan semua ‘Mimpi Happy” di kepalamu...”

  Kurasa itu tidak akan terjadi meski ada sebuah keajaiban yang bisa membuat ulang tahunmu, Natal, dan Tahun baru menjadi satu hari yang sama. Sial, kalau perlu gabungkan saja Valentine Day dengan Halloween. Kalau dipikir lagi, “Happy Halloween” dan “Happy Valentine” sangat lumrah dipakai di seluruh dunia, memangnya apa yang “Happy” dari itu? Valentine day adalah hari kematian Saint Valentine, tahu tidak...Apa orang-orang juga akan mulai mengatakan “Happy April Fools” untuk April Fools?

  Kebodohan yang sama juga membuat orang menaruh kata “Happy” untuk segalanya, tidak terkecuali Zaimokuza. Mereka sangat “Happy” karena mereka tahu itu bodoh. Apanya yang bodoh? Mereka tidak bodoh lagi, tapi super bodoh.

  Oleh karena itu, impiannya untuk menikahi gadis pengisi suara karakter anime adalah bodoh.

  Jaman sekarang saja sudah memiliki tingkat pernikahan yang sangat rendah, mengapa bisa seorang penulis light novel menikahi aktris pengisi suara? Cepat keluarkan kepalamu dari selokan itu!

  Aku benar-benar tidak peduli apakah Zaimokuza akan depresi jika dia hidup dengan kesalahpahaman seperti itu, tapi aku harus memastikan diriku kalau aku sudah memberitahunya. Inilah yang orang-orang sebut dengan kebaikan hati teman satu SMA.

  “Zaimokuza.”

  “A-Ada apa...?”

  Entah mengapa suaraku tiba-tiba menjadi serius begini, ataukah karena aku hendak mengatakan sesuatu yang benar-benar dari hatiku, tapi ketika kupanggil namanya, dia berdiri dan melihat ke arahku. Sambil melihat kedua matanya, aku berbicara secara perlahan.

  “Kutanya kepadamu. Ketika kau SMP dulu, apa kau pernah berpikir kalau setelah kau masuk SMA, kau akan bisa mendapatkan pacar?”

  “Nugh!”

  Tepat sekali; Zaimokuza langsung berkeringat dingin dan diam. Aku lalu terus menekannya.

  “Dan inilah yang harusnya kau tanamkan di pikiranmu saat ini. Yaitu...’Aku harusnya punya pacar ketika kuliah nanti!’

  “Nnnngh! Ba-Bagaimana kau tahu...!?”

  Dia bahkan tidak perlu bertanya seperti itu. Jawabanku jelas.

  “Semua orang pasti pernah punya pikiran seperti itu...” kataku dengan suara yang berat.

  Ya, disitu juga, ada masanya aku punya pikiran-pikiran semacam itu. Karena aku masih muda, bocah ingusan yang tidak tahu apapun tentang dunia dan dimana dia harusnya berada. Yang kau pikirkan hanyalah bagaimana kau bisa menikah ketika berusia 25 dan punya anak. Tapi setelah melewati masa SMP dan SMA, kau sudah tahu betul bagaimana dunia ini bekerja. Oleh karena itu, kau menurunkan standarmu sesuai dengan realita. Kau tidak bisa melihat impian kecilmu itu menjadi kenyataan; inilah dunia ini, aku berani menjamin itu.

  Ketika memikirkan itu, tiba-tiba aku tersenyum sinis. Zaimokuza hanya mengembuskan napasnya yang berat seperti setuju dengan kata-kataku.

  Tapi, aku bisa mendengar suara batuk yang memecah kesunyian ini.

  “Semua orang...Begitukah.”

  “Mmm...”

  Aku lalu menatap Yukinoshita yang harusnya sedari tadi sedang membaca bukunya, kini dia menatap ke arahku. Tapi ketika ketika tatapan mata kami bertemu, dia tiba-tiba memalingkan wajahnya. Di lain pihak, Yuigahama yang sedari tadi bermain-main dengan HP-nya, tiba-tiba terdiam dengan ekspresi yang kurang senang.

  Sekali lagi, mengapa ruangan ini tiba-tiba mendadak sunyi. Huh? Ada apa dengan kesunyian ini...?

  Ketika aku terus duduk diantara suasana yang aneh ini, Isshiki yang sedari tadi bercermin menatap ke arah kami. Dia lalu mendesah.

  “...Sebenarnya aku tidak peduli sih, memangnya mudah untuk bisa menjadi bagian dari penerbitan?”

  Aku awalnya menduga dia tidak mendengarkan apapun percakapan kami karena dia tidak terlihat tertarik dengan Zaimokuza sejak tadi, tapi nyatanya, dia mendengarnya.

  Ketika Isshiki bertanya, suasana kaku ini akhirnya berhenti. Dia mungkin tidak mengarahkan pertanyaan itu ke orang tertentu, tapi Yukinoshita memiringkan kepalanya sambil menjawab pertanyaan itu.

  “Kudengar ada semacam penghalang yang cukup besar untuk menjadi bagian dari penerbitan itu sendiri...”

  “Ohh, kedengarannya sulit sekali, huh?”

  AKu sendiri ragu apa Yuigahama tahu masalahnya apa tidak. Aku bahkan ragu apa gadis ini tahu kalau penerbit itu semacam perusahaan...

  Ngomong-ngomong, mari biarkan saja Yuigahama, Yukinoshita memang ada benarnya. Aku pernah mendengar itu dari Ayahku kalau lowongan untuk menjadi bagian dari perusahaan media massa terkemuka adalah hal langka. Kalau begitu, tinggal lihat saja bagaimana kerasnya usaha Zaimokuza untuk menjadi bagian dari tempat itu... Akupun melihat ke arah Zaimokuza yang tampak tenang-tenang saja dari tadi.

  “Memang. Aku, juga, sudah mencari-cari info soal itu di internet, dan tampaknya bergabung dengan mereka merupakan sebuah hal yang berat.”

  Zaimokuza mengatakan itu sambil menyilangkan lengannya dan memiringkan kepalanya ke samping. “Tapi, aku tetap tidak bisa memahaminya...”

  Lalu Zaimokuza menambahkan.

  “Apa sih yang membuat orang sulit menjadi editor? Editor light novel saja bisa bekerja ketika mereka tidur. Itu adalah pekerjaan yang mudah dan bisa dilakukan oleh semua orang. Yang perlu kau lakukan adalah membaca manuskripnya atau mengirim email ke orang-orang yang ada di ranking teratas ‘Let’s Be A Novelist’ dan meminta mereka untuk menerbitkan karya mereka, benar tidak?”

  “Y-Ya...”

  Kau tidak akan pernah menduga kalau orang yang mengatakan kata-kata barusan adalah orang yang awalnya bercita-cita menjadi penulis novel, tapi, memang benar kalau pekerjaan editor light novel bukanlah pekerjaan yang populer, jadi adanya bias tentang pekerjaan ini bisa dianggap lumrah.

  Ngomong-ngomong, editor light novel adalah sebuah pekerjaan yang melelahkan. Coba pikir, jika mereka harus bekerja bersama orang-orang yang punya pikiran kacau seperti Zaimokuza. Berapa banyak sakit perut, sakit hati, dan Yamanouchi yang harus mereka hadapi...Semakin buruk penulis light novelnya, maka yang disalahkan oleh perusahaan adalah editornya...

  “Well, kau tidak akan tahu itu sampai kau benar-benar bekerja sebagai editor,” kataku.

  Zaimokuza melambaikan jari-jarinya sambil mengucapkan tsk dengan lidahnya. Orang ini sangat mengganggu...

  “Tentunya, aku sudah menyiapkan rencana soal berburu pekerjaan ini.”

  “Begitukah...Coba katakan.”

  “Aku yakin kalau orang yang baru lulus dari sekolah tidak akan bisa diterima sebagai editor. Tapi beda ceritanya jika kau baru lulus, tapi kau sudah berpengalaman. Dengan orang sekaliber diriku, maka aku selama SMA akan mencoba mencari pengalaman sebagai editor di perusahaan kecil, bekerja disana hanya untuk mencari pengalaman saja,” kata Zaimokuza, tertawa kecil sambil memasang pose yang penuh dengan keyakinan tinggi. Masih menjadi misteri mengapa dia bisa terlihat percaya diri dengan wajah yang menjijikkan seperti itu.

  “Ohh, ternyata dia bisa juga berpikir...”

  Sementara itu, Yuigahama masih saja bisa tertipu olehnya.

  “Tidak, masalahnya tetap sama, yaitu bagaimana kau bisa bergabung menjadi editor di perusahaan penerbitan, besar atau kecil...”

  Rencananya itu seperti menuliskan rencana pekerjaan masa depan di kuisioner konseling. Tapi bedanya, rencananya itu super mustahil. Seperti sedang disuapi oleh lubang-lubang bobrok rencana Zaimokuza, Yukinoshita memasang ekspresi yang kecewa.

  “Pertama-tama, seandainya aku menjalankan perusahaan penerbitan berskala kecil-menengah, aku tidak akan begitu saja aktif merekrut orang-orang sebagai editor...”

  Tapi telinga Zaimokuza bukanlah telinga yang didesain untuk mendengarkan pendapat yang terdengar tidak nyaman olehnya.

  “Begini, pikirku. Jika aku punya pengalaman sebagai editor di perusahaan kecil, aku bisa dengan mudah diterima di GaGaGa Bunko...”

  “Kau terlalu meremehkan GaGaGa...”

  Ngomong memang mudah, tapi kita ini sedang membicarakan salah satu dari tiga perusahaan penerbitan terbesar di Jepang, GaGaGa dari Shogakukan, tahu tidak...Dia mengatakan kata-kata itu dengan santai sehingga terkesan menyegarkan, tapi mari kita tidak tertipu oleh itu.

  Lalu masalah lain menyusul.

  “Karena itu, agar bisa memperoleh pengalaman lainnya, aku sedang berpikir untuk mencipatkan doujin.”

  “Uh huh. Yeah, well, lakukan yang terbaik.”

  “Umu...Tapi saat ini, aku tidak punya ‘rekan kerja yang pas’ agar aku bisa menciptakan doujinsi...Seorang rekan yang sejati yang punya visi serupa denganku...”

  “Be-Benar...”

  Ada apa dengan nada-nada suaranya yang merajuk ini...? Sekarang aku mencium sesuatu yang buruk darinya...Seperti tahu kalau tubuhku saat ini sedang bergetar hebat, Zaimokuza menaruh tangannya di pundakku.

  Lalu, dia menunjukkanku sebuah senyuman yang bisa menyinari dunia ini.

  “Jadi...Hachiman, ayo kita membuat itu bersama-sama!”

  “Aku menolak. Lagipula, aku bukanlah rekanmu.”

  Sebuah antusiasme yang sederhana seperti yang kau katakan itu, “Isono, ayo main baseball” tidaklah cukup untuk menyinari duniaku. Aku ingin membuat request yaitu langsung pensiun dari pekerjaan itu. Meski, aku tidak masalah jika dibayar untuk melakukan itu.

  “Hachimaaaaaan! Bukankah kita ini selalu menjadi rekan!? Kenapa kau kejam seperti ini!?”

  Zaimokuza terus-terusan memanggilku kejam. Apa kau benar-benar berpikir kalau aku ini mau terus-terusan meladeni omong kosongmu? Sambil tidak mempedulikan ocehan Zaimokuza, aku mendengar suara cermin yang ditutup.

  Ketika kulihat asal suara itu, Isshiki yang mungkin sudah ‘berdandan’ tiba-tiba menaruh cermin itu di sakunya. Lalu, dia menaruh jari telunjuknya di dagu dan memiringkan kepalanya.

  “Ummm, doujin itu apa sih?”

  “Well, sederhananya, itu karya buatan sendiri. Kau menggambar manga milikmu sendiri atau sejenis itu dan membuatnya menjadi sebuah buku.”

  “...Benar.”

  Ekspresi Isshiki masih dipenuhi tanda tanya setelah mendengarkan penjelasanku. Aku bukanlah orang yang ahli dalam menjelaskan, jadi aku sendiri tidak yakin bagaimana aku harus menjelaskan itu kepadanya.

  Ketika aku memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk menjelaskannya, Yuigahama tiba-tiba menaikkan tangannya sambil mengatakan “aku, aku!”.

  “Aku tahu itu! Itu disebut Comiket atau sejenisnya, benar tidak? Sesuatu yang berhubungan dengan menggambar manga milikmu sendiri. Kalau tidak salah, Hina pernah membicarakan hal semacam itu sebelumnya.”

  “Penjelasan itu agak dangkal. Juga, hobi Ebina-san itu agak spesial, tapi, setidaknya kata-katamu itu ada benarnya,” kataku.

  Kali ini, Yukinoshita memasang ekspresi yang kurang yakin akan sesuatu.

  “Itu tidak hanya sebatas manga. Ketika aku mendengar kata itu, aku merasa itu juga ada kaitannya dengan literatur dan seni.”

  “Benar, itu juga termasuk.”

  Sebenarnya, jika kita ingin melihat kembali dasar dari ini, para penulis terkenal itu dulunya juga karir awalnya juga menulis doujin. Literatur seperti Shirakaba dan Garakuta Bunko bahkan awalnya dari karya yang ditulis di buku sekolahan.

  Pada kenyataannya, doujinshi itu melebar ke berbagai hal dan tidak sebatas manga saja, kadang review buku, investigasi buku pelajaran, ataupun album foto. Banyak sekali genre dan variasinya.

  Juga, ketika aku menyebut tentang review buku, itu bisa dari review tentang kritik tentang buku-buku masalah militer, ataupun review sinopsis dari sebuah seri anime. Bahkan ada juga buku review tentang kemenangan hom-pim-pa antara anime-anime yang tampil di hari minggu. Kesimpulannya, aktivitaas doujin itu lebih dari sekedar buku dan cosplay, anime indie, drama cd, dan tentang karakter sesuatu. Jadi, cakupan dari doujin itu sangat luas.

  “Benar juga, jadi Comiket ya...Kalau tidak salah, aku pernah mendengar itu sebelumnya.”

  Jadi kau tahu tentang itu, Raiden? Well, Comiket memang belakangan ini sering muncul di TV ataupun dibahas di program khusus, kurasa tidak aneh jika orang-orang mulai kenal apa itu.

  Tapi, Isshiki tampaknya punya pemahaman yang berbeda soal itu.

  “Bukankah, seperti, sebuah tempat dimana kau bisa menghasilkan banyak sekaliiiii uang?” tanya Isshiki, sambil mencondongkan wajahnya dengan mata yang bersinar.

  Sikapnya itu memang benar-benar menggambarkan gadis yang lugu, tapi apa yang keluar dari mulutnya itu memang buruk sekali...

  “Tidak, itu tidak sepenuhnya benar. Kudengar keuntungan merupakan prioritas kesekian bagi mereka.”

  Biasanya, doujinshi itu ada karena, “Aku membuatnya karena aku menyukainya”, jadi tujuan utama mereka jelas bukan uang. Bukannya aku tahu betul soal itu karena aku sendiri tidak begitu yakin tentang detailnya. Tapi dari beberapa grup yang menciptakan doujin, jika kau melihat data keuangan mereka, biasanya tidak jauh antara merah-hijau, untung-rugi, ataupun impas.

  “...Mereka tidak memperoleh untung...Tapi masih mau melakukannya?”

  Setelah mengatakan itu, Isshiki menggerutu dan memegangi kepalanya. Sepertinya dia kesulitan dalam memahami itu...

  “Jadi bisa dikatakan kalau itu adalah dunia hobi.” kata Yukinoshita sambil mengangguk.

  Well, bagi Yukinoshita yang rela menghabiskan uang demi hobinya seperti teh, Pan-san si panda, dan merchandise kucing, mungkin orang-orang seperti mereka bisa dianggap teman seperjuangan.

  “Hal-hal seperti itu terdengar luar biasa, huh?” kata Yuigahama sambil mengunyah permennya.

  Kalau dia, meski dia mengatakan itu dengan disertai rasa kagum, dia sebenarnya tidak menyukai itu. Dia lalu mendesah.

  “Aktivitas doujin itu bukanlah sesuatu yang langka. Biasanya, otaku bukanlah satu-satunya komunitas yang membuat karya doujin semacam itu, tahu tidak?”

  “Memang begitu kaaaaah?” tanya Isshiki dengan nada skeptis.

  Ketika kita membahas hal berbau budaya seperti doujin dimana itu dianggap sebagai budaya asing di mata Isshiki, ekspresinya yang seperti itu bisa dianggap normal.

  Tapi ada beberapa contoh yang sering kita jumpai dan memakai konsep yang sama.

  “Aktivitas doujin yang umum misalnya koran gratis yang dibuat oleh mahasiswa.” kataku.

  Yuigahama lalu menepuk kedua tangannya.

  “Oh, itu seperti sesuatu yang orang-orang taruh ketika ada festival di sekolah.”

  “...Ohh, kalau itu aku bisa mengerti.” Isshiki mengangguk seperti sudah bisa membayangkannya.

  “Benar kan? Pada dasarnya, yang populer disebut FREE NEWSPAPER juga termasuk jenis-jenis doujinshi.”

  “Mendengarmu mengatakan itu malah membuat sebuah pertanyaan lagi, tapi pada dasarnya penjelasanmu itu benar...” seperti teringat sesuatu yang kurang menyenangkan, Yukinoshita kembali menekan keningnya.

  Kebetulan sekali, ketika aku menyebutkan FREE NEWSPAPER, pikiranku seperti hilang entah kemana.

  “Ngomong-ngomong, mungkin akan ada semacam BIAS ketika membahas FREE NEWSPAPERS, tapi kupikir kita bisa mencapai sebuah CONCENSUS. Tentunya, ketika kita berbicara FREE NEWSPAPERS, itu hanyalah CASE BY CASE BASIS, jadi agar bisa memperoleh CLEAR AGREEMENT, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah menganalisa satu-persatu menggunakan TRIAL AND ERROR sebagai INFLUENCER, dengan begitu, kita bisa COMMIT dengan sesuatu yang menunjukkan hasil.”

  “Senpai, apa sih yang Senpai katakan barusan...?” Isshiki terlihat ketakutan. Dia seperti mundur beberapa senti dari kursiku.

  “Maaf. Kesadaranku mengatakan hal yang berlebihan tadi...”

  “Mungkin lebih baik jika kesadaranmu hilang entah kemana daripada dibilang berlebihan...” Yukinoshita mengatakan itu seperti tidak percaya.

  Setidaknya, kita semua sepakat kalau doujinshi adalah hal-hal yang berbau hobi.

  Orang-orang yang menciptakan koran atau terbitan gratis kurang lebih tidak berbeda dengan grup-grup doujin. Dengan kata lain, mereka adalah golongan otaku yang memiliki kesadaran tingkat tinggi.

  Kalau harus kukatakan, doujinshi itu ada hanya di beberapa genre dengan beberapa orang berkecimpung di dalamnya.

  “Jadi, karya semacam apa yang hendak kau buat?” tanyaku ke Zaimokuza.

  Dia berpikir untuk sejenak. Lalu, dia menegakkan kepalanya dan membuka mulutnya.

  “Fumu. Kupikir aku ingin membuat novel...Aku tidak memiliki pengetahuan tentang doujinshi yang lain dan juga aku tidak bisa menggambar.”

  Alasannya menyedihkan sekali.

  Bisakah kau berhenti menciptakan tren “Karena tidak bisa menggambar, maka aku memilih menjadi penulis light novel”? Setidaknya, aku ingin kau bercita-cita menjadi penulis light novel dengan alasan yang benar seperti, “Kupikir aku akan sulit mendapatkan pekerjaan, jadi aku memilih menjadi penulis light novel!”

  “Pada akhirnya, tetap menjadi penulis light novel...Jika kau ingin menulis, banyak cara untuk menerbitkannya di internet. Seperti yang kau sebutkan tadi, program ‘Mari Menjadi Novelist!’ ata sejenisnya. Sebenarnya, kupikir kau punya peluang yang bagus jika mencoba debut disana.”

  Mungkin kau jarang melihat ini dariku, aku memberikan Zaimokuza sebuah saran yang bagus, tapi dia tampaknya tidak menanggapiku.

  “Mmm...Aku tidak bisa bilang kalau aku menyukai tempat itu.”

  “Kenapa tidak? Coba saja disana, bukankah itu sekarang sangat populer? Misal Parallel Universe Reincarnation Peerless CheaRem.”

  “...Huh?”

  Setelah kukatakan hal itu, Isshiki mengeluarkan suara seperti mengatakan, “Huh? Apa sih yang pria ini barusan katakan...?”

  Ada apa dengan tatapan itu? Sangat mengganggu...Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh barusan? Setelah kupikir-pikir, ternyata memang.

  Para gadis mulai mendekatkan tempat duduknya satu sama lain dan mulai berbisik-bisik.

  “Parallel, universe? Chea? Apa yang dia baru saja katakan?”

  “CheRem...Apa itu?”

  “Mungkin yang dia maksud cheetos?”

  Isshiki, yang barusan itu adalah nama snack...

  Itu sebenarnya adalah cerita tentang seorang protagonis yang reinkarnasi kembali di dunia paralel dan membangun sebuah harem dengan menggunakan kemampuannya, cheating power. Sial, mencoba menjelaskan ke mereka membuatku terlihat seperti orang bodoh saja.

  Well, itu adalah sesuatu yang harusnya dinikmati oleh orang yang menyukainya saja. Tidak perlu menjelaskan apa itu ke orang yang tidak tertarik, dan juga itu bukanlah sesuatu yang semua orang harus pahami.

  Parallel Universe Reincarnation Cheating ceritanya sebenarnya mirip dengan light novel, jadi tidak masalah selama orang-orang yang suka membaca itu menyukainya.

  Dan ini tidak sebatas ke light novel.

  Ini juga melibatkan semuanya. Kata-kata, ataupun perasaan.

  Selama perasaan itu bisa tersampaikan ke orang yang ingin kau sampaikan atau membuat mereka bahagia, itu sudah lebih dari cukup.

  Tapi entah mengapa bisa begini? Bahkan Zaimokuza-san saja tidak terpengaruh.

  Saat ini, dia tidak mempedulikan kata-kataku dan sedang menyilangkan lengannya sambil mengetuk-ngetukkan sepatunya ke lantai, seperti menahan sesuatu.

  “Arghhh! Itu bukanlah masalahnya! Ini bukan soal populer atau bagaimana publik meresponnya! Aku tidak peduli soal itu semua, itu tidak menggangguku sama sekali! Hanya saja, umm, tahulah? Bagaimana ya? Aku tidak suka dengan sistem penilaian seperti ranking dan klasemen! Seperti, aku tidak mau orang-orang mengkritik karyaku di belakang layar atau sejenisnya!”

  Aku pasti sedang berhalusinasi jika berpikir dia sedang mengatakan sesuatu yang keren tadi, tapi ada beberapa kata yang membuatku berpikir lebih dalam. Dan sekarang ada satu jawaban yang muncul di pikiranku.

  “Ahh. Huh? Apa mereka menampilkan ranking karya-karya yang ada di web? Well, kurasa memang agak berat jika melihat karyamu ada disana dan ternyata tidak populer, huh?”

  “Tidak! Jelas tidak! Ranking, klasemen, rating, dan review tidak menggangguku! Hal-hal seperti ranking tidak lebih hanya sekedar sistem penilaian saja! Yang terpenting adalah keberanian dalam menampilkan karya!” kata Zaimokuza dengan emosi.

  Pada akhirnya, sistem ranking semacam itu adalah suatu hal yang tidak bisa kau kuasai hanya dengan modal berani saja. Melihat bagaimana dia jujur dengan hal yang membuatnya khawatir, dia ternyata sudah memprediksi masa depan karyanya dengan baik!

  “...Oh. Jadi semangatmu hancur setelah melihat respon pembaca atas  karyamu disana, huh?”

  “Kurasa itu bisa dikatakan sebuah perkembangan dari dirinya karena dia berani menunjukkan karyanya ke publik.”

  “Yep, yep, dia ternyata berani juga.”

  Yukinoshita dan Yuigahama terlihat terkejut dan bercampur kagum ketika melihat Zaimokuza. Tapi untuk meyakinkanku, kalian berdua benar-benar memujinya, benar tidak? Benar kan? Karena entah mengapa aku merasa kalian berdua sedang mengatakan sebuah sarkasme level tinggi disana! Lagipula, kita ini sedang membicarakan Yukinoshita, tentu dia akan mengucapkan sarkasme!

  Aku, tentunya, sedang diliputi semangat untuk memuji Zaimokuza.

  Kita ini sedang membicarakan pria yang tidak pernah menyelesaikan manuskirpnya, apalagi mengirimkan karya ke perlombaan Pendatang Baru Terbaik Tahun Ini. Meski cuma di internet, tidak mengurangi fakta kalau itu dibaca oleh umum. Ketika aku tahu kalau nantinya akan ada orang lain yang menderita karena membaca karyanya di internet selain diriku, aku merasa puas. Semua orang harusnya merasakan penderitaanku. Jika semua orang menderita bersama-sama, maka dunia ini akan menjadi damai.

  Begitulah pikirku, tapi Zaimokuza melambai-lambaikan tangannya seakan-akan menolak hal itu.

  “Tidak, info itu kudapat tidak karena aku melihat karyaku yang dikritik. Itu kesanku sendiri setelah melihat hasil karya orang lain dikritik seperti sampah oleh pembaca disana.”

  “Oh, oke...”

  Tampaknya perdamaian dunia masih jauh dari kenyataan.

  Itulah Zaimokuza. Sikapnya yang “ingin menjadi ini, ingin menjadi itu...” adalah hal yang menyedihkan untuk dilihat. Tunggu dulu, coba jika kita melihatnya seperti ini; dia bisa bersimpati dengan seseorang yang karyanya dihina pembaca merupakan sebuah bukti kalau dia punya sense terhadap karya light novel. Bisa jadi dia punya potensi untuk menjadi seorang penulis...

  Tapi, aku sendiri yakin kalau hal terpenting yang harus dimiliki seorang penulis light novel bukanlah kemampuan untuk menulis atau menghubungkan banyak hal, dan juga bukanlah imajinasi yang tinggi; tapi yang terpenting adalah tidak mempedulikan apapun.

  Yang terpenting adalah mental baja.

  Kau tidak akan menyerah begitu saja melihat apa yang orang-orang katakan tentangmu; kau bahkan tidak menyerah meskipun karyamu tidak laku; kau tidak akan mengatakan apapun yang tidak penting di blog atau twittermu; kau tidak akan puas diri meski kau berhasil menjual beberapa karyamu; kau tidak akan sakit hati jika dihina orang lain; kau tidak akan menghina karya orang lain; kau tidak akan melihat dirimu sebagai orang yang tidak mampu; kau tidak akan melebih-lebihkan kemampuanmu; kau tidak akan percaya dengan dirimu begitu saja sejak awal; kau tidak akan khawatir tentnag masa depan dan umur yang terus bertambah; kau tidak akan menangis sendirian ketika malam; kau tidak akan berekspektasi berlebihan ketika mendengar kabar baik; kau tidak akan terganggu oleh tawaran perusahaan lain yang lebih baik; kau tidak akan mundur jika kau merasa sudah tidak bisa menulis lagi; kau tidak akan kabur dari deadline; dan kau tidak lupa untuk berterimakasih kepada orang-orang di sekitarmu.

  Keenam belas NAI-NAI ini adalah hal yang harus kau miliki ketika menjadi penulis light novel.

  Kekuatan dari mentalitas dirimu – itulah yang terpenting. Kupikir light novel yang berjudul Selama Aku Punya Adik Perempuan juga menulis hal yang serupa. Tidak, mungkin tidak ada disana. Yeah, mungkin saja tidak ada.

  Tapi karena Zaimokuza bukanlah seorang profesional ataupun orang yang memiliki keberanian, aku harus menunjukkan kepadanya jalan yang seperti apa yang akan dia tempuh. Mentalnya mirip dengan sebuah tahu yang sangat kurekomendasikan untuk dimakan hangat-hangat di musim yang seperti ini.

  Akupun membetulkan posisi dudukku dan membersihkan tenggorokanku. Dengan suara yang lebih tenang dari biasanya, aku berkata.

  “Zaimokuza. Sepertinya doujinshimu tidak akan menjual. Bukankah tidak akan begitu menyakitkan jika kau mau menyadari realitanya sejak dini?”

  Zaimokuza terdiam, seperti tidak bisa membayangkan kalau akan mendengar hal seperti itu dariku. Entah apa dia sedang berimajinasi kalau sedang berada di Comiket musim panas atau musim dingin, coba bayangkan sekali-kali kalau dirimu ada di sebuah stand penjualan doujin, mendengarkan suara-suara para gadis yang bercosplay di stand sebelahmu, melihat banyak sekali antrian stand doujin yang ada di seberangmu, dan kau melihat standmu sendiri ternyata tidak berhasil menjual satupun buku...Apa Zaimokuza bisa mengatasi situasi seperti itu? Tidak. Kukatakan sekali lagi, tidak.

  Tiba-tiba, bahu Zaimokuza merendah dan mengatakan sesuatu dengan pelan.

  “...Kau ada benarnya.”

  “Jika kau berniat menjadi editor, akan lebih baik jika kau sejak saat ini memikirkan metode lainnya daripada sekedar membuat doujin.”

  “Fumu...Begitu ya, begitu...”

  Zaimokuza menjawab itu dengan jujur seperti orang yang jiwanya baru saja hancur oleh kata-kataku tadi.

  Bagus, bagus sekali, itu artinya aku tidak perlu mengkhawatirkan tentang skenario diriku membuat doujin bersama Zaimokuza...

  Setelah Zaimokuza yang bisa membuat suasana disini tiba-tiba berisik menjadi diam, ruangan ini diliputi kesunyian. Akupun mengembuskan napas legaku karena kita berhasil menyelesaikan masalahnya. Lalu, ada sebuah suara biskuit yang dipotong.

  “Tapi, kalau begitu, bagaimana caranya menjadi editor jika tidak bisa lewat doujin?” tanya Yuigahama, sambil mengunyah.

  Zaimokuza lalu menegakkan kepalanya. “Memang, yang dia katakan ada benarnya...”

  Sekarang mereka membicarakan itu, akupun mulai tertarik.

  “Kurasa kita tinggal mencari referensi yang ada...”

  Seperti kata Zaimokuza tadi, semuanya ada di internet. Termasuk juga hal-hal yang seharusnya tidak ada disana.

  “Yukinoshita, boleh kupinjam laptopnya?”

  “...Disini bukanlah ruang komputer.” Yukinoshita mengatakan itu sambil berdiri.

  Dia lalu mengambil laptop dan menyiapkannya untukku.

  Aku lalu menatap ke layar laptop itu dan hendak bertanya ke Google-sensei beberapa pertanyaan, dan sebuah kursi tiba-tiba ditaruh tepat di sebelahku.

  Ketika kulihat sebelah kananku, Yukinoshita sedang duduk di kursi dan mencari-cari sesuatu di tasnya, dia lalu mengeluarkan kacamatanya.

  Setelah merapikan rambut hitamnya yang lembut dan mengkilap itu, secara perlahan dia menaruh kacamata itu seperti menaruh sebuah tiara.

  Jari-jari tangannya yang kurus itu bergerak secara perlahan meninggalkan frame kacamata itu. Setiap dia mengedipkan matanya, bulu matanya yang panjang seperti hendak menyentuh lensa kacamata itu. Setelah dia selesai mempersiapkan dirinya, tanpa melupakan hal lainnya, dia mengangguk dan memiringkan kursinya sambil menatap ke arah layar laptop.

  Ketika melakukannya, tercium aroma SABON dari rambutnya.

  Terlalu dekat...

  Dengan dirinya duduk tepat di sampingku, aku merasakan sesuatu yang aneh, membuat tubuhku seperti berjuang untuk melawan sesuatu yang aneh ini sehingga secara otomatis tubuhku berusaha agak ke kiri agar nyaman kembali. Tapi ketika aku melakukan itu, hidungku mulai mencium aroma citrus.

  Tanpa kusadari, Yuigahama ternyata menggeser juga kursinya ke sebelahku dan duduk disana.

  Dia menempelkan tubuhnya di meja dan menyandarkan dagunya di meja. Setiap kali lengan kita bersentuhan, kami saling menatap satu sama lain dan memberi isyarat untuk membuat jarak diantara kita.

  Tepat ketika kupikir dia hendak membuat jarak, Yuigahama memalingkan kedua matanya dan posisi kami tidak berubah. Kalau begitu, maka akulah yang harus bergerak, tapi ketika aku menggerakkan tubuhku, blazerku seperti bergesekan dengan roknya, aku seperti tidak bisa bergerak lagi.

  ...Terlalu dekat.

  Lebih jauh lagi, ada seseorang lagi yang muncul di belakangku.

  Sebuah bunyi sepatu indoor yang menyentuh lantai terdengar dair belakangku.

  Ketika aku menolehkan kepalaku, Isshiki sedang berdiri di belakangku. Dia mencondongkan kepalanya ke depan melewati bahuku untuk melihat layar laptop.

  Sensasi yang kudapatkan dari kedua tangan yang dia taruh di bahuku seperti mempercayakan berat tubuhnya kepadaku dan kehangatan tubuhnya itu sangat terasa olehku, bahkan embusan napasnya bisa terdengar oleh telingaku. Karena itu, bulu kudukku tiba-tiba berdiri.

  ...Seperti kataku, kau ini terlalu dekat.

  Dengan kedua sisi dan belakangku sudah penuh, satu-satunya opsi tersisa adalah bergerak ke depan.

  Tapi depanku sudah penuh.

  Zaimokuza sudah ada di depanku dan melihat ke laptop dari atas seperti seorang raksasa, bald yokai.

  Kau terlalu dekat, pergi sana!

  Merasa tertekan dari segala arah, aku lalu menggerak-gerakkan bahuku sambil menulis keyword di google. Muncullah hasil pencarian di layar laptop tersebut.

  “Sebuah web untuk mencari lowongan pekerjaan dengan update rutin...Ohh, ada sebuah sekolah yang menyediakan lowongan pekerjaan setelah lulus...Ternyata banyak sekali yang ada disini, huh?”

  “Oh Hikki, bagaimana dengan yang ini?”

   Yuigahama mencondongkan kepalanya ke depan dan menunjuk ke arah layar. Lalu, Yukinoshita juga mencondongkan kepalanya ke depan.

  “Sebuah jurnal tentang pengalaman sukses...Ini seperti...Blog dari seseorang yang menerima tawaran kerja secara tidak resmi dari perusahaan penerbitan. Kurasa itu bisa juga.”

  “Senpai, ayo cepat klik ‘read’, cepatlah.” Isshiki memintaku untuk cepat sambil menepuk-nepuk pundakku.

  Lagi, kau ini terlalu dekat. Aku mulai berkeringat sekarang, jadi bisakah kau, seperti, mundur 15cm dariku atau sejenisnya...?

  Aku lalu menatap Zaimokuza untuk menanyakan apa yang harus kulakukan, dan dia mengangguk. “Umu, ayo kita lihat!”

  “...Baiklah, ayo kita lihat yang ini.”

  Aku lalu klik link tersebut dan di judul artikel tertulis sesuatu.

  Disitu tertulis “Tawaran Tidak Resmi Terbaik! Jurnal Kenken Tentang Sukses Berburu Pekerjaan Di Penerbitan!!”.

  “...Hei, apa maksudnya ‘Tawaran Tidak Resmi Terbaik’? Memangnya ada yang terbaik dan terburuk tentang tawaran pekerjaan?”

  “Tunggu sebentar.”

  Ketika kutanya, Yukinoshita lalu menggerakkan tangannya dan memegang mouse dari arah sampingku. Setelah dia membuka tab baru di browser, dia mulai googling tentang tawaran kerja terbaik dan begitu seterusnya. Sambil melakukan itu, rambutnya yang panjang itu mulai menyentuh punggung tanganku. Secara spontan, akupun menarik kedua tanganku ke lututku dan duduk dengan posisi yang kaku.

  Setelah hasilnya ditemukan, dia menunjuk.

  “Sepertinya itu merujuk ke peringkat terbaik calon pelamar yang sengaja tidak pernah diumumkan oleh perusahaan. Tawaran terbaik itu berarti orang yang berada di peringkat teratas. Jadi selain menerima tawaran untuk bergabung, mereka juga diperlakukan sebagai executive trainees dan mereka juga mendapatkan hak-hak istimewa dalam penempatan...Begitulah yang dikatakan disini.”

  “Tahu tidak, mendengar kata executive trainees membuatku sedikit khawatir...”

  Ini terdengar seperti kata-kata manis yang pernah kudengar sebelumnya. Ini seperti slogan manis “Serasa berada di rumah sendiri!” atau “Generasi muda menunjukkan usaha yang luar biasa!”. Sekarang aku mulai berpikiran tentang seperti apa masa depan si Kenken ini.

  Ya sudah, karena sudah pernah menyaksikan sesuatu yang menakutkan, kita juga mungkin bisa menelusuri jejak-jejak si Kenken atau apalah itu yang katanya sukses apakah dia berhasil menjadi seorang budak perusahaan dari perusahaan penerbit melalui cerita jurnal tentang tawaran terbaik tadi.

  Kami mulai scroll kebawah dan mulai membaca jurnalnya.

 

“Penawaran Kerja Yang Terbaik! Jurnal Kenken Tentang Sukses Berburu Pekerjaan di Penerbitan!!”
Blog ini akan mendiskusikan tentang proses mendapatkan tawaran kerja terbaik dari perusahaan penerbit satu-persatu!


Hak cipta tulisan@Kenken




  Tips Pertama, Mengisi Formulir Lamaran Pekerjaan.

  Dalam formulir yang disediakan perusahaan, ada beberapa pertanyaan mendasar yang harus kau tulis jawabannya di CV-mu, seperti riwayat pekerjaanmu, dan alasanmu bergabung. Lain daripada itu, kadang perusahaan juga ingin bertanya sesuatu yang unik seperti menulis essay atau buatlah tulisan lucu tentang tiga topik, atau topik-topik terkini yang menarik perhatianmu, tiga tokoh yang menurutmu menarik, pengalaman paling memalukan tentang kegagalanmu, dan lain-lain...Kadang juga, mereka menaruh sebuah pertanyaan eksentrik seperti menyediakan kolom kosong dan tertulis “Silakan gunakan kolom tersebut untuk menceritakan tentang diri anda”.

  Perusahaan penerbitan juga menyimpan dengan baik setiap lamaran pekerjaan yang mereka terima tiap tahunnya, jadi akan efektif jika kau bertanya ke Senpaimu yang kau kenal dari seminar ataupun klub sekolahmu untuk menunjukkan contoh lamaran yang pernah mereka kirim!

  Sebagai tambahan, mengenai CV...

  Belakangan ini, banyak sekali formulir lamaran pekerjaan yang tidak mencantumkan kolom asal universitas, jadi kau tidak selalu diseleksi berdasarkan sisi akademismu. Bahkan, aku pernah mengalahkan pelamar yang berasal dari universitas ternama. Banyak pelamar yang menerima tawaran tidak resmi ini berasal dari bukan universitas ternama, tapi kurasa alasan dibalik ini semua karena kebanyakan mahasiswa yang diterima di universitas ternama itu berdasarkan dari nilai saja dan mereka adalah orang-orang yang hanya memanfaatkan nama almamater saja, bukan berdasarkan bakat tersembunyi mereka.

  Mungkin perusahaan yang lain harusnya mulai merekrut karyawan dari mengevaluasi calon pelamar secara menyeluruh tanpa adanya bias.

  Seharusnya juga, mungkin kita semua, para pencari kerja, menilai sebuah perusahaan tidak berdasarkan nama ataupun nilai mereka. Sangat mungkin kalau perusahaan dan para pencari kerja juga berada di posisi yang sama dan mereka saling menyeleksi satu sama lain, itulah kunci dari kesuksesan.

  Aku ingin menyampaikan ini ke semuanya.

  “Ketika kau menatap cukup lama ke neraka itu, maka neraka itu akan menatap ke arahmu.” (Nietzsche).



  Hoh...Tulisan ini sebenarnya cukup bagus jika dilihat sekilas. Tapi, kenapa si Kenken ini menuliskan kata-kata Nietzsche kepada pembacanya? Jujur saja, aku lebih suka jika Nietzsche sendiri yang melakukannya.

  Yukinoshita yang melihat blog itu bersamaku menganggukkan kepalanya. Tapi Yuigahama dan Isshiki memasang ekspresi jijik dan terlihat ragu.

  “Banyak sekali textnya...” gumam Yuigahama.

  Kau tidak akan bisa membaca manga Conan jika jumlah text seperti ini sudah membuatmu putus asa. Mungkin bagimu ini terlihat seperti banyak sekali kata-kata, tapi sesuatu yang menarik tetaplah menarik!

  Sambil memikirkan itu, pundakku ditepuk-tepuk oleh sesuatu.

  “Ini agak mengganggu, benar tidak...?” kata Isshiki yang kurang puas sambil menepuk-nepuk pundakku dengan ujung jarinya.

  Baikalh, mari kita hentikan kegiatan menepuk-nepuk pundakku, oke?

  Kurasa, apa yang dirasakan Isshiki bisa dipahami. Entah mengapa, aku mulai menyukai tulisan orang ini.

  Mengesampingkan misteri mengapa dia bersikap sombong dan angkuh, tapi isi tulisannya terdengar seperti sesuatu yang kau baca dari tulisan mahasiswa yang berdedikasi tinggi. Memikirkan kalau Universitas banyak memiliki manusia-manusia sejenis ini membuatku malas untuk kesana...

  Begitulah, si Kenken ini atau entah siapa namanya bisa dikatakan memiliki start yang bagus. Tapi motivasiku ini akan hilang jika tulisan selanjutnya tidak seantusias bagian pertamanya. KinKi Kids atau Yoshida Terumi yang bisa kupikirkan ketika membayangkan orang yang memiliki energi sebanyak ini.

  “Fumu...Begitu ya, begitu. Aku mengerti sekarang, kurang lebih begitu. Hachiman, lanjutkan ke halaman selanjutnya!”

  Aku sendiri ragu apakah Zaimokuza benar-benar paham, tapi aku mengangguk dan klik halaman selanjutnya.



  Kedua, Ujian Tulis.

  Kebanyakan, perusahaan penerbit akan mengadakan tes tentang pengetahuan umum, tapi ada beberapa yang memberikan tes SPI. Mereka juga menjual buku panduan mengenai tes semacam itu, jadi akan lebih bijak jika kau mempersiapkan itu sebelumnya. Bagi sebagian besar perusahaan, SPI merupakan suatu keharusan. Di beberapa kasus, kau mungkin juga harus mengambil tes SPI jika kau hendak berganti pekerjaan. Tidak ada salahnya jika mempersiapkan itu. Materi mayoritas ujian tulisnya, dari pengalamanku sendiri, perusahaan S dan K sering menanyakan pertanyaan yang bagus sedangkan Toko Buku K berisikan pertanyaan yang buruk, terutama yang menjebak. Jadi bagi yang berusaha melamar Toko Buku K, waspadalah!



  Meskipun terdengar tenang, dia menyelipkan beberapa kata yang berbau dendam kepada Toko Buku K...Dugaanku, si Kenken atau entah siapa ini gagal di ujian tulis Toko Buku K.

  “Hachiman, apa itu SPI? Ataukah itu Spy?”

[> note < Mengenai tes SPI. SPI sendiri kepanjangan dari Synthetic Personality Inventory. Semacam sistem standar penilaian perilaku manusia yang digunakan lebih dari 1000 perusahaan di Jepang. Tingkat kesulitan berbeda-beda tergantung siapa yang menjalani ujiannya, mahasiswa, SMA, dll. Edisi terbaru sistem penilaian ini adalah keluaran 2012. Berbagai macam pertanyaan ada dalam ujian itu, dari matematika, bahasa, ekonomi, dll. Sistem ini diklaim bisa menilai potensi sebenarnya dari manusia, apakah dia mampu bekerja dalam grup, tipe pemimpin, tipe penyendiri, tipe makan gaji buta, dll.]

  Ketika suara Zaimokuza terdengar dari atasku, Yuigahama bereaksi.

  “Bukankah itu semacam majalah? Karena ini berhubungan dengan perusahaan penerbitan, kurasa kau harus membacanya, huh?”

  “Apa yang kau katakan barusan itu adalah majalah SPA...”

  Sebuah tes SPA? Anjrit tes apaan itu? Apa mereka akan memberiku jawaban tentang “Sebutkan tigapuluh toko gyoza terpopuler @Shinbashi” atau sejenisnya? Yang menakutkan menurutku adalah perusahaan itu bertanya tentang pertanyaan-pertanyaan yang biasa kau dapatkan di acara Kuis Champions.

  Tapi aku sendiri tidak terlalu tahu mengenai ujian SPI, jadi aku ragu untuk menjawabnya, tapi Yukinoshita langsung menekan mouse dan mengetik sesuatu. Dia membuka tab baru dan memulai pencarian mengenai tes SPI.

  “Sederhananya, SPI adalah tes tentang perilaku. Sepertinya...Itu bisa menilai skill orang seperti cara berlogika, mengkalkulasi sesuatu, dan kemampuan komunikasi yang dimiliki oleh karakter seseorang melalui tes.”

  Yukinoshita memberitahukan hal-hal penting dan menjelaskan itu sambil mendorong bagian tengah frame kacamatanya dengan jari tengah. Tapi bagi Yuigahama, tampaknya dia tidak bisa memahaminya karena mulutnya sejak tadi dibiarkan terbuka begitu saja.

  “Ohhh...Jadi itu semacam tes psikologi atau semacamnya? Aku paham itu!” kata Yuigahama dengan ceria, dan dia menatap ke arah Yukinoshita.

  Yukinoshita lalu melihat ke arah lain seperti menyerah akan sesuatu.

  “...Well, kurasa aku pemahaman seperti itu sudah cukup bagus.”

  “Tidak, itu jelas-jelas salah.”

  “Yukinoshita-senpai, tolong jangan menyerah untuk menjelaskan sesuatu...” kata Isshiki.

  Setelah berpikir sejenak, Yukinoshita menutup kedua matanya dan berpikir.

  “Ku-Kuraasa begitu. Aku yakin bahkan Yuigahama-san bisa mengerti jika berpikir sejenak dengan penjelasanku. Dengan cara dimana Yuigahama-san bisa memahami itu...Dengan cara Yuigahama-san bisa memahami itu...” Yuigahama mengatakan itu dengan pelan seperti mencoba sesuatu.

  Melihat hal itu, bahu Yuigahama terlihat menurun.

  “Kebaikan Yukinon terasa menyakitkan...”

  Well, mencoba menjelaskan atau memahami sebuah tes dimana kau sendiri tidak pernah mengalaminya memang sulit. Kalau begitu, kau harus mencoba sendiri tes itu agar bisa memahaminya. Suka atau tidak, kita semua pasti akan mengikuti tes ini suatu hari nanti. Ugh, aku benar-benar tidak ingin mencari kerja...

  Tapi, bagian bagusnya yaitu kau bisa mempersiapkan dirimu dengan baik ketika tahu kalau tes SPI merupakan bagian dari tes tulis.

  Jika kautanya apa ujian tersulit dari penerimaan kerja, itu pasti wawancara yang akan dibahas dalam bagian selanjutnya.

  Kalau dipikir lagi, bagaimana si Kenken ini melewati semua halangan ini? Aku lalu menekan bagian selanjutnya dari artikel ini.



  Ketiga, wawancara pertama.

  Kadang kau akan diwawancarai secara berkelompok.

  Ada seorang pria pewawancara di Perusahaan Besar K yang berusaha memancing emosiku. Dia benar-benar menggangguku. Aku benci pria itu selamanya.



  Hanya ini saja tulisan bagian ketiganya. Kenapa kau tiba-tiba tidak menjelaskan panjang lebar lagi, Kenken? Tapi kau masih saja menulis siapa saja orang yang kau benci, bukan begitu, Kenken?

  Zaimokuza mencoba melihat lagi isi tulisan tersebut.

  “Ooohn? Hachiman, apa disini tidak ada tulisan lagi soal bagian ketiganya?”

  “Sepertinya begitu. Ayo kita lihat bagian keempatnya.”

  Sedikit sekali tulisan bagian ketiga ini, tidak ada satupun informasi yang kita dapatkan.

  Setelah memastikan dengan Yukinoshita dan yang lainnya, aku lalu memindahkan mousenya untuk klik bagian selanjutnya.



  Keempat, Wawancara Kedua.

  Ketika kujelaskan alasan mengapa aku melamar perusahaan mereka, ada seorang pria dari Perusahaan F yang membuatku jengkel dengan memberitahuku, “Oke, baguslah akhirnya kau bisa mengatakan itu! ^^”. Dia mungkin semacam kepala editor atau sejenisnya. Aku jelas-jelas benci orang itu.



  Isinya tidak menjelaskan apapun kecuali kebencian si Kenken.

  Ketika mengetahui kalau jurnal pengalaman kerja si Kenken ini semakin bertambah buruk saja jika dibaca lebih jauh, ada suatu bagian dari dalam diriku yang mulai tertawa secara perlahan-lahan.

  Aku bahkan bisa mendengar orang yang duduk disampingku mendesah.

  “Setiap halaman baru dibuka, informasi yang didapatkan semakin sedikit dan sedikit.”

  “Sepertinya, dia mulai lebih spesifik dengan hal-hal yang tidak penting...” Isshiki mengatakan itu dengan senyum yang kecut.

  Seperti kata mereka, Kenken menulis informasi yang semakin sedikit dan tampaknya mulai menderita depresi secara bersamaan. Bahkan aku mulai bersimpati ketika membaca ini. Mencari kerja terdengar seperti sesuatu yang berat...

  Tapi ini hanya wawancara kedua. Masih ada tulisan bagian selanjutnya yang merupakan bagian “Pengalaman Sukses Kenken”.

  Aku melemaskan tubuhku sebentar, mempersiapkan diriku, dan mulai klik halaman selanjutnya.

 

  Kelima, Wawancara Ketiga.

  Wawancara yang membuat stress. Ada sekitar 10 pria paruh baya dari perusahaan K yang mewawancaraiku. Ini buruk sekali. Mungkin sebenarnya jumlah mereka ada sekitar 20 orang. Ini buruk sekali.



  Sekarang si Kenken bahkan tidak sekalipun menulis komplainnya. Antusiasme yang ditunjukkan di awal telah menghilang seperti asap dan dia sudah berada di depan pintu kematian. Kalau boleh, aku ingin memuji mentalnya yang sudah sejauh ini menulis informasi-informasi semacam ini.

  Tapi dengan menceritakan tentang interview yang menyebabkan stress membuatmu tertekan. Meskipun ini hanya perkenalan singkat, rasa takut dan putus asa tentang buruknya wawancara jelas bisa dirasakan oleh pembacanya.

  Meski kita hanya bisa membayangkan saja, tapi wawancara yang dilakukan oleh karyawan HRD perusahaan memang terdengar sangat sulit. Jika kau menghadapi para orang-orang tua yang telah memakai setelan jas hitam bertahun-tahun ditambah dengan jabatan menjanjikan seperti anggota dewan pimpinan, eksekutif perusahaan, direktur manajemen, dan direktur eksekutif duduk berdampingan, bukankah itu mirip SEELE? Ini bukankah impact yang biasa, tapi ini bisa dikatakan impact ketiga.

  “Kedengarannya berat sekali...” Yuigahama mengatakan itu dengan pelan. Nada suaranya terdengar antara simpati bercampur dengan sedih. Akupun juga, merasakan hal yang sama.

  “Sepertinya tulisannya masih berlanjut...” kata Yukinoshita, mengatakan itu dengan kesal. Bahkan kata-katanya itu terdengar seperti tidak menyarankan untuk membuka halaman selanjutnya.

  Tapi kita sudah sampai sejauh ini, jadi kita harus – tidak, kita harus melihat ini hingga akhir. Aku lalu mengoperasikan mouse itu dengan tangan yang bergetar dan masuk ke halaman terakhir.



  Keenam, Wawancara Terakhir.

  Para bajingan klub mass-res itu berbohong dengan mengatakan kalau wawancara terakhir itu hanyalah formalitas belaka untuk melihat kesungguhan calon karyawan dan mustahil untuk ditolak. Jangan mempermainkanku. Mereka ternyata menolakku setelah wawancara.



  Jurnal tersebut berakhir disitu.

  Sebenarnya apa yang terjadi dengan Kenken setelah itu? Memikirkan nasibnya saja sudah membuat dadaku serasa sesak.

  Tampaknya aku bukanlah satu-satunya orang di ruangan ini yang mendesah.

  Aku merasa bersalah karena mengintip catatan hidup seseorang yang tidak berdaya setelah menyaksikan langsung bagaimana medan pertempuran dari mencari sebuah pekerjaan.

  Lebih dari itu, aku merasakan sebuah dorongan kuat agar diriku tidak bekerja dengan orang yang membuat jurnal ini. Dia pada awalnya terlihat sangat antusias, namun sampai di tengah, dia hanya mengutuk sana-sini dan komplain saja...

  “Umm...Jadi, apakah, si penulis ini akhirnya diterima kerja?” tanya Isshiki dengan jujur.

  Yuigahama seperti menyadari sesuatu. “Kau benar! Dia bahkan menyebut itu sebuah jurnal sukses!”

  “Ahh, mungkin itu. Pada dasarnya sukses disini adalah saran-sarannya. Ini semacam aturan-aturan dasar seperti latihan dengan ilusi dalam menangani orang-orang serius yang terlibat dalam penerimaan pelamar.”

  “Itu terdengar seperti sebuah pencerahan kepada sendiri daripada sekedar latihan dengan ilusi...” kata Yukinoshita sambil memegangi keningnya.

  Well, sebenarnya memang ada bagian dari artikel tentang pencerahan cara mencari kerja...Maksudku, ketika kita surfing di web barusan, ada semacam kata-kata yang menyolok seperti karakter pribadi, keinginan untuk tumbuh, dan hal-hal lain. Tentunya, ini tidak terelakkan karena perusahaan sedang mencari sumber daya manusia yang rajin dan bermental baja, tapi melihat bagaimana orang-orang berusaha meniru agar terlihat seperti itu, orang-orang yang memiliki kepribadian berbeda-beda memang sangat menakutkan.

  Sekarang aku tahu banyak soal ini, dan ini tidak terdengar seperti sebuah industri dimana aku akan bekerja kelak...

  Karena keinginan untuk bekerjaku seperti tenggelam entah kemana, Zaimokuza yang berdiri di depanku berbicara dengan suara yang pelan.

  “Hachiman, apa itu mass-res? Apa itu sesuatu seperti Anjing Chiba?”

  “Mereka tidak mirip satu sama lain. Memangnya kau sedang membicarakan Anjing Chiba yang mana?”

  Anjing Chiba adalah maskot karakter dari Yayasan Lingkungan Kota Chiba, dan anjing juga adalah salah satu bentuk geografis dari daerah Chiba. Kalau begitu, kau bisa juga berpikir itu mirip dengan CHI-BA+KUN, tapi sebenarnya mereka adalah makhluk yang berbeda satu sama lain. Anjing Chiba memiliki anjing dalam namanya, meski tidak melambangkan itu sama sekali. Malahan, sebuah makhluk misterius yang mirip anjing bernama CHI-BA+KUN lebih mirip anjing. Ada apa dengan selera orang Chiba ini? Daerah ini memang terlalu keras kepala.

  Setelah mendengarkan, Yukinoshita memiringkan kepalanya seperti memikirkan sesuatu.

  “Well, sepertinya mass-res itu semacam singkatan dari mass media research society, seperti orang-orang yang mengaku praktisi dunia media massa.”

  “Research...Sepertinya orang-orang itu melakukan banyak sekali eksperimen.” Yuigahama menggumamkan itu sambil menatap ke arah atap ruangan.

  Dia mungkin membayangkan beberapa hal mengenai eksperimen. Tapi imajinasi Nona Gahama yang membayangkan orang memakai mantel lab putih sambil memegangi gelas eksperimen merupakan sebuah kesalahan!

  Tapi, ada benarnya kalau kata research tidak menunjukkan sesuatu yang khusus, jadi akan menjadi sesuatu yang sulit untuk dibayangkan. Kalau menyangkut teknik-teknik ilmiah ataupun sejarah sesuatu mungkin bisa, tapi kalau research merujuk ke mass media research, entahlah, aku tidak bisa membayangkannya.

  “...Kurasa kita harus cari tahu tentang mass-res kalau begitu.”

  “Betul sekali. Lakukanlah!”

  Karena Zaimokuza memberikan jawaban setuju sambil melambaikan mantelnya seperti Professor Clark, aku mulai bertanya ke Google-sensei untuk jawabannya.

  Aku mencoba menulis sebuah nama universitas, menekan spasi, dan memasukkan “mass-res”.

  Setelah mengirimkan kata-kata itu untuk dicari, kita punya hasilnya. Hasil pencariannya, banyak sekali kalimat-kalimat yang serius. Untuk gambar, banyak sekali foto-foto orang memakai setelah jas sambil dihiasi moto hidup favorit mereka. Lalu, banyak sekali komentar di bawahnya yang merupakan komentar teman-teman mereka.

  Foto-foto tersebut beragam, ada foto yang sedang jalan-jalan ke India, mendaki Gunung Fuji, Training Camp Barbeque untuk berburu pekerjaan, jadi aku tidak tahu researching macam apa yang sedang dilakukan orang-orang ini.

  Kututup kedua mataku ketika sudah separuh membaca halaman itu. Tiba-tiba, aku mendapatkan gambaran semacam apa kumpulan orang atau Klub Mass-res ini.

  Pada dasarnya, ini semacam Klub yang berisi alumni Universitas yang sama dan bekerja di bidang media massa semacam Stasiun TV, Penerbitan Koran, atau Penerbitan Buku. Disana, mereka saling berbagi informasi ataupun cara-cara agar bisa bekerja di dunia mereka kepada junior-juniornya yang masih mahasiswa.

  “H-Hei, Hachiman, apakah aku harus bergabung dengan semacam Klub Mass-res ini agar bisa lolos menjadi bagian dari perusahaan penerbitan? Apakah harus? Wajib?” Zaimokuza mengatakan itu sambil bergetar hebat, terutama ketika melihat foto-foto itu.

  “Well, aku sendiri tidak akan mengatakan wajib. Aku bahkan berpikir mungkin kau lebih baik tidak bergabung begitu saja hanya karena sebuah halaman internet menuliskan sesuatu yang menarik...”

  Tapi aku yakin diantara banyak sekali klub yang menyatakan kalau mereka adalah Klub Praktisi Pekerja Media Massa atau Periklanan, pasti ada yang benar-benar melakukan sesuatu yang benar kepada juniornya yang sedang mencari kerja.

  Tapi membaca hal-hal serius semacam ini membuatku berpikir tentang Si Tamanawa, Ketua OSIS SMA Kaihin, jadi aku tidak punya gambaran positif sama sekali soal itu.

  Sambil melihat ke website itu, ada sebuah kalimat yang menarik perhatianku.

  Salah satu sudut website itu tertulis “Ujian Masuk Keanggotaan”. Mereka ternyata memiliki semacam ujian tulis yang menanyakan pengetahuan umum, beberapa member senior klub itu, dan juga ada ujian wawancaranya.

  “Sepertinya kau harus menempuh ujian tulis dan wawancara untuk bergabung dengan Klub Mass-res atau entah apa namanya ini.”

  Aku lalu menunjuk bagian itu dengan jariku dan Isshiki terlihat kurang bersemangat. Dengan suara yang sedih, dia mengatakan, “Ahh, kurasa itu mustahil...”

  “Hmm...Hachiman. Aku tidak ahli kalau masalah wawancara...”

  “Aku tahu itu.”

  Sudah jelas dari sikapmu... Tapi aku sendiri juga lemah dalam wawancara. Ada beberapa momen dimana aku gagal dalam wawancara pekerjaan paruh waktu, jadi aku tidak hanya gagal dalam bekerja paruh waktu, aku juga gagal dalam wawancara kerja.

  Sambil bernostalgia dengan diriku yang menjadi manusia tidak berguna di masa lalu, Isshiki menunjukkan sesuatu dengan jarinya. Dia mengatakan sesuatu.

  “Tapi tahu tidak, bukankah Yui-senpai ini tipe-tipe orang yang akan lolos ujian semacam ini?”

  “Huh, kenapa begitu? Aku buruk sekali dengan ujian dan sejenisnya...”

  Seperti terkejut karena disebut tiba-tiba, Yuigahama mengutarakan ketidaksetujuannya. Dia melihat ke arah Isshiki sambil mengedip-ngedipkan matanya, Isshiki lalu scroll ke bawah layar laptop.

  “Ah, bukan begitu. Melihat foto-foto di website ini memberikan gambaran kalau komunitas mereka itu mirip dengan komunitas di sekolah kita, jadi kupikir akan sangat mudah karena mereka kemungkinan besar akan membiarkan orang-orang tampan dan cantik lolos begitu saja.”

  “Well, itu ada benarnya juga.”

  Kalau kita mengesampingkan ujian tulis, Yuigahama tampak seperti orang yang bagus dalam wawancara. Dia mungkin bisa berkomunikasi dengan para pewawancara itu.

  Ketika aku mengangguk mendengar kata-kata Isshiki, Yuigahama yang terkejut ketika orang mengatakan itu tiba-tiba wajahnya memerah. Dia lalu mengelus sanggul rambutnya dan menatapku. “Be-Benarkah?”

  “Yeah, jika itu kau yang diwawancarai, Yuigahama, kau tampaknya bisa cocok dengan suasana menjengkelkan yang sejenis happy-go-lucky.”

  “Apa itu alasanmu!? Aku ternyata senang untuk sesuatu yang salah...”

  Yuigahama menurunkan bahunya dan menatap tempat lain.

  Bukan, bukan, bukannya kau ini tidak cantik atau sejenisnya. Aku hanya mengatakan kalau itu dirimu, kau bisa beradaptasi dengan suasana ala ‘go-go’ mahasiswa. Ya, kupikir hanya kau saja, tahu tidak, aku sendiri tidak berpikir kalau kau mengikuti ‘permainan’ mereka bukanlah hal yang bagus!

  “Well, bagaimana dengan ini? Uh, orang-orang menilaimu berdasarkan penampilan, tapi yang paling penting adalah yang di dalamnya...Faktanya, mungkin ada baiknya menghindari klub-klub sejenis yang menampilkan tampilan-tampilan orang tampan dan cantik serta membuat pembacanya terlihat antusias. Meski aku sendiri kurang yakin.”

  “Eh? Mmm, well, kurasa itu ada benarnya. Yeah...”

  Yuigahama tampak tidak sepenuhnya setuju, tapi dia mulai mengangguk.

 Mendengarkan itu sejak awal hingga akhir, Isshiki lalu mengatakan sesuatu degan suara yang pelan.

  “...Senpai, kau ini buruk sekali dalam merespon kata-kata orang.”

  Sial. Jika aku bagus dalam hal itu, aku pasti lolos dalam wawancara kerja.

  “Kalau begitu, aku juga tidak begitu yakin tentang tujuan mereka yang hanya mengumpulkan orang-orang bernilai sama. Aku tidak bisa membayangkan mereka berniat untuk berkembang jika menutup kelompok mereka dengan semacam lingkungan yang homogen atau dimonopoli...”

  Yukinoshita yang sedari tadi mendengarkan percakapan kami dari samping melihat ke arah website tersebut dengan penuh keraguan.

  Zaimokuza lalu memukul tangannya sendiri.

  “...Hapon. Jadi yang ingin kau katakan, jika aku ingin memberikan contoh karya, seorang produser dari sebuah perusahaan game akan membuat sebuah game yang akan booming karena dia sudah memutuskan akan membuat sebuah game yang bukan karya tiruan game perusahaan lain dan menolak untuk merilis game itu karena ada kemungkinan akan dituntut masalah hak cipta karya oleh perusahaan lain, perusahaan semacam itu memonopoli majalah game...! Kupikir itu normal-normal saja?”

  “Aku tidak tahu kau ini sedang mengatakan apa karena yang kudengar itu hanyalah hal-hal yang rumit saja, dan aku yakin kau ini sedang membicarakan sesuatu yang berbeda, tapi mungkin saja kau ada benarnya.”

  Aku meresponnya seperti mengatkan “kampret, orang ini ngomong apaan?” – sederhananya, omongannya itu – dan Zaimokuza mengangguk.

  “Seperti yang kuduga! Internet itu menulis kebenaran!”

  Wow, internet luar biasa. Memangnya kau ini menuliskan keyword apa sehingga bisa memunculkan kesimpulan seperti itu? Ampun suhu! Tapi, bagi generasi yang akan datang, aku merasa kalau suhu dalam dunia per-Googling-an mungkin diperlukan. Dan itu merupakan bakat bagi generasi saat ini.

  Ketika aku mulai kagum – di beberapa hal – dengannya, Zaimokuza memunculkan aura semangat yang berapi-api.

  “...Sial! Jadi yang bersalah membuat orang dengan bakat terpendam sepertiku tidak bisa debut adalah sebuah kerajaan jahat, sebuah perusahaan penerbit raksasa, dan mereka memonopoli pasar, benar tidak!?”

  “Kau salah.”

  Ya, ya, kau sebaiknya mulai dulu menulis, oke?









x x x








  Kami lalu istirahat sejenak untuk meminum teh dan berkumpul lagi di depan laptop.

  Karena jurnal Kenken tidak begitu banyak memberikan informasi, kita memutuskan untuk mencari website yang sejenis.

  Di beberapa website yang menyediakan informasi mengenai mencari pekerjaan, ada beberapa komentar dari orang yang bekerja di bidang tersebut dan juga berasal dari perusahaan yang menjadi tujuan para pelamar di websitenya, jadi itu bisa dijadikan referensi yang bagus.

  Dan diantaranya, kami mendapatkan info yang tidak kalah mengejutkannya.

  “Peluang bekerja di penerbit kelas atas benar-benar gila...Ribuan pelamar dan hanya lima belas yang diterima...?”

  “Sebenarnya perusahaan tidak menyebutkan berapa pelamarnya, mereka hanya menyebutkan berapa pelamar yang diterima saja. Mungkin saja jumlah pelamarnya itu puluhan ribu, bukan ribuan lagi.”

  Setelah mendengarkan angka-angka dari Yukinoshita, Yuigahama terlihat kagum.

  “Woow, menjadi editor seperti sebuah pekerjaan yang berat.”

  “Ini lima belas hanyalah jumlah orang yang diterima, jadi kalau kita sebarkan orang-orang itu ke berbagai sektor, para pelamar yang benar-benar menjadi editor penerbitan harusnya jumlahnya kurang dari lima belas.”

  Penjelasan Yukinoshita memang benar. Akan ada pelamar yang ditempatkan di Urusan Umum, Penjualan, dan juga bagian Editorial. Dan di bagian Editorial masih ada bagian Light Novel.

  Zaimokuza mengincar Editorial saja, tidak ke bagian spesifiknya, kurasa paling tidak akan ada satu atau dua pelamar baru yang diterima disana. Bagi karyawan baru, jika mereka tidak beruntung, mungkin saja mereka awalnya tidak langsung bekerja disana, tapi ditempatkan di bidang yang lain dahulu.

  “M-Mph...G-Gununu...Begini ya, ternyata menjadi penulis Light Novel memang lebih sederhana...”

  “Mungkin.”

  Kalau mempertimbangkan peluang suksesnya, mungkin akan lebih mudah jika kita bekerja sebagai penulis light novel di GaGaGa Bunko daripada jadi editornya. Lagipula, tidak ada tes wawancara bagi penulis light novel.

  Mumpung disini, kita mungkin bisa mencari tahu bagaimana peluang diterima sebagai penulis light novel di GaGaGa Bunko. Ketika aku hendak meraih mouse laptop ini, tanganku ditarik-tarik dari belakang.

  “S-Senpai, to-tolong tunggu sebentar.”

  Suara Isshiki seperti bergetar hebat ketika dia menghentikan tanganku.

  “A-Ada apa?” tanyaku.

  Sambil mengatakan “Mm! Mm!”, Isshiki menunjukkan sesuatu dengan jarinya ke satu bagian di layar laptop.

  “Lihat ini! Lihat!”

  Memangnya ada apa...? Pikirku. Ketika kulihat, dia menunjuk ke sebuah komentar dari pegawai penerbitan. Dia memperkenalkan dirinya dan memberitahukan pekerjaannya, asal universitasnya, bidang spesifik yang dia kerjakan, jam kerjanya, dan begitulah. Setelah kuikuti tulisannya, kedua mataku berhenti di satu titik.

  “Gaji senilai 10 Juta Yen setahun dalam usia 25...”

  Ini pasti becanda, mustahil. Perusahaan penerbit raksasa memang luar biasa...Baru lulus kuliah dan dia sudah berpenghasilan segitu? Tambahan lagi, gajinya bisa terus bertambah di masa depan? Orang ini benar-benar seorang juara...

  Aku berdiri disana karena terkejut, dan aku bisa mendengar suara tarikan napas yang dalam dari belakangku. Ketika kulihat, Isshiki menaruh tangan kirinya di dagu dan tersenyum ceria.

  “Aku akan menikahi editor penerbitan.”

  “Tidak, tunggu, tenang dulu. Kalau ada, akulah yang akan menikahi editor penerbitan.”

  “Kaulah yang harusnya tenang dulu...”

  Ketika Yukinoshita mengatakan itu seperti tidak percaya apa yang dia lihat, aku kembali ke diriku.

  Yuigahama yang ada di sampingku menggumam.

  “Editor...Editor, huh...Mmm...”

  “Well, bukankah punya semacam cita-cita itu adalah hal yang bagus? Aku sendiri setiap harinya mencoba menggapai cita-citaku, termasuk barusan.”

  “Hoh, cita-cita kah...” Akupun menatap Isshiki dengan tanda tanya karena yang barusan dia katakan tidak mirip dengan dirinya.

  Tapi, dia menaruh jari telunjuknya di dagu dan memiringkan kepalanya.

  “Tentunya, aku sendiri berencana berhenti kerja setelah beberapa tahun menikah, tahu tidak?”

  “Sebenarnya apa yang sedari tadi kau pikirkan...?” kata Yukinoshita.

  Isshiki kemudian membusungkan dadanya.

  “Maksudku, aku sendiri tidak begitu bagus dalam belajar dan aku sendiri tidak berkeinginan mengejar cita-cita bekerja di sesuatu...”

  “Aku benar-benar paham itu. Aku juga sama sepertimu...”

  Yuigahama menurunkan bahunya dan Isshiki juga mengangguk. Seperti menyadari sesuatu, dia lalu melihat ke arah Yukinoshita.

  “Oh, bagaimana dengan Yukinoshita-senpai, bukankah Senpai ini seperti tipe pekerja?”

  Yukinoshita mengedip-ngedipkan matanya mendengar pernyataan yang mengejutkan itu.

  “Aku...”

  Yukinoshita tampak ragu, seperti tidak menduga akan ada pertanyaan seperti itu dialamatkan kepadanya. Dia membuka bibirnya seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi dia tidak mengatakan apapun.

  Ketika dia memalingkan pandangannya ke arah lantai, bulu matanya yang lentik mengarah ke bawah. Ketika melakukan itu, aku bisa melihat lehernya yang kurus itu diantara celah rambutnya, juga kulitnya yang putih itu, membuatku secara otomatis berusaha menahan napasku.

  Kedua tangannya berada di atas roknya, dan secara perlahan-lahan dia muai meremas roknya.

  “Kupikir...Dulu aku pernah punya rencana seperti kalian...Tapi sekarang, aku sendiri tidak begitu yakin dengan itu,”

  Yukinoshita menegakkan kepalanya dan mengatakan itu, memasang senyum dengan ekspresi malu-malu.

  “Well, aku pikir itu wajar. Itu adalah sesuatu yang bisa dipikirkan di lain waktu, lagipula, itu masih lama.” Isshiki mengatakan itu dengan ceria.

  Meski Isshiki mengatakan itu, tidak ada satupun yang meresponnya.

  Kupikir Yuigahama dan diriku tidak mendengarkan kata-katanya.

  Karena, jawaban dari Yukinoshita sendiri memang diluar dugaan.

  Tidak banyak siswa yang bisa memberikan jawaban langsung mengenai masa depannya. Tapi, kupiikir – entah mengapa – Yukinoshita sudah memutuskan masa depannya. Mungkin aku sudah memaksakan ilusi yang kuciptakan ini kepadanya.

  Meski begitu, entah mengapa hatiku ini merasakan sesuatu yang kurang nyaman.

  Aku lalu menopang daguku dengan tangan kiriku dan menatap ke arah Yukinoshita. Ketika dia menyadari itu, dia memiringkan kepalanya karena penasaran dan menungguku untuk mengatakan sesuatu.

  Dia lalu melihatku balik sambil mengatakan “umm...” dan aku lalu menggeleng-gelengkan kepalaku, mencoba memberitahunya kalau “tidak ada apa-apa”. Dia lalu menganggukkan kepalanya.

  ...Well, Yukinoshita sendiri masih kelas dua SMA. Tidak ada salahnya kalau dia tidak yakin dengan sesuatu di masa depan. Faktanya, dia memilih untuk tidak mengatakan sesuatu karena itu masih belum jelas baginya, itu juga bisa menjadi alasannya, juga.

  Ketika aku memikirkan itu, aku mencoba menelan rasa kurang nyaman itu dan menatap ke depan.

  Kedua mataku bertemu dengan Zaimokuza yang sedari tadi menggerutu dan menyilangkan tangannya.

  “Hachiman, bagaimana denganmu?”

  “Hmm, aku?”

  “Kurasa tidak ada gunanya bertanya soal Hikki...” Yuigahama menatapku dengan tatapan yang dingin dan akupun mengangguk.

  “Well, kurasa begini. Secara fundamental, aku ingin menjadi suami rumahan.”

  “Yep, sudah kuduga...”

  “Kusarankan agar kau mencari tahu makna ‘fundamental’ yang sebenarnya...”

  Yuigahama memiringkan kepalanya sementara Yukinoshita menekan keningnya dengan menutup matanya. Lalu, Isshiki menepuk bahuku. Ketika kulihat, kedua matanya berbinar-binar seperti hendak membicarakan sesuatu yang rahasia, dia lalu menaruh tangannya di mulut dan berbisik di telingaku.

  “Senpai, kurekomendasikan untuk menjadi editor penerbitan.”

  “Aku tidak akan menjadi itu, aku tidak mau bekerja, dan aku tidak akan mencari pekerjaan.” jawabku, sambil berusaha menggoyang-goyangkan tubuhku dari aroma Anna Sui dan desahan napasnya.

  “Lagipula, tidak mudah untuk menjadi editor. Beda ceritanya jika kau berusaha keras dari sekarang.”

  “Umuu, memangnya aku harus berusaha keras selama berapa tahun sejak sekarang...Kedengarannya melelahkan...”

  Zaimokuza memegangi kepalanya sambil menggerutu. TIba-tiba, kedua matanya terbuka, dia membetulkan posisi berdirinya dan berteriak.

  “...Memang, bukanlah hal mudah menjadi editor! Aku tahu itu, penulis light novel adalah yang terbaik! Kalau begitu, Hachiman, kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi! Ayo kita mulai bekerja!”

  Sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, dia sudah lari ke pintu. Dia lalu berhenti di pintu dan membalikkan badannya.

  “Hachimaaan! Ayo cepat!”

  Mengapa dia masih saja berharap dan memanggilku? Dia jelas-jelas terlihat seperti pria yang mencurigakan, tapi bagi dirinya yang tiba-tiba punya senyum yang ceria seperti itu, entah mengapa terasa menyenangkan bagiku.

  “Kenapa kau tidak menemaninya dulu?"

  “Yep, yep.”

  Yukinoshita dan Yuigahama mengatakan itu dengan senyum yang kecut.

  “...Well, aku bertanggungjawab mengenai dia, jadi kurasa aku memang harus pergi.”

  Aku lalu berdiri, di saat yang bersamaan, Irohasu mulai mencari-cari sesuatu di komputer itu.

  “Kira-kira jika menerbitkan semacam koran itu mudah tidak ya...?”

  Kau jauh berbeda dengan Zaimokuza, tahu tidak...









x x x









  Langit yang terlihat dari jendela terlihat biru dan jelas. Anehnya, aku tidak merasa hangat sedikitpun. Mungkin ini efek dari sunyinya perpustakaan di sore hari.

  Dengan tidak ada seorangpun di sekitar kami, perpustakaan sekolah ini bisa dibilang hampir kosong. Aku bisa merasakan ada petugas perpustakaan sedang menaruh beberapa buku di rak, tapi aku tidak bisa melihat sosok petugas itu dari tempatku duduk.

  Duduk di seberangku, Zaimokuza yang sedari tadi menulis dengan pensilnya, tiba-tiba terhenti.

  Entah kehabisan tenaga atau ide, Zaimokuza mengatakan sesuatu.

  “Fumu, haruskah akhirnya cita-citaku ini berakhir menjadi penulis light novel? Aku tidak akan bisa menikahi seiyuu.”

  “Kalau kau mensyaratkan bisa menikahi seiyuu sebagai tujuan akhir pekerjaanmu, maka semua pekerjaan bisa...Bahkan editor juga memiliki peluang yang sama.”

  “Begitu ya. Menjadi penulis light novel kurasa kurang bagus dan menjadi editor juga terasa mustahil...” kata Zaimokuza, menggerutu. Tapi, kedua matanya bersinar dan dia berdiri.

  “Aku paham sekarang! Kalau begitu, jaman modern sekarang ini tentang sutradara! Aku ingin membuat anime! Don-don-donuts!”

  Suaranya menggema di ruang perpustakaan yang sunyi ini. Aku tidak bisa melakukan apapun kecuali tersenyum kecut ketika gema suaranya terhenti.

  “...Well, kalau kau suka yang seperti itu, silakan saja.” kataku.

  Zaimokuza mengedipkan matanya karena terkejut.

  “Mu, mengapa kau mengatakan sesuatu seperti yang dikatakan sahabat atau sejenisnya...? H-Hei, hentikan itu. Hubungan kita tidaklah seperti itu, paham...?”

  “Jangan gugup dan malu, itu sangat menjijikkan. Aku sudah menyerah soal dirimu, idiot. Terserah kamu saja, cepat tulis itu! Aku tidak bisa pulang jika begini.”

  “Mu. Benar...Oke, ayo kita tulis.”

  Zaimokuza meneriakkan itu dengan enerjik dan dia tiba-tiba menjadi penurut sekali. Dia lalu mulai menulis. Ohh, ternyata kau masih berencana menjadi penulis light novel, huh? Mengejutkan.

  Bahkan Zaimokuza yang tidak menunjukkan tanda perkembangan saja mulai sedikit berubah. Meski dia telah melewati banyak sekali jalan seperti jalan kabur, jalan pintas, jalan berputar, dan seterusnya, dia masih berusaha mencapai tujuannya. Dalam kasus Zaimokuza, tujuannya yaitu menikahi seiyuu kurang lebih sudah dikutuk.

  Meski begitu, seperti caranya menyelesaikan tulisannya, kata demi kata, kalimat demi kalimat, dia terus mengumpulkan itu secara perlahan di hidupnya dan mungkin suatu saat dia akan menghasilkan sesuatu.

  Setahun tersisa bagiku hingga aku lulus SMA. Setelah itu, dengan asumsi aku ikut bimbingan ujian universitas dan masuk universitas tanpa masalah, itu berarti lima tahun lagi aku akan masuk ke dalam komunitas sosial.

  Lima tahun.

  Terdengar seperti sebuah waktu yang lama, tapi terasa pendek seperti hilang dalam satu kedipan mata. Kupikir dalam proses perkembangan kita semua, waktu itu terasa semakin pendek saja. Dan pastinya, waktu satu tahun yang telah kujalani ini tidak akan sama seperti satu tahun yang akan datang.

  Tidak hanya sebatas rentang waktu saja, tapi juga berbeda dalam hal nilainya.

  Mungkinkah hal-hal kecil seperti diriku yang sedang menatap langit ini memiliki sebuah nilai...

  Oleh karena itu, kupikir aku akan terus melihat pemandangan langit yang sedang membara ini, langit sore yang indah ini, lebih lama lagi.
 









x Chapter I | END x




  Sebenarnya, di chapter ini sudah memberi tanda kemana Watari akan mengarahkan 'pasangan' disini. Tapi, itu semua hanya pendapat saya. Silakan dibaca bagi yang mempercayai itu, yang punya analisis sendiri, bisa skip ataupun menulis versinya di komentar.



  Pertama, tentang pertanyaan Hachiman tentang keinginan untuk memiliki pacar ketika kuliah. Apa maksud respon Yukino, dan apa maksud respon Yui?

  Yukino memalingkan wajahnya karena ada sesuatu yang memalukan jika diteruskan. Sedangkan Yui memasang wajah kurang senang karena ada sesuatu yang tidak menyenangkan dari kata-kata tersebut. Yukino menegaskan "begitu ya...semua orang..." itu artinya Hachiman termasuk di dalamnya. Secara tidak langsung, Hachiman mengatakan kalau dia ingin punya pacar ketika kuliah nanti.

  Mari kita kembali ke volume 10 chapter 7, Hachiman bertanya jurusan Yukino, lalu Yukino menjawab. Setelah itu, Yukino mengajak Hachiman kuliah bersama, Hachiman menyetujui itu. Sekarang Hachiman berencana untuk punya pacar ketika kuliah nanti. Mudah saja untuk menebak pikiran Yukino kalau Hachiman akan menembaknya ketika kuliah nanti. Sedang Yui, dia mengintip adegan UKS, jelas kata-kata Hachiman itu tidak menguntungkan dirinya karena tiba-tiba Hachiman sudah menentukan tanggal main kapan dia akan menembak Yukino.

  Mungkin, ini juga yang menjadi pendorong Yui untuk segera bertindak dengan menembak Hachiman, karena limit waktu mereka tinggal satu tahun lagi. Lebih dari itu, Yukino dan Hachiman akan kuliah bersama dan Yui memiliki gambaran apa yang akan terjadi kepada mereka di perkuliahan nanti.



  Kedua, sebenarnya...apa yang terjadi dengan Kenken? Apa-apaan analisis ini!?



  Ketiga, Hachiman diberi kode oleh Iroha kalau dia mau menjadi istri Hachiman. Oleh karena itu, Iroha menyarankan Hachiman menjadi editor.



  Keempat, keinginan Yui di masa depan, bekerja sampai menikah, berhenti bekerja, lalu menjadi Ibu rumah tangga. Secara tidak langsung, Yui mau tidak mau harus memaksa Hachiman untuk berubah menjadi pekerja yang rajin untuk membiayai rumah tangga mereka. Sederhananya, untuk mewujudkan mimpinya, Yui harus memaksa Hachiman berubah.



  Kelima, Yukino ternyata awalnya punya keinginan untuk bekerja, lalu setelah menikah menjadi Ibu rumah tangga. Tapi kita harus camkan, saat ini Yukino tidak yakin dengan rencana masa depannya itu. Sebenarnya ini cukup sederhana.

  Mari kita telaah lagi, jika Yukino tidak yakin, artinya ada peluang rencana tersebut berubah. Artinya Yukino tidak akan berhenti bekerja meski sudah menikah. Ini artinya, pasangannya (suaminya) ada kemungkinan awalnya akan bekerja tapi setelah menikah, suaminya akan berhenti bekerja/ sejak awal tidak bekerja dan menjadi suami rumahan. Jadi Yukino akan tetap bekerja untuk membiayai rumah tangganya.

  Kita semua tahu siapa pria yang berniat akan menjadi full suami rumahan ketika menikah nanti...Ini menjelaskan mengapa Yukino malu-malu mengatakannya.

  Tapi Yukino tidak bisa menolak untuk menjawabnya, karena ini berhubungan dengan dirinya dan Hachiman, dan Yukino sudah berjanji kalau dia akan menjalankan request Hachiman tentang hal genuine.



  Keenam, tentang sesuatu yang mengganggu di hati Hachiman ketika mendengar kata-kata Yukino yang tidak yakin tentang menjadi Ibu rumah tangga. Cukup mudah, itu karena cita-cita Hachiman yang ingin menjadi suami rumahan membuat Yukino harus mengalah dengan cita-citanya, dan menyesuaikan diri dengan cita-cita Hachiman.




  Ketujuh, Hachiman mencoba memastikan kata-kata Yukino itu tersebut, menatapnya, lalu Hachiman mengatakan 'tidak ada apa-apa'. Hachiman sudah memperoleh kepastiannya. Hachiman tahu kalau Yukino sengaja merubah impiannya untuk menyesuaikan impiannya dengan Hachiman.

  Ini dipertegas dengan monolog bohong Hachiman yang memaklumi Yukino belum memutuskan sesuatu soal masa depannya. Hachiman jelas tahu kalau keputusan masa depan Yukino tergantung keputusan Hachiman mengenai masa depannya. Jika Hachiman memutuskan bekerja, maka Yukino bisa menjadi Ibu rumah tangga. Jika Hachiman ingin menjadi suami rumahan, Yukino harus bekerja.

  Tapi monolog itu bisa berubah dari bohong menjadi benar jika kata-kata Hachiman Yukino masih bisa memutuskan masa depannya, jika Hachiman tidak lagi berniat menjadi suami rumahan. Lalu, ada monolog menarik muncul di akhir chapter.

  Hachiman menghitung tahun yang tersisa, dan menyimpulkan kalau dia punya 5 tahun tersisa, sebelum masuk ke komunitas sosial masyarakat. Ini aneh, karena Hachiman bercita-cita tidak bekerja, tidak membaur dengan masyarakat, dan menjadi suami rumahan. Singkatnya, Hachiman memutuskan berubah.

  Hachiman melihat Zaimokuza yang berubah, Hachiman memutuskan untuk berubah. Dia memutuskan kalau 5 tahun lagi dia akan masuk ke masyarakat, bekerja. Ini menarik, karena saya tidak pernah melihat Hachiman yang seperti ini. Dengan kata lain, Hachiman memutuskan untuk bekerja agar Yukino memiliki kembali pilihan impiannya. Yukino bisa bebas memilih menjadi Ibu rumah tangga atau wanita karir.

  Kadang ada pertanyaan, bagaimana jika Hachiman mengubah pendiriannya demi impian Yui atau Iroha, bukan Yukino? Hachiman memilih bekerja karena ingin menjadi suami Yui, misalnya? Kita kembali ke monolog Hachiman, ketika mendengar impian gadis yang mana...hati Hachiman merasa tidak nyaman. Disitu, Hachiman mulai tergerak.




  Analisis nomor 7 ini mengingatkan saya tentang sesuatu, mungkinkah ini 'nilai moral' yang hendak ditanamkan oleh Watari? Dibalik sukses seorang pria, ada tangan-tangan wanita yang luar biasa. Sikap Hachiman yang memilih untuk menjadi suami rumahan, tidak bekerja, dan anti-sosial berubah seketika hanya karena mendengar si gadis merelakan impiannya demi Hachiman.

  Chapter ini juga menjadi sebuah perbandingan menarik antara 3 gadis saat ini, yaitu Iroha, Yui, dan Yukino. Mari kita telaah satu-persatu.

  Iroha ingin Hachiman berubah, memaksanya menjadi editor(bekerja) jika ingin menikahinya. Impian Yui memaksa Hachiman untuk berubah, menjadi pria pekerja. Tapi Yukino tidak ingin memaksa Hachiman berubah, menerima Hachiman apa adanya (suami pemalas).

  Menurut anda, gadis mana yang terbaik?






4 komentar:

  1. GaGaGa Bunko itu penerbit LN Oregairu

    BalasHapus
  2. Si KenKen anjir bngt ngakak gw baca

    BalasHapus
  3. Si KenKen anjir bngt ngakak gw baca

    BalasHapus
  4. Apa kenken itu cerita masalalu watari? Kurasa iya haha... yap di chapter ini sangat menarik karna kode kodenya kebaca dengan jelas. Dan juga salah satu chapter oregairu yang langsung gue baca ulang karna sangat menarik

    BalasHapus