Selasa, 08 Maret 2016

[ TRANSLATE ] Qualidea of The Scum Chapter 7 : Kusaoka Haruma 1







x  x  x








  Seperti kataku, aku benar-benar benci hal-hal yang jelek.

  Apa yang kurasakan ketika melihat gerombolan semut membawa seekor kupu-kupu? Mengesampingkan ukuran kecil mereka, mereka bekerjasama dengan keras untuk membawa si kupu-kupu seperti sebuah yacht...ini adalah omong kosong yang dengan mudah kukatakan tanpa perlu berpikir.

  Aku hanya merasa jijik ketika tahu kalau mereka berubah menjadi cantik dan tiba-tiba menjadi makanan.

  Ketika berpikir seperti itu, bukankah kau akan merasa sangat kasihan dengan gerombolan semut-semut itu jika makanan mereka diambil dari mereka? Jangan konyol. Serangga tidak punya perasaan. Ini hanyalah pemikiran brengsek seorang manusia yang melihat para gerombolan semut dan merefleksikan perasaannya ke mereka. Maksudku, kenapa kita harus memperlakukan semut-semut ini spesial? Bagaimana dengan kupu-kupu? Bagaimana juga hidup para kutu kayu yang tersiksa dalam cuaca lembab, gerah dan bersembunyi di balik batu?

  Ketika orang mengatakan kalau dia merasa tidak enak ke para semut itu dan meminta maaf ke mereka, itu adalah bentuk empati. Mereka kurus kering, makhluk yang hanya menuruti insting dan hierarki, cemburu karena kupu-kupu yang cantik bisa terbang di angkasa, dan menunggu momen dimana si kupu-kupu jatuh agar bisa menyerang dengan brutal titik lemahnya. Mereka hanya melihat kumpulan semut saja dan melemparkan semua empatinya ke mereka.

  Ini memang benar-benar buruk. Maksudku, hanya serangga yang bersimpati kepada serangga yang lain.

  Tapi adegan yang kulihat di halaman sekolah ini lebih jelek dan menyedihkan daripada adegan serangga tadi.

  Kertas-kertas berserakan seperti bulu dan kata-kata cacian muncul dari orang-orang sekitar, dan yang lainnya hanya menontonnya seperti tertarik. Untuk menambahkan luka, mereka bahkan merekam adegan ini dengan HP mereka. Seperti tumpukan sampah saja. Halaman sekolah ini seperti menyambut datangnya seorang iblis. Dan di tengah-tengah itu ada Chigusa Yuu.

  Tadi malam, aku menyaksikan sebuah fenomena yang tidak menyenangkan sehingga kepalaku menjadi pusing tujuh keliling, jadi aku pergi ke sekolah dengan perasaan yang buruk, dan sekarang yang kulihat di depanku ini lebih buruk lagi.

  Chigusa didorong-dorong oleh beberapa siswi, ke depan dan ke belakang. Cacian muncul dari satu dan yang lain, membuat bahu Chigusa yang kecil bergetar dan bibirnya seperti menahan sesuatu. Dia sedang menangis.

  Di situasi semacam ini, tidak ada yang berani melindungi Chigusa atau menarik tangannya untuk lari bersama seperti MC manga Shonen Jump ataupun protagonis dari suatu cerita Rom-Com. Satu-satunya orang yang akan melakukan adegan itu harusnya orang yang tampan dan berasal dari keluarga terpandang, atau bisa juga pria yang ramah ke manusia dan hewan, dan punya ingatan samar-samar kalau dia punya sebuah janji ke seorang gadis manis semasa kecil.
[note: Protagonis Rom-com yang melindungi gadis cantik itu ada di Oregairu vol 7.5 side B ketika trio kentang hendak merencanakan rencana mesum ke Yukinoshita. Pria yang punya janji dengan gadis semasa kecil itu manga Nisekoi, Raku Ichijo.]

  Sayangnya, aku tidak punya ciri-ciri protagonis seperti di atas.

       Tapi, pasti ada setidaknya satu alasan mengapa aku harus beraksi saat ini. Hanya ada satu, tapi kurang bermutu.

  Aku tidak punya hak, tugas, maksud, hutang, alasan dan ikatan yang membuatku harus melakukan itu untuknya, tapi, jika aku memang harus terlibat dalam situasi di depanku ini...

  '...Untung saja. Mau bagaimana lagi. Tapi, mengapa aku...? Sial, jangan banyak alasan'.

  ...Maka itu bisa menjadi kata-kata ajaibnya alias yang harusnya kukatakan.

  Sambil mendesah kesal, akupun mengatakan dengan pelan kata-kata idiot tadi, kata-kata klise yang tidak pernah kukatakan di depan siapapun. Lalu aku berdiri di samping Chigusa. Chigusa, yang sedang menangis, mungkin tidak melihatku. Meh, mungkin lebih baik begitu.

  Salah satu gadis yang dari tadi banyak bacot melihat ke arahku dan terlihat kurang senang. Lonte ini sepertinya memang punya sikap yang jelek.

  "Hei, bisa minggir tidak? Sikap sok jagoanmu menakutkanku. Ini tidak ada hubungannya denganmu, tahu tidak?"

  "Sebenarnya, ini berhubungan denganku."

  "Contohnya?" dia bertanya balik.

  Aku membalas lonte agresif itu dengan senyuman.

  "Aku juga ko-korban dari Chigusa Yuu. Tapi bukan karena aku meminjam uang kepadanya. Gyarumi-senpai yang disana harusnya ingat aku, benar tidak? Chigusa Yuu memaksaku untuk pergi dengannya," kataku.

  Si lonte ini lalu menatap Gyarumi-senpai.

  "Oh, benarkah?" dia bertanya.

  Tapi Gyarumi-senpai hanya bermain-main dengan rambutnya dan menaikkan bahunya.

  "Huh? Siapa lu?"

  Akan bagus sekali jika kau mengaku kalau ingat denganku, Gyarumin.

  Suzaku Reiji lalu membetulkan kacamatanya dan menatapku.

  "Aku ingat kamu. Kalau tidak salah, waktu itu kau sepertinya berusaha mengatakan tidak punya...bagaimana ya...? Energi? Sikap?"

  "Umm, baiklah...Aku memang tidak punya energi untuk melakukan sesuatu, tapi terserah saja. Seperti yang kau lihat, dia memang membuang-buang waktu dan kaloriku, juga membuatku mengalami siksaan spiritual. Juga, dia memperlakukanku dengan buruk agar aku menurutinya," kataku.

  Si lonte itu mulai memegangi perutnya dan tertawa.

  "Sungguh buruk sekali! Chigusa benar-benar seorang penyendiri, ya? Jika pria figuran seperti ini saja tidak suka kepadanya, dia pasti sudah dekat dengan ajalnya! Wooow."

  "Woooow memang. Oke, begini saja, entah siapa namamu, pria figuran, kami ini berpihak kepadamu. Tenang saja, aku menjamin akan membuat Chigusa meminta maaf setelah ini."

  "Buat dia menyembah-nyembah kita!"

  Gyarumi-senpai mulai bertepuk tangan dan menyuruh Chigusa untuk menyembahnya seperti sedang bersenang-senang, tapi aku tidak bisa meninggalkan Chigusa begitu saja.

  Bukannya Chigusa ini sedang berpegangan ke lenganku atau sejenisnya. Kalau saja ada satu alasan bagiku untuk berdiri di situasi ini, maka itu cukup.

  "...Nah, tidak perlu sebegitunya. Maksudku, aku ini sekarang berpihak ke gadis ini     Pihak Chigusa, maksudku."

  "Huuuh?" Gyarumi-senpai terkejut.

  Dia lalu menoleh ke arahku dan memandangiku dengan tajam, sebuah pose yang bisa kau katakan sangat konyol.

  "Benar kalau sifatnya itu sampah dan dia juga psikopat dengan nol skill komunikasi yang tidak ragu-ragu untuk memperlakukan orang, juga dia memang sombong dengan berpikir bisa lolos dari apapun karena dirinya cantik. Sejujurnya, tidak ada yang benar-benar pantas dibela darinya. Tapi..." ketika mengatakan kata-kata itu, aku menatap ke wajah Chigusa.

  Wajahnya dipenuhi air mata, dan dia melihatku dengan mata berbinar-binar seperti kristal.

  "Dia punya wajah cantik. Itu saja, jadi, yeah. Bagaimana ya...? Jadi aku benar-benar menyukainya."

  Aku mengatakan itu dengan cepat sehingga tidak ada yang mendengarku. Kali ini, aku melihat ke arah Suzaku dan para PSK di sampingnya.

  Oke, kujelaskan sekali lagi tentang idealismeku.

  Tidak ada gunanya bagi para gadis jelek dan goblok; orang itu selalu dinilai dari wajahnya. Jadi, orang-orang di depanku ini tidak ada gunanya, juga orang-orang yang bergosip di barisan penonton.

  Idealismeku ini penting karena aku bertindak berdasarkan itu. Kalau begitu, sikapku ini sudah jelas. Bagi yang berdiri di depanku, dengar ya. Aku akan all out. Tidak ada satupun penalti bagiku.

  "Maksudku, lihat saja sikap kalian ini, tidak berbeda dengan Chigusa. Lagipula, jika kalian semua punya sifat yang buruk, tentunya aku akan memilih untuk berpihak ke yang paling cantik. Pakai otak kalian. Apa kalian tidak tahu kata-kata 'cantik adalah adil'? Pada dasarnya, kalian semua jelek."

  "...H-Huuuh? Apa-apaan yang kau katakan? Kau pikir kau ini siapa, kau ini bukan siapapun?!"

  Si lonte itu menghentakkan kakinya ke tanah karena emosi, membuat bumi seperti gempa atau semacamnya. Bahkan kepalaku sempat merasa pusing melihatnya. Membuat diriku diisi ketakutan dan antusiasme dalam waktu yang bersamaan.

  Balas dendam adalah milikku seorang. Cantik adalah keadilan. Sekarang, mari kita karang sebuah cerita tentang keadilan ini.

  Kalau semua sayuran rasanya sama, maka kau akan membelinya berdasarkan penampilannya. Semua orang tahu kalau mereka mendapatkan pekerjaan karena penampilan mereka. Kalau mengasumsikan para pencari kerja memiliki kemampuan yang sama, maka siapa yang memiliki penampilan paling menariklah yang akan diterima.

  Sebenarnya, untuk mengatakan itu lebih tepat, tampilan luar dan sifat awalnya adalah sebuah parameter untuk menampilkan kelebihan-kelebihan individual, tapi mereka yang tidak punya penampilan menarik terus mengeluh kalau itu tidak adil. Mereka terus mengatakan kalau yang terpenting adalah sifat orangnya sambil terus berdebat agar mengeluarkan kriteria penampilan sebagai parameter. Secara ironis, mereka sendiri yang membuat sistem itu menjadi tidak adil.

  Maksudku, menilai penampilan seseorang adalah subjektif, mustahil kau bisa mencari sebuah keadilan disana. Ada orang yang mungkin baik dan punya sifat yang bagus, tapi selain itu sangat buruk untuk dilihat. Tapi jika orang seperti itu bersikap buruk kepadaku, maka mereka tidak punya satupun hal yang bisa kunilai lagi. Jika ada dua gadis yang cantik, maka aku akan memilih "siapa yang bersikap paling baik kepadaku" daripada "gadis yang bersikap paling baik ke seluruh umat manusia".

  Ngomong-ngomong, aku tidak mencari gadis yang baik. Aku menilai orang dari tampilan luarnya.

  Dan yang terlihat di depanku, Chigusa jelas cantik.

  Korup dari segi sifat, jiwa, atau apalah itu, kecantikannya saja sudah merupakan fitur yang bernilai lebih. Sebagai seseorang yang tidak punya hubungan dengannya, kecantikannya saja sudah merupakan hal yang mencolok bagiku.

  Itulah satu-satunya alasan mengapa aku menyukai Chigusa Yuu.

  "Haruma-san..."

  Akupun menoleh ke asal suara itu. Chigusa menatapku dengan terkejut seperti mematung.

  Diperhatikan seperti itu membuatku sadar tentang apa yang kuucapkan barusan, jadi akupun memalingkan wajahku. Lalu, aku menatap ke Suzaku Reiji, yang dari tadi memegangi keningnya dan menggerutu.

  "Aku tidak paham apa yang kau katakan. Jadi apa yang kau mau? Bisakah kau tidak berusaha mengalihkan topik dari drama ini?"

  Dia mengatakan itu sambil menatapku jijik, dan melihatku rendah. Karena inilah aku membenci pria yang tampan dan pintar.

  Meski begitu, dia adalah Suzaku Reiji, orang yang mampu menyedot perhatian karena ketampanan dan kepintarannya. Kalau begitu, kalau aku bisa memancing emosi orang ini keluar, maka aku bisa mengontrol situasi ini.

  "Hei, jangan kejam begitu. Coba berpikir sedikit dan pahami yang sudah kukatakan. Aku ini orangnya mudah gugup jika dilihat banyak orang. Aku ini cuma rakyat kecil, Joe si pria rata-rata, si korban. Aku ini sudah menderita karena kelemahan dan kejelekan wajahku, jadi aku ingin meminta perlindunganmu. Bukankah menyelamatkan rakyat kecil merupakan pekerjaanmu? Tuan Ketua OSIS?"

  Aku menyadari semua yang kukatakan itu seperti berakting di sebuah shooting film. Oke, oke, benar, ini hanya akting saja. Aku hanya berpura-pura menjadi penjahat disini. Ini hanya akting, jadi tidak masalah jika dia memintaku pergi atau jijik kepadaku karena apapun itu hatiku akan tetap putih tidak ternoda. Sebenarnya, aku sendiri juga bajingan seperti para idiot ini. Apa-apaan dengan seluruh skenario pembelaan ini? Tapi jika aku tidak melakukan ini, aku yang pengecut tidak akan bisa mengatasi situasi ini.

  Jika orang bisa membuang rasa malunya, tidak cengeng dan langsung menggebrak, mereka bisa mendapatkan apapun yang mereka mau. Sembilan puluh persen manusia bisa menyelesaikan seluruh masalahnya jika punya uang dan kemauan.

  Dalam kasus ini: Jika kedua pihak sudah membuang rasa malunya, maka untuk memenangkan pertempuran ini yang tersisa adalah membuang harga diri. Berpura-pura menjadi korban adalah taktik terkuat selama diperhatikan oleh publik. Para kriminal yang berbuat jahat ketika tidak ada yang melihat lalu pura-pura menjadi korban ketika diperhatikan publik adalah rencana yang efektif dan cerdas.

  Karena itulah, ini akan menjadi efektif jika tidak ada korban yang lebih besar dariku muncul setelah ini.

  Oleh karena itu aku bersikap sinis dan menyedihkan seperti sekarang ini.

  "Kau perhatian sekali jika ada gadis yang menangis datang kepadamu, tapi kamu tidak mau hanya sekedar mendengarkan orang seperti diriku ini? Apa kamu ini bersikap diskriminatif hanya karena aku pria jelek? Atau kamu ini cuma mau memperhatikan perempuan saja?"

  "Hentikan itu. Pura-pura jadi korban adalah hal yang dilakukan para bajingan."

  "Bisakah kau berhenti menilai berdasarkan kepentingan pribadi? Okelah sekarang kuturuti logikamu, katamu tadi gadis yang menangis ini adalah bajingan, benar?"

  Dia hanya diam saja melihatku.

  Suzaku tidak membantah kata-kataku. Sebenarnya, melakukan kekerasan verbal ke Chigusa bukanlah sikap yang bisa Suzaku banggakan.

  "Mereka tahu kalau dia lintah darat, tapi tetap meminjam uang kepadanya. Sekarang mereka tidak bisa membayarnya, jadi mereka memanfaatkanmu sebagai alat untuk menghentikan pembayaran hutang mereka. Langsung menghajar orang terang-terangan di tempat umum bukanlah hal yang dilakukan bangsa kita, bahkan mereka tidak melakukan itu di jaman Kamakura."

  "Bukan itu yang sedang kulakukan! Aku hanya ingin membuat kebenaran ini jelas, bahkan jika aku dipaksa untuk menggunakan metode yang membuatku terlihat tercela..."

  "Maksudmu dengan menghinanya dan menghukumnya seperti ini?"

  "...Jika diperlukan," Suzaku menjawabnya dengan berat.

  Suara-suara di sekitarnya menjadi gaduh. Begitu ya, jadi Suzaku adalah simbol dari keadilan, suaranya merupakan yang terbenar jika ada perbedaan pendapat.

  Karena itulah, aku akan menggunakan apapun yang ada disini untuk membalikkan keadaan.

  "...Kalau begitu kau harus mencaci-maki dan menghukum dirimu sendiri."

  "Huh?"

  "Kau juga sedang merusak kehidupan orang-orang yang mengikutimu juga. Bukankah mereka selama ini mengikutimu karena mereka suka kepadamu?"

  "Jangan cari-cari alasan. Aku tidak pernah merusak kehidupan orang lain. Juga, aku tidak bisa menolak jika mereka mengikutiku karena itu keinginan mereka sendiri."

  ...Well, sial...dia menekan remnya.

  Aku berharap dengan menggertak dan menanyakan pertanyaan yang menjurus, aku bisa memperoleh beberapa celah kecil yang dia tunjukkan, tapi Suzaku Reiji terlihat tenang dan terkendali, dan dosa-dosanya belum terlihat sedikitpun ketika dia berbicara.

  Gara-gara ini, kata-kata yang sudah kususun seperti hilang entah kemana. Aku akan kalah jika aku diam saja, jadi aku pura-pura menggerutu untuk membeli waktu.

  "...Um, uhhh. Uh, tahu tidak. Seperti, tahulah, otaku, orang yang menghargai uang dan benda diatas segala-galanya. Mereka memang orang-orang yang menyedihkan. Ada beberapa hal yang uang tidak bisa beli, seperti waktu, orang, dan perasaan."

  "Well, kupikir begitu...Tentunya, itu adalah pendapat pribadi."

  Luar biasa, dia ini memang idiot. Dia sudah menaruh tongkat besar di ujung pantatnya. Kurasa, dia memang pria baik yang normal. Aku mengatakan omong kosong tapi dia menjawabku serius. Mengatakan hal-hal buruk seperti yang dikatakan pria baik barusan itu membuat hatiku dipenuhi antusiasme.

  "Benar, kan? Kalau begitu, itu artinya kau lebih bajingan daripada Chigusa. Kau menghancurkan apa yang lebih penting dari uang dan berpura-pura semuanya baik-baik saja."

  "Sudah kukatakan aku tidak melakukan hal semacam itu," Suzaku mengatakan itu dengan nada yang jijik.

  Heh.

  "Bagaimana dengan membuat orang menunggumu hingga pulang? Kau sendiri sejak awal tidak berniat pulang bersama, tapi kau membiarkannya menunggu. Bukankah kau sendiri mengambil sesuatu dari mereka?"

  Suzaku tampaknya paham maksudku. Dia menatap ke arah Gyarumi-senpai.

  "Dia sendiri yang mau menunggu..."

  "Ohhh? Jadi kau tidak mau disalahkan jika mereka melakukan itu? Jadi kau mengatakan tidak apa-apa jika seseorang menderita dan terluka karena mereka dianggap setuju untuk melakukan itu? Tadi, kau mengatakan itu karena itu kemauan mereka? Kalau begitu, semua orang yang mengaku korban Chigusa harusnya bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Kau langsung membuka matamu terhadap kasus pencurian keuangan siswa karena kasus Chigusa, tapi kau sendiri menutup mata terhadap dirimu sendiri yang mencuri waktu orang lain."

  "Itu tidak masuk akal, sialan!"

  Tepat sekali. Tapi, debat bukanlah satu-satunya hal yang bisa meyakinkan seseorang. Suara debat tidak akan mencapai mereka yang tidak terlibat dalam masalah ini.

  "Kau mungkin tidak sadar, tapi kau sendiri juga orang jahat. Kau ambil waktu berharga orang lain, dimana itu lebih berharga dari uang, kau mempermainkan perasaan dan emosi mereka, dimana beban itu terasa lebih berat dari yang mereka miliki. Lebih dari itu, kau memakai jabatanmu itu untuk menghakimi orang lain dimana kau sendiri melakukan hal yang serupa. Ha, kau ini yang terburuk dari yang buruk..."

  "Logikamu tidak berdasar. Ocehanmu itu tidak masuk akal!" Suzaku yang emosi mulai membantahnya.

  Para pengikutnya mulai ramai dengan kombinasi kata-kata "Diam lu!", "Mati aja!", "Diam dan mati aja lo!".

  Akupun mengaktifkan mode 'tuli' dan menutup mataku. Tapi, aku membiarkan mulutku terbuka dan bersikap sinis ke Suzaku. Sejak awal, aku tidak punya satupun keinginan untuk berdebat. Aku tidak masalah dengan membuatnya jengkel, tapi jika itu tidak bekerja maka aku akan mengalihkan perhatiannya dan membuat serangan pamungkas.

  Keh. Akupun tertawa sinis.

  "Seperti kataku, aku ini suka gugup dan agak masalah dalam menyampaikan maksudku. Skill komunikasiku kurang bagus. Kau ini hanya tukang bully saja jika yang bisa kaulakukan hanyalah berteriak saja kepadaku. Cobalah untuk memahami perasaan orang yang tidak punya itu. Pikirkan perasaan mereka itu seperti apa. Arogansimu itu membuatmu menjadi yang terburuk dari yang buruk, Tuan Ketua OSIS."

  Suzaku lalu menggerutu dengan suara serak. Kemudian, dia menatapku dengan mata yang dipenuhi oleh kebencian dan rasa jijik.

  "Kau ini memang bajingan. Kuzu..."
[note: Kuzu itu bisa berarti sampah, kalau dikatakan ke orang berarti sampah masyarakat.]

  Akupun menaikkan bahuku untuk mencoba mengatakan: UH-HUH, YA, NAMAKU ADALAH KUZUOKA HARUMA!

  Setelah itu, Suzaku menarik kerahku dan memegangiku, dengan gigi yang menyeringai.








x  x  x




Tidak ada komentar:

Posting Komentar