Senin, 14 Desember 2015

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 6.5 Special | Vol 9 Chapter 11 : Dan ketika cahaya dari lilin-lilin Natal tersebut berkerlip...


x Chapter Special | Natal x










  Natal.

  Adalah sebuah festival yang terjadi di seluruh penjuru kota dimana orang-orang akan terlihat berpasangan di setiap sudutnya, tidak lupa juga para muda-mudinya akan berteriak “weeey, weeey”, sebuah event yang menakutkan. Bagi mereka yang terasingkan oleh sosial sekitarnya, ini hanyalah salah satu dari sekian banyak hal yang dibenci oleh mereka.

  Tapi tunggu dulu. Sebentar.

  Bagi mereka yang mengutuk Natal, harus mempertimbangkan hal berikut.

  Di internet, kau jangan mengacaukan situasi itu dengan postingan semacam “Bagi mereka yang setuju kalau Natal harusnya jangan dirayakan, tolong retweet ini”. Itu hanya menunjukkan kalau diri mereka adalah seorang pecundang.

  Yang harus kau kutuk harusnya bukan Natal, tapi mereka yang tiba-tiba berteriak “weey, weey” selama setahun penuh. Warga yang berteriak-teriak seperti itu, dan bersama dengan para pasangan mereka yang sedang mengumbar kemesraan itu, entah Natal atau tidak, terlihat sangat mengganggu sekali. Siswa-siswa idiot yang berteriak “weey, weey” bahkan terlihat lebih mengganggu seperti yang sering terjadi di awal musim semi.

  Bagi mereka yang mengutuk Natal, harus mempertimbangkan hal berikut.

  Kau harusnya tidak perlu beralasan “Gue ini sebenarnya beragama Budha (lol)”. Itu hanyalah sebuah omong kosong dari seorang pecundang.

  Alasan utamanya karena kata Christ dari Christmas sendiri menyebut Wali Tuhan dan begitu pula dengan Budha. Lalu kau sendiri menolak Christmas, tapi menyebut dirimu mempercayai Budha. Bukankah itu semacam tindakan arogan?

  Jangan mengemis kepada Tuhan, biarkan hatimu menghadapinya. Jangan meminta-minta kepadanya, tapi bersyukurlah. Lakukan itu, maka kau mendapatkan apa yang kau inginkan.

  Tapi bagi karyawan yang hidupnya hanya menjadi budak perusahaan, hidup ini serasa tidak memiliki satupun ampunan, bahkan pertanyaan apakah Tuhan itu ada atau tidak, seperti sebuah pertanyaan dimana kau sendiri sudah tidak punya waktu luang lagi untuk memikirkan jawabannya.

  Apakah kau ini berstatus single ataukah sedang memiliki pasangan, Natal tetap akan datang.

  Dengan kata lain, Natal adalah...

  Adalah...Umm, dengan kata lain, ya seperti itulah, ini seperti itu, yeah. Ngomong-ngomong, bagaimana aku mengatakan ini, kurasa ini cukup buruk...

  Sampai detik ini, aku sebenarnya belum pernah menikmati apa itu Natal yang sebenarnya, jadi aku sendiri tidak tahu harus melakukan apa. Serius ini, gue harus ngapain ketika Natal nanti...?

 









x  x  x












  Sekolah ketika liburan musim dingin tiba, terasa sepi sekali.

  Matahari yang mulai tenggelam adalah pemandangan yang bisa kulihat dari balik jendela. Suara-suara orang yang sedang beraktivitas di Klub Olahraga bisa terdengar dari luar.

  Lapangan itu disinari lampu dari gedung sekolah dan gymnasium, juga dibantu dari deretan lampu jalan yang berada di sebelahnya. Dengan sepinya aktivitas dan pencahayaan yang minim, kampus ini seperti sebuah gudang yang sepi. Angin dingin yang bertiup dari laut seperti menggetarkan jendela-jendela di sekitarku.

  Tapi, karena adanya pemanas ruangan disini, ruangan ini terasa hangat.

  “Haaa...Tehnya terasa enak sekali!”

  Duduk berseberangan denganku, Yuigahama mengeluarkan suara yang menandakan kelegaan ketika dia menaruh mugnya di meja.

  Diriku dan Yukinoshita mengangguk kecil ke arah Yuigahama dan menaruh kedua tangan kami di gelas teh masing-masing. Yeah, kita harusnya memanfaatkan dengan baik waktu kita!

  “Kita bersyukur karena Event Natal tadi berjalan dengan baik...”

  Yuigahama menyandar ke kursi, seperti merasakan sensasi yang luar biasa karena selesai menyelesaikan sebuah pekerjaan.

  Yukinoshita lalu tersenyum.

  “Itu benar sekali. Aku sebenarnya tidak yakin itu akan menjadi seperti apa, tapi tampaknya kita bisa menyingkirkan kekhawatiran kita.”

  “Kupikir begitu. Kurasa sudah lama sekali kita tidak punya waktu bersantai...”

  Sebenarnya, beberapa hari ini kita seperti dikejar-kejar waktu karena Event Natal yang mepet.

  Festival Budaya, Festival Olahraga, darmawisata, pemilihan Ketua OSIS, dan terakhir, Event Kolaborasi Natal. Hari-hari untuk bersantai muncul dan tenggelam, muncul lalu hilang lagi...Bukankah itu semacam lampion yang mengapung? Apa aku mati atau semacamnya?

  Ketika aku memikirkan itu, aku meminum sisa tehku. Meskipun gelasnya kosong, tapi masih terasa hangatnya.

  Yukinoshita lalu melihat ke arah mug Yuigahama. “Yuigahama-san, mau tambah tehnya?”

  “Ah, terima kasih!”

  Yuigahama mengatakan itu dengan gembira sambil menyerahkan mugnya.

  “Hikigaya-kun, tolong berikan padaku gelas tehnya.”

  “Hmm.”

  Aku memberikan gelasku tanpa komplain apapun, tapi setelah memikirkannya dengan baik, aku merasa kata-katanya sedikit berbeda ketika memintaku tadi.

  “...Uh, kenapa caramu mengatakan tadi terasa terdengar tidak adil? Kesenjangannya sangat jelas terlihat sekali.” kataku.

  Mengesampingkan hal tersebut, Yukinoshita hanya menatap ke arah meja di sampingnya. Sambil menyiapkan tehnya, dia lalu berkata.

  “Juga, disana ada kue yang tersisa, bisakah kalian berdua membantuku menghabiskannya?”

  “Eh, malah komplainku tidak ditanggapi...Meski begitu, aku akan tetap memakan kuenya. Kurasa sangat disayangkan kalau kue ini tidak dimakan karena kita tidak akan ke sekolah untuk sementara waktu.”

  Aku mengambil kue atau apapun itu yang ada di kotak tersebut dan Yuigahama juga melihat kotak tersebut.

  “Aku akan ambil dua deh!

  “Tentu, silakan ambil saja.”

  “Yey! Kue-kue buatan Yukinon sangat enak sekali!”

  Yukinoshita tersenyum dan Yuigahama terlihat gembira bisa memakan kuenya. Tapi, dia sepertinya menyadari sesuatu sehingga tiba-tiba berdiri dari kursinya.

  “...Err, tunggu dulu, ini salah!”

  Suara dari Yuigahama terdengar menggema di ruangan yang sunyi ini.

  “Oh, ada apa tiba-tiba berdiri seperti itu?”

  “Kau bisa menumpahkan tehmu.”

  Tapi karena Yukinoshita dan diriku sudah terbiasa dengan suaranya yang berisik, reaksi kami seperti biasa-biasa saja. Tapi serius ini, respon Yukinoshita seperti respon dari seorang Ibu atau semacamnya.

  Tampak kurang senang dengan reaksi kami, Yuigahama membuka kedua matanya dan melanjutkan.

  “Kalian berdua ini terlalu menggampangkan! Hari ini, bukankah kita harusnya membicarakan tentang apa yang akan kita lakukan selanjutnya!?”

  Seperti baru saja mengingat hal itu, Yukinoshita memiringkan kepalanya.

  “Ngomong-ngomong, bukankah kita pernah bahas itu, benar tidak...”
[note: pernah dibahas di vol 8 chapter 9.]

  “Yeah, yeah! Jadi, nanti malam kan malam Natal. Jadi, kita akan melakukan apa? Ini adalah peluang yang langka, jadi ayo kita lakukan hal-hal yang gila!”

  Setelah mengatakan itu dengan puas, Yuigahama mengangguk sambil menggaruk-garuk kepalanya.

  Secara spontan, aku menggaruk-garuk kepalaku.

  “Meski kau mengatakan ‘ayo kita melakukan sesuatu’, aku sudah ada rencana untuk menghabiskan malam nanti di rumah.”

  “Eeeh? Apa itu normal? Bukankah Natal harusnya waktu dimana orang menjadi PAN dengan perasaan semacam PAN-PAKA-PAN? Semacam itulah, benar tidak?”

  Yukinoshita lalu menaruh tangannya di dagu dan mulai berpikir. 

  “Aku pikir, menghabiskan Natal di rumah bukanlah hal yang aneh. Kalau di barat, menghabiskan waktu bersama keluargamu kurasa hal yang wajar.”

  “Tapi kita kan di Jepang...”

  Yuigahama mengatakan ketidaksetujuannya.

  “Tunggu, tenang dulu Yuigahama. Leluhur bangsa Eropa-lah yang mengatakan konsep Natal seperti itu. Jadi jawaban yang benar adalah kita harus menghabiskan Natal bersama keluarga masing-masing. Inilah yang mereka sebut kalau Natal itu sudah GLOBALIZED dan menjadi sebuah WORLD STANDARD.”

  Aku mengatakan argumenku, tapi reaksi Yuigahama terlihat berbeda.

  “Bukan, bukan, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan WORLD ataupun STANDARD, tapi apakah itu masalahnya? Coba kau lihat orang-orang diluar sana, semua orang menikmatinya meski tidak ada yang tahu tentang apa Natal itu.”

  “...Ada benarnya, setelah diserap menjadi kebudayaan lokal, sekarang Natal menjadi salah satu bagian dari budaya Jepang.”

  Yukinoshita mengatakan itu setelah mempertimbangkan sesuatu. Yukinoshita yang bisa dipengaruhi seperti ini adalah momen yang langka. Tapi, sebenarnya ada yang lebih langka lagi.

  “Yuigahama tampaknya baru saja mengeluarkan argumen yang benar-benar argumen setelah sekian lama...”

  “Fufuun.”

  Yuigahama menunjukkan senyum kemenangannya.

  “Baiklah, anggap saja yang Yuigahama katakan itu benar. Jadi aku ingin bertanya, apa cara yang benar untuk menikmati Natal ala Jepang?”

  Yuigahama memiringkan kepalanya dan mengatakan “Hmm?”

  “Eh, seperti kataku tadi, sebagaimana orang Jepang pada umumnya menghabiskan Natal mereka...”

  “Kalau aku sendiri, normal berarti menghabiskan Natal di rumah. Aku tidak pernah merayakan Natal diluar rumah. Lalu kalau begitu, memangnya agar aku terlihat seperti orang Jepang kebanyakan, aku harus melakukan apa? Apakah aku harus berteriak ‘weey, weey’? Ini bukan situasi dimana kita berada di depan stasiun yang berdekatan dengan sebuah Universitas di bulan April...”

  Yukinoshita tiba-tiba mengangguk. Dia tampaknya setuju dengan itu.

  “Aku setuju, stasiun dekat Universitas di bulan April suaranya sangat mengganggu.”

  “Mereka berteriak mengatakan ‘weey’...Terutama ketika Natal di kota, lalu mereka pasti akan berteriak ‘weey, weey, yolo, yolo’! Ketika aku berpikir kalau nantinya akan bertemu orang-orang seperti itu, itu saja sudah membuatku...”

  Aku sudah mulai putus asa kepada mereka yang mengganggu itu, entah itu akhir tahun ataupun awal tahun.

  Yuigahama lalu melambai-lambaikan tangannya mengatakan tidak mungkin.

  “Tidak, tidak, mereka tidak mengatakan semacam ‘weey’ atau ‘yolo’.

  “Mereka benar-benar mengatakan itu. Mereka itu persis seperti Tobe.”

  Aku mencoba menegaskan itu sekali lagi.

  Yuigahama seperti kehilangan kata-katanya.

  “Aah, Tobecchi ya...Tapi itu kan Tobecchi, jadi mau bagaimana lagi...”

  Tentunya kau akan mencoba mempertahankan alibimu, meskipun aku tahu kau coba mengalihkan itu dengan pura-pura tersenyum.

  Yukinoshita, yang mendengarkan sejak tadi, memiringkan kepalanya sambil mengatakan sesuatu yang kejam.

  “Tobe-kun tidaklah penting untuk dibahas saat ini, tapi, umm...Apa sih arti dari ‘weey’ dan ‘yolo’?

  Ternyata Tobe dianggap tidak penting oleh Yukinoshita, dan dia lebih tertarik kepada ‘weey’ dan ‘yolo’ daripada Tobe.

  “Entahlah?...Mungkin itu dari serapan Bahasa Inggris?”

  Yuigahama mengatakan itu seperti tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.

  “Okelah. Bagi Yuigahama, semua kata yang tidak dia pahami dia anggap sebagai bahasa Inggris. Baiklah, mohon dimaklumi saja.”

  “Caramu mengatakan itu dengan sopan membuatku semakin sedih tahu!”

  Yuigahama mengatakan kalau dirinya tersinggung. Tapi tahu tidak, kau ini menggunakan logika yang sama seperti mengatakan semua orang asing adalah orang Amerika. Karena itulah kuanggap kau seperti anak kecil, mau bagaimana lagi?

  Di lain pihak, Yukinoshita tampaknya memaklumi Yuigahama dan memikirkan sesuatu.

  “Jadi ‘weey’ dalam bahasa Inggris...mungkin plesetan dari kata ‘wait’, wait dalam Jepang disebut matsu, apa begitu...”

  “Kurasa bukan begitu.”

  Kupikir, mereka itu tidak tahu Bahasa Inggris, malahan Bahasa Jepang mereka saja itu diragukan. Tapi tampaknya, punya kosakata yang semacam itu tidak menghalangi mereka dalam berkomunikasi. Bahkan, mereka sebenarnya bisa membuat sebuah percakapan dengan bermodalkan kata “sial”, “bener banget”, “betul itu”, “benar juga”, dan lain-lain yang mengindikasikan kemampuan komunikasi mereka cukup tinggi. Mereka seperti merasa punya budaya yang lebih tinggi. Dan mereka akan mengatakan  “budaya kita ini sangat berbeda”.

  Ketika aku memikirkan itu, Yukinoshita melihat ke arahku.

  “Hikigaya-kun, weey. Diamlah di rumah.”

  “Oke, jadi sekarang kata itu digunakan untuk memperlakukanku seperti anjing?”

  Jangan katakan kalau kau mulai menikmatinya.

  “Meski kau tidak mengatakannya, aku sendiri memang sudah berencana tetap di rumah dalam jangka waktu yang lama...”

  Ketika aku berusaha memberikan kode-kode agar kegiatan klub berakhir dan segera pulang, Yuigahama tampaknya berusaha menahanku agar tetap disini.

  “Tunggu, tunggu! Tunggu dulu! Kita ini masih belum memutuskan apapun!”

  “Yeah, tapi begini...Kau mengatakan kalau Natal itu harusnya dirayakan dengan semua orang, tapi kau sendiri  tidak menjelaskan tentang caranya.”

  Seperti biasanya, aku tidak tahu harus bagaimana ketika pergi dan bertemu orang. Maksudku begini, aku akan sangat menghargai jika seseorang membuat manual caranya secara tertulis. Misalnya taruh di Daijisen. Aku rasa akan banyak sekali orang yang akan berterima kasih karena diberitahu langkah-langkahnya.
[note: Daijisen adalah wikipedia populer Jepang.]

  Kuakui manual semacam itu memang tidak akan pernah ada, orang-orang mungkin belajar dari orang lain yang mereka anggap berpengalaman dengan hal itu.

  Yuigahama, yang hidup dengan mengikuti arus tren di masyarakat, menganggukkan kepalanya.

  “Melakukan hal-hal gila...! Kurasa tidak cocok dengan Hikki. Ummm, ummm...”

  “Ooh, dia ternyata sedang berpikir...Tampaknya kita bisa melihat Yuigahama yang sedang beranjak dewasa!”

  “Sebenarnya, kalau dibalik, maka perkembangan dari Hikigaya-kun sendirilah yang tidak bisa kita lihat...Kau sudah diputuskan akan ikut dalam rencana itu, jadi menyerah saja mencari alasan agar bisa menganggur seharian.”

  “Eh, tolong sekali-kali kau itu bercermin, kau harusnya berkaca juga. Kau tidak bisa memintaku untuk ikut jika terus menyindirku...”

  “Oh, tentunya aku tidak akan membiarkanmu memandangku rendah. Aku juga memastikan diriku kalau aku juga berkembang.”

  Yukinoshita mengatakannya dengan tersenyum. Tapi setelahnya, senyumnya seperti kehilangan semangat.

  “...Yuigahama-san mungkin terlihat seperti itu, tapi dia orangnya sangat keras kepala. Jadi berusaha mencegah rencananya adalah hal yang sia-sia.”

  “Itu bukan berkembang, tapi kalah total...”

  Well, memang Yukinoshita dan Yuigahama punya semacam hubungan yang kurang fair meskipun hubungan itu bisa dikatakan tanda-tanda perkembangan.

  Tiba-tiba Yuigahama menaikkan tangannya.

  “Ah, aku tahu!”

  “Tampaknya kau punya sebuah ide. Coba katakan.”

  Yuigahama lalu membuka mulutnya dengan ekspresi yang ragu-ragu.

  “Umm...Ki-kita bisa makan ayam goreng bersama-sama, atau semacam itu!”

  “Kita ini sebenarnya bisa makan ayam goreng kapan saja...”

  “Kalau logikanya seperti itu, maka restoran ayam goreng akan punya acara Natal setiap hari. Lagipula, di rumah pasti sudah ada acara makan-makan ayam goreng.”

  Yukinoshita lalu menatapku sambil tersenyum.

  “Di rumah? Apa kau lupa menambahkan di rumah-KU?”

  “Mau bagaimana lagi, kalian menyebut-nyebut ayam goreng, ya otomatis aku ingat dengan acara makan-makan ayam goreng di rumahku. Lagipula, aku memesan yang tanpa tulang, jadi akan sangat mudah untuk dimakan. Ayahku dan diriku suka makan beberapa ekor. Dibandingkan dengan rumah yang lain, rumah kami bisa dibilang nyaman. Tapi ngomong-ngomong, memangnya ayam goreng masih lumrah kalau disebut ‘satu ekor ayam goreng’?”

  “Kalau yang kau makan itu hidup-hidup, mungkin menyebut ‘ekor’ masih dimaklumi.”

  “Jangan membahas hal-hal semacam ‘hidup’! Hal-hal menjijikkan seperti itu dilarang untuk dibahas! Mendengar tadi saja sudah membuatku merasa aneh jika nanti makan ayam goreng!”

  “Nah, kalau kau sudah merasa tidak enak lagi ketika makan ayam goreng, berarti kita tidak perlu mengadakan pesta Natal. Maka tujuanmu bisa dianggap gugur!”

  “Hikki, kau ini hanya merusak suasananya!”

  Yuigahama mengatakan itu, tapi dia menambahkan.

  “O-oke, kalau ayam goreng kurang pas, kalau begitu...bagaimana kalau kita makan cake!”

  “Cake, ya...”

  Aku mencoba memikirkan soal cake. Jujur saja, ketika Event Natal tadi, kita membuat banyak sekali cake, jadi aku sendiri ragu apakah aku akan memakan itu lagi. Lagipula, entah ayam goreng ataupun cake, aku bisa memakan itu kapanpun aku mau. Syarat “spesial Natal” tampaknya terlalu abu-abu bagi kedua makanan itu.

  Hmmm.

  Yuigahama melihat ke arahku dan bertanya.

  “Huh, kau tampaknya sudah terlihat tidak tertarik...Hikki, apa kamu tidak suka makanan manis?”

  Tepat ketika aku akan menjawabnya, seseorang menjawabkannya untukku.

  “Tidak. Bahkan, dia sangat menyukainya.”

  “Yukinoshita, kenapa kau menjawab ‘bagianku’...? Ini adalah adegan dimana diriku harusnya menjawabnya dengan keren atau semacamnya. Well, aku memang suka makanan yang manis...”

  Yukinoshita lalu memutar-mutar rambut yang dibahunya dan melihat ke arahku.

  “Itu bukanlah sesuatu yang perlu dikonfirmasi. Kopi yang sangat manis bukanlah sesuatu yang bisa diminum semua orang, kecuali kau berniat untuk sakit gigi. Benar tidak?”
[note: Hachiman sering membawa MAX COFFEE ke klub.]

  “Hah, kau meremehkan MAX COFFEE! Mau sakit gigi atau tidak, aku pasti akan meminumnya. Para petani di Chiba bahkan sering membelinya dalam kaleng besar. Untuk urusan menghilangkan rasa lelah di tubuh, itu adalah yang paling optimal.”

  Dalam realita, para petani Chiba memang sering membeli MAX COFFEE dalam ukuran jumbo, bahkan membelinya dalam beberapa paket besar sekaligus. Aku melihat itu secara langsung ketika pelajaran ekstrakurikuler waktu SD sewaktu mengunjungi lahan pertanian di Chiba, jadi aku tidak ragu soal itu. Tapi kenapa aku merasa ada yang aneh dengan ide MAX COFFEE dipakai untuk menghilangkan lelah? Jika konsumen MAX COFFEE di Chiba sangat banyak, bukankah ini artinya warga Chiba kebanyakan adalah warga-warga yang kelelahan?

  Ketika aku sedang memikirkan pencerahan tersebut, Yuigahama memiringkan kepalanya.

  “Hikki, kau tidak terlihat sering kelelahan...Kupikir kau malah cenderung untuk hemat energi...atau bisa disebut ekonomis dalam urusan energi?”

  “Ini kuberitahu saja, hemat dan ekonomis dalam energi bukan berarti orang itu terlihat santai...”

  “Kalau kau sadar akan hidupmu itu, maka mulai benahilah dari sekarang...Tapi, kalau dari sudut pandang orang luar, matamu yang busuk itu memang memberikan kesan kau lelah...Tapi anehnya kau sendiri masih sehat...Seperti biasanya, matamu memang luar biasa.”

  “Tidak, bahkan faktanya, percakapan inilah yang membuatku lelah. Ayo kita pulang?”

  “Eh, jangan dulu! Argh, apa saja boleh lah! Putuskan dulu kita mau melakukan apa! Apa saja, oke!”

  “Kau memaksa sekali...”

  Jadi keras kepala semacam ini ya, yang membuat Yukinoshita menyerah?

  Lalu Yuigahama mengatakan sesuatu sambil menunduk.

  “Kalau kau memang sejak awal sudah berniat tidak ikut, ya sudah terserah kau saja. Aku juga tidak mau memaksamu...”

  Yuigahama lalu melirikku dengan matanya yang memelas.

  “Er, tidak, bukan begitu, tapi ketika mendengar kata Natal, terlalu banyak hal yang terpikirkan di kepalaku atau semacam itu...”

  Ketika dia menunjukkan ekspresi semacam itu, membuat semua orang yang melihatnya menjadi merasa bersalah. Ketika suasana terlihat buntu, Yukinoshita yang melihat kami daritadi mengatakan sesuatu.

  “Itu bukanlah sesuatu yang harus kaupikirkan dengan serius. Kurasa Natal itu sudah cukup jika dirayakan dengan sebuah pesta sederhana. Baiklah, aku akan menemani Yuigahama-san.”

  Wajah Yuigahama tiba-tiba ceria mendengar itu dan dia memeluk Yukinoshita.

  “Yukinon, terima kasih! Itu benar sekali! Mungkin pesta yang sederhana-lah yang terbaik. Iroha-chan dan yang lain mungkin sibuk dengan urusan OSIS. Lagipula, kita bisa jadikan pesta tersebut momen untuk berterima kasih kepada Sai-chan dan Komachi-chan yang telah membantu kita tadi.”

  “Ya kalau kau pikir pesta tersebut untuk menunjukkan rasa terimakasih kita kepada mereka, kurasa itu sudah menjadi alasan yang cukup bagiku untuk ikut.”

  Yukinoshita mencoba melepaskan dirinya dari ‘sergapan’ Yuigahama. Aku yang dari tadi mendengarkan saran mereka, berkata.

  “...Begitu ya, masuk akal...Tapi begini, kalau diadakan hari ini, maka aku tidak bisa.”

  “Memangnya ada apa?”

  Yuigahama menanyakan itu kepadaku.

  Aku ini sudah memesan paket pesta Natal di KFC dan disuruh untuk menjemputnya sebentar lagi.
[note: Vol 9 chapter 5.]

  “Aku disuruh membawa paket ayam goreng untuk keluargaku. Lagipula, hari ini aku disuruh untuk memasak makan malam, dimana biasanya itu adalah sesuatu yang biasanya Komachi lakukan.”

  Yuigahama terkejut mendengarnya.

  “Eh, kau ternyata benar-benar serius untuk jadi suami rumahan...?”

  “Cukup langka sekali melihat Hikigaya-kun punya rencana.”

  Aku tersenyum mendengar kata-kata Yukinoshita. Kau benar sekali, Nona! Biasanya aku tidak pernah punya rencana, tapi demi keluarga, sebenarnya demi Komachi, aku akan melakukannya.

  “Ya begitulah, maaf saja. Jadi sederhananya, aku tidak bisa kalau acaranya hari ini.”

  “Begitu ya...Kalau memang punya kewajiban yang harus dikerjakan, kita tidak bisa memaksa, kurasa begitu...”

  Yuigahama mengatakan itu sambil menundukkan kepalanya. Dia lalu tertawa kecil dan terdiam.

  Ini mungkin hanyalah sebuah ide yang mendadak, tapi Yuigahama tampaknya sangat antusias dengan acara Natal ini. Dia sendiri punya banyak teman, jadi dia harusnya tidak akan kesepian meski acara ini batal. Oleh karena itu, aku merasa sungkan ketika dia memasang ekspresi seperti itu hanya karena orang semacam diriku.

  Yukinoshita tampak memiliki ekspresi yang bingung, mungkin dia juga merasakan hal yang sama denganku. Lalu dia menatapku.

  “Kalau hari ini tidak bisa, kau tidak keberatan kalau besok?”

  “...Well, aku tidak ada rencana apapun untuk besok.”

  Aku menjawabnya sambil menggaruk-garuk kepalaku.

  Seperti menyadari maksudku, Yuigahama melihat ke arah Yukinoshita, lalu ke arahku, dan dia menepuk kedua tangannya.

  “Eh, eh, ah, benar, begitu ya! Oke, kalau begitu kita sepakat besok! Jadi besok, kita akan bersiap-siap dan mengajak semuanya pergi membeli hadiah dan semacam itu!”

  Melihat Yuigahama yang ceria, Yukinoshita mengangguk. 

  “Tentu, kupikir itu tidak masalah. Hari ini, kurasa aku sendiri juga sedikit kelelahan...”

  Tampaknya ini membuat Yukinoshita lega. Tapi untunglah, karena percakapan ini bisa berakhir dengan baik dan akupun berdiri dari kursiku. Sekarang, tinggal ambil ayamnya dan pulang...

  “...Oke, kuserahkan detailnya ke kalian.”

  Aku lalu menaruh tanganku di gagang pintu. Aaah, benar juga. Kurasa aku harus mengatakan ini. Setelah berpikir sejenak, aku membalikkan badanku.

  “Sampai jumpa besok.”

  Yukinoshita tampak sedikit terkejut mendengarnya, tapi dia tersenyum ke arahku sementara Yuigahama melambaikan tangannya.

  “Ya, sampai jumpa besok.”

  “Yeah, sampi jumpa besok!”

  Setelah mendengarkan mereka, akupun meninggalkan ruangan itu. Kurasa sudah lama sekali aku tidak pernah menyapa mereka dengan sapaan semacam itu.









x    x    x









  Aku langsung pulang ke rumah setelah mengambil pesanan di KFC.

  “Aku pulang.”

  Aku mengatakan itu dan masuk ke rumah. Ketika kubuka pintu ruang keluarga, Komachi yang sebelumnya berbaring di sofa, berdiri dan berjalan ke arahku.

  “Selamat datang, Onii-chan!”

  “Yeah, ini. Ayamnya.”

  Aku serahkan paket pesta tersebut ke Komachi. Dia mengambilnya dan membawa itu ke dapur.

  “Terima kasih Mama akan pulang sebentar lagi.”

  “Begitu ya, kalau ayah bagaimana?”

  Aku melepaskan mantelku dan melemparnya ke sofa.

  Komachi mengambil mantel tersebut dan menaruhnya di gantungan, dia lalu berkata.

  “Entahlah?”

  Dingin sekali reaksinya...Ayah, apa dosamu selama ini sehingga Komachi membencimu seperti itu?

  Sangat kasihan...Dia tidak bisa melakukan apapun dengan situasi putrinya yang membenci dirinya. Tapi, harus bekerja dalam hari seperti ini, menjadi budak perusahaan ternyata memiliki nasib yang sangat mengenaskan...

  “Ngomong-ngomong, kau yakin tidak menghabiskan waktu dengan Yukino-san dan Yui-san hari ini?”

  “Menghabiskan malam Natal dengan keluarga adalah prioritas pertama.”

  Komachi lalu mengatakan sesuatu dengan ekspresi yang aneh.

  “Hmm, kau terdengar seperti seorang gadis yang mengatakan tidak karena dia punya hal yang lain di pikirannya.”

  “...Eh? Begitukah cara gadis menolak ajakan keluar dari pria? Ya ampun, para pria yang berpikir kalau ‘wow dia gadis yang baik karena menolak kencan denganku dengan alasan ada acara keluarga...’ sungguh kejam...Kenapa kau memberitahuku info-info tidak berguna semacam itu?”

  Menakutkan...gadis memang menakutkan...Sekarang aku sudah tahu hal ini, mau bagaimana lagi, sekarang aku mulai curiga dengan para gadis yang menolak ajakan pria dengan alasan keluarga. Kau akan berpikir "Aku hampir menangis haru mendengar alasannya menolak ajakanku", tapi kebenarannya adalah “Kau ini sebenarnya cowok yang membosankan dan banyak tingkah!” atau semacam itulah. Sepertinya diriku yang semasa SMP adalah orang yang seperti itu.

  Ketika aku mulai dilanda ketakutan, Komachi berkata.

  “Sesuatu yang Onii-chan banget yaitu ketika Onii-chan mulai memandang sinis terhadap sekitarnya, dan mulai mengimajinasikan sesuatu. Kurasa Komachi harus cepat-cepat menghancurkan segala imajinasi Onii-chan itu. Ini bisa dikatakan salah satu kasih sayang dari adik perempuan loh!

  “Aaah, terima kasih nona manis...”

  Aku tidak butuh orang lain untuk menghancurkan imajinasiku.

  Ketika hatiku mulai hancur, Komachi menatap ke arah paket Natal di dapur sejenak, lalu melihatku.

  “Onii-chan, kau tidak perlu mengkhawatirkan kami disini. Kau keluar saja dan nikmati malam Natalmu.”

  “Bukan begitu. Tadi kami menjadwal ulang pestanya menjadi besok. Rencananya, akan membeli beberapa hadiah dan mengadakan pesta, atau semacamnya setelah itu.”

  “Benarkah? Apa-apaan itu, aku mau ikut jugaaa!”

  Komachi yang mengatakan itu membuatku teringat akan sesuatu.

  “Ah, mereka juga berkata ingin berterimakasih padamu atas bantuanmu hari ini...Tapi, jangan lupa diri ya, kau punya ujian yang harus kau hadapi...”

  “Ya ampun, istirahat sehari atau dua hari dari belajar tidak akan berdampak banyak. Aku hanya perlu mengganti waktu belajarku yang hilang itu di lain hari.

  “Kau tahu tentang ‘death flag’? ‘Aku baik-baik saja’. ‘Sebentar saja, aku bisa melakukannya’. ‘Kupikir aku akan bisa’. Ketika kau mengatakan itu, menjadi sebuah pertanda kalau nasibmu akan segera berakhir; mereka menyebutnya sebagai kalimat kematian. Coba dengar nasehatku, Komachi. Kau bisa berkompromi dengan deadline, tapi tidak bisa berkompromi dengan waktu ujian.”

  “Harusnya kau tidak bisa berkompromi dengan deadline juga, Onii-chan...”

  Komachi menatapku dengan tatapan yang menyedihkan.

  Ha, ha, ha...Kau benar sekali. Kau tidak bisa berkompromi dengan dua hal itu...Memori buruk tentang deadline event Natal membuat tidurku seperti dihantui mimpi buruk. Urgh, kenapa sih di dunia ini ada deadline? Terutama jika ada orang yang gembira dengan adanya hal itu...Faktanya, musuh yang bernama deadline ini sudah menyebabkan banyak sekali orang menderita, jadi bisa kaukatakan ini adalah semacam bentuk lain dari Iblis.

  Deadline memang penting. Tapi, adik perempuan lebih penting.

  “Tapi bersantai tanpa melihat kalau ada ujian besar di depanmu...Aku tidak yakin soal itu...”

  Sayang, apakah ini baik-baik saja? Sayang, apakah Komachi sangat tertarik dengan hal ini? Orang yang sedang ditanyakan tampaknya tidak peduli dan bahkan jauh lebih ceria dari biasanya.

  “Jangan khawatir, tenang saja. Aku hanya ingin memasikan  ‘hubungan onii-chan sudah bagus?’, ‘apa onii-chan melakukan sesuatu yang bodoh lagi?’; Komachi mengkhawatirkan itu terus, jadi kalau tidak kupastikan sendiri, aku tidak bisa berkonsentrasi untuk ujian!”

  “Well, aku paham maksudmu.”

  Ini semacam “Komachi bagaimana?”. “Kawasaki Taishi tidak mendorongnya ke tembok dan melakukan sesuatu kepadamu? Karena kalau dia melakukannya, aku akan menghabisi cecunguk itu!” Pikiran-pikiran itu terus menghantui pikiranku dan mulai membentuk bermacam-macam imajinasi.

  Ketika melihatku, Komachi menambahkan.

  “Juga, Komachi ketika mendengar orang menyuruhku belajar itu seperti membuatku kehilangan semangat.”

  “Nah itu, itulah. Benar itu. Benar sekali!” Aku secara tidak sadar menunjuk ke arah Komachi. “Ketika kau disuruh belajar atau bekerja, semangatmu tiba-tiba hilang entah kemana, aneh memang.”

  Komachi lalu membalasku dengan senyum.

  “Benar kaaaan!? Dan, oleh karena itu...”

  “...Ya, selama kau tidak pulang kemalaman, kurasa tidak masalah.”

  “Yeeei! Aku sebaiknya mulai memikirkan hadiah apa yang ingin kubeli!”

  Meskipun terlihat ceria dan gembira, aku harus tetap memberinya peringatan. Kalau dia gagal di ujian hanya karena gara-gara kegiatan ini, aku tidak mampu lagi melihat tatapannya.

  “Kau sebaiknya pastikan kalau sudah belajar dengan baik. Ah, benar. Aku hampir lupa hadiahnya.”

  Aku ambil sesuatu di tasku yang kulempar ke sofa. Setelah mengambilnya, aku memberikannya ke Komachi.

  “Ini, selamat Natal!”

  Setelah sejenak diselimuti perasaan curiga, Komachi menaruh tangannya di atas hadiah tersebut dan menatapnya terus. Setelah itu, dia tersenyum kepadaku.

  “Apa ini...hadiah untukku? Onii-chan, terima kasih! Hei, bisa kubuka tidak?”

  “Buka saja tidak apa-apa.  Aku memikirkan itu setelah mendapat saran dari Yukinoshita dan Yuigahama. Kalau mau berterima kasih, berterimakasihlah ke mereka.”

  Tangan Komachi tiba-tiba berhenti tepat ketika dia hendak membukanya.

  “...Huh? Kau memilihnya bersama mereka?”

  “...Semacam itulah.”
[note: Vol 9 chapter 7, Hachiman masuk ke toko cinderamata Disney Land bersama Yui dan Yukino untuk membeli hadiah Komachi.]

  Komachi lalu tersenyum.

  “Hoooh, begitu yaaaa? Oh, begitu yaaaa, bersama-sama?”

  “Apa-apaan nada bicaramu itu?”

  Sikapnya benar-benar menggangguku. Aku menatap ke Komachi, tapi dia terus menjahiliku dengan senyumannya itu.

  “Tidak, tidak, ini hanyalah sebuah ekspresi kebahagiaan. Bahkan, yang kau katakan tadi merupakan hadiah Natal terbaik!”

  “Benarkah? Well, selama kau senang, ya sudahlah.”

  Lalu Komachi menaikkan jarinya.

  “Ah, tapi begini, onii-chan. Ketika kau nanti memberikan hadiah ke seorang gadis, kau tidak boleh mengatakan kalau kau memilihnya karena dibantu gadis lain. Bagi Komachi, yang seperti itu sangat rendah dalam Komachi Poin! Tapi karena Komachi adalah adik Onii-chan, itu tidak masalah. Malahan, itu membuatku sangat gembira. Melihat Onii-chan, Yukino-san, dan Yui-san kembali akur adalah hal terbaik!”

  “Ya ya. Aku sangat jarang memberikan hadiah ke orang, tapi aku akan mengingatnya sebagai sebuah saran. Kalau begitu, aku akan menyiapkan makan malamnya.”

  “Yeah! Ah, benar juga. Aku lebih baik SMS Yui-san soal besok...”

  Setelah mendengarkan saran Komachi, aku berjalan menuju dapur.

  Baiklah, pertama-tama mari kita selesaikan acara Natal di keluarga Hikigaya. Mari kita tunjukkan bakatku...Begitulah kataku, tapi selain ayam goreng, kurasa yang perlu kupersiapkan hanyalah makanan penutupnya saja.









x   x   x









  Hari Natal.

  Komachi dan diriku menuju ke sebuah mall yang menjadi tempat pertemuan kami. Karena Natal, jalanan dihiasi banyak sekali cahaya dan ornamen. Sementara orang-orang terlihat berlalu-lalang dengan penuh semangat.

  Diantara orang-orang tersebut, adikku, Hikigaya Komachi, adalah yang paling bersemangat. Dia berjalan sambil menyanyikan lagu-lagu yang gembira dari tadi.

  “Pagimu tampak ceria hari ini, benar tidak?” kataku.

  Komachi yang berjalan di depanku, membalikkan badannya.

  “Duh, ini Natal! Dan kita akan berbelanja bersama Yukino-san dan Yui-san juga! Setelah itu, kita akan berpesta dan tukar hadiah. Tentu saja, aku akan menjadi sangat antusias!”

  Komachi tampaknya sudah tahu garis besar rencananya. Sial, dia bisa jadi jauh lebih tahu dariku.

  “Benarkah? Ya...kurasa para gadis memang suka hal-hal semacam tukar hadiah atau semacam itu. Entah mengapa ketika aku dengar soal tukar hadiah, aku seakan-akan ingin membuka ensiklopedia. Mungkin aku ini semacam pria yang tidak bisa berkembang...”

  Aku mengatakan itu dengan menyertakan banyak sekali kenangan-kenangan nostalgia.

  Tapi Komachi terlihat menyemangatiku.

  “Onii-chan, tenang saja, aku jamin kali ini akan berbeda dan menjadi lebih baik...”

  “Alasanmu aneh sekali...Juga, aku ini seperti tipe pria yang kuno...”

  Komachi menepuk pundakku dan menunjuk ke arah pintu masuk mall.

  “Jangan mengobrolkan soal itu. Lihat, mereka ternyata sudah ada disini.”

  Kulihat disana, ada Yuigahama dan Yukinoshita sedang berdiri. Tampaknya mereka menyadari kehadiran kami dan Yuigahama melambaikan tangannya.

  “Yahallo!”

  “Yui-san, yahallo! Yukino-san juga, yahallo?”

  “Halo.”

  Komachi menyapa Yuigahama dan Yukinoshita. Jujur saja, kuharap mereka berhenti memakai sapaan semacam itu. Ini sangat memalukan. Aku bahkan melihat orang-orang sekitar sini mulai melihat kita dengan tatapan yang aneh.

  “Kalian ternyata datang lebih dulu. Apa semua orang sudah ada disini? Kalau sudah, ayo kita pergi.”

  Ini adalah Natal, jadi pasti akan ramai. Jika harus berjalan dalam keramaian seperti ini, kurasa yang paling tepat adalah menyelesaikan ini secepat mungkin.

  Tapi Yuigahama tampaknya meminta kami untuk menunggu.

  “Sebentar. Aku mengundang Sai-chan juga.”

  “Oh benarkah? Kalau begitu kita sebaiknya menunggu Totsuka sampai dia datang.”

  “Oke, entah mengapa sikapmu itu sangat mengganggu.”

  Komachi lalu berbicara.

  “Yukino-san, Yui-san. Terima kasih atas hadiah Natalnya.”

  “Tidak masalah, kalau kau senang, maka itu sudah luar biasa.”

  Yukinoshita tersenyum sambil menyentuh kepala Komachi seperti memberitahunya untuk jangan khawatir, sementara Yuigahama mengangguk sambil mengatakan “yup, yup”.

  “Maksudku, aku tidak yakin apa yang bisa kuharapkan dari Onii-chan dengan selera yang seperti itu. Tapi aku senang kalau kalian yang memilihkannya untukku!”

  Kali ini aku mengangguk mendengar kata-kata Komachi. Tidak, benar ini, mereka ini benar-benar menolongku ketika memilih hadiah Komachi. Mungkin dia lebih bahagia karena tahu kalau keduanya yang memilihkan hadiahnya.

  Melihat Komachi yang tersenyum, Yuigahama menambahkan.

  “Ah benar. Kita cuma memberikan saran saja, tapi pada akhirnya yang memilih hadiahnya adalah Hikki.”

  “Itu benar. Meskipun dia terlihat tidak memikirkan itu dengan serius, sebenarnya dia terlihat khawatir tentang itu dalam perjalanan...”

  Yukinoshita memainkan rambut panjangnya yang tertiup angin dengan jemarinya sambil melihat ke arahku.

  Komachi seperti terkejut.

  “...Huh? Apa itu yang sebenarnya terjadi?”

  “Uh, kau tidak perlu mengatakan itu... Serius ini, jangan ceritakan lagi...”

  Aku harusnya terlihat keren karena memilih hadiah dengan santainya, tapi sebenarnya aku sangat gugup dan khawatir apakah yang kupilih ini benar atau tidak. Karena Komachi menatapku dengan tidak nyaman, aku putuskan untuk mengganti topiknya.

  “Ngomong-ngomong, kurasa hal semacam itu normal saja. Kuberitahu ya, banyak sekali orang di luar sana yang berpikir lebih serius dari diriku. Mungkin kalau dilombakan, aku paling cuma dapat medali perunggu.”

  Yukinoshita menaruh tangannya di mulut sambil tersenyum.

  “Oh? Maafkan aku. ‘Kau tidak pernah memikirkan apapun yang penting’ mungkin terasa lebih tepat.”

  “Oke, kuakui kau benar kali ini. Jadi kuberikan medaliku!”

  “Jadi kau tidak masalah dikatakan begitu...Ahaha...Ah, tapi lihat, Komachi-chan. Hikki benar-benar memikirkan tentang....Err...Komachi-chan?”

  Yuigahama mengatakan itu ke Komachi.

  Komachi sejak tadi seperti terbius.

  “...Ha! Aku hampir ditipu oleh Onii-chan yang jadi hinedere! Ngomong-ngomong, terima kasih. Juga...Onii-chan.”

  Apaan, ngaca lah siapa yang bodohi siapa...? Akulah yang sebenarnya sering dibodohi oleh sisi manis Komachi. Komachi dan diriku memalingkan pandangan kami sambil berusaha menutupi ekspresi yang malu-malu.

  “Hmm. Ya sudahlah, ini bukan masalah besar. Jadi jangan khawatir.”

  “Benar, benar.”

  Yuigahama melihat kami berdua sambil tertawa.

  Yukinoshita melihat kami dengan tatapan yang lembut, tapi sepertinya dia baru menyadari sesuatu.

  “Untuk memastikan saja, Komachi-san. Aku tahu kalau kau sedang berjuang untuk ujianmu, jadi aku ingin meminta maaf karena mengajakmu keluar seperti ini. Apakah tidak apa-apa datang kesini? Kalau kesini karena terpaksa saja, kurasa...”

  “Tidak, itu tidak apa-apa. Kurasa aku juga butuh relaksasi.”

  Yukinoshita lalu memandangku.

  “Kalau kau mau terus bersantai, mungkin kau bisa tahu masa depanmu akan seperti apa dengan melihat pria yang sedang berada tepat di depanku ini.”

  “Ugh, kau memukulku tepat dimana aku sedang terluka...”

  Memang betul, membuat alibi relaksasi terlalu sering akan membuatmu terlihat seperti tidak serius.

  Sementara aku masih bergulat dengan pikiran-pikiran tersebut, Komachi membisikkan sesuatu kepadaku.

  “Aku melihat Yukino-san ini akan menjadi Ibu yang berpendidikan dan cekatan dalam mengurus anak...Kakak ipar yang bisa diandalkan...Suatu saat nanti, aku ingin dia yang menjadi Onee-chanku.”

  Komachi membisikkannya dengan mata yang berbinar-binar.

  “Yukinon, kurasa itu tidak masalah. Komachi-chan ini orangnya bertanggung jawab, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya.”

  Memang betul itu, Komachi memang sangat bertanggung jawab.

  Mendengar hal itu, Komachi membisikkan sesuatu lagi kepadaku.

  “Kurasa Yui-san itu mirip Ibu yang bijak...Kakak ipar yang toleran...Aku juga menginginkannya sebagai Onee-chan.”

  Komachi membisikkan itu dengan mata yang berbinar-binar.

  “Apa sih yang kau bicarakan daritadi...?”

  “Mmm? Rahasialaaaah

  Komachi mengedipkan matanya dan melambai-lambaikan jari telunjuknya.

  ...Gadis sialan, gadis ini saking manisnya hingga membuatku merasa terganggu. Serius ini!

  “Lagipula, kita tidak perlu khawatir, oke? Aku saja yang seperti ini bisa lulus tesnya!”

  Yuigahama mengatakan tersebut dengan bangga. Sementara Yukinoshita terlihat menatapnya dengan serius.

  “Kalau kau yang mengatakan begitu, kurasa aku tidak bisa mengatakan apapun lagi...”

  “Eh, coba saja kau tes aku. Beri pertanyaan!”

  Yuigahama seperti merengek-rengek meminta sesuatu kepada Yukinoshita.

  “Baiklah, pertanyaan. Nama propinsi yang memproduksi Kentang Manis Satsuma terbanyak. Sebagai info, propinsi Ibaraki menempati ranking kedua.”

  “Eh, eh!?”

  Yuigahama terlihat panik dengan pertanyaan tersebut.

  Kau harusnya tidak perlu berpikir lama untuk menjawabnya...

  “Bukankah ini terlalu mudah...? Kau bahkan memberinya petunjuk di pertanyaan tadi.”

  “Mudah dan petunjuk...Kentang, Ibaraki...Ah! Chiba ya!”

  “Salah. Bukankah kubilang tadi kentang Satsuma, benar tidak...? Jawaban yang benar adalah Kagoshima. Ngomong-ngomong, Chiba adalah daerah produsen terbesar ketiga.”

  “Yukinon, pertanyaan menjebak semacam itu tidaklah adil!”

  “Tidak ada jebakan di dalamnya. Sebenarnya malah pertanyaan yang sederhana...”

  Yukinoshita mengatakan tersebut dengan santai, sementara Yuigahama menggerutu.

  Lagipula, apa-apaan menyebut Chiba dengan petunjuk itu? Apa kau berpikir kalau Chiba adalah sama seperti Ibaraki karena pernah mendengar Chiba produsen kentang? Berhentilah mempermalukan Chiba!

  Komachi yang dari tadi melihat percakapan ini, bertanya sambil memasang ekspresi yang penuh tanda tanya.

  “...Sebenarnya Yui-san bisa lulus ujian masuk SMA Sobu itu dengan cara apa sih?”

  “Kurasa mengharapkan keajaiban atau menggunakan semacam sihir? Well, Komachi harusnya bisa mengerjakan tesnya dengan baik. Karena dia adik kandungku, skillnya dalam menyelesaikan masalah harusnya sangat bagus. Dia memang idiot, tapi idiot yang pintar dalam menyelesaikan masalah.”

  “Kalimat terselubungmu yang berusaha menunjukkan kalau dirimu itu bagus dalam menyelesaikan masalah agak mengganggu, tapi aku setidaknya paham maksudmu.”

  Yukinoshita menganggukkan kepalanya seperti setuju dengan pendapatku. Tapi, apa yang dimaksud dengan ‘mengganggu’ tadi...?

  Yuigahama tampaknya menyadari sesuatu dan melambaikan tangannya.

  “Ah, tampaknya Sai-chan sudah datang. Heiii, disini!”

  Ketika kulihat, Totsuka sedang berlari kecil ke arah sini.

  “Hachimaaan!”

  “Oooh~, Totsuka, kau disini rupanya!”

  Aku melangkah maju seperti hendak menangkapnya ke pelukanku, tapi tiba-tiba aku melihat seekor babi hutan memotong jalan Totsuka seperti membawa sebuah badai bersamanya.

  “Hachimaaaaan!”

  “Aaah...Zaimokuza. Kau datang juga...”

  Ketika Zaimokuza berdiri sambil berusaha menormalkan napasnya yang menggebu-gebu dengan mengatakan “fushururu!”, Yuigahama berkata ke Totsuka.

  “Sai-chan, yahallo!”

  “Uh huh, yahallo!”

  Ah, sapaan yang menyegarkan. Setelah kupikir-pikir, itu adalah sapaan yang bagus. “Yahallo” memang terdengar manis.

  Ketika aku memikirkan itu, Zaimokuza yang baru bangkit dari kubur itu menatapku dan menaikkan tangannya.

  “Memang, Hachiman. Yahallooo!”

  Ah tidak, “Yahallo” memang sangat memalukan...Lagian, ngapain dia cuma nyapa gue?

  “Y-yeah...Jadi, siapa yang mengajak Zaimokuza?”

  Aku bertanya kepada Yuigahama dan Yukinoshita dengan pelan, keduanya malah terlihat bingung.

  “Eh? Bukan kamu yang mengajaknya, Hikki?”

  “Kupikir malah kau yang mengajaknya...”

  “Tidak, bukan aku...”

  Tapi, satu hal yang bagus dari Zaimokuza adalah kau bisa menghapus semua tanda tanya tentang dirinya dengan mengatakan “Bukannya Zaimokuza memang begitu?”. Juga, aku tidak tertarik dengan dirinya. Dengan kata lain, kita menyebutnya dengan apapun, kurasa tidak masalah.

  “...Ya sudahlah. Kurasa kita juga memang perlu berterimakasih kepadanya soal kemarin.”

  “Memang. Agar situasiku disini tidak aneh sendirian, bisakah kau beritahu aku tentang apa yang akan kita lakukan disini?”

  Zaimokuza mencoba menanyakan tujuan kita disini.

  Komachi melihat ke arah Yuigahama dan Yukinoshita.

  “Ummm...Kita akan mengadakan pesta Natal, tapi sebelum itu, kita akan berbelanja dahulu untuk membeli hadiah yang akan digunakan dalam acara tukar kado. Begitu kan?

  Yuigahama mangangguk merespon itu.

  “Uh huh. Karena kita semua sudah disini, ayo kita pergi.”

  “Kurasa begitu. Ayo kita selesaikan secepatnya.”

  Setelah mengatakan itu, Yukinoshita berjalan masuk menuju mall diikuti rombongan kami.








x  x  x









  Hadiah.

  Jika kau memberikan seseorang sesuatu yang terkesan murahan, maka dia akan berkomentar “Aah, jadi orang ini mengira aku mau barang semacam ini, huuuuh”.

  Kasta sosial, selera, dan kemampuan keuangan. Mereka adalah sumber-sumber yang dijadikan pijakan dalam memberi hadiah. Bukannya aku ini mau membesar-besarkan.

  Suasana di dalam mall sangat ramai. Musik-musik Natal terdengar di seluruh penjuru, dan orang terlihat lalu-lalang membawa tas-tas besar. Seluruh toko dihiasi semacam lampu dan ornamen Natal.

  “Oooh. Aku sebenarnya belum pernah kesini semenjak mall ini dibangun, ternyata banyak sekali disini ya?”

  Aku melihat ini sebagai kejadian langka karena ini adalah pertamakalinya bagiku menginjakkan kaki disini. Tampaknya, Yukinoshita sama sepertiku. Dia melihat area mall ini dengan penuh tanda tanya.

  “Kurasa ini cukup besar? Juga, disini banyak sekali orang karena Natal...Berjalan saja sudah membuatku lelah...”

  Yukinoshita memang tidak punya stamina yang kuat dan tidak nyaman dengan keramaian. Sebaliknya, Yuigahama tampak berbeda.

  “Kau benar! Suasananya sangat menyenangkan, ini sangat seru! Ah, lihat, ada Santa disana!” Yuigahama menunjuk ke salah satu sudut dimana ada orang yang berpakaian Santa membagikan balon di area tersebut. Lalu dia menarik-narik lengan bajuku.

  “Hei, hei, Hikki, kau percaya Santa itu benar-benar ada sampai kapan?”

  “Kupikir aku percaya kalau dia ada sampai SD, kurasa begitu.”

  “Heeh, itu cukup mengejutkan.”

  Yuigahama tampak terkejut mendengarnya.

  Tunggu dulu, itu harusnya bukanlah hal yang mengejutkan. Akupun punya masa dimana aku terlihat lugu, anak kecil yang naif. Tepat ketika aku hendak menjelaskannya, Komachi berdiri di sampingku.

  “Onii-chan ketika kecil dulu sangat manis looh~. Terutama ketika kau melihat lagi foto-foto dan video-video tentang masa kecilnya yang ada di rumah...Matanya tidak sebusuk sekarang.”

  “Apa-apaan? Itu malah membuatku penasaran!”

  Tampaknya suara Yuigahama tadi tidak terdengar oleh Komachi. Maaf ya Komachi, oke? Maaf kalau Onii-chan berubah menjadi seperti ini...

  Setelah melihat Komachi dan Yuigahama, Yukinoshita tersenyum sambil memandangi diriku dengan kasihan.

  “Lalu mengapa dia bisa berubah menjadi seperti ini? Mungkinkah karena kejamnya waktu?”

  “Benar sekali. Waktu memang kejam!”

  “Woaah, seperti biasanya...”

  Yuigahama tampaknya kecewa mendengarnya. Yeah, ini adalah salah waktu. Ini bukanlah salahku!

  “Hikki memang sudah tidak tertolong lagi, tapi Yukinon, kau sendiri percaya dengan Santa?”

  Yukinoshita lalu menggumam, “Sebelum aku sudah cukup dewasa untuk memahami itu, Nee-san memberitahuku jauh hari sebelumnya...”

  “Aah, dia memang orang yang seperti itu...”

  Kasihan Yukinon, kasihan Yukinon...Baik Yuigahama dan diriku hanya bisa memakluminya dan bersimpati. Tapi karena yang kita bicarakan itu Haruno-san, mau bagaimana lagi.

  “Hachiman, sejak aku lahir, aku tidak pernah percaya dengan Santa! Di dunia ini, aku tidak percaya Tuhan, Budha, Santa, atau Pacaaaar!”

  Zaimokuza meneriakkan itu sambil mengepalkan tangannya.

  “Aku paham perasaanmu, tapi mengapa kau mengatakan itu hanya kepadaku...Katakan itu kepada yang lain, oke?”

  Aku tidak bisa menyanggah pendapatnya tentang fakta kalau pacar juga berada disebuah dimensi yang berbeda layaknya Tuhan, Budha, dan Santa. Dengan argumen yang semacam itu saja sudah cukup untuk membuatku mendengar opini Zaimokuza.

  Karena menyadari banyak sekali orang yang tahu Santa itu tidak ada sejak kecil, Yuigahama tertawa sambil malu-malu.

  “Tampaknya yang lain sadar sejak kecil ya? Aku masih percaya Santa sampai kelas 3 SD~.”

  “Ahaha.”

  Komachi tertawa sambil menambahkan. “Kau pasti sangat lucu sekali waktu itu, Yui-san.”

  “Ahaha, benar kan? Aku waktu itu hanyalah anak kecil yang bodoh...”

  Tidak, kau tampaknya sampai sekarang masih mempercayai itu, tidak berhenti sampai kelas 3 SD...

  Ketika aku hendak memberitahunya, Komachi memukul perutku dengan sikutnya.

  “Tidak, tidak, Santa memang ada. Kurasa itu sangat tinggi di Poin Komachi!”

  “Benar kan!”

  Meski Yuigahama menyambut percakapan itu, mata Komachi meresponnya dengan berbinar-binar.

  “Well, Komachi memang seperti itu...Lagipula, kita harus berhenti membicarakan itu. Mungkin disini masih ada seseorang lagi yang percaya Santa...Seperti Totsuka.”

  “Ha! Kalau Sai-chan sih bisa jadi...”

  Lalu kami melirik ke arah Totsuka, dan dia tampaknya menyadarinya.

  “A-Ayolah, meskipun aku tidak mempercayainya lagi, kalau seandainya saja Santa itu benar-benar ada, kurasa aku lebih menyukai situasi yang seperti itu.”

  Totsuka mengatakan itu sambil mengatakan “ehehe” dan terlihat malu-malu.

  “Whoaa, Totsuka-san sangat cerah sekali!”

  “Uh, aku ragu kau bisa menjadi cahaya...Tapi karena akupun tidak bisa menjadi cahaya, mungkin aku akan menjadi Santa bagi Totsuka.”

  “Apa yang barusan kau katakan...?”

  Yukinoshita seakan-akan tidak percaya kalau kata-kata itu keluar dari mulutku, dia lalu mengibaskan rambut panjangnya itu dengan jarinya.

  Ha! Siaaaaal! Aku harusnya tidak mengatakan itu, tapi aku baru menyadarinya setelah mengatakannya...

  “Ngomong-ngomong, mall ini sangat besar. Cukup sulit untuk mengetahui dimana kita harus memulai belanjanya.”

  Well, kurasa itu cocok dengan dirimu yang kesulitan dengan arah...

  Mendengar itu, Komachi berpikir sejenak.

  “Hmm, hadiah macam apa yang ingin dibeli?”

  “Kupikir semacam aksesoris atau hal-hal umum, tapi...yang lainnya bagaimana?”

  Lalu, secara mengejutkan, Zaimokuza memberi saran.

  “Kalau mendengar kata Natal, kau pasti akan berpikir tentang mainan. Dan ketika mendengar kata mainan, kau pasti akan berpikir tentang ‘R Us!’.”
[note: Toys “R Us!” adalah Toko mainan yang sangat terkenal.]

  “Aaah, musik di iklan mereka tampaknya punya lirik yang bagus. Membuatmu merasa bersimpati akan sesuatu.”

  “Memangnya, lagunya seperti apa?”

  Totsuka bertanya, dan aku berusaha menjelaskan lagu di liriknya. Kurasa seperti ini...

  “Aku ingin tetap menjadi anak kecil, funfufufu...funfufu? Benar, tidak, nya?  Nyanya...nya...Aku tidak ingin menjadi dewasa, aku tidak ingin bekerja...”

  Semakin kuteruskan nyanyiannya, suasana disini terlihat semakin suram. Huh? Apakah makna dari nyanyian ini memang membuat orang menjadi putus asa?

  Totsuka tampak tersenyum mendengarnya.

  “Apa memang lagunya seperti itu? Meskipun mayoritas liriknya sengaja kau ubah, tapi kau cukup luar biasa bisa mengingat beberapa bagian lagunya...Ah, tapi ada toko ‘R Us’ disana.”

  “Memang. Ayo kita masuk.”

  “Oh, tampaknya menarik. Aku menjadi semakin antusias sekarang.”

  Para pria tampaknya sangat antusias kesana, tapi Yuigahama tampak kurang senang dengan itu.

  “Eeeh, apa kita benar-benar akan kesana?”

  Komachi memegangi lengan Yuigahama dan berkata.

  “Disana juga mungkin menjual alat-alat pesta Natal, jadi mengapa kita tidak mencoba melihatnya dulu?”

  “Ah benar juga. Mungkin disana juga menjual crackers.” Yukinoshita mengangguk ketika mengatakan itu.
[note: Crackers biasa disebut bon-bons, biasa dipakai oleh orang-orang yang tinggal di daerah persemakmuran Inggris semacam Kanada, Australia, Selandia Baru, dll.]

  Totsuka tampak setuju juga. “Yeah, ayo kita coba lihat dulu”.

  Ketika Totsuka berjalan menuju ke dalam toko, kami mengikutinya dari belakang.

  ...Tapi, Yukinoshita-san, dari semua mainan yang disana kau malah memikirkan crackers? Kau tampaknya sangat antusias dengan pestanya ya? Hmm, tapi kurasa itu bukanlah hal yang buruk.








x   x   x









  Suasana dalam ruangan toko diselimuti dekorasi yang unik, seperti sebuah tanah impian yang berada di dunia sihir. Meskipun pada awalnya Yuigahama tampak kecewa, sekarang dia malah berteriak “waaaah” dengan ekspresi gembira.

  Toko mainan memang tempat yang tepat untuk mengingatkanmu dengan masa kecilmu. Jujur saja, aku tidak ingin menjadi dewasa, aku tidak ingin bekerja...

  Ketika kami semakin masuk ke dalam, kami menjumpai seseorang yang sangat familiar. Orang itu sedang berjongkok di depan rak mainan plastik.

  Dia adalah Hiratsuka-sensei.

  Ketika aku hanya bisa berdiri diam karena lidahku terikat oleh sesuatu, Sensei menyadari kehadiran kami.

  “Oh, Hikigaya...”

  ‘Se-Sensei.”

  “Ah, ternyata Hiratsuka-sensei.”

  “Oh, jadi Yuigahama dan yang lain juga datang bersamamu.”

  Datang dari belakangku, Yuigahama dan yang lain tampaknya menyadari kehadiran Sensei disini.

  “Apa yang anda lakukan di tempat seperti ini?”

  “Be-Benar. Sebenarnya...Ini pe-pekerjaan saja.”

  Pasti gombal....Tanganmu berkeringat ketika menjelaskannya. Tapi, Yuigahama tampak percaya begitu saja.

  “Huuh, tampaknya berat sekali. Bahkan harus bekerja juga ketika Natal.”

  “Urgh, nngh, y-ya, i-ini demi pekerjaan...Ini hanya bagian dari pekerjaanku sebagai Guru. Pasti akan sangat bermasalah jika ada siswa yang membuat keributan ketika liburan musim dingin karena berkeliaran di mall. Y-Ya ini kebetulan saja. Kau tahulah kata mereka soal urusan pribadi dan pekerjaan. Bahkan ketika makan malam, yang dibicarakan hanyalah pekerjaan saja. A, ha, ha, ha...”

  Ketika menyelesaikan tawanya, Sensei berusaha menenangkan dirinya seperti hendak bertanya sesuatu.

  “...Jadi, karena aku sedang bekerja, kalian sedang apa disini?”

  “Kami berencana mau membuat pesta setelah ini, jadi kami berbelanja hadiahnya dahulu. Ah, saya tahu. Sensei, kenapa Sensei tidak ikut kami saja?”

  Yuigahama mengajak Sensei dan dia tampaknya memikirkan itu dahulu sambil menyilangkan lengannya.

  “Fumu...Well, kurasa itu tidak masalah. Mungkin aku akan sedikit mengganggu kalian. Tapi bukannya aku ada rencana atau apapun...”

  Komachi memiringkan kepalanya dan bertanya. 

  “Eh, bagaimana dengan pekerjaan anda...?”

  Aku lalu menginjak kaki Komachi sambil berkata.

  “Komachi, hentikan itu. Jangan pernah tanyakan itu lagi!”

  Untungnya, kata-kata Komachi tidak terdengar oleh Sensei.

  “Kalau begitu, sudah diputuskan, aku sekarang sangat antusias! Ayo, lihat ini Hikigaya! Banyak sekali mainan yang menyenangkan disini!”

  Melihat Sensei yang seperti itu, Yukinoshita menggumam.

  “Tiba-tiba dia menjadi enerjik...”

  “Kurasa lilin Natalnya sudah padam...”

  Hiratsuka-sensei mengambil beberapa benda dari rak dan menunjukkan kepadaku dengan senyum yang lebar.

  “Lihat, Hikigaya, bagaimana dengan Mini 4WD? Ketika kau menjadi dewasa, kau akan tergila-gila. Ada juga B-Daman, Hyper Yo-Yos, Beyblade...Tapi kurasa Transformers lebih baik. Tidak, ZOIDS adalah pilihan terbaik. Aah, kau tidak bisa melewatkan permainan kartu juga.”

  Totsuka mengangguk.

  “Tapi permainan kartu memang sangat menyenangkan. Aku sering memainkannya...Seperti ‘mari kita abaikan peraturannya dan lakukan duel’!”

  “Nadamu kurang antusias! Tapi bagi para pria, mungkin Chogokin adalah yang terbaik! ‘Menjadi cahayaaaa’!”

  “Serius, caramu berteriak membuatku ingin membeli kartunya...”

  Karena Zaimokuza mengatakan itu dengan suara yang keren, aku tidak bisa menghentikan diriku untuk tertarik dengan deretan kartu itu dan melihatnya langsung.

  Kebalikannya, grup para gadis terlihat melihat kami dengan tatapan yang dingin.

  “...Haa, kurasa para pria memang suka hal-hal semacam itu?”

  “Ya pria tetap akan menjadi seorang pria, entah tubuh mereka kecil ataupun sudah dewasa.”

  Komachi tampaknya berusaha membuat keluhan Yuigahama pergi.

  “Kalau begitu, kenapa Sensei ada bersama mereka...?”

  Yukinoshita mengatakan itu sambil memiringkan kepalanya.

  Well, ini sebenarnya bukan hal yang diluar kewajaran. Maksudku, ini adalah Hiratsuka-sensei. Dalam dunia ini, tidak ada sesuatu yang misterius.

  Kami, para pria, bersama Sensei menjelajah ‘R Us’ semakin jauh. Totsuka menarik-narik jaketku (manisnya) sambil berkata.

  “Ah, Hachiman, lihat itu. Ada Gunpla disana.”
[note: Gunpla semacam mainan rakitan dengan model Gundam.]

  Ketika kulihat, ada banyak sekali Gunpla di rak tersebut.

  “Oh. Kau benar. Apa kau tertarik?”

  Kalau melihat image Totsuka, kurasa itu tidak cocok dengannya. Coba pikir, lihat wajahnya, tubuhnya, dan dia juga Ketua Klub Olahraga, dia tidak memiliki kesan kalau dia suka dengan Gunpla.

  Ketika kutanya, Totsuka menundukkan wajahnya dan malu-malu mengatakan “...Yeah, aku menyukainya.”

  “...A-Aku juga!”

  “Eh?”

  Totsuka menatapku kembali dengan tatapan yang kaget.

  Whoa, ini buruk, ini buruk. Sikapku yang tidak terkendali bisa muncul lagi. Aku harusnya memperbaiki pernyataanku.

  “Aah, tidak, maaf. Aku tadi tidak mendengarkanmu dengan baik sehingga jawabanku agak aneh. Maaf, bisakah kau ulang lagi kata-kata tadi lima kali?”

  “Eits, berhenti disitu, Hachiman!”

  Zaimokuza memegangi bahuku, membuatku tersadar kembali.

  Tadi hampir saja. Wajahnya yang memerah adalah hal yang lain, tapi gerakannya memiringkan kepalanya itu dengan sedikit terkejut hampir membuat diriku mengatakan hal-hal yang aneh. Terima kasih Zaimokuza! Aku menatap Zaimokuza dan dia terlihat menaikkan frame kacamatanya dengan tangan satunya mengoperasikan smartphone.

  “Aku bisa merekamnya untukmu, asal kau ciptakan lagi momen seperti barusan!”

  “Yeah, serahkan padaku!”

  Zaimokuza memang sohibku! Aku tidak pernah kepikiran untuk memakai rekaman suara Totsuka sebagai alarm yang bisa membangunkanku di pagi ataupun malam! Dia sangat menjijikkan! Meski begitu, aku tidak bisa menolaknya!

  Ketika aku hendak menciptakan situasi itu lagi, Komachi memotongku. Sial, strategi gagal!

  “Uwaah, kalian berdua menjadi kombo ‘orang tidak berguna’. Onii-chan, bukannya kau dulu sering membuat yang seperti itu?”

  Komachi mengatakan itu sambil mengambil satu kotak Gunpla dan mengangkatnya.

  “Aah, kau juga sering merusaknya juga...Well, kurasa itu nasib menjadi kakak tertua.”

  Well, kalau kau punya adik, model plastik dihancurkan oleh mereka merupakan hal yang wajar.

  Ketika kepalaku dipenuhi memori tersebut, Totsuka mengatakan sesuatu yang manis.

  “Jadi Hachiman, kau pernah membuatnya ya? Aku juga. Ayahku yang pertama kali membuatku tertarik dengan Gunpla.”

  “Heeh. Itu memang cukup mengejutkan.”

  Baginya yang dipengaruhi oleh ayahnya yang manis, maksudku, ayahnya, sungguh mengejutkan.

  Totsuka menutup mulutnya dengan tangan dan tertawa.

  “Benarkah? Maksudku, aku kan cowok, tahu tidak?”

  Ekspresi Totsuka semacam ini seperti menguji imanku. Aku seperti kehilangan kata-kata dan Zaimokuza tampak meniru ekspresi Totsuka. Oi, lu gak usah niru-niru dia deh!

  “Benar Hachiman. Mustahil kalau orang semanis ini adalah cewek.”

  “Urgh, benar, dia kan laki-laki...”

  Melihat kami yang sedang mengobrol, Hiratsuka-sensei mendekati kami. Dia memegang sebuah set Master Grade di tangannya.
[note: Master Grade (MG) pada umumnya memilikii rasio 1:100 dari aslinya, namun ada beberapa kasus khusus dimana rasionya tidak seperti itu. Rata-rata ukuran asli Gundam sekitar 17-18 meter. Jadi tinggi Gunplanya nanti sekitar 18cm. Jangan tanya saya tahu dari mana, kalian pasti sudah bisa menduganya.]

  “Oh, Gunpla, ya? Kudengar belakangan ini para gadis banyak yang mulai menekuninya...Bisa jadi, hobi semacam ini akan menjadi hobi populer di masa depan.”

  “Serius? Sekarang aku malah semakin tertarik dengan Kirara
[note: Kirara adalah karakter gadis di anime Gundam Build Fighters.]

  Ketika mata Komachi berbinar-binar, Sensei tertawa melihatnya.

  “Oh, Hikigaya kecil. Mau bertanding di Gunplay denganku?”

  Ketika Komachi dan Hiratsuka berdiri saling berhadapan, entah mengapa, Yukinoshita muncul diantara mereka.

  “Kalau kalian mau bertanding, maka yang kalah tidak akan dimaafkan!”

  “Jadi kau termotivasi dengan kata-kata ‘bertanding’ ya? Meskipun kau sendiri selalu menjadi Yarukinainen-san. Kau pasti akan kalah...”
[note:Sebenarnya Watari ini ingin bermain kata-kata. Aila xxxNainen-san di anime Gundam Build Fighters diisi suaranya oleh Saori Hayami. Sedangkan Saori Hayami adalah pengisi suara Yukinoshita Yukino di Oregairu season 1 dan 2. Well, ini Natal...nikmati saja!]

  Lagipula, bagaimana kau mau bertanding dengan Gunpla...Bertanding siapa yang bisa membuat itu dengan lebih bagus?

  “Fufufu! Baiklah! Kalau begitu mari kita bertanding! Kalau kau menang dariku, hadiahnya...Adalah Onii-chan!”

  “Hohoo...” Hiratsuka-sensei menatap Komachi dengan serius.

  Kampret, mereka serius menjadikanku barang taruhan!

  “...Tunggu dulu, Komachi? Jangan sengaja menaruhku sebagai taruhan hanya untuk menyingkirkan kakakmu yang mengganggu ini!”

  “Tidak, kau tidak boleh! Kau jangan lakukan itu!” Yuigahama memotong kata-kataku.

  “Y-Yeah...mereka memang tidak bisa melakukan pertandingan itu, bukan begitu maksudmu...?”

  “Ah...Um, maksudku begitu, mereka tidak bisa melakukan pertandingan itu, bukan taruhannya...”

  Ketika kedua mata kami bertemu, kami berdua memalingkan pandangan kami.

  “....”

  “....”

  Dan suasana disini juga menjadi diam. Apa-apaan ini? Aku serasa ingin masuk jurang kematian saja saat ini. Melihat suasana tidak nyaman antara diriku dan Yuigahama, Komachi mengatakan sesuatu.

  “Oh? Oh? Ada apa ini, suasananya memang begini atau bagaimana...Apakah ini sebuah pertanda?”

  Tolong Komachi-chan, jangan melihat Onii-chanmu dengan mata seperti itu...

  Zaimokuza lalu membuat suasananya cair dengan suara yang keren.

  “Hachimaan, aku tidak peduli soal pertandingan kalian, tapi bisakah kau bantu aku dengan memberikan saran tentang Gunpla-Gunpla yang ada disini?”

  “Eh, aah, benar. Aku akan membantumu untuk mencari Gunpla yang bagus.”

  Ketika aku berjalan menuju Zaimokuza, aku bisa mendengar Komachi yang merasa kesal di belakangku.

  “Tsk, si Chuuni-san...Dia memotong adegan yang bagus tadi...”
[note: Zaimokuza memang benar-benar sohib Hachiman!]

  “Phew, kurasa kita tunda dulu pertandingannya. Kenapa kita tidak lihat-lihat dahulu?”

  Sensei mengatakan itu dan mulai berkeliling di toko ini.

  Aku berdiri di samping Zaimokuza dan Totsuka yang sedang mengamati Gunpla.

  “Aku sudah merasa lelah...”

  “Ah Hachiman. Kenapa kau tidak ambil beberapa mainan disini?”

  Mendengar kata-kataku barusan, Totsuka menoleh kepadaku.

  “Begitulah, tapi aku tidak tahu apa yang populer sekarang. Lagipula aku tidak yakin kalau bisa membuatnya dengan bagus...”

  “Nah, itu tidak masalah. Kau tidak perlu khawatir soal itu. Dengan Gunpla, kau bisa bebas berkreasi!”
[note: Gunpla tidak terbatas ke 1 model Gundam. Anda bisa ‘mengkanibal’ bagian Gunpla model lain dan menaruhnya di Gunpla anda sehingga menjadi sebuah model Gundam yang baru. Atau juga mengecatnya dengan warna yang berbeda.]

  Totsuka tersenyum dengan mata yang berbinar-binar...

  “Well, mendengar kata-katamu, tampaknya aku memang benar-benar ingin membuat sesuatu...Oke, mungkin aku beli ini...”

  Zaimokuza tiba-tiba memarahiku.

  “Aaah, Hachiman, kamu mau pilih yang itu?”

  “Eh, kenapa memangnya? Ini jelek kah?”

  Aku melihat ke arah Zaimokuza membayangkan apa maksudnya, dan jawabannya sangat ambigu.

  “Bukannya tidak bagus atau semacamnya...tapi...sebenarnya...”

  “Sial, kau ini hanya mengganggu saja!...Kalau ini cuma masalah antar otaku...Aku tidak peduli! Dengan Mobile Suit ini, aku akan menjadi Pilot Super!”

  Aku menunjukkan ekspresiku yang penuh determinasi untuk mengurungkan niat Zaimokuza.

  “Hohoh, kalau begitu ya sudahlah, aku akan pilih Mobile Suit yang ini, yang ini. Yang bisa bercahaya dengan terang meskipun ada badai...twofooooold!”

  Kami berdua saling menatap dengan senyum yang tidak menyenangkan. Tiba-tiba Yuigahama memotong.

  “Oke, stop, stop. Ini adalah hadiah yang kalian sendiri tidak tahu siapa yang akan menerimanya. Jadi Hikki dan Chuuni, kalian berdua sebaiknya memikirkan itu baik-baik!”

  “Hmm. Begitu ya...”

  Baik Zaimokuza dan diriku menaruh kembali Gunpla tersebut ke raknya. Mungkin Gunpla yang lebih mainstream...? Ketika hendak mengambil Gunpla yang lain, Yuigahama menghentikanku.

  “Oke, pilih yang lain! Satu orang satu hadiah!”

  “Kamu ini cerewet, macam Ibuku saja...?”

  Melihat pemandangan tersebut dari kejauhan, Komachi menggerutu.

  “Tampaknya kita tidak akan menyelesaikan kegiatan belanja kita jika kita bersama dengan kakakku dan yang lain. Kurasa lebih baik kita melihat-lihat toko sebelah sendiri?”

  “Uh huh, kurasa itu lebih baik.”

  Totsuka setuju dengan hal itu, Yuigahama juga menaikkan tangannya.

  “Setuju! Oke, ketika selesai, kita berkumpul di depan restoran cake itu ya?”

  “Oke, sampai jumpa nanti.”

  Dengan kata-kata Yukinoshita sebagai sinyal, semua orang tampak berpisah dan membentuk kelompok kecil.

  ...Sekarang, kurasa aku juga harus mencari hadiah.








x  x  x









  Setelah meninggalkan toko ‘R Us’, aku berjalan mengelilingi mall. Meskipun ada beberapa toko yang menjual barang yang berbeda, tampaknya tidak ada yang benar-benar cocok dengan pikiranku. Aku juga kadang kabur ketika ada karyawan toko mendatangiku untuk bertanya tentang apa yang kucari.

  Akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke salah satu toko dimana karyawannya tidak mendatangiku, tapi aku sendiri masih bingung tentang apa barang yang hendak kubeli.

  “Meski mereka bilang bebas beli hadiah apapun, aku masih tidak tahu harus membeli apa.”

  Aku mengocehkan itu daritadi tanpa menyadari ada seseorang yang sedari tadi berdiri di belakangku.

  “Fu, fu, fu...Kau nampaknya kesulitan.”

  “Oh, Komachi. Well, ya begitulah.”

  Ketika aku menoleh ke belakang, Komachi menunjukkan jari telunjuknya di depanku.

  “Momen-momen seperti ini, hadiah berupa barang yang bisa habis terpakai adalah yang terbaik, onii-chan!”

  “Barang-barang yang bisa habis terpakai?”

  Apa maksudmu dengan habis? Hilang seperti NINJA? Ini akan mencurigakan, tahu?

  Komachi lalu melanjutkan.

  “Yup, tidak terlalu membebani kalau barangnya habis. Juga kalau tidak suka, bisa membuangnya tanpa beban.”

  “Be-benar juga...Ternyata sudah mengasumsikan kalau bisa jadi itu akan dibuang, huh...”

  Bocah ini tampaknya baru saja mengatakan hal yang menakutkan...? Tapi, tampaknya aku paham maksudnya. Sederhananya, hal-hal yang habis terpakai seperti, benda yang bisa dimakan? Permen, teh, atau makanan sehari-hari, semacam itukah? Coba kupikir, kalau menurut petunjuk Komachi, tampaknya ini akan menjadi proses eliminasi yang mudah.

  Komachi lalu menambahkan.

  “Benda yang bisa dipakai dalam jangka waktu lama dan tidak terlalu berat juga bisa. Seperti aksesoris dan barang-barang mahal lainnya.”

  “Menakutkan...Adikku ini mulai menunjukkan wajah asli seorang wanita...Well, aku akan mencarinya dulu.”

  “Oke, semoga berhasil. Sampai jumpa nanti.”

  “Yeah.”

  Komachi lalu pergi meninggalkanku seperti dia sudah punya sesuatu untuk dibeli. Setelah melambaikan tangan ke Komachi, aku menggaruk-garuk kepalaku.

  “Benda yang kau pakai dan tidak terlalu berat berat, huh? Well, masuk akal juga...”

  Kalau benda yang berat tentunya tidak hanya akan memberi masalah bagi si penerima, tapi juga orang yang memberi.

  “Oke, mari kita cari sesuatu...sesuatu yang akan membuat Totsuka bahagia...sesuatu yang membahagiakan Totsuka...atau semacamnya!”

  Aku mencoba memperbaiki suasana hatiku dan masuk ke toko sebelahnya.









x  x  x










  Ada sebuah toko dengan suasana yang nyaman, kontras dengan suasana mall yang ramai. Setelah masuk, seperti biasanya, aku melihat-lihat barang yang dijual.

  Tampaknya ini adalah toko barang-barang dekorasi rumah. Menjual berbagai barang interior, aksesoris, dan peralatan makan.

  Tapi semakin banyak pilihan di depannya, maka manusia semakin sulit mengambil keputusan.

  “Aah...beli apa ya...sudah kesana-kemari tapi tetap tidak tahu hendak membeli apa...”

  Ketika menggumamkan itu, sebuah suara memanggilku dari rak seberang.

  “Ah, Hikki. Kau datang ke toko ini juga?”

  “Hmm, Yuigahama? Yeah, entahlah, aku tidak ada ide dimana toko yang menjual berbagai barang.”

  Yuigahama yang melihatku, berjalan ke arahku dan tersenyum.

  “Mmm, benar. Karena diberitahu ‘hadiah apapun’, malah membuatnya semakin sulit untuk memilih...”

  “Pada dasarnya, membeli hadiah dengan petunjuk ‘terserah kita’ merupakan ide yang buruk ya? Hal-hal yang bisa berubah tergantung dari pendapat orang lain tidak akan pernah menjadi hal yang berguna.”

  Bukannya aku terbatas sih. Hal-hal yang tidak memiliki konsensus akan selalu berakhir dengan kekecewaan. Mungkin di saat-saat seperti inilah kita butuh GRAND DESIGN dan CONSENSUS yang punya INNOVATIVE WIN-WIN. Sial, pikiran di kepalaku mulai berputar-putar.

  “Kau tidak perlu sampai berpikir sejauh itu. Maksudku, yang terpenting adalah perasaanmu ketika memilih hadiah itu. Sederhananya, yang menerima hadiah itu merasa senang karena hadiah itu melambangkan dirimu...Oleh karena itu, kurasa apapun oke.”

  Well, ‘yang penting perasaanmu’ bukanlah hal yang sulit untuk kumengerti.
[note: Ini flashback ke vol 3 chapter 4 dimana Yukino ketika menerima boneka Pan-san dari Hachiman mengatakan di hadiah tersebut ada perasaan si pemberi.]

  Tapi, seberapa berartinya jika kita mempertimbangkan kenyamanan si penerima?

  “Jujur saja, kata-katamu soal ‘hadiah apapun oke’ itulah yang membuatku sulit untuk memilih...Lagipula, coba kau pikir jika kau menerima hadiah dari seseorang dan isinya Gunpla, benar tidak?”

  Yuigahama mengedipkan matanya berkali-kali dan memalingkan matanya.

  “Aaah...Erm, itu. Kurasa masuk akal...Kupikir akhirnya aku akan mencoba memilih hadiah berdasarkan siapa yang akan menerimanya, kurasa begitu.”
[note: Camkan lagi kata-kata Yui ini, nanti ada dalam monolog akhir chapter ini ketika Hachiman memutuskan memberikan scrunchie warna pink kepada Yukino.]

  Ketika kau memberi hadiah ke seseorang dan dia membukanya, lalu dia diam sejenak. Setelah itu dia bilang “...te-terima kasih”, membuat senyuman yang terpaksa dan harus pura-pura senang, itu adalah momen dimana kau ingin mati saja.

  Yuigahama lalu tersenyum.

  “Kau sangat serius ketika membahas hal-hal aneh...Kalau begitu, aku juga akan berpikir lebih keras tentang hadiah yang akan kubeli.”

  “Betul, kau sebaiknya begitu. Lagipula, kita tidak tahu siapa yang akan menerimanya.”

  “Kupikir begitu.”

  Yuigahama mengatakan itu dan menaruh aksesoris yang dipegangnya di meja. Lalu Yuigahama mengatakan sesuatu.

  “...Tapi akan sangat bagus jika hadiahnya diberi ke orang yang tepat. Soal itu, sebagai terima kasihku ketika ulang tahunku dulu, aku belum pernah memberimu sesuatu, Hikki, jadi...”

  “Eh?”

  Ini mengingatkanku akan sesuatu. Ini terjadi sudah lama sekali, hampir setengah tahun yang lalu. Mungkin hadiah yang itu. Sejujurnya, itu adalah hadiah yang kugunakan sebagai permintaan maaf karena menyelesaikan permasalahan kita secara sepihak, dan kugunakan momen ulang tahunnya sebagai alasan saja.
[note: Vol 3 chapter 6.]

  “Aah, bukan, itu sebenarnya bukan hadiah semacam itu, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan itu. Sebenarnya itu hanya permintaan maaf saja. Kalau kita terus berputar-putar saja, itu tidak akan berakhir.”

  Kurasa yang kuucapkan barusan juga cukup egois, tapi aku tidak punya alasan lain yang bisa kukatakan lagi.

  Tapi, Yuigahama yang tidak sedang menatapku mengatakan dengan pelan.

  “Ini tidak seperti harus berakhir juga...”

  Kata-katanya itu seperti membongkar sesuatu yang terpendam di dasar hatiku.
[note: Vol 5 chapter 6, Hachiman sengaja mencegah Yui menembaknya.]

  “...Kupikir begitu.”

  “...Uh huh.”

  Kami berdua terdiam.

  Sebuah hubungan yang tidak ada akhirnya adalah sesuatu yang tidak bisa kubayangkan. Mungkin itu hanyalah mimpi, delusi, atau sebuah idealisme; sesuatu yang kupikir tidaklah nyata.

  Meskipun itu terdengar indah, itu sangat menyakitkan, sehingga aku tidak bisa mendeskripsikan hal semacam itu kepada Yuigahama.

  Kesunyian itu lalu dihancurkan oleh senyum Yuigahama.

  “Ah, aku lupa. Sebenarnya, ulang tahun Yukinon sudah dekat loh.”

  “Oh yeah, aku pernah dengar soal itu.”

  Aku tidak tahu tanggal pastinya, tapi aku percaya itu ada di musim dingin.
[note: Dari namanya saja bisa ditebak Yukino lahir kapan. Yukinoshita berarti dibalik salju, Yukino berarti salju. Alias Salju yang berada di balik salju. Dengan kata lain, Yukino pasti lahir di musim dingin, antara bulan Desember - Februari.]

  Yuigahama memegang sesuatu dari rak di depannya lalu mengembalikannya lagi. Setelah beberapa kali melakukannya, dia menatapku.

  “Ketika ulang tahunku, umm, hadiah untukku, kau membelinya bersama Yukinon, benar tidak?”

  “Ya kurang lebih begitu. Komachi ada disana juga.”

  “U-Uh huuh.”
[note: Hachiman melanggar saran Komachi dengan memberitahu wanita lain dalam membeli hadiah. Yui yang berpikir kalau hadiah yang diterimanya itu merupakan pikiran dari 3 orang, tentu tidak akan merasa spesial.]

  Yuigahama meresponnya datar. Barang yang dia pegang itu, dia kembalikan ke raknya lagi.

  “Kalau begitu, akan sangat bagus, ji-jika kau mau pergi bersamaku...Umm, maksudku berbelanja hadiah untuk Yukinon...”

  Tampaknya dia memegang benda-benda itu hanya sekedar mengalihkan kegugupannya.

  Kalau cuma sekedar belanja, kurasa tidak masalah. Kupikir begitu. Sama seperti aku pergi dengan Yukinoshita sebelumnya. Tujuan kita berbelanja juga sangat jelas.

  Dulu Yukinoshita dan diriku juga membuat janji keluar bersama, tapi, waktu itu suasananya agak aneh. Mungkin ada baiknya jika aku santai-santai saja menanggapi ajakan kali ini.
[note: Buat yang belum tahu, vol 3 chapter 3. Yukino sangat gugup dan berkeringat dingin ketika mencoba mengajak Hachiman keluar untuk membeli hadiah Yui.]

  “Hmm...Berbelanja, ya...? Well, kalau hanya berbelanja, kurasa tidak masalah.”

  “Oke.”

  Yuigahama menjawabnya dengan singkat sambil terlihat malu-malu. Di depan pintu toko, terlihat Yukinoshita mulai memasuki toko ini. Dia tampaknya hendak mencari hadiah disini juga.

  “Ah, itu Yukinon. Oke, biar nanti kita bicarakan lagi soal itu. Heeei, Yukinooon!”

  Yuigahama tampak terburu-buru berjalan ke arahnya.

  “Oh, Yuigahama-san dan Hikigaya-kun.”

  Yuigahama menaruh kedua tangannya di bahu Yukinoshita.

  “Yukinon, kau sudah memutuskan mau membeli apa?”

  “Belum. Tapi aku menerima banyak sekali saran dari Komachi-san, tapi...”

  Begitu ya, jadi dari tadi Komachi bersama Yukinoshita?
[note: Sederhananya, Komachi sedang ‘mengompori’ Hachiman dan Yukino agar membeli hadiah seperti ekspektasinya.]

  “Komachi? Dimana, aku kok tidak melihatnya...”

  “Komachi-san ada disana.”

  Yukinoshita menunjuk ke sebuah area. Ketika kulihat, ternyata Komachi ada disana. Dia memang ada disana...tapi ini sangat mencurigakan.

  “Oh, kau ada disini rupanya. Hei, Komachi...Kau sedang apa?”

  Komachi tampak tiduran di sofa yang besar, dia tampak tidak mendengarkanku. Dia memejamkan matanya, seperti terbawa ke dunia lain. Ketika dia sadar kalau aku memanggilnya berkali-kali, dia kembali ke dirinya yang asli.

  “Ah, Onii-chan. Ini enak sekali! Sofa ini bisa membuat orang baik menjadi tidak berguna dalam sekejap! Uwah, luar biasa, aku tampaknya akan segera menjadi tidak berguna. Ah, ini buruk, Komachi kalau begini terus akan menjadi...”

  Komachi terus menggerutu dan tiduran di atas sofa besar itu. Mungkinkah ini yang disebut dengan kekuatan tersembunyi sofa yang membuat orang baik menjadi tidak berguna...?

  “Eh, apakah memang seenak itu...? Sekarang aku kok malah ingin mencobanya juga.”

  Aku ingin mencoba juga lah!

  Seperti yang kuduga, ketika aku tiduran di sofa tersebut bersama Komachi, aku hampir saja langsung tertidur jika tidak ada suara yang memanggilku. Yukinoshita terdengar memanggilku...

  “Oh, aku percaya kalau Hikigaya-kun tidak perlu mencoba sofa itu, benar tidak? Kau dari awalnya memang sudah tidak berguna.”

  Ketika kubuka mataku, Yukinoshita terlihat sedang tersenyum.

  “Jangan mengatakan itu sambil tersenyum. Tahu tidak, kalau kau kalikan negatif dengan negatif, maka akan menjadi positif.”

  “Jika kau tambahkan negatif dengan negatif, maka akan menjadi negatif yang lebih besar. Apa kau benar-benar belajar matematika ketika SMP dulu?”

  “Tunggu dulu. Mari kita ambil hal yang bijak dari kejadian ini. Kita bisa membujuk orang lain untuk mencoba ini sehingga semua orang akan menjadi negatif. Nah kalau semua orang menjadi tidak berguna, bukankah sebutan tidak berguna akhirnya akan menghilang?”

  Yukinoshita menaruh tangannya di keningnya.

  “Logika berpikirmu itu ternyata masih tidak berubah. Seperti dugaanku, sofa ini memang tidak cocok untukmu.”

  Mendengarkan percakapan kami yang seperti itu, Komachi akhirnya terbangun.

  “Phew. Mari banguun...! Kurasa yang barusan kakakku katakan itu sebenarnya ada kode terselubung tentang keluarga yang dia inginkan kelak. Daripada sofa yang membuat orang baik menjadi tidak berguna, Komachi ingin Onii-chan punya istri yang bisa membuat orang tidak berguna menjadi berguna Ayo, ayo, itu petunjuk!”

  “Heh!? Eh, eh, bukan maksudku begitu, umm...”

  Yuigahama tampaknya menanggapi itu dengan spontan, tapi dia tidak bisa mengatakan kata-katanya. Syukurlah, kurasa aku ingin mati saja kalau mendengar ada seorang gadis yang menanggapi ocehan Komachi. Tapi di lain pihak, Yukinoshita tampaknya mengatakan sesuatu.

  “Komachi-san, sayangnya, aku tidak yakin kalau keinginanmu itu akan dikabulkan. Kurasa itu mustahil bagi Hikigaya-kun.”

  “Eh, benarkah? Sayang sekali. Aku ingin secepatnya ada seseorang yang menggantikanku...”

  Komachi-chan, kau tampaknya ingin menyingkirkanku segera ya? Kurasa kau harus menunda sejenak pesta perpisahan kita, oke?

  Meski begitu, aku bersyukur Yukinoshita tidak menanggapi langsung pancingan Komachi tadi. Tapi akupun hendak komplain dengan kata-katanya tadi.

  “Hei, bisakah kau tidak menghancurkan mimpi seseorang seketika hanya dengan kata-kata?”

  Yukinoshita lalu menatapku dengan dingin.

  “Mengesampingkan semua perkataanmu selama ini tentang bersantai, tapi kenyataannya kamu ini adalah orang yang bekerja keras untuk mewujudkan semuanya, benar tidak?”

  “Aah, aku paham maksudmu. Hikki memang benar-benar bekerja keras meskipun sering komplain tentang pekerjaannya.”

  Yuigahama menganggukkan kepalanya.

  Komachi mendekatiku dan membisikkan sesuatu.

  “Nah itulah jawabannya, Onii-chan.”

  Mengesampingkan kata-kata Komachi, sebuah image yang buruk langsung muncul di pikiranku.

  “Tidak, jujur saja, aku tidak paham maksud kalian...Mungkin saja aku akan bekerja keras demi gaji yang tidak seberapa, dan sisa waktuku akan kuhabiskan dengan mengutuk perusahaanku. Aku akhirnya sadar kalau aku terlalu bekerja keras, tapi gajinya tidak seberapa. Tapi karena sudah terbiasa, akhirnya aku sudah terbiasa berpikir kalau hidup itu ternyata tidak seburuk yang kupikirkan. Dan akhirnya, aku menjadi seorang budak perusahaan. Aku sangat khawatir akan berakhir seperti itu...serius ini, aku khawatir akan masa depanku!”
[note: Hachiman belajar dari pengalaman ayahnya. Gaji tidak seberapa, tapi berangkat subuh pulang malam. Bahkan harus bekerja meski Natal. Namun istri dan putrinya menganggap remeh keberadaannya. Mungkin ini benar-benar horor bagi seorang pria dan ayah manapun.]

  “Imajinasinya memang luar biasa realistis...”

  “Tapi, poin yang dia khawatirkan memang diluar akal sehat...”

  Yuigahama dan Yukinoshita melihatku dengan kasihan. Jujur saja, aku sendiri ini sudah tidak punya impian dan harapan.

  “Oleh karena itu aku punya sebuah mimpi. Aku ingin menjadi suami rumahan...”

  “Kurasa itu sudah tidak tertolong lagi, tapi cukup aneh juga melihat orang bisa memiliki impian yang terburu-buru seperti itu hanya berbekal dari imajinasinya saja...”

  Yukinoshita mengatakan pendapatnya sambil menghela napasnya.

  “Nah, karena kalian berdua kenal dia dengan baik, kakakku ini memang punya sifat yang semacam itu. Aku akan sangat berterima kasih jika kalian tidak terlalu mengharapkannya.”

  Komachi mencoba mensupportku.

  “Kupikir begitu. Akupun sudah menyerah untuk mengubahnya.”

  “A-ahahaha. W-well, dia memang beban sejak awal.”

  Keduanya mengatakan hal-hal yang kejam, tapi Komachi yang tampak gembira tersebut membisikkan sesuatu kepadaku.

  “Kau dengar barusan? Ini bagus sekali, onii-chan!?”

  “Tidak, tidak, tidak, ini tidak bagus sama sekali. Mereka sudah menyerah dan menganggapku beban, tahu tidak!”

  Tapi bagi Komachi, tampaknya dia tidak mempedulikannya dan tetap tersenyum.

  “Hmm? Aku tidak tahu maksudmu apa. Tapi kupikir kita banyak mendapat petunjuk penting...Fufu. Jadi, kita tidak butuh sofa ini?”

  “Benar. Lagipula, kita sudah punya pengganti sofa, kita punya bola berbulu yang berjalan mondar-mandir di rumah tiap hari.”

  Komachi mengangguk setuju.

  “Aah Kaa-kun, ya? Tapi aku berani bertaruh kalau Kaa-kun akan bahagia dengan adanya sofa ini di rumah. Dia mungkin akan tiduran sepanjang hari.”

  Yup, yup, aku bisa melihat itu. Jadi mengapa kucing itu suka berada di sofa atau futon? Ketika memikirkan itu, ternyata aku baru sadar kalau kucing bukanlah satu-satunya makhluk yang suka melakukannya.

  Yuigahama tampaknya menyadari sesuatu.

  “Itu ada benarnya! Aku bisa membayangkan Sabure melompat dan turun dari sofa juga! Mungkin aku harus membelinya!”

  “Nah, aku cukup yakin kalau dia akan tenggelam dalam nyamannya sofa...Kalau kucing kami rebahan disana, kurasa akan ikut tenggelam juga.”

  Tiba-tiba, Yukinoshita terdiam.

  “...Kalau kucing, duduk dan langsung tertidur di sofa...? Kucing itu pasti sangat manis.”

  ...Ba-baru saja, aku mendengar nona yang dingin mengatakan sesuatu yang sangat manis...Tidak, kurasa suara tadi cukup pelan sehingga bisa jadi aku salah mendengarnya. Aku lalu melihat ke arah Yukinoshita.

  Dia lalu melihatku, seperti ingin mengatakan sesuatu.

  “Hei, Hikigaya-kun, apa kamu yakin tidak mau membeli sofa ini? Lagipula, hewan peliharaan adalah bagian dari keluarga. Katamu, kau ini adalah orang orang yang menikmati waktu bersama keluarga, mungkin sofa ini adalah hadiah yang sempurna, benar tidak?”

  “Tidak, tolong hentikan menyarankanku sesuatu dengan alasan yang sangat logis! Teorimu itu terlalu banyak konspirasinya...”

  Mungkin semacam itulah; teorinya sangat terstruktur seperti rumah para lebah....Sebenarnya, apa aku bisa benar-benar lolos dari sarannya?

  Komachi lalu menarik-narik lenganku.

  “Ah, Onii-chan. Sofa ini ternyata punya versi mininya. Kurasa ukuran itu oke, benar tidak?”

  Ketika kulihat, ternyata ada sofa kecil yang terbuat dari bahan yang sama.

  Yukinoshita lalu menyentuh sofa tersebut dan mengangguk.

  “Kurasa ukuran yang ini sangat cocok untuk kucing. Benar tidak, Hikigaya-kun?”

  “Tiba-tiba dari kriteria keluarga sekarang menjadi kucing...Begini saja, akan kupertimbangkan soal itu. Sekarang aku akan ke toko lain dan melihat-lihat barang untuk urusan pesta nanti.”

  Aku merasa kalau tinggal disini lebih lama, maka aku akan berakhir dengan membeli sofa kecil itu untuk kucingku. Meskipun aku pamit ke mereka dengan alasan yang abu-abu, tampaknya Yuigahama dan yang lainnya mengangguk seperti mereka juga punya sesuatu untuk mereka beli.

  “Oke, kalau begitu sampai jumpa.”

  Setelah melihat yang lainnya pergi, aku meninggalkan area tersebut.








x  x  x








  Setelah aku selesai membeli hadiahnya, aku berjalan menuju restoran cake yang disepakati sebagai tempat berkumpul.

  Aku membetulkan tas belanjaanku dan melirik ke arlojiku.

  “Phew...Akhirnya aku membeli hadiahnya...Kurasa tempat berkumpulnya cukup mudah dilihat. Dan ini sudah hampir waktu yang disepakati...”

  Yang lainnya harusnya sudah mulai berdatangan. Aku memutuskan untuk berdiri di depan restoran dan menunggu. Ketika aku hendak memeriksa HP-ku, aku mendengar sebuah suara yang familiar dari para pekerja paruh waktu yang bekerja di pertokoan ini.

  “Met datang, ‘datang’. ”

  “Hmm? Suara yang tidak nyaman ini serasa familiar...”

  Kau sangat keras sekali. Aku menatapnya dengan emosi. Orang itu memakai pakaian Santa dan sepertinya sedang mempromosikan restoran yang menjual cake tersebut.

  “Met datang. ‘datang’.”

  Kau sangat mengganggu. Itulah yang kupikirkan, tapi aku tidak bisa mengubah tempat pertemuan seenaknya. Aku mencoba membuat suara itu tidak mengangguku, tapi perasaan tidak nyaman itu membuatku menyerah dan melihat ke arah orang itu. Dan mata dari Santa tersebut bertemu dengan kedua mataku.

  “...Ah. Serius ini? Bukankah itu Hikitani-kun!?”

  Santa yang menyedihkan itu mulai berbicara kepadaku. Pria ini sangat mengganggu. Ketika kulihat, ternyata itu adalah Tobe.

  “Ooh, aku juga terkejut...Tobe, kah...? Mengajakku mengobrol tiba-tiba, kupikir orang yang kukenal atau semacamnya...”

  Tobe bersikap sangat familiar sehingga membuatku agak takut, tapi itu tidak mengganggunya sedikitpun.

  “Beh, bukankah ini semacam kebetulan, bisa bertemu di tempat semacam ini? Aku mencoba mempromosikan beberapa cake disini, asli nih, gue udah mau mati kebosenan!”

  “Aah, jadi itu alasannya kau memakai baju Santa...Tunggu, bukankah itu sedikit janggal kau bersantai-santai ketika bekerja...?”

  “Belum ada satupun pelanggan yang mampir. Beh, gue bosen nih.”

  Tobe terlihat komplain sambil membetulkan rambutnya yang panjang.

  Meski begitu, mustahil aku bisa menjadi obat bosannya. Jadi, kuputuskan untuk meresponnya dengan singkat.

  “Begitu kah?”

  “Yeah, begitulah.”

  “Hooh...”

  “Yeaah, begitulah bro...”

  “Oh begitu...”

  Melihat kalau percakapan kami hanya akan berputar-putar, Tobe tiba-tiba bertanya.

  “...Aah...Tapi ada apa bro? Hikitani-kun, apa yang kau lakukan disini?”

  Aku paham kalau pertanyaannya barusan hanya sekedar mengusir rasa tidak nyaman percakapan tadi. Merasa tidak nyaman denganku, maaf ya, oke?

  “Nah, aku hanya berbelanja saja.”

  Karena dia mengganti topiknya, meresponnya balik adalah sebuah bentuk tata krama.

  Serasa gembira karena bisa melanjutkan pembicaraan, Tobe lalu mendekatiku.

  “Belanja, serius lo? Jadi belanja yang dimaksud ini belanja semacam apa? Serius nih? Hikitani-kun berbelanja? Ini pasti ada sesuatu!”

  Tidak, bahkan akupun sering berbelanja...Apa sih yang ada di pikiran orang ini tentangku?

  Sial, ngapain gue? Aku harusnya tidak berbicara lebih jauh soal ini dengannya, bukannya aku tidak mau berbicara dengan Tobe atau semacamnya...Ketika aku tidak yakin mau menjawab apa, seseorang datang melihat kami berdua.

  “Hikigaya-kun, apa ada sesuatu?”

  “Oh, Yukinoshita. Tidak ada, aku hanya kebetulan bertemu Tobe.”

  Tampaknya yang lainnya akan segera kesini jika melihat Yukinoshita sudah ada disini. Ketika dia mendengar kata ‘Tobe’, dia memiringkan kepalanya seperti penuh tanda tanya. Tidak, Tobe yang kumaksud ya Tobe yang itu. Mengapa dia begitu misteriusnya bagimu? Kau tidak kenal dia?

  Sebelum itu, Tobe ternyata juga sedang memiringkan kepalanya secara misterius. Dia bolak-balik melihat ke arah kami berdua.

  “Oh? Oh? Yukinoshita-san? Kenapa kalian berdua belanja bersama-sama? Ah! Uh huuuh.”

  “Hei, apa-apaan dengan jedamu tadi? Kau pasti membayangkan yang aneh-aneh?”

  Tapi Tobe tampaknya sudah mengambil kesimpulan tersendiri karena mengatakan “uh huuh” ketika melihat ke arahku dan Yukinoshita.

  “...Tampaknya ada sebuah kesalahpahaman, tapi kurasa bukan itu masalahnya...”

  Pertama, Yukinoshita menatap ke arah Tobe dengan tajam, pada akhirnya dia menghentikan kata-katanya sehingga aku tidak tahu apa maksudnya.

  Tobe, seperti biasanya, tidak mendengarkan Yukinoshita dan memukul bahuku.

  “Awww bro, jadi begini toh! Kau harusnya bilang saja dari dulu, jadi kami bisa memberikan kalian waktu buat berduaan di Disney Land kemarin.”

  “Tidak, sebenarnya bukan begitu...”

  Aku mencoba membenarkan apa yang salah disini, tapi dia tidak mendengarkan. Yukinoshita yang melihat percakapan kami, entah mengapa terlihat kesal.

  “...Kau keberatan kalau aku pergi lebih dulu?”

  “Eh, yeah. Well...”

  Aku lalu mendekati Yukinoshita untuk bertanya apakah dia butuh diriku untuk sesuatu.

  Yukinoshita terlihat gugup dan mengatakannya sambil memalingkan wajahnya.

  “Oh, benar...Aku bukannya bagaimana, hanya saja Tobe-kun sedang memakai baju Santa, aku tidak menyadarinya, jadi aku..."

  Dia mengatakannya tanpa menatap ke mataku, dan suaranya tiba-tiba hilang di tengah pembicaraan.
[note: Yukino kesal karena Hachiman mengatakan hubungan mereka bukan pacar di depan Tobe. Kalau melihat apa yang terjadi di Disney Land, dimana Yukino menggenggam tangan Hachiman dan kemarin Yukino mengatakan masih menjalankan permintaan Hachiman tentang gadis yang mau menerimanya, terang saja Yukino marah.]

  Ketika aku melihat arah Yukinoshita memandang, Yuigahama ternyata sudah datang ke tempat ini. Melihat kami berdua, dia melambaikan tangannya.

  “Hikki, Yukinon. Eh ada apa ini...? Huh ada Tobecchi?”

  Tobe yang berdiri tidak jauh dariku menjadi lebih terkejut melihatnya.

  “Eh, eh? Yui ada disini juga...? Ah! Uh huuuh.”

  “Eh lagi-lagi, kali ini apa lagi yang ada di bayanganmu?”

  Tobe merapikan rambutnya lalu menyentuh keningnya.

  “Wah ini cukup gila! Berbelanja berasama dua gadis itu sudah gila! Serius nih Hikitani-kun, kamu ini seperti normie man! Serinormietani-kun!”

  “Tidak, aku tidak tahu apa maksudmu. Juga, namaku bukan Hikitani.”

  Meski aku mengatakan itu, dia tidak mempedulikanku dan terus mengatakan “beh, beh”.

  Yuigahama lalu berbicara kepadanya.

  “Tobecchi, apa kamu sedang bekerja? Kami sebenarnya kesini untuk pesta Natal.”

  “Ah begitu ya...”

  Tampaknya penjelasannya barusan sudah meyakinkannya. Ketika Tobe menganggukkan kepalanya, semua orang sudah berkumpul disini. Totsuka dan Komachi juga sudah datang.

  “Aah, Tobe-kun.”

  “Waah, lama tidak ketemu.”

  Seperti bertambah antusias karena bertemu orang-orang yang dia kenal, Tobe lalu berjabat tangan dengannya.

  “Ooh! Bukankah ini Totsuka dan adik dari Hikitani! Weeey!”

  “Sapaan macam apa itu? Cukup mengganggu.”

  “A-Ahaha...Maksudku, ini Tobecchi, jadi...”

  Yuigahama mengatakan itu dan Yukinoshita menatap Tobe dengan tajam.

  “Itu seperti semacam sapaan sebuah suku...Aku tidak paham apa yang dia katakan...”

  “Benar kan? Mencoba memahami itu saja sudah bikin sakit kepala.”

  Aku memandangi Tobe dengan tatapan yang suram, tapi dia tampak tidak mempedulikannya.

  “Selamat Natal, weey!”

  “Sial, dia berteriak lag...”

  Tepat ketika aku hendak mengatakannya, Komachi menyapanya balik.

  “Weeey! Selamat Natal!”

  Karena Komachi di sebelahnya terlihat sangat antusias, Totsuka yang kebingungan juga mengatakan hal yang sama.

  “W-Weeey!”

  “Weeey!”

  “Huh!? Bahkan Hikki juga ikut-ikutan mengatakan juga?”

  Hah! Sial! Aku tidak sengaja mengatakannya! Ta-tapi jika Totsuka dan Komachi melakukannya, entah mengapa aku juga mengatakan itu, weeey.

  Serasa gembira karena semuanya menyapanya balik, Tobe bertanya kembali.

  “Ada apa ini, ada apa? Kalian tampaknya sedang antusias nih...? Uh, oh? Kalau kulihat lebih jauh, bukankah itu Zaimokuzaki-kun? Zaimokuzaki-kun, weeey!”

  Siapa Zaimokuzaki-kun? Tampaknya itu Zaimokuza. Sejak kapan dia disini? Tobe, kau punya penglihatan yang baik...Zaimokuza tampaknya hendak mengatakan sesuatu.

  “Wey? Wey, wey!? Wey, weeeey!?”

  “Tsk. Serius nih, dia harusnya mati saja bersama weey-nya.”

  “Onii-chan, kau terlalu blak-blakan.”

  Tidak, Komachi-chan, tahu tidak? Mengganggu ya tetap mengganggu. Sumber dari hal yang mengganggu itu, Zaimokuza, sedang mengatakan sesuatu.

  “Wey, wei, untukmu...Eightman!? Kalau di Jepang, namanya Hachiman!?”
[note: Hachi = delapan = eight .]

  “Apaan lu?”

  “Siapa dia? Orang seperti apa dia?”

  “Yeah, dia sekelas denganku, Tobe. Dia sangat mengganggu tapi dia orang baik. Tapi jangan lupa ini, pada dasarnya dia itu sangat mengganggu.”

  Aku memberikannya penjelasan singkat dan Zaimokuza terlihat mengangguk.

  “Begitu ya, begitu. Memang, itu sangat mengganggu. Rambut panjang dan suara yang berisik, dan lebih penting, sok dekat...”

  “Wow, kau melemparkan boomerang yang luar biasa!”

  Tapi kau harusnya berkaca juga, yang kau katakan itu juga berlaku untuk dirimu...

  “Tapi, kenapa dia bisa tahu namaku...? Malahan, dia mengubah namaku menjadi semacam kode...Ha!? Mungkinkah dia berasal dari Organisasi itu!?”

  “Kupikir begitu. Tidak sepertimu, dia itu anggota suatu grup, jadi kupikir dia adalah orang dari organisasi yang lain.”

  Tobe sepertinya sedang memikirkan sesuatu.

  “Ah, begini, Yui dan semuanya, kalian sedang mengadakan Pesta Natal?”

  “Uh huh, benar.”

  “Oh, oh, jadi kau ingin beli cake disini? Restoran ini milik Senpaiku. Dia meminta tolong kepadaku. Kurasa akan cukup buruk jika tidak ada yang laku.”

  “Mmm, cake ya? Bagaimana ya?”

  Ketika Yuigahama bingung harus bagaimana, ada suara yang keras tiba-tiba terdengar oleh kami.

  “Aku sudah dengar apa masalahmu!”

  “Huh? Hiratsuka-sensei?”

  Hiratsuka-sensei datang dengan mengibar-ngibarkan jas putihnya seperti seorang penyelamat bagi Tobe. Suara highheelsnya sangat mengganggu.

  “Tampaknya kau terpasung oleh tugas yang diberikan untukmu.”

  “Sensei benar sekali. Saya seperti terperangkap disini.”

  Tobe mengatakan itu sambil melihat tumpukan kotak cake yang ada di belakangnya.

  Melihat hal tersebut, Hiratsuka-sensei mengangguk.

  “Aku paham...Kubeli semuanya...Kalau tidak laku, kue-kue itu serasa kesepian.”

  “Tunggu dulu? Jangan memberikan cake-cake tersebut perasaan, oke?”

  “Saya rasa kita akan kesulitan memakannya jika kita membelinya.”

  “Tapi meski kita beli satu, kurasa itu tidak akan mengubah faktanya.”

  Kata-kata Komachi dan Yukinoshita membuat Tobe panik.

  “Tapi serius nih, kalau ini tidak terjual, Senpai akan memarahiku. Atau kusebut bagaimana ya? Kekerasan verbal atau semacamnya? Jadi tolonglah aku keluar dari situasi ini?”

  Totsuka lalu memiringkan kepalanya.

  “Jadi, kau ingin kita memberitahukanmu cara untuk menjual cake-cake ini?”

  Yuigahama lalu menaikkan tangannya.

  “Hoi, Yuigahama. Apa pendapatmu?”

  “Jual dengan harga lebih murah!”

  “Hmm, itu bisa saja.”

  Tobe mengangguk merespon ide sederhana dari Yuigahama barusan.

  Lalu, Zaimokuza seperti memikirkan sesuatu.

  “Hapon, kalau kita memberikan bonus spesial, itu akan memberikan semacam nilai tambah! Aku bisa menuliskan sesuatu untuk membuat penjualannya menarik dengan skill penulis novelku...”

  “Kurasa itu tidak akan berhasil.”

  Gaya kebarat-baratan dari Tobe yang menaikkan kedua tangannya sangat mengganggu.

  Totsuka sepertinya menemukan sesuatu.

  “Bagaimana kalau servis tambahakan seperti menulis nama di cake, untuk ulang tahun atau semacam itu?”

  “Itu bisa saja.”

  Mendengarkan hal tersebut, Yukinoshita menambahkan.

  “Bagaimana kalau kita tulis saja cake tersebut adalah ‘limited edition’?”

  “Itu juga bisa” Tobe meresponnya balik.

  Orang ini tampaknya menerima begitu saja kata-kata orang...? Tapi kalau melihat situasinya, menyerahkan keputusan ke Tobe tidak akan membuat kita maju ke depan.

  “Tidak, semua ide tersebut sangat sulit, benar tidak? Kau sudah dibatasi oleh beberapa kebijakan restoran. Kalau kamu tidak ingin dimarahi sama atasanmu, lebih baik kau kerja dengan lebih serius lagi.”

  “Kau sungguh kejam Hikitani-kun, sangat suram. Tapi dimarahi atasanku memang sangat buruk sekali.”

  Ketika kulihat ke tumpukan kotak cake yang ada di bagian depan restoran, aku melihat sticker keterangannya...Well, ternyata cake ini sebentar lagi akan lewat tanggal kadaluarsanya.

  “Mmm...bagaimana kalau begini? Cake itu akan dijual separuh harga karena sebentar lagi akan lewat tanggal layak konsumsi? Jadi kenapa tidak menaruh pengumuman besar-besar kalau harga cakenya 50%?”

  Entah mengapa, Hiratsuka-sensei bereaksi.

  “Uuu, sudah separuh...Benar kan...Ketika kau lewat 24, kau sudah separuh...Dan ketika kau lewaat 25, kau sudah siap untuk dilempar keluar...”

  “Ini tentang cake, bukan? Kita sedang membicarakan tentang Kue Natal?

  Aku mencoba mengkonfirmasinya, tapi suaraku tidak bisa terdengar oleh Hiratsuka-sensei.

  “Jadi kenapa mereka jual mahal meskipun tahu kalau mereka sudah terdesak...?”

  Hiratsuka-sensei mengatakan itu sambil mengambil sticker diskon 50%.

  “Oh sial, Sensei akan menempelkan sticker itu ke dirinya! Cepatlah, siapapun cepat lamar dirinya!”

  Yuigahama berusaha menghentikan Sensei.

  “Se-Sensei, tidak apa-apa! Menjadi separuh itu bukanlah hal buruk! Maksudku, nilai pajak barang kan semakin lama semakin mahal harganya!”

  “Oi, itu malah memperburuk suasananya...”

  “Benar juga, kalau kita membahas pajak konsumsi, maka pajak konsumsi hanya dikenakan ketika barang tersebut laku saja. Kurasa ini agak berbeda dengan Hiratsuka-sensei.”

  Tunggu dulu, Yukinoshita-san!

  Tolonglah jangan menyudutkannya! Tolong siapapun, belilah sensei! Siapapun, tolong lamar dia! Sensei juga punya cost performance terbaik!

  Aku ingin seseorang secepatnya lamar dia. Jika tidak ada yang melakukannya, bisa –bisa aku yang tertimpa sial dan berakhir dengan melamarnya. Sebenarnya, pasti ada alasan serius kenapa orang ini tidak menikah  sejak dulu-dulu...? Kurasa itu termasuk dalam tiga misteri diantara tujuh keajaiban dunia, serius ini.

  “Well, kalau dilihat dari situasinya, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah mempromosikannya secara normal.”

  “Memberitahu orang-orang yang lewat ya...Memangnya kita punya sesuatu yang bisa menarik perhatian orang-orang?”

  Kata-kata Yukinoshita itu memancing reaksi Tobe.

  “Ah, kurasa itu bisa juga! Kita punya beberapa baju Santa ekstra. Juga, ada tanduk rusa loh! Tobe mengatakan itu lalu mengambil baju Santa di belakang meja kasir.

  Yuigahama melihat itu dan mengatakan sesuatu.

  “Tapi ini tampak tidak cocok untuk dipakai para gadis.”

  “Itu berarti yang memakainya adalah para pria.”

  Yukinoshita mengatakan itu dan Tobe melihat ke arah para pria.

  “Naah, kurasa ukurannya kurang pas jika dipakai Zaimokuzaki-kun...Jadi, Totsuka atau siapa?”

  “Eh, k-kau ingin aku memakainya?”

  Totsuka tampak terkejut, begitu pula diriku.

  “Kenapa aku tidak dianggap?”

  “Kurasa akan menjadi ide yang buruk jika Onii-chan berurusan langsung dengan pelanggan, mau bagaimana lagi...Kalau begitu, Totsuka-san, silakaaaan!”

  “O-Oke, kurasa aku akan mencoba memakainya...”

  Setelah mengambil kostum Santa dari Tobe, dia masuk ke restoran dan berganti pakaian di belakang. Tidak lama kemudian, dia kembali ke depan restoran.

  “Ba-Bagaimana...?”

  Melihat Totsuka yang memakai baju Santa dengan malu-malu, aku secara spontan berkata “Oooh...”

  Baju Santa tersebut ternyata lebih besar dari ukurannya, seperti sedang memakai rok mini saja. Caranya menarik-narik pakaian Santa tersebut agar agar terlihat normal memang sangat manis. Ekspresinya yang malu-malu karena diperhatikan banyak orang...Sangat manis.

  Tobe, kerja bagus! Mungkin benar adanya kalau Tobe adalah pria yang baik...Mungkin kalau begini terus, aku tidak keberatan berteman denganmu. Meski, aku mungkin akan melupakannya dalam seminggu. Tidak, tidak, bukan ‘mungkin’. Tapi aku pasti akan melupakan Tobe dalam seminggu.

  Tobe mengangguk seperti merasa puas.

  “Ooh, kurasa ini sangat bagus? Baiklah, ayo kita panggil pelanggan bersama-sama. ‘met datang, cake pak?’”

  Tobe tampaknya mencoba memberitahu Totsuka cara memanggil pelanggan, tapi apakah benar begitu...? Bahkan Yukinoshita saja dibuat pusing melihatnya.

  “Apa sih yang sebenarnya dia katakan? Aku sendiri tidak mengerti apa yang dia katakan...”

  “Kurasa akan sulit mendengar secara utuh apa maksudnya...Kalau ada alat bantu terjemahan, mungkin isinya ‘Selamat datang, apakah anda berminat untuk beli cake?’ kurasa seperti itu.” Aku mencoba menjelaskan itu kepadanya.

  Totsuka kemudian melihatku dengan kagum.

  “Hachiman, ternyata kau memang mengerti...O-Oke, aku akan mencobanya juga. Se-Selamat datang. C-Cake...Apakah anda berminat untuk membeli cake?”

  Tiba-tiba ada sebuah gerakan.

  “Fumun, kalau begitu, kutawar 7 trilyun termasuk si penjualnya! Aku akan merebutnya darimu!”

  “Ah, maaf, bisakah saya  beli cakenya satu?”

  Aku berbaris di belakang Zaimokuza dan mengambil uangku dari dompet, menunggu giliranku.

  Di sisi lain, Yukinoshita tampak geleng-geleng kepala melihatku.

  “Kenapa kau malah membelinya...?”

  “Whoa, oh sial. Pemandangan yang tidak diduga inilah yang menghipnotisku...”

  “Ah, tapi tampaknya sebentar lagi akan ramai disini.”

  Ketika kulihat, banyak sekali orang yang melihat ke arah kami seperti tertarik dengan apa yang terjadi. Tidak beberapa lama kemudian, sudah banyak orang yang mengantri. Kalau begini, mungkin penjualannya tidak lama lagi akan selesai.

  Seperti menyadari hal tersebut, Tobe terlihat sangat percaya diri.

  “Naah, ini tampaknya akan sukses. Dengan adanya para gadis manis disini, tentunya akan menjadi penjualan yang sukses!”

  “Gadis manis!? Fu, fu, fu...”

  Hiratsuka bereaksi dengan cepat, dia menunjukkan ekspresi yang gembira.

  Melihat hal tersebut, Komachi bersuara.

  “Uu, air mataku mulai keluar...Benar sekali, pada dasarnya sensei adalah seorang gadis. Ya, kurasa begitu. Semua wanita pada dasarnya adalah seorang gadis.”

  Setelah melihat ke arah para pelanggan, Sensei berkata.

  “Fumu, mungkinkah ini yang mereka sebut dengan sebuah antrian kecil bisa menarik antrian yang lebih besar? Seperti restoran ramen.”

  “Bukankah mereka menyebutnya ‘jebakan marketing’...?”

  Well, jebakan atau tidak, kalau ini menyelesaikan masalah Tobe, kurasa tidak masalah...Tobe meminta bantuan kami dan selama Tobe juga terlibat, kurasa misi sudah terlaksana.

  Dia lalu mengambil tiga kotak cake di dekatnya dan berterimakasih kepadaku.

  “Hikitani-kun dan semuanya mau pesta sesudah ini, kan? Nih tolong terima cake ini sebagai rasa terimakasihku. Kalau perlu, aku akan memberikanmu cande light service.”

  “Kami tidak perlu lilin di kue Natal.”

  Dia lalu mengedipkan sebelah matanya. Mengganggu sekali...

  Tapi jika dia memberikannya kepada kami, maka kami akan dengan senang menerimanya.

  Aku menerima cake darinya dan Yuigahama berterima kasih.

  “Tobecchi, terima kasih ya!”

  “Nah nah, kalian membantuku, jadi kurasa ini tidak masalah. Oke, pesta! Yeah!”

  Tobe lalu menunjukkan jempol jarinya. Dia sangat mengganggu, tapi dia adalah pria yang baik. Tapi tetap, dia itu sangat mengganggu sekali.

  “Aku tidak paham yang kau katakan, tapi terima kasih.”

  Komachi lalu berterima kasih kepadanya. Kami lalu mengatakan selamat tinggal dan meninggalkan tempat itu. Kalau kami ada disana lebih lama, kurasa kami hanya akan mengganggu.

  Tepat ketika kami hendak pergi, Totsuka melambaikan tangannya. “Oke, sampai jumpa lagi, Tobe-kun.”

  “Weey, sampai jumpa!”

  Tobe melambaikan tangannya kepada kami sambil melayani pelanggan. Suaranya sangat keras sekali.

  “...Sial, aku cemburu nih. Aku ingin menghabiskan tahun depan dengan ditemani Ebina-san juga...Huh? Tapi tahun depan kan ujian kelulusan? Beeh. Ini buruk sekaliiii.”

  Meninggalkan suara itu di belakang, kami lalu berjalan menuju pintu keluar dari mall tersebut.

 







x  x  x








  Setelah meninggalkan mall, Yuigahama mengajak kami ke sebuah tempat karaoke di depan stasiun. Setelah memasuki ruangan yang dipesan, semua orang tampak memegang crackers di tangan masing-masing.

  Setelah semuanya terlihat siap, Yuigahama mengatakan “Ayo!”

  “Selamat Natal!”

  Mengikuti suara berisik dari crackers tersebut, suara kaleng minuman dan tos mulai ramai. Semua orang merayakan Natal.

  Tapi, aku malah memandangi ruangan ini.

  “Jadi, kenapa memilih karaoke?” tanyaku.

  Yuigahama yang menyiapkan piringnya menjawab.

  “Kalau kita ke tempat Yukinon, para tetangga akan komplain karena kita akan sangat berisik. Juga, tempat karaoke ini memperbolehkan tamu membawa cake dari luar”

  “Uh, ya sudahlah, bukannya aku mau komplain...”

  Ketika aku mencoba berbicara, Yukinoshita berbicara.

  “Cakenya sudah kupotong. Tapi, aku tidak menyangka kalau kita dapat tiga kue cake darinya.”

  Yukinoshita mengatakan itu dan membagikan cakenya.

  Komachi mengangguk. 

  “Tobe-san memang orang baik, benar tidak?”

  “Apa cuma aku saja yang merasa kata-katamu itu merujuk kalau dia orang yang nyaman?”

  Memang benar kalau Tobe itu orang baik, tapi tolong jangan lebih dari itu! Itu membuatku merasa buruk kepadanya. Tidak lupa kalau Isshiki juga sering memanfaatkannya, dan itu bukanlah hal yang patut ditertawakan...

  “Ini, Hachiman. Ada ayam juga.”

  “Ooh, terima kasih” kataku, sambil mengambil ayam tersebut.

  Zaimokuza yang duduk di sebelahku mengatakan itu sementara Sensei yang ada di seberangku sedang menuangkan minumannya.

  “Hachiman, daging itu enak. Apalagi yang digoreng, benar-benar terasa sampai di hati...”

  “Ayolah, minum, minum lagi, ini kan cuma chanmery.”
[note: Chanmery adalah minuman bersoda 0% alkohol dan memiliki rasa beragam. Botolnya mirip-mirip minuman keras, sering digunakan dalam acara pesta, natal, dan tahun baru. Berminat? Kalau tidak salah 360ml sekitar 250Yen.]

  Semua orang tampaknya menikmati pesta Natal ini dengan caranya masing-masing. Kami memakan ayam, cake, terlibat percakapan, dan saling tos minuman...

  Tapi tunggu dulu. Tunggu dulu!

  Apakah ini yang disebut Natal...? Keraguan ini seperti tertinggal di kepalaku.

  Aku secara perlahan menaruh gelasku kembali di meja.

  “Hei, aku bisa tanya...?”

  “Ada apa?” Yuigahama melihatku sambil mengunyah cakenya.

  “Kalau begitu, ini apa bedanya dengan pesta ulang tahun?”

  “Eh?”

  Ketika kutanya itu, Yuigahama terdiam.

  “Maksudku, kita kan di karaoke, memakan makanan, cake, dan tos minuman...Apakah ini adalah cara yang benar untuk merayakan Natal? Aku tidak merasakan sesuatu yang berbeda dari ‘weey, weey’ dan sekarang aku mulai ketakutan dengan apa yang sedang kulakukan ini...”

  “I-Itu, umm...” Yuigahama tampak gagap ketika menjelaskannya, diapun langsung memalingkan wajahnya.

  Komachi menatapku dengan wajah yang kurang senang. “Uwaah, kau ini mengganggu saja, onii-chan.”

  Aku bukanlah satu-satunya orang yang merasakan itu, karena Yukinoshita yang sedang memakan cakenya juga terlihat memikirkan sesuatu.

  “...Tampaknya begitu. Bagaimana bisa pesta ini dikatakan berbeda dengan pesta ulang tahun...?”

  “Ha! Ini buruk sekali. Ketidaknyamanannya mulai menyebar!”

  Komachi mengatakan itu dan Sensei mulai tertawa.

  “Hikigaya, kau ini seperti Cheetah...Tepat ketika kaupikir kau sudah selangkah ke depan, kau tiba-tiba mundur dua langkah...”

  Sensei mengatakan itu sambil tersenyum.

  “Aah! Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi suasana yang suram terus meningkat!” Komachi mulai berteriak.

  Totsuka tampaknya menyadari sesuatu.

  “Ah, tapi Hachiman, kita masih ada kegiatan tukar hadiah. Mungkin itulah yang membuat pestanya serasa menjadi pesta Natal!”

  “Ooh, kurasa kau benar!”

  Begitu ya, bertukar hadiah memang sangat Natal-banget. Tidak seperti pesta ulang tahun dimana kita hanya memberikan hadiah secara sepihak, Natal ada acara bertukar hadiah.

  Komachi lalu mengepalkan tangannnya.

  “Bagus! Bagus Totsuka-san! Kalau begitu, saatnya tukar hadiaaaah! Oke, oke! Semuanya, tolong ambil hadiah kalian masing-masing! Taruh hadiahnya di tengah meja!”

  Komachi mulai memberikan perintah untuk menghilangkan suasana kaku ini.

  “Ini, kurasa begini, ya?”

  Berawal dari Totsuka yang mengikuti instruksi Komachi. Yang lainnya mulai menaruh hadiahnya di atas meja.

  “Oke! Sekarang kita akan mencampur aduk hadiahnya!”

  “Saatnya bertukaaaar!”

  Menggunakan teriakan Zaimokuza sebagai sinyal, Komachi mulai menjelaskan aturan tukar hadiahnya.

  “Jadi kita akan memberikan hadiah ke setiap orang, dan orang itu akan memberikan hadiah ke sebelah kirinya. Begitu seterusnya sampai musik berakhir. Ketika musik berhenti, hadiah apa yang ada di tanganmu, maka itulah yang kauterima.”

  “Well, lebih cepat lebih baik. Sekarang, nyalakan musiknya!”

  Hiratsuka-sensei mengatakan itu sambil menekan tombol di remote control karaoke. Tampaknya karaoke ini memang punya fitur untuk kegiatan semacam ini, karena ketika tombol ditekan, ada musik khusus yang seperti dirancang untuk ini.

  Ketika musik dimainkan, semua orang tampak memberikan hadiah di tangannya ke sebelah kirinya dengan diam. Dan semua orang tampak diam ketika melakukannya.

  Melihat suasana yang agak aneh ini, Yukinoshita berbicara.

  “Mengapa mendadak sunyi...?”

  “Ini, terlihat jauh lebih normal dari yang kuharapkan...Hei, Yuigahama, apakah seharusnya memang begini?”

  “U-Ummm...Well, kebanyakan, memang semacam ini, kupikir. Mungkin memang pada dasarnya pesta Natal tidak seantusias pesta-pesta yang lain...”

  “Kupikir hanya aku sendiri yang mulai kurang puas...Oh, musiknya berhenti.”

  “Okeeee. Sekarang Onii-chan buka dulu hadiahnya!”

  Merasa disebut oleh Komachi, aku mengambil hadiah yang ada di tanganku dan membukanya.

  “Aku duluan? Apa ini ya....Oh, ini...USB!”

  “Gefukon, gefukon, okopoon. Ternyata kau menerima hadiahku.”

  Zaimokuza mengatakan itu setelah terbatuk-batuk dengan suara aneh. Apa itu benar-benar batuk?

  “Ooh, Zaimokuza, huh? Ini diluar kebiasaanmu...Ada apa dengan hadiahmu ini?”

  Aku bertanya begitu karena tidak biasanya dia memilih sesuatu yang berguna semacam ini.

  Zaimokuza membetulkan kacamatanya dan tersenyum.

  “Ini tidak seperti dugaanmu, Hachiman. Aku sudah memastikan kalau di dalam USB itu ada dokumen yang berisi light novel milikku untuk kaubaca.”

  “Apa-apaan ini? Aku tidak butuh itu!”

  “Fuhahaha! Ketika musim dingin, lakukan sesuatu yang berguna seperti membaca itu! Sekarang, yang kupegang ini hadiah dari siapa?”

  Zaimokuza lalu membuka hadiah di tangannya, dia tampak tidak mempedulikan komplainku.

  “Oh, apa ini!? Bukankah ini semacam sofa kecil!?”

  Di tangan Zaimokuza ada sebuah bantal kecil untuk kucing.

  Melihat itu, Yuigahama berkata. “Ah, bukankah itu mirip dengan sofa yang membuat orang berguna menjadi tidak berguna tadi?”

  “Kalau begitu, itu artinya hadiah dari Hikigaya-kun?” tanya Yukinoshita.

  “Yeah. Bantal duduk mini tersebut kubeli karena sofa tadi terlalu besar dan mahal.” Jawabku.

  Aku akhirnya tidak tahu harus membeli apa dan kuputuskan untuk membeli apa yang direkomendasikan Yukinoshita di toko tadi.

  Zaimokuza lalu memegangi bantal itu sekedar memastikan kualitasnya.

  “Memang, kurasa ini cukup bagus. Mungkin sejak nanti malam, aku akan memeluk bantal ini ketika tidur.”

  ‘Er, oi hentikan itu, menjijikkan sekali!”

  Dia tidak mendengarkan satupun yang kukatakan. Zaimokuza lalu menaruh bantal tersebut di samping dan mencoba menaruh kepalanya di bantal tersebut.

  “Hmm, kucoba dulu...Oh? Ununu...I-Ini!” Mata Zaimokuza seperti terkaget-kaget. “Kehangatan dan kelembutan ini, dan bagaimana ini sangat pas sekali di leherku...Ah, aku, tidak bisa laagi....Akuuuu ingin tiduuuuur...!”

  Lalu Zaimokuza terdiam.

  “...Ooh, Zaimokuza bisa menjadi diam. Kurasa bantal ini memang sangat berguna!”

  Tanpa mempedulikan Zaimokuza yang tertidur, tukar hadiah dilanjutkan kembali.

  “Um, oke. Selanjutnya Hiratsuka-sensei?” Komachi menyebut namanya.

  Hiratsuka-sensei mengangguk dan membuka hadiahnya.

  “Umu, ini dibungkus dengan manis sekali...Mmm, oh, krim pelembab kulit ya?”

  Ketika kulihat reaksi orang sekitar, Totsuka bereaksi.

  “Ah, ya. Musim ini banyak sekali udara kering. Jadi ini bisa membuat kulit Sensei terasa lembut. Saya sering memakai itu ketika ada kegiatan Klub.”

  “S-Sai-chan...Kau luar biasa...”

  “Melebihi kekuatan dari para gadis...”

  Yuigahama dan Komachi tampak terkagum-kagum. Tentunya, aku juga. Tapi Hiratsuka-sensei, tidak begitu...

  “Begitu ya, jadi ini adalah kekuatan para gadis...Jadi kalau kugunakan ini, kekuatan gadis milikku akan meningkat? Kurasa aku bisa menggunakan pelembab ini, karena aku juga merasa kalau udara di Chiba belakangan ini cukup kering.”

  Entah mengapa, mendengar kata-katanya membuat suasana disini menjadi kering juga. Komachi yang merasakan itu, mulai bereaksi.

  “Ha! Sial! Suasananya menjadi suram lagi! Ooke, selanjutnya Komachi! Oh, ini dibungkus dengan sangat menarik...Dan isinya adalah...daun teh. Tampaknya ini dari Yukino-san!”

  Itu adalah kaleng berbentuk kotak kecil. Sesuatu yang pernah kulihat di klub.

  Melihat tebakan Komachi, Yukinoshita tersenyum.

  “Ya. Aku memutuskan untuk membeli sesuatu yang terkesan tidak terlalu kuat...”

  Yukinoshita lalu menambahkan. “Hanya saja...”

  “Hanya saja?” Komachi bertanya lebih jauh.

  Yukinoshita lalu menatapku. “Kupikir mungkin Komachi-san lebih suka meminum kopi.”

  Aah, begitu ya. Sekarang dia mengatakan itu, memang aku sering terlihat olehnya sedang meminum kopi. Bahkan di klub, sebelumnya aku selalu membawa MAX COFFEE. Karena itulah, dia pikir Komachi, yang setiap hari bersamaku mungkin meminum kopi. Apa yang Yukinoshita pikirkan adalah hal yang bisa kumaklumi.

  “Tidak masalah. Aku sering minum kopi karena sekedar hanya untuk bisa menemaninya minum. Tapi, dengan ini, kurasa kakakku akan merasakan bagaimana enaknya minum teh!”

  “Umu, menerima hadiah yang bisa mengembangkan rasa ketertarikanmu memang bagus.” Hiratsuka-sensei mengatakan itu sambil mengoleskan krim pelembab itu di tangannya.

  Komachi lalu menganggukkan kepalanya.

  “Benar! Oke, oke, Yukino-san, kenapa kau tidak buka hadiahmu?”

  “Tentu.”

  Yukinoshita lalu membuka hadiah di depannya dan Yuigahama tersenyum.

  “Ah, itu dariku!”

  “Oh, ini garam untuk berendam? Kemasannya juga manis...Ini memang Yuigahama-san sekali. Kupikir ini bagus sekali.”

  “Benar! Juga, kau bisa menggunakan scrub untuk itu!”

  “Tampaknya ini adalah pembicaraan antar wanita...”

  Aku menggumamkan itu ketika melihat adegan manis di depanku ini.

  Hiratsuka-sensei menepuk lututnya. 

  “Aduh, garam berendam ya? Kupikir hadiahku tadi mirip dengan Yuigahama...”

  “Eh, Sensei membeli sesuatu yang seperti itu?” Aku mencoba bertanya kepadanya.

  Dia lalu menepuk keningnya sendiri. “Yeah, ternyata barang yang kubeli memang mirip-mirip dengan selera gadis SMA jaman ini huh? Oh, mau bagaimana lagi?”

  “Orang ini tiba-tiba merasa senang tanpa ada alasan apapun...”

  Kalau masalah hadiah yang mirip dengan pikiran gadis SMA saat ini, kurasa hadiah dari Totsuka-lah yang paling cocok.

  Yuigahama lalu melirik ke arah Totsuka. 

  “Eeh, kira-kira apa itu ya? Aku sangat penasaran nih. Sai-chan, coba buka itu.”

  “Oke. Kubuka ya...Ummm, ini...”

  Ketika dia membuka bungkusnya, terlihat sebuah kotak kecil.

  “Sebuah perlengkapan mandi untuk pemandian air panas...”

  “Kurasa itu ada hubungannya dengan garam untuk berendam...Tapi pada dasarnya itu adalah hal yang sangat berbeda...”

  Yukinoshita mengatakannya sambil memegangi keningnya.

  Komachi lalu berkomentar. 

  “Mmm, itu memang pikiran para gadis, tapi...Gadis yang sudah tua...Gadis dewasa!”

  “Uu, mau bagaimana lagi, tapi tolong pertimbangkan perasaanku ketika mengatakannya...”

  Sensei menyeka matanya seperti hendak menangis.

  Totsuka lalu tersenyum seperti bunga yang habis mekar. 

  “Tapi aku suka pergi ke pemandian air panas, jadi aku sangat senang menerima ini.”

  Be-begitu ya...Ya kalau Totsuka senang, maka apapun oke. Sebenarnya, yang kubayangkan bukanlah itu, tapi aku setuju dengan Totsuka. “Y-Yeah...Well, bagi kami para pria, mungkin itu adalah hal yang bagus.”
[note: Itu sebenarnya impian Hachiman yang belum terwujud, yaitu mandi di pemandian air panas Arashiyama berdua dengan Totsuka, volume 7.]

  “Be-Benar kan? Mungkin ini terlalu dini, tapi kuberitahu tips bagus, selesai mandi segeralah minum bir, rasanya luar biasa sekali!”

  Hiratsuka-sensei kembali ceria dan mengatakan sesuatu yang terdengar maskulin.

  “Kupikir aku mulai paham kenapa sensei belum menikah. Dia terlihat jauh lebih maskulin dari para lelaki disini.” Komachi mengatakan itu dengan nada yang sedih.

  Oke, well, benar kalau Sensei terlihat keren dibandingkan wanita yang lain, tapi aku juga sedih kalau dia terlihat lebih maskulin daripada para pria disini...

  “Oke, jadi terakhir punyaku.”

  Yuigahama melihat hadiah di depannya dengan antusias.

  “Oh, itu artinya hadiah dariku!”

  “Dari Komachi-chan? Huh, itu malah membuatku semakin penasaran. Boleh kubuka?”

  “Silakan, silakan!”

  Yuigahama lalu membuka hadiahnya.

  “Ah, ini sabun! Terima kasih! Ini kan sabun yang lagi ramai diperbincangkan belakangan ini!”

  “Benar kan! Aku menggunakan itu juga dan aromanya sangat enak!”

  Hoh, jadi inikah tukar hadiah diantara para gadis? Tapi, kenapa aku malah merasa kesal melihat itu?

  “...Huh? Kau selama ini memakai sabun itu? Aku tidak pernah melihat sabun itu ada di kamar mandi kita...”

  “Ah, yup. Aku membawanya sendiri ketika mandi. Maksudku, aku tidak mau kalau onii-chan dan ayah juga memakainya. Itu akan sangat menjijikkan.”

  “Eeeh...? Bukankah itu terdengar sangat kejam? Onii-chan merasa terkejut sekarang...”

  ‘Menjijikkan’, huh...? A-Ayolah, ini kan cuma sabun...? Ini membuatku depresi.

  Yuigahama lalu menepuk kedua tangannya seperti menyadari sesuatu.

  “Oh aku tahu! Yukinon, ayo kita gunakan bersama hari ini. Oh, dengan garam berendam itu juga! Aku tidak sabar untuk mencobanya!”

  “Aku tidak keberatan, tapi...Eh? Maksudmu tadi mandi bersama?”

  “Eh? Tapi kalau tidak begitu, kita tidak bisa memakainya bersama...”

  Yukinoshita dan Yuigahama mengatakan “eh?” dan “eh?”, sambil melihat satu sama lain. Akupun juga ikut-ikutan “eh?” sambil membayangkan berbagai hal. Ma-Mandi bersama katamu? Lagipula, mengapa membahas hal semacam itu di tempat seperti ini!? Kau membuat imajinasi orang-orang disini mulai kemana-mana gara-gara mengatakan itu!

  “Hei Yurigahama, eh maksudku, Yuigahama. Kalau berbicara hal itu, sebaiknya setelah...Itu maksudku, karena...”

  Meskipun aku berusaha menjelaskan itu dengan kata-kata yang absurb, wajah Yuigahama terlihat memerah.

  “...Ah, y-ya.”

  “Yuigahama-san, kau konyol sekali...” Yukinoshita mengatakan itu dengan pelan. Yukinoshita-san, kalau kau mengatakan itu dengan wajah memerah seperti itu, maka wajahku-pun bisa ikut-ikutan memerah...Komachi mulai melihat kami berdua dengan tatapan yang aneh.

  “Gefun, gefun, morosu...fuumu...Setelah membuka mataku, suasana disini malah terlihat agak janggal, ada apa...?”

  “Ah, Chuuni-san, kau baru bangun? Tidurlah lagi lebih lama.”

  Komachi mengatakan itu sambil tersenyum “ufufu” dan mengarahkan itu ke Zaimokuza yang penasaran. Komachi, kau sangat menakutkan...

  Dan begitulah, acara utama hari ini, tukar hadiah, telah berakhir. Sekarang apa yang akan kita lakukan?

  “Jadi setelah tukar hadiah selesai...Aku masih belum merasakan ada nuansa Natal disini...”

  Yuigahama dan Komachi terlihat sedang berpikir. Lalu Komachi berkata. “Ha! Kalau bicara Natal, pastinya bicara lagu Natal!”

  “Nah, itu dia!” Yuigahama terlihat setuju dan Komachi mengangguk.

  Benarkah?

  Tampaknya bukan aku saja yang berpikir seperti itu. Yukinoshita lalu berkata.

  “Kalau cuma bernyanyi saja bisa merasakan Natal, apakah benar bisa begitu...?”

  Ketika Yukinoshita mengatakan rasa skeptisnya, Totsuka seperti memikirkan sesuatu.

  “Lagu-lagu Natal memang punya imajinasi yang bisa membuat pendengarnya merasakan suasana tersebut.”

  “Tepat sekali. Sebuah lagu yang menjadi tema suasana merupakan lagu yang sebenarnya!” Zaimokuza menganggukkan kepalanya seperti memikirkan sesuatu yang bagus.

  Tapi, tiba-tiba Sensei yang duduk tenang terlihat aneh dan berteriak “Gahaha!”

  “Oh, mau bernyanyi? Tampaknya ide bagus, bernyanyilah! Kalau kalian tidak mau bernyanyi, maka akulah yang akan menyanyikan Jingle Bell!”

  “Apa Sensei mabuk? Harusnya tidak ada minuman alkohol disini.”

  Yukinoshita mengatakan itu, dan tentunya disini tidak ada minuman beralkohol. Dia mungkin mabuk karena suasananya.

  Seperti terpengaruh dengan suasananya, Yuigahama memegang mic dan berdiri.

  “Oke! Yuigahama Yui akan bernyanyi kali ini...! Ditemani...Yukinon!”

  “Eh, tunggu, kenapa aku juga...?”

  Yukinoshita mencoba untuk menolak mic yang diberi Yuigahama, tapi setelah beberapa kali dipaksa, akhirnya dia tidak bisa menolaknya lagi.

  “Weeey!”

  Komachi menabuh tamborin untuk memanaskan suasananya.

  ...Well, kalau bukan karena peluang seperti ini, mungkin kita tidak akan pernah mendengar keduanya bernyanyi. Oleh karena itu, well, mungkin kita bisa mempertimbangkan ini sebagai even spesial Natal.

  Kalau benar begitu, maka kupikir ini bisa dikatakan pesta Natal ala kita.










x  x  x










  Angin dingin bertiup di sepanjang jalan menuju stasiun.

  Setelah pesta selesai, kami meninggalkan karaoke, dan matahari ternyata sudah tenggelam sejak lama. Dibandingkan tadi sore, jalan di sekitar sini tampak sepi dari pejalan kaki.

  Natal akan segera berakhir. Ketika berjalan di jalan setapak ini, aku merasakan sebuah kesepian yang ditiupkan oleh angin ini.

  Yuigahama lalu berkata.

  “Mmm, aku yakin kalau tadi kita sudah bernyanyi dengan sepenuh hati...”

  “Pada akhirnya, itu hanya berakhir menjadi sebuah karaoke biasa...?” kataku.

  Jadi, apa yang dimaksud dengan pesta?

  Yuigahama lalu mencoba membela diri. 

  “La-Lalu apa masalahnya? Kurasa itu sangat menyenangkan.”

  “Tapi, apakah hari ini cukup sebagai perwujudan rasa terima kasih kepada Komachi-san dan yang lain?”

  Yukinoshita menggumamkan itu seperti khawatir akan sesuatu. Memang benar, pertama-tama, tujuan kita adalah berterimakasih ke Komachi dan yang lainnya. Tapi, kalau dilihat dari ekspresi mereka tadi, kurasa kita tidak perlu mengkhawatirkannya.

  “Well, kupikir mereka tadi terlihat gembira, kurasa itu harusnya cukup.”

  “Uh huh, kuharap begitu. Ah, tapi Hikki, kau tidak perlu menemani kita sampai sejauh ini? Meskipun Komachi yang menyuruhmu tadi, tapi kau tidak harus melakukannya.”

  “Memang benar. Apartemenku sudah terlihat di depan.”

  Yukinoshita melihat ke ujung dari jalan ini. Apartemen Yukinoshita terlihat jelas dari sini. Jarak antara stasiun dan apartemennya tampak tidak begitu jauh. Aku sebenarnya tidak berniat mengantar mereka, tapi Komachi memaksaku, dan disinilah aku.

  “...Well memang ada cake dan barang-barang lainnya. Tapi kurasa ini tidak terlalu merepotkan.”

  “Begitu ya. Kurasa itu sangat membantu. Tadi memang menyisakan cake yang sangat banyak.”

  “Tapi, tapi, terasa sangat bagus jika punya banyak cake yang tersisa! Salah satu mimpiku! Memakan semuanya!”

  Yuigahama mengatakan itu dengan ekspresi yang statis, Yukinoshita melihatnya dengan dingin.

  “Kalau kau memang bisa memakan semuanya, kurasa tidak masalah...Sebenarnya, itu sangat tidak menyenangkan.”

  “Jadi kau pernah mencobanya...”

  Ketika mengobrolkan ini dan itu, kami akhirnya keluar dari area taman dan masuk ke trotoar utama. Disini, kami bisa melihat dengan jelas apartemen Yukinoshita.

  “Ah, apartemen Yukinon terlihat jelas.”

  “Ya. Hikigaya-kun, kurasa kami bisa berjalan sendiri dari sini.”

  Kami berhenti di samping zebra cross, penyeberangan jalan di dekat jalan utama menuju apartemennya.

  “Begitukah? Baiklah, ini, cakenya.”

  “Okeee.”

  Aku memberikan cake yang kupegang sejak tadi ke Yuigahama.

  “...Juga, bisakah kalian menerima ini?”

  Aku mengambil dua buah bungkusan kecil dari kantong belanjaanku.

  Meski Yukinoshita dan Yuigahama menerima itu, mereka menatapnya dengan penuh tanda tanya.

  “Eh? Apa ini...Hadiah Natal?”

  “Untukku dan Yuigahama-san? Sepertinya ada dua buah.”

  Ekspresi mereka yang menatap kedua benda itu dengan ekspresi tanda tanya itu membuatku merasa malu.



  “...Well, ini sebagai terima kasih karena gelas teh kemarin.”

  Aku mengatakan itu tanpa memandang langsung ke mereka karena ini adalah momen yang agak memalukan.

  “...Oh oke, boleh kubuka?”

  “Mm, tentu.”

  Aku menjawab mereka sambil kebingungan. Ketika aku memikirkan reaksi mereka seperti apa, tanganku mulai berkeringat meskipun ini sudah masuk musim dingin.

  Aku bisa mendengar suara pita hadiah yang terbuka karena ditiup angin.

  “Waaa...”

  “Ini Scrunchie...”

  Melihat ekspresi hangat mereka, membuatku merasa lega.

  “Punyaku dan Yukinon terlihat ‘matching’!”

  Yuigahama mengatakan itu ketika melihat miliknya dan Yukinoshita.

  “Yuigahama biru dan punyaku berwarna pink...? Apa ini tidak tertukar?”

  “Tidak, menurutku itu sudah benar, atau begitulah yang kupikirkan...”
[note: Hachiman menyukai warna pink, vol 9 chapter 7. Sedang Yui suka memakai barang dengan warna-warna girly dan ceria seperti pink. Yukino pikir kalau yang berwarna pink mungkin lebih tepat diberikan ke Yui.]

 

  Entah mengapa, aku memutuskannya begitu. Akupun tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana. Bahkan kalau aku sendiri yang menanyakan itu kepada diriku. Tapi, perasaanku mengatakan kalau ini sudah benar, karena ini sudah kupikirkan dengan matang; Kurasa akhirnya, itulah kesimpulan yang kudapatkan. Bahkan jika seandainya aku sendiri tidak mengerti, kurasa tidak masalah. Kurasa, hadiah atau semacamnya memang seperti ini
[note: Hachiman menyukai pink, dan Hachiman sadar betul kalau dia menginginkan Yukino memakai ikat rambut berwarna pink itu. Bahkan pembaca-pun tahu ini ujungnya kemana...]





  “Begitu ya...”

  Yukinoshita mengatakannya tanpa bertanya lebih jauh. Dia lalu memegang scrunchie di tangannya itu dan tersenyum kepadaku.

  “Kalau ini diberikan kepadaku sebagai bentuk terima kasih, maka aku akan menerimanya dengan senang hati.”

  “Yeah, Hikki...Terima kasih. Aku akan merawatnya.”

  Yuigahama menatapku dan menaruh scrunchie itu di pergelangan tangannya. Aku tidak mampu menatap mereka berdua karena malu.

  “Yeah, kupercayakan itu kepada kalian...”

  Setelah mengatakan itu, lampu penyeberangan yang berwarna merah berubah menjadi hijau.

  “Ba-Baiklah, sampai jumpa.”

  Aku menggunakan itu sebagai sinyal untuk berpisah.

  “Yeah, sampai jumpa...! Selamat malam!”

  Setelah Yukinoshita dan Yuigahama mengangguk, mereka mulai berjalan menyeberangi zebra cross.

  Setelah melihat mereka berjalan, aku membalikkan badanku.

  “Baiklah...”

  Aku lalu berjalan sambil melihat ke angkasa.

  Langit malam di musim dingin terlihat cerah, dan aku bisa melihat bintang Orion di angkasa. Mungkin ada bintang yang lain, tapi sayangnya, aku hanya tahu Orion.

 

  Kupikir, ada banyak hal dimana kau tidak akan bisa mengenalinya dari melihatnya saja. Apakah mungkin, akan ada hari dimana aku bisa melihat hal yang dulu tidak terlihat olehku?

  Dengan dipandu para bintang-bintang di langit, aku mulai melangkahkan kakiku...

  “Hikigaya-kun.”

  “Ya?”

  Aku membalikkan badanku ketika namaku dipanggil, dan disana ada Yukinoshita berdiri di tengah zebra cross. Yuigahama sendiri terlihat berada di ujung jalan dan melihat Yukinoshita dengan penasaran.

  Yukinoshita berdiri disana, dia terlihat sedang mengikat rambut panjangnya, dan ketika kedua pasang mata kami bertemu, dia merapikan rambutnya itu dengan jari-jemarinya.

  Scrunchie berwarna pink terlihat sedang menghiasi rambutnya yang hitam dan mengkilap, terlihat bercahaya terang meskipun malam ini terasa gelap gulita.

  Yukinoshita lalu berhenti merapikan rambutnya, dia seperti agak ragu-ragu, tapi setelah melihat angka hitung mundur yang terdapat di lampu penyeberangan, dia menarik napas dalam-dalam. Dia lalu membuka tangannya dan melambaikannya kepadaku.

  “...Selamat Natal ya.”

  “...Y-Ya...Selamat Natal juga untukmu.”

  Aku seperti terhipnotis melihat adegan ini, untungnya aku bisa menahan diriku.

  Yukinoshita terlihat tertawa kecil dan dan tersenyum. Dia lalu bergegas ke arah seberang jalan dimana ada Yuigahama yang sedang menunggunya.

  Keduanya tampak berbincang sebentar. Lalu Yuigahama melambaikan tangannya dengan pergelangan tangannya masih memegang scrunchie berwarna biru tersebut.

  Setelah itu, aku membalikkan badanku.

  “Kurasa, waktunya pulang...”

  Meski sudah berjalan seharian, entah mengapa langkahku terasa ringan. Dan tanpa kusadari diriku sedang berjalan sambil menggumamkan sebuah lagu.

  Gorden yang menutupi malam ini mulai diturunkan bersamaan dengan angin dingin yang meniup wajahku. Meski begitu, cahaya dari lampu kota seperti sebuah lilin hangat, menandakan kalau Natal akan segera berakhir.

  Doa yang tidak didengar dan harapan yang tidak dikabulkan, pasti akan selalu ada di dunia ini.

  Tapi, bersamaan dengan desahan napasku ini, apa yang kuinginkan  ternyata telah dikabulkan, setidaknya untuk hari ini.

  Ada sebuah cerita kalau keberadaan dari orang lain bisa menyalakan lilin yang sudah mati dari seseorang...Ternyata itu benar adanya.

  Entah itu kau sedang merasa sendirian ataupun bersama orang lain, Natal akan datang kepadamu.

  Oleh karena itu, bagi semua yang ada di luar sana, selamat Natal...










x Vol 6.5 Special/ 9 Chapter 11 | END x



Buat yang belum tahu Scrunchie itu apa, lihat apa yang dipakai oleh Yukino di rambutnya, pada gambar di atas.



  Mari kita tidak usah berputar-putar, rambut Yui pendek, Yui tidak akan memakai Scrunchie. Hachiman pernah melihat Yukino memakai scrunchie di vol 6 chapter 6, ketika membesuknya di apartemennya.

  Hachiman memiliki maksud terselubung dengan memberi hadiah scrunchie, yaitu untuk Yukino. Fakta kalau Hachiman memaksa Yukino harus menerima yang berwarna pink, sedang warna pink adalah warna favorit Hachiman, artinya Hachiman ingin Yukino memakai scrunchie dengan warna kesukaannya.

  ...

  Yukino sebenarnya hanya menyindir tentang Max Coffee membuat gigi bolong. Faktanya, Yukino mendengarkan betul kata-kata Hachiman soal Max Coffee bisa menghilangkan lelah. Buktinya? Vol 10.5 chapter 3, Yukino membawakan Hachiman Max Coffee ketika kelelahan mengerjakan deadline koran.

  ...

  Kata-kata Yui di mall ketika bertemu Hachiman, tentang memikirkan betul siapa yang akan menerima hadiahnya, menjadi bumerang bagi Yui.

  Hachiman benar-benar memikirkan hadiah scrunchie tersebut, dan itu untuk Yukino.

  ...

  Kemungkinan besar Komachi ingin mengulangi kesuksesan perayaan ulang tahun Yui di tempat arcade, vol 7.5 special. Para peserta kegiatan kali ini sama dengan chapter tersebut, yaitu Yukino, Yui, Hachiman, Komachi, Zaimokuza, dan Totsuka. Lucunya, di kedua chapter, mereka sama-sama kebetulan bertemu Hiratsuka-sensei.

  Dengan kata lain, kemungkinan besar yang mengajak Zaimokuza hadir adalah Komachi.

  ...

  Soal kejadian sofa di mall, Komachi berharap istri (pacar) Hachiman kelak adalah gadis yang bisa membuat Hachiman yang tidak berguna, menjadi berguna.

  Ini terjadi di vol 10.5 chapter 1, Hachiman memutuskan untuk siap bekerja setelah lulus kuliah, kontradiksi dengan cita-citanya yang hendak menjadi suami rumahan.

  Dalam chapter tersebut, Yukino mempertimbangkan ulang cita-citanya yang awalnya hendak menjadi Ibu Rumah tangga. Melihat Yukino merubah cita-citanya karena tahu Hachiman tidak mau bekerja ketika berumah tangga, Hachiman berniat untuk bekerja, sehingga Yukino bisa bebas menentukan cita-citanya tanpa pengaruh dirinya.

  Ini karena Hachiman mengatakan di depan Yukino, di chapter yang sama, kalau dia akan berpacaran ketika kuliah nanti. Sedang, mereka berdua sepakat untuk kuliah bersama-sama. Jelas ini akan mengarah kemana...

  ...

  Jadi, Yukino yang memanggilnya, memakai hadiah Natal dari Hachiman, memakai warna kesukaan Hachiman...Adalah petunjuk yang diberikan oleh Hari Natal, dan merupakan harapan Hachiman.

  Ini sekaligus menjawab apa harapan dari Hachiman di Natal ini, di ending vol 9 chapter 10.

  ...

  Jujur saja, saya tidak menduga kalau endingnya akan se-romantis ini.

  ...

14 komentar:

  1. Wah. Ngena banget, ini klo cuma liat anime dan gak baca LN. Gak bakal kejawab tuh pertanyaan. Romantis bet, pasangan yg tau makna kata dan perbuatan

    BalasHapus
  2. Alur percintaannya pelan tapi pasti. Bikin ngiri 😁

    BalasHapus
  3. Hohoho.... Yang baca ikut tersipu ga....???!!

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Kasian si yui...cuma bisa ngeliatin di ujung jalan...pffft :v

    BalasHapus
  6. seperti tak ada perbedaan kasta sosial diantara mereka,logis juga karna mereka orang2 dengan idealisme tinggi.
    jika di indonesia,mungkin sulit terjadi momen seperti itu.😊

    BalasHapus
  7. Sumpah itu part terakhirnya manis banget ditambah monolog Hachiman.

    BalasHapus
  8. Ceritanya seru tapi kok jadi SDH tau endingnya jad hampir gak seru karena hikigaya sebelumnya bilang tidak akan mau mempunyai pacar jadi cerita selanjutnya berfokus kepada romance story jadinya ahhhhhh

    BalasHapus
  9. Chapter favorit.... Romancenya bikin ngiri

    BalasHapus
  10. Yui mau gak sama saya saja? Mubazir

    BalasHapus
  11. kagak nyangka langsung dipake cuy😆

    BalasHapus
  12. Sayang sekali di animenya sendiri gk ada adegan ini.....sialaaaann kau feel 😡

    BalasHapus
  13. Selamat natal buat yang merayakan

    BalasHapus
  14. Di buat OVA padahal seru anjir dari pada kencan sama irohasu

    BalasHapus