Selasa, 21 Juli 2015

[ TRANSLATE ] Oregairu Vol 10 Chapter 6 : Dengan pesonanya, Yukinoshita Haruno membuat waktu berlalu begitu saja



x Chapter VI x





  







  Pada akhirnya, beberapa hari telah berlalu dan aku belum mendengar sesuatu yang berguna tentang pilihan jurusan Hayama kecuali suara-suara siswa di kelasku.

  Ketika mengamati grup Hayama, mereka menghabiskan waktu dengan kegiatan yang sama setiap harinya. Miura, bahkan Tobe, tetap berada di samping Hayama tanpa memberikan perubahan sikap apapun, meski pikiran keduanya penuh dengan Hayama sekalipun.

  Waktuku untuk menyelesaikan request dari Miura sudah hampir habis.

  Batas akhir penyerahan kuisioner tentang pilihan jurusan di kelas tiga adalah akhir bulan ini, setelah marathon Chiba. Sebelum itu tiba, aku perlu mencari jawaban dan petunjuk tentang pilihan jurusan Hayama.

  Untuk saat ini, satu-satunya hal yang kutahu tentang Hayama adalah dia belum memberitahukan ke siapapun tentang pilihan jurusannya. Untuk saat ini, pilihanku hanya mencari informasi-informasi terkait dan mencoba mengambil kesimpulan.

  Aku menghabiskan berhari-hari untuk berpikir dan tidak terasa marathon akan berlangsung awal pekan depan.

  Setelah mengamati situasi kelas, aku pergi keluar menuju lorong. Situasi kelas masih sama, stagnan. Yuigahama juga sesekali mencoba untuk mengobrol dengan Hayama dan lainnya sebelum pergi ke klub, dia sepertinya juga berusaha menyelidiki jurusan Hayama demi Miura.

  Kalau begitu, harusnya tidak masalah bagiku pergi sendirian ke klub hari ini. Ketika aku meninggalkan kelas, aku berjalan menuju lorong yang mengarah ke gedung khusus tempat klubku berada.

  Nampak di kejauhan, Hiratsuka-sensei memberi isyarat padaku untuk berjalan ke arahnya.

  "Sedang berjalan menuju klubmu?"

  "Ya."

  "Oh begitu. Kebetulan sekali. Aku hendak pergi kesana juga," kata sensei. Dia menunjuk ke arah gedung khusus dan mulai berjalan bersamaku. Sepertinya dia hendak mendiskusikan sesuatu denganku ketika sedang berjalan.

  Jika dia mau berkunjung ke klub, pasti dia hendak membicarakan pekerjaan... Seperti biasanya, percuma bila aku menolaknya. Jadi aku menurutinya dan berjalan bersamanya.

  "Kamu ada waktu luang besok, setelah pulang sekolah?"

  "Sepertinya iya."

  Sebenarnya, aku tidak ada rencana kegiatan dalam waktu dekat. Meski sebenarnya, ada request dari Miura, tetapi nampaknya tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk request itu.

  Jujur saja, aku sedang menghadapi jalan buntu terhadap request Miura.

  Kalau dipikir-pikir, apa yang kulakukan selama ini seperti bermain di baseball dan menjadi batter; menguping pembicaraan siswa sekitar (mengamati), dengan hati-hati mencari tahu aktivitas Hayama (mengamati), mencari momen dimana bisa bicara berdua dengan Hayama (mengamati), dan akhirnya tanpa hasil dan aku cuma mendapat capek saja (strike). Dengan adanya deadline batas pengiriman kertas kuisioner milik Miura di akhir bulan, hanya masalah waktu saja permainan ini akan berakhir, dan aku mendapat strike out.

  Hiratsuka-sensei, entah dia senang karena aku mau menemaninya berjalan atau aku yang tidak ada acara besok, memulai percakapan.

  "Besok, ada seminar tentang pilihan karir dan akademik universitas, namun nampaknya mereka butuh bantuan untuk persiapannya...Kulihat pengurus OSIS sudah berusaha yang terbaik untuk persiapannya, meski akhirnya harus meminta bantuan."

  Sepertinya Isshiki terlalu bersantai-santai, meski dia sudah mengerjakan tugasnya dengan baik.

  "...Lalu, ada permintaan dari Isshiki. Nampaknya dia membutuhkanmu untuk membantu pekerjaan mereka."

  Apa tadi? Apa Irohasu sedang berusaha untuk memerintahku? Kata tentang "pekerjaan" bukanlah hal yang bisa membuat hatiku berdetak kencang...

  "Tetapi kenapa dia mengatakannya melaluimu, sensei?"

  Isshiki sudah terlalu sering mampir dan bermain ke klubku, jadi kupikir dia tidak perlu meminta lewat sensei dan bisa mengatakannya langsung kepadaku.

  "Karena permintaannya datang secara resmi dari sekretariat OSIS," kata Hiratsuka-sensei sambil mengangguk. "Artinya, dia sudah bisa berpikir dewasa dengan meminta ijin guru pembinanya dahulu. Aku sebenarnya tidak tahu apa maksud sebenarnya, tetapi sumber daya manusia tidak bisa digunakan sembarangan tanpa tujuan yang jelas. Jadi, kupikir itu keputusan yang logis."

  Sepertinya Hiratsuka-sensei melihat kedewasaan Isshiki menurut sudut pandangnya...TIDAK, dia pasti sedang merencanakan sesuatu: Dia menggunakan sensei, sehingga kita tidak bisa menolak. Tetapi, kalau Isshiki sudah berusaha keras untuk membuat seminar itu, kupikir tidak ada salahnya kalau aku sedikit membantunya.

  "Ya sudah kalau begitu, saya sendiri tidak masalah...Tetapi apa sebenarnya kegiatan yang dilakukan di seminar karir dan akademik besok?"

  "Secara garis besar, akan ada diskusi tentang strategi mengerjakan ujian dan tentang jurusan. Nanti juga ada diskusi dengan alumni dari sekolah kita."

  "Apa tidak terlalu awal untuk bersiap-siap menghadapi ujiannya? Maksudku, kenapa mulainya sekarang?"

  "Memang, aku pernah memberikan materi serupa ketika aku mengajar di kelasmu."

  ...Ngomong-ngomong, kok aku tidak merasa pernah mendengar sensei membicarakannya ketika mengajar di kelas. Sepertinya aku memang melewatkannya...Wahahaha...Aku tersenyum mengingat kejadian itu.

  Hiratsuka-sensei tidak mempedulikan ekspresiku dan mengeluarkan napas kecilnya. "Itu karena sekolah kita menawarkan program bimbingan belajar tentang pendidikan internasional. Banyak siswa yang menginginkan untuk bisa belajar di luar negeri. Siswa-siswa tersebut butuh persiapan awal yang lebih baik, jadi karena itulah kita mengadakan kegiatan seminar ini lebih awal daripada sekolah lain."

  "Belajar ke luar negeri..."

  Memang benar, pilihan jurusan tidaklah terbatas hanya sekolah lokal saja. Tetapi aku tidak pernah berpikir sampai kesitu karena cita-cita tersebut terlalu tinggi, tapi pastinya ada siswa-siswa disini yang berkeinginan untuk memiliki pendidikan tinggi di negara lain. Karena itu sekolah kita menawarkan program bimbingan belajar tersebut.

  Belajar ke luar negeri, huh...?Itu luar biasa...Aku pernah ke luar negeri tapi hanya sekedar liburan, tetapi aku tidak pernah berpikir untuk tinggal disana.

  "Apa banyak siswa yang memutuskan untuk kuliah di luar negeri? Saya pernah dengar banyak orang mencantumkannya ketika mengembalikan kuisioner itu."

  "Oh, itu tidak benar. Hanya beberapa saja yang menuliskannya. Kita memang mengatakan bahwa deadline kuisionernya adalah akhir bulan ini. Biasanya orang-orang mulai mengembalikannya di detik-detik terakhir...Ahh, tapi Hayama ternyata sudah mengembalikan kuisionernya lebih dulu."

  "Ah...Begitu."

  Tiba-tiba nama itu disebut dan ini adalah keberuntunganku. Sekarang aku tidak perlu memikirkan harus berbicara apa agar menuju topik jurusan Hayama.

  Namun, Hiratsuka-sensei menatapku dengan intens.

  "Kamu tidak akan mendapatkan info tentang dirinya dariku, karena ini bersifat rahasia."

  "Ti-ti-tidak seperti aku yang ingin tahu atau semacamnya."

  "Ya, itu cukup bisa kupahami. Rasa ingin tahumu tentang orang-orang sekitarmu yang kaupikir menarik. Itu juga menjadi pembicaraan yang menarik hingga ujian masuknya tiba." Hiratsuka-sensei tersenyum seperti merasakan nostalgia. Lalu dia melanjutkan. "Siswa seperti Hayama dan Yukinoshita adalah pusat perhatian dari para guru. Mereka keduanya seperti simbol sekolah saat ini."

  "Huh, mereka sepertinya mempunyai ekspektasi dari orang sekitarnya?"

  "Nilaimu sendiri di ilmu sosial bukanlah nilai yang masuk dalam pantauan kami...Perbedaan nilaimu dengan keduanya cukup jauh." kata Hiratsuka-sensei.

  Dia terlihat kurang senang sedang ketika mengatakannya, ya seperti itulah yang terjadi. Sampai hari ini, aku belum mengembangkan suatu hubungan yang baik dengan guru-guruku. Karena itu, meskipun sering memperoleh nilai yang bagus di ujian, nilai yang tertulis di buku rapotku sepertinya ada sesuatu yang kurang. Aku tidak paham, dan tidak akan pernah paham kenapa guru-guru lebih dekat ke siswa-siswa biasa yang nakal...

  Ketika memikirkannya, Hiratsuka-sensei tiba-tiba berhenti. Dia menyentuh rambut panjangnya dan menatapku.

  "Lalu apa rencanamu sendiri?"

  "Aku berencana memilih jurusan Liberal Art." kataku

  Hiratsuka-sensei  mencondongkan kepalanya. "Bukan, bukan, maksudku setelah sekolah nanti kamu hendak menjadi apa?"

  "Suami rumah tangga."

  Ketika kujawab, tangan sensei memukul dengan pelan kepalaku. Lalu dia menatapku dengan keras. Ini tidak seperti sikapnya yang tegas seperti sebelumnya, ini seperti seorang kakak perempuan bagiku, membuatku merasa kurang nyaman. Lalu dia menghembuskan napasnya. "Cobalah kamu lihat realitanya."

  Aku bukannya hendak lari dari realitas, karena itu adalah impianku...Namun mengatakan hal itu akan membuatnya semakin kecewa kepadaku.

  Aku menggaruk pipiku, memalingkan wajahku, dan menjawab, "Aku tidak tahu mau menjadi apa nanti. Bukannya aku tidak punya beberapa angan-angan tentang pekerjaanku nantinya, tetapi aku juga masih malas untuk mengobservasi potensi pekerjaan-pekerjaan yang kuinginkan kelak. Jadi, kupikir memilih jurusan Liberal Art sudah tepat."

  "Apa kamu tertarik ke sesuatu untuk saat ini?"

  "Jika hal yang membuatku tertarik, itu pasti hobi. Melakukan sesuatu yang tidak kusuka untuk mendapatkan uang terdengar tidak enak bagiku."

  'Life is hard!' setidaknya begitu. Seperti yang novel Jinsei katakan. Benar-benar terdengar masuk akal ketika kudengar quote "life is too damn hard!".

  "...Hoo, itu memang seperti sifatmu, Hikigaya. Memang kata-katamu tadi ada benarnya. Dalam kehidupan nyata, jika kita membicarakan masa depan tergantung dari jurusan sekolahmu, maka sebagian besar pernyataan itu tidak benar." Hiratsuka-sensei menyilangkan lengannya dan melihat ke jendela. "Banyak orang yang masuk ke bisnis percetakan sementara ijasah universitasnya jurusan sains, ada pula orang yang masuk bisnis hiburan dengan ijasah jurusan sosial. Ada pula orang yang masuk universitas untuk sekedar ambil jurusan bahasa asing dan memanfaatkannya untuk keliling dunia. Orang yang masuk sekolah hukum tidak harus semuanya menjadi pengacara atau jaksa. Bahkan, aku sendiri tidak berasal dari jurusan pendidikan. Ngomong-ngomong, dokter, pengacara, dan ilmuwan tidaklah satu-satunya pilihan yang tersedia bagi kita..."

  "Benar, jangan lupakan ahli farmasi juga..." kataku.

  Hiratsuka sensei mengangguk.

  Pekerjaan masa depanmu tidak semuanya berhubungan dengan pilihan jurusanmu. Maksudku, lihat ayahku saja. Dia lulusan jurusan antah-berantah dan sekarang melakukan pekerjaan antah-berantah. Tunggu dulu, kenapa keduanya malah memiliki hubungan antah-berantah yang sama...

  Pada saat ini, ada garis pembeda antara kelas sosial dan sains, mereka membedakannya dari sudut pandang mata pelajarannya. Namun kenyataannya banyak perusahaan yang mempekerjakan 'lulusan segala jurusan'  dan berharap ada sistem yang lebih baik untuk ke depannya dalam mengklasifikasi sumber daya manusia.

  Pada akhirnya, pengalaman dan skill seseoranglah yang merupakan aset berharga. Misalnya, kemampuan untuk berkomunikasi. Skill komunikasi ini sangat penting dalam komunitas sosial kita. Ya ampun, aku tidak ingin memikirkan tentang pekerjaan lagi.

  "Tetapi sebagai guru, aku ingin memberitahumu..." kata Hiratsuka sensei, dan dia menepuk pundakku. "Kau tidak perlu memikirkan terlalu dalam tentang masa depanmu untuk saat ini. Kalau kamu mau, kamu bisa juga pindah kuliah, jurusan, atau sengaja menunggu untuk peluang masuk universitas yang lebih baik. Mengganti pilihan karir adalah sangat mungkin. Tidak seperti hanya ada satu pilihan untukmu."

  "Begitukah."

  Aku sangat yakin banyak cara untuk menentukan jalanmu. Tidak masalah pendidikan atau pekerjaan sebelummu apa. Dengan kata lain, pernikahan adalah satu-satunya peluang diantara itu, benar!? Aku tidak bisa mengatakan kalau peluang pernikahan itu memang eksis atau tidak! Untukku, ataupun juga sensei!

  Tetapi memiliki banyak pilihan seperti itu. Juga tidak ada jaminan kamu bisa kembali ketika salah memilih pilihan itu. Adanya paling membuatmu semakin gagal dan meningkatkan derita yang kau tanggung.

  "...Tetapi apakah buruk jika pilihan pertamamu adalah sebuah kesalahan?"

  "Memang. Itulah mengapa para guru berusaha memperbanyak pilihan itu..." kata Hiratsuka-sensei. "Dan juga, mempersempit pilihannya."

  "Apakah itu tindakan yang benar, mempersempit pilihan siswa?" tanyaku.

  Hiratsuka-sensei memasang ekspresi wajah yang kompleks.

  "Tentu saja, bukankah yang memilih pada akhirnya siswa sendiri. Kita hanya memberikan saran saja. Jadi untuk saat ini...kamu harus menyerah dengan mimpimu untuk menjadi suami rumah tangga."

  Ahh, dia baru saja membuang pilihan itu ke jendela...Pilihanku...

  Nampaknya, kita telah menyeberangi lorong gedung dan mendekati tangga. Aku hendak memilih tangga ke atas, tetapi Hiratsuka-sensei sepertinya hendak menuju ke arah lain. Nampaknya dia tidak ikut masuk ke klub. Tugasnya tadi hanya menyampaikan permintaan dari Isshiki.

  Hiratsuka-sensei mengangkat tangannya dan mulai berjalan meninggalkanku. Aku mengangguk sebagai respon sikapnya.

  Lalu, dia berhenti dan memalingkan wajahnya ke arahku.

  "...Bagaimana kalau kamu mengambil mata kuliah tentang pendidikan di universitas nanti? Aku pikir, kamu sangat cocok untuk mengajar."

  "Pastinya tidak, mustahil aku bisa menjadi guru. Dan itu berarti aku harus menghadapi siswa seperti diriku." aku menaikkan bahuku menjawabnya.

  Hiratsuka-sensei tersenyum kecil. "Poin untukmu. Saya sangat setuju dengan itu."

  ...Kamu sendiri yang menyarankanku, kamu sendiri yang setuju aku menolaknya.

  Aku menganggukkan kepalaku sekali lagi dan melihat Hiratsuka-sensei pergi.





*   *   *





   Setelah membuka pintu klub, kedua mataku tidak sengaja menatap kedua mata Yukinoshita.

  Selimut kecil menyelimuti pangkuannya, dia memegang buku yang disampulnya dengan sampul kucing yang dia sukai, tetapi tatapannya terfokus ke arah pintu klub.

  Sepertinya Yuigahama belum tiba, jadi Yukinoshita sendirian disini. Dia tersenyum lembut kepadaku.

  "Selamat sore."

  "Yo."

  Setelah aku menyapanya, Yukinoshita menutup bukunya dan berdiri. Lalu dia menyiapkan teh seperti biasanya.

  Ketika airnya sudah mendidih, Yukinoshita mengambil dua gelas teh dan berbicara kepadaku.

  "Nampaknya kau sedikit terlambat kesini untuk hari ini."

  "Hiratsuka-sensei sepertinya memberiku request atau semacam itu..."

  Yukinoshita mengisi teko dengan daun teh dan memiringkan kepalanya seperti penuh tanda tanya.

  "Request?"

  "Dia bilang kalau besok ada seminar karir dan akademik, jadi pengurus OSIS membutuhkan semacam bantuan."

  "Oh begitu. OSIS ya...Baiklah aku akan mengosongkan jadwalku besok," kata Yukinoshita.

  "Yeah." Aku meresponnya secara alami karena dia menjawabnya dengan datar. "...Eh, tunggu, tidak masalah sih kalau aku saja yang pergi kesana."

  Mempertimbangkan hanya aku saja yang diminta tolong, mungkin hanya pekerjaan kasar seperti mengatur kursi atau semacamnya. Tidak perlu membawa Yukinoshita dan Yuigahama.

  Mendengar perkataanku, Yukinoshita nampaknya memahami sesuatu dan berkata, "Aku sebenarnya tidak masalah...Tidak seperti aku punya sesuatu yang dikerjakan besok."

  "Benar juga..."

  Nampaknya tadi adalah jalan buntu, tetapi kalau Yukinoshita mengatakan tidak ada yang dikerjakan nampaknya kurang tepat. Sangat memalukan kalau aku mengingat kata-kata ambisiusku ke Miura tempo hari, tetapi mau bagaimana lagi kalau situasinya memang aku sedang tidak ada ide lagi. Mungkin melakukan pekerjaan lain untuk membuat kita sibuk bisa membuang stress ini.

  Ketika kita berdua terdiam, air yang mendidih mencuri perhatian kita. Ketika itu terjadi, pintu klub terbuka.

  "Yahallo!"

  "Hallo, hallo~."

  Mereka sangat familiar dan sapaan yang khas.

  Pertama, itu adalah Yuigahama. Lalu, yang masuk sesudahnya adalah Ebina-san.

  "Selamat sore, Ebina-san."

  "Halo semuanya, kita tidak bertemu lagi semenjak tahun baru ya?"

  Yukinoshita mempersilakan Ebina-san untuk duduk dan dia berterima kasih atas kehangatannya. Ketika Yukinoshita menyiapkan teh untuk tamu kita ini, aku memandang ke Yuigahama dan memberinya kode agar memberiku penjelasan, Sekarang, kenapa nona ini ada disini?

  Yuigahama mengangguk. "Ingat tidak? Kita pernah berkata kalau kita harus mewawancarai orang-orang yang mungkin tahu jurusan pilihan Hayato-kun."

  "Yeah."

  "Karena itu, aku berbicara ke Hina dan mengajaknya ke sini agar bisa bertemu yang lainnya juga. Benar kan, Hina?"

  "Aku harap aku bisa membantu kalian~."

  Yuigahama membuka pembicaraan dan Ebina-san mengangguk.

  Sebenarnya, bukan ide yang buruk. Ebina-san memang memiliki hubungan yang dekat dengan Hayama-Miura. Dia adalah orang yang baik diriku dan Yukinoshita, tidak bisa menanyakannya secara langsung. Namun mungkin saja bisa bila Yuigahama menengahi kita.

  Juga, Ebina-san mungkin sedang memakai topeng 'si gadis busuk', tetapi dia juga punya sisi misterius pada dirinya. Meski kita tidak mendapatkan sebuah jawaban, mungkin kita bisa mendapatkan petunjuk darinya.

  Bagaimanapun, ekspresi Ebina-san seperti datar saja. Kacamatanya berembun karena uap teh yang dia terima dari Yukinoshita.

  "Pilihan jurusan Hayato-kun? Aku tidak mendengar apapun darinya. Lagipula, Hayato-kun sangat bagus di sosial dan sains, mungkin agak sulit untuk mengatakan dia condong kemana."

  "Ahh, seperti yang sudah kuduga. Memang benar sih..." Yuigahama menurunkan bahunya dan setuju.

  Selama nilainya bukan kebalikan dari nilaiku, mencari tahu pilihan jurusannya dari nilai akademiknya memang terasa agak mustahil.

  Ebina masih berpikir. Sepertinya ada sesuatu yang sedang dia pikirkan, lalu dia berkata.

  "Oh, tetapi aku pikir dia pernah mengatakan kepadaku tentang pekerjaannya nanti."

  "Eh, apa? Apa dia benar-benar mengatakannya kepadamu?" tanya Yuigahama.

  Ebina-san mengangguk. "Ini sebenarnya sudah agak lama, tepatnya ketika dulu kita ada kegiatan mengunjungi tempat kerja orang tua. Kalau tidak salah dia pernah mengatakan tentang media massa atau perusahaan asing, ya semacam itu?"

  "Ahh, benar, dia kurasa pernah mengatakannya." Yuigahama menepuk kedua tangannya bersama-sama.

  Ketika dia menyebutkannya, aku nampaknya juga pernah mendengar dia mengatakan hal-hal itu dulu. Tetapi mengatakan semacam media massa atau perusahaan asing, itu masih pekerjaan yang terlalu umum. Kita tidak bisa mengatakan kalau kelas sosial akan membuatnya mudah masuk ke media massa dan perusahaan asing karena keduanya tidak terbatas di satu industri saja. Terlalu blunder apabila aku berusaha melacak balik jurusannya hanya dari info pekerjaan seperti itu.

  "Meski begitu, bisa saja dia mengatakannya hanya untuk basa-basi. Karena info tersebut terlalu lemah untuk dilacak balik jurusannya," kata Yukinoshita sambil menaruh tangannya di dagu.

  Dia sangat tepat sekali.

  Namun nampaknya Ebina-san juga bisa memahami pendapat itu.

  "Yep, aku juga punya pendapat yang sama. Hanya saja..." tiba-tiba Ebina-san berhenti berkata-kata. Tatapannya mengarah ke salah satu sudut ruangan, dan seperti tidak melihat apapun di tempat itu.

  "Hanya saja...?" Yuigahama berusaha untuk melanjutkannya.

  Ebina-san perlahan-lahan mencondongkan kepalanya. "Hanya saja, sepertinya semua orang hanya ingin pergi ke tempat yang sama dengannya, jadi kupikir yang barusan memang kurang bisa dijadikan referensi!"

  "Ahh, itu benar," kata Yuigahama.

  Ebina-san mengatakan kata-kata terakhirnya seperti ada yang dibuat-buat. Meski begitu, aku sendiri sulit untuk mengangguk setuju kepadanya. Baru saja, apa yang sebenarnya Ebina-san ingin katakan?

  Yukinoshita menyilangkan kakinya lagi dan berusaha bertanya lebih jauh ke Ebina-san, "Apa ada yang dia katakan lagi?"

  "Aku merasa tidak ada lagi yang berhubungan dengan itu..." Ebina-san sepertinya sedang berpikir keras dan mencari sesuatu di memorinya, lalu pandangannya beralih kepadaku. "Oh, tetapi, mungkin Hikitani-kun tahu sesuatu, hal-hal kecil mengenai itu. Benar tidak?"

  "Huh? Aku?" Aku menunjuk diriku sendiri secara spontan untuk merespon topik barusan.

  "Benar juga, Hikki melihat orang be---"

   Ebina-san melompat dari tempatnya dan memotong Yuigahama. "Benar kaaan! Seperti berkomunikasi dengan mata antar sesama homo! Ini tentang Haya-Hachi!"

  "Tidak,tidak. Itu mustahil," kataku.

  Apa-apaan tadi 'berkomunikasi dengan tatapan mata homo'? Apa itu kosakata baru? Wanita sialan! Berhentilah menjadi gadis busuk itu!

  "Tolong ampuni aku dari candaan seperti itu," kataku.

  "A-ahahaha..."

  "Haa..."

  Yuigahama tersenyum kecut sementara Yukinoshita menghembuskan napas kesalnya, dia menyentuh keningnya dengan tangannya seperti mendapat sakit kepala.

  Ebina-san mengeluarkan tawa gadis busuk "gufufu" dengan suara yang menakutkan, lalu dia tiba-tiba menekan frame kacamatanya dengan jarinya. Aku tidak tahu kemana arah tatapannya karena tertutup cahaya yang terpantul di lensa kacamatanya.

  "...Sebenarnya, itu tidak sepenuhnya candaan kok." Ebina-san menambahkan. Sebelum aku bertanya lebih lanjut apa maksudnya, Ebina-san menggerakkan kursinya ke depan. "Tetapi kita juga tidak bisa melepaskan bayangan peluang terjadinya Haya-Hachi dari kepala kita."

  "Tidak, tidak, tidak..."

  "Ah, sangat mengecewakan," kata Ebina-san. "Ngomong-ngomong, aku pulang dulu ya. Sampai jumpa lagi, Yui, Yukinoshita-san."

  Dia berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.

  "Oh oke, terima kasih!"

  "Kalau kamu tahu sesuatu, kami akan senang kalau kamu memberitahu kami lagi."

  "Ooh pasti. Sampai jumpa." Ebina-san menjawabnya, Yuigahama dan Yukinoshita melambaikan tangannya.

  Ketika melihat ke arah pintu, aku menghembuskan napasku. "Sepertinya akan butuh waktu lama sampai kita menemukan sesuatu."

  "Sepertinya begitu." Yukinoshita menggangguk dan mengambil tehnya yang sudah dingin.

  Yuigahama memegang mugnya dengan satu tangan, sedang tangannya yang lain memegang handphone.

  "...Aku permisi dulu, ke belakang sebentar." Aku memberitahu mereka dan meninggalkan ruangan klub.

  Waktu Ebina-san keluar ruangan klub dan diriku barusan, tidaklah lama. Jadi dia seharusnya masih berada di sekitar sini. Aku ingin mengetahui lebih detail, bukan, aku ingin bertanya kepadanya tentang kata-katanya yang barusan.

  Lebih dari itu, aku merasa kalau dia masih ingin mengatakan sesuatu karena hanya diriku yang tidak dia sebutkan selamat tinggal ketika meninggalkan ruangan klub. Tapi bisa saja sih dia memang lupa kalau ada aku disana. Kalau barusan benar, berarti sedang membullyku? Kalau keberadaanku seperti di anime Another, mungkin seseorang akan mati dalam waktu dekat.

  Dengan pikiran yang bercampur aduk, aku menuju ke arah sudut lorong dan aku melihat Ebina-san sedang berjalan pulang.

  Sepertinya suara langkah kakiku menggema di lorong sekolah dan Ebina-san memalingkan wajahnya.

  "Kau tahu, kurasa ini hal yang sia-sia." dia mengatakannya begitu saja. Dari nada bicaranya terlihat jelas kalau dia sudah mengira kalau aku akan mengejarnya.

  "Apa maksudmu?"

  "Caramu untuk mencari informasi seperti ini. Hayato-kun bukanlah orang yang memperlihatkan celah dirinya semudah itu."

  Dia berdiri dengan tatapan tajam dibalik lensa matanya kepadaku. Tatapannya yang dingin agak berbeda dengan ekspresinya yang biasa dia perlihatkan kepadaku setiap harinya. Atau sebenarnya, sikapnya yang seperti ini adalah wajah aslinya selama ini. Aku sudah merasakan akan hal ini semenjak insiden di darmawisata.

  Aku menurunkan bahuku dan memalingkan wajahku dari pandangan matanya. "...Memang benar. Tetapi setelah aku berjanji terlalu 'muluk' ke Miura, aku harus menyelesaikan requestnya."

  "Uh huh..."

  Setelah itu, kesunyian melanda kami berdua.

  Di lorong ini, hanya ada diriku dan Ebina-san. Kita berdua hanya terdiam, kesunyian mengisi udara sekitar hingga satu-satunya suara yang bisa kami dengar adalah bunyi angin yang menabrak jendela.

  Merasa gugup karena hanya berdiri di dalam sunyi, aku menggaruk kepalaku dan apa yang ingin kutanyakan ke Ebina-san muncul di kepalaku. Aku pura-pura batuk dan membuka mulutku.

  "Aku sebenarnya ingin bertanya kepadamu, apakah kalian baik-baik saja dengan ini?"

  "Apa maksudmu?"

  "Melihat bagaimana ini akan berakhir nantinya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalian berpura-pura bersikap seperti biasa---"

  "Itu tidak akan terjadi." Ebina-san memotongku. "Hayato-kun pasti akan melakukan sesuatu untuk menghindari masalah itu dan kupikir Yumiko bisa mengerti hal itu. Aku tidak berpikir suasana kelas akan berubah karena nantinya kita akan berpisah."

  Pernyataannya agak ambigu bagiku.

  "Begitu. Kau nampaknya sangat percaya kepada mereka?"

  "Bukannya aku percaya sama teman-teman yang lain...Hanya saja aku pikir Hayato-kun akan melakukan metode apapun dimana tidak ada seorangpun yang akan terluka. Daripada kau menyebut itu sebuah rasa saling percaya, mungkin lebih tepatnya itu adalah keinginan pribadiku." Ebina-san tersenyum.

  Mungkin, jika aku masih sama seperti sebelumnya, aku yakin kalau aku tidak akan curiga sedikitpun dengan kata-kata Ebina-san. Sepertinya aku akan sedikit respek ke Hayama Hayato jika dia memang menjadi seseorang yang seperti Ebina-san katakan.

  Sekarang, itu sudah berbeda. Kata-katanya masih kurang jelas bagiku, atau sesuatu sedang menggantung, meski begitu, Ebina-san merasa kurang nyaman mengatakan hal barusan.

  Karena itu aku memberanikan diri untuk bertanya lagi.

  "Kenapa kau berpikir kalau Hayama seperti itu?"

  "...Menjawab ekspektasi semua orang adalah sifat Hayato-kun." Ebina-san berhenti menatapku dengan tajam dan tersenyum. Tidak ada satupun hal manis dari senyumnya itu, satu-satunya yang terlihat dari bibirnya; ekspresi yang dingin.

  Melihat hal seperti itu dalam jarak yang sangat dekat, aku tidak bisa memikirkan sesuatu untuk membalas kata-katanya. Dalam kesunyian itu, Ebina-san memundurkan tubuhnya dan melambaikan tangannya. "Oke, kalau begitu aku pulang dulu."

  "Ah, oke..." kataku. Aku memandangi Ebina-san yang berjalan meninggalkanku.

  Sekarang, aku teringat akan sesuatu.

  Namun aku merasakan sesuatu tidak berada di tempatnya. Sambil merenungkan hal itu, aku berjalan kembali menuju ruangan klubku.

  Sekilas, aku melihat langit dari jendela lorong. Langit terlihat agak samar, langit musim dingin, diwarnai warna nila dan kemerahan.

  Langit mulai berubah menjadi gelap.

  Berpura-pura kuat, natural, dan tidak mengkhianati ekspektasi siapapun.




 *   *   *





  Setelah kedatangan Ebina-san ke klub, kita tidak melihat adanya pengunjung klub lagi setelahnya. Ketika tiba saatnya bagi kita untuk mengakhiri aktivitas klub, aku bersiap untuk pulang.

  Aku mengucapkan 'aku pulang' ketika sampai di rumah, namun tidak ada satupun respon. Dua orangtuaku yang menjadi budak perusahaan sepertinya belum pulang ke rumah dan Komachi juga sepertinya sedang belajar atau berada di kamarnya.

  Aku melangkah menuju ruang keluarga yang gelap dan menyalakan lampunya. Flippty-flip.

  Cahaya lampu menerangi ruang keluarga.

  Setelah itu, sesosok manusia muncul di ruang keluarga yang seharusnya tidak ada orang.

  "Whoa! Kamu menakutiku..."

  Kulihat baik-baik, ternyata itu adalah Komachi yang sedang tiduran di atas meja dengan menyandarkan dagunya di tangan.

  Mendengarkan suara jelekku, dia menatap ke arahku dan menggerutu. "...Ah, onii-chan. Selamat datang."

  "Yeah, aku kembali..."

  Kulemparkan mantel dan tasku ke sofa dan menyalakan pemanasnya. Nampaknya, Komachi daritadi hanya melamun saja. Ruang keluarga terasa sangat dingin sekali.

  "Ada apa Komachi?" aku duduk di kursi dan bertanya kepadanya.

  Komachi tersenyum dan tiduran di atas meja.

  "Sudahlah. Aku tidak sanggup lagi..." Komachi sangat sedih dan memegangi kepalanya. "Uuu...Kalau aku gagal di ujian ini, itu pasti akan menjadi awal dari rentetan kegagalan dalam hidupku... Dan tetangga-tetangga akan tertawa kepada kita, 'Apa kamu dengar kabar tentang kedua anak gagal di keluarga Hikigaya? Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, fufufu'...Aku yakin kalau aku tidak bisa hidup secara normal lagi setelahnya!"

  "Uh, aku bukan orang gagal..."

  Tidak mendengarkan kata-kataku, Komachi menggosok-gosok rambutnya dan kembali tertidur di atas meja.

  Oh tidak, dia mengulanginya lagi...Ini adalah jebakan yang sama yang dia lakukan di akhir tahun kemarin.

  Aku punya ide bagaimana untuk mengatasi masalah ini.

  "Bagaimana kalau kita istirahat? Seperti, memikirkan sesuatu yang menyenangkan," kataku menurut buku panduan onii-chan, tetapi aku tidak melihat respon dari Komachi. Biasanya dia langsung memakan umpanku tadi...

  Aku rebahan di sofa dan melihat keanehan pada Komachi. Dia hanya tiduran di atas meja dan sesekali menggerutu.

  "...Tidak mungkin aku akan bisa bersenang-senang."

  Tidak seperti sebelumnya, nada becanda tidak muncul dari kata-katanya. Sikapnya kali ini mengingatkanku ketika dia masih kecil dulu.

  "Apa terjadi sesuatu?"

  "Tidak ada."

  Jawabannya barusan terkesan samar-samar, biasanya dia menjawabnya dengan jelas, sepertinya dia hendak melanjutkan kata-katanya.

  Aku duduk dan diam saja dari tadi, menunggunya untuk melanjutkan kata-katanya. Hampir satu menit sudah berlalu. Di ruangan ini, suara yang terdengar hanyalah bunyi detik jam di dinding dan suara mobil yang lewat di depan rumah.

  Nampaknya, Komachi mulai menghela napas dan menghembuskannya.

  "...Hanya saja, tahu kan? Ketika aku beristirahat, atau tepat sebelum tidur, atau sebelum makan, aku selalu membayangkan tentang ujiannya," kata Komachi. Dia tidak melihat ke arahku, dan mengepalkan tangannya. "Seperti, apa yang akan kulakukan jika aku tidak lulus... atau bagaimana kalau aku gagal, apa yang harus kulakukan? Hal-hal semacam itu."

  Dia mengepalkan tangannya dengan keras. Untuk menghiburnya, aku berkata dengan lembut. "Kamu tidak usah khawatir soal itu. Lagipula, dulu kamu kan juga lulus ujian masuk SMP swasta. Kalau memang tidak diterima di SMA Sobu ya kamu bisa ikut ujian masuk SMA swasta."

  "Aku enggak bilang kalau aku nanti enggak mau masuk SMA swasta."

  Komachi memalingkan wajahnya dariku. Dengan itu, aku tidak bisa melihat lagi ekspresinya. Lalu, secara samar-samar aku mendengar suara.

  "Akan terasa bodoh kalau bayar uang sekolah ke sekolah yang aku tidak inginkan...Aku merasa tidak enak sama Ayah juga."

  Kedua orang tua kami bekerja, jadi kami lebih fleksibel dalam memilih sekolah. Sejujurnya, kupikir kami memiliki simpanan uang yang cukup untuk membayar biaya sekolah swasta. Namun, masalah uang nampaknya bukanlah masalah yang ingin Komachi bicarakan saat ini.

  Tapi dia merasa tidak enak sama Ayah, huh? Biasanya dia hanya mengabaikannya, maka saat ini dimana dia peduli dengan Ayah adalah sesuatu yang aneh.

  Tetapi tentunya, Komachi tidak benar-benar benci kepada Ayah.

  Tetapi karena tersudut oleh ujian, bisa jadi wajah aslinya bisa muncul.

  "Lagipula, aku benar-benar tidak ingin mendengar kabar kalau aku gagal dalam ujian..."

  Suaranya terdengar seperti sedang terguncang.

  Komachi adalah adik perempuanku yang ceria dan bisa diandalkan, dia selalu tersenyum kepada siapa saja. Dia menangani urusan rumah tangga dan makanan, dia bahkan merawat kakaknya. Aku yakin di sekolah dia juga akan tampil seperti ini.

  Tetapi ketika liburan musim dingin kemarin, dia sepertinya ingin menjaga jarak dari beberapa teman-temannya. Disanalah mungkin terjadi perpecahan atau masalah antar hubungan manusia yang tidak aku pahami.

  Semakin kamu terlihat bersemangat, semakin suram dirimu ketika aura ceria tersebut hilang. Hasil simulasi ujian masuk SMA nampaknya sudah mengumumkan hasilnya dan menjadi topik pembicaraan di kelas. Hasil yang membuat kita awalnya menjalin hubungan di grup dan berubah menjadi tombak yang menghunus ke hati masing-masing.

  Karena itu orang-orang mengambil jarak dari orang dan realitas kehidupan.

  Ketika Komachi menyelesaikan kata-katanya, aku bisa mendengarkan sesenggukan seperti dia hendak menangis.

  Aku berdiri dari sofa dan duduk di depan Komachi.

  "Memang, ujian masuk SMA penting. Kalau kamu diterima, maka seperti akan ada jarak antara kamu dan teman di sekolahmu, tentunya kamu akan sulit untuk bertemu temanmu yang tidak diterima."

  "Uh huh..." Komachi meresponnya dengan suara yang nampaknya tidak mengerti apa yang baru saja kukatakan.

  "Tetapi ujian masuk universitas jauh lebih penting dan mencari pekerjaan mungkin sangat, sangat, sangat penting. Ketika semua proses sedang kamu jalani, teman-temanmu akan berkurang. Jika kamu tidak bisa melaluinya, itu akan menjadi musibah bagimu."

  "Y-yeah..."

  Suaranya terdengar seperti orang yang bingung dan kulanjutkan denga kata-kata, "Tetapi semuanya akan baik-baik saja."

  Komachi mengangkat kepalanya. Matanya terlihat sembab, ekspresinya seperti sedang terkejut. Ketika dia membuat ekspresi seperti itu, ingatanku ketika dia masih kecil terlintas begitu saja dan membuatku tersenyum.

  "Atau, kau bisa taruh begini: Selama semuanya berjalan baik sampai akhir, kamu akan baik-baik saja. Sama seperti play off baseball. Masuk ke SMA atau universitas unggulan sama seperti memperoleh keuntungan dari peringkat utama dari klasemen. Meski mendapatkan keuntungan, tetapi itu tidak menentukan hasil akhirnya."

  Pernah dulu, ada team yang menjadi juara di Jepang dengan menjalani musim yang berat dan hanya menduduki peringkat 3 klasemen, lalu di play off mengalahkan semuanya dan juara. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di masa depan. 

  Kupikir aku telah menceritakan cerita motivasi, tetapi Komachi nampaknya tidak tertarik mengenai topik baseball ketika dia menunjukkan ekspresi kosong lebih dari separuh jalannya cerita yang kukatakan tadi.

  Hmm, menurut pantauan radar onii-chan, sepertinya itu bukanlah hal yang ingin Komachi dengarkan.

  Aku menggaruk-garuk kepalaku, tidak ada ide mengenai apa yang harus kukatakan, dan kuputuskan untuk mengatakan apapun yang ada di pikiranku.

  "Well, jika ada sesuatu...katakan saja padaku, aku akan melakukan sesuatu untuk permintaanmu."

  "Onii-chan..."

  "Mensupport dua orang tidaklah jauh berbeda dari mensupport satu orang. Aku akan meminta ke orang tua kita nanti."

  "Kamu harusnya mengatakan kalau 'nanti aku ingin bekerja'..." Komachi menghapus air matanya dan tersenyum.

  "Itu...adalah pilhan terakhirku...Ini mungkin agak aneh karena berasal dari mulutku, tetapi onii-chanmu ini cukup luar biasa. Aku bisa sukses dengan segala hal... Oleh karena itu, santai saja." kujulurkan tanganku dan menggosok-gosok rambut komachi, setelah itu mengacak-acaknya.

  "Hey, onii-chan. Ketika aku melihatmu tadi..." kata Komachi, kata-katanya terputus. Dia menatap mataku lalu bernapas lega. "Aku mulai berpikir kalau mengkhawatirkanmu adalah tindakan yang bodoh..." dia menjauhkan tanganku dari kepalanya.

  "...Baguslah kalau begitu."

  Adik yang kurang ajar...Inilah yang kudapatkan kalau aku bersikap manis kepadanya...Lagipula, mungkin itulah yang membuatnya terlihat manis? Tetapi level manis yang onii-chan harapkan agak berbeda dari ini...

  "Argh, oke, cukup-cukup. Kembali belajar."

  Komachi berdiri dari kursinya, dan berjalan menuju tangga ke kamarnya. Ketika dia memegang knop pintu, dia berdiri terdiam.

  "Terima kasih." dia mengatakannya dengan pelan, dan meninggalkan ruangan keluarga, lalu menutup pintunya.

  Selebihnya, aku hanya mendengar suara langkah kaki yang sedang menaiki tangga.





*   *   *






  Esok harinya, sepulang sekolah, aku, Yukinoshita, dan Yuigahama tiba di ruang konferensi.

  Kami kesini untuk membantu OSIS sesuai permintaan Hiratsuka-sensei kemarin, yaitu untuk membantu persiapan dari seminar konseling akademik dan karir. Sebenarnya aku sudah mengatakan kepadanya kalau aku sendirian sudah cukup, namun keduanya tetap datang karena memang tidak ada yang dilakukan di ruangan klub dan berakhir dengan kalimat "Ayo kita selesaikan pekerjaan ini bertiga!"

  Terakhirnya kalinya aku berada di ruang konferensi yaitu pada Festival Budaya; sebenarnya, waktu presentasi persiapan Festival Olah Raga juga aku ada disini.

  Aku menaruh tanganku di kenop pintu dan ruang konferensi nampaknya sedang tidak dikunci. Sepertinya Isshiki dan pengurus OSIS lainnya sudah tiba lebih dulu. Aku mengetuk pintunya dan kudengar suara pelan di balik pintu, "Silakan masuk". Aku membuka pintunya dan Isshiki yang berada di dekat jendela membalikkan badannya.

  "Ah, senpai!"

  Seperti hendak mengatakan, "Lamaaa sekali" Isshiki mendekatiku dan memegangi lenganku. Namun ketika dia sadar dua orang di belakangku, dia tiba-tiba menunduk.

  "Oh, terima kasih kalian berdua sudah datang."

  "Yahallo, Iroha-chan!"

  "Apa tugas kita disini?"

  Yuigahama menjawab salam Iroha dengan cerita dan Yukinoshita melihat-lihat suasana di ruang konferensi.

  Sama sepertinya, aku memandangi ruangan yang nampaknya masih memakai settingan yang lama. Sebuah formasi persegi panjang dan kursi-kursi mengelilingi formasi tersebut.

  "Karena kita mempersiapkan untuk sebuah seminar akademik dan karir, kita harus mengatur ulang ruangannya. Juga, posisi pengurus OSIS juga harus berada di sekitar ruangan sehingga bisa memberikan support atau semacamnya dengan mudah."

  "Huh, sepertinya akan memakan waktu cukup lama," kataku.

  Isshiki menurunkan bahunya. "Ya, itu benar. Karena ini acara dari OSIS, maka kami harus melakukannya...Sebenarnya ini cuma pekerjaan kasar saja..." kata Isshiki.

  "Ya... namanya juga pengurus OSIS..."

  "Aku tidak tahu kalau nantinya akan mengerjakan pekerjaan kasar seperti ini... Ya Tuhan, kalau saja ini bukan demi seseorang yang memintaku untuk menjadi ketua OSIS..."

  Kedip...kedip...kedip. Isshiki menatapku dengan mengedipkan matanya berkali-kali.

  "Sangat mengganggu...Tetapi sampai kapan kamu mau menggerutu, bukannya mulai bekerja."

  "...Se-sebenarnya ini juga sedang bekerja, kok." kata Isshiki, membalikkan badannya dari diriku. Dia lalu berpura-pura batuk dan mengamati kertas-kertas di tangannya. "Semuanya! Tolong pindahkan kursi-kursi dan meja-mejanya. Lalu buat menjadi enam kelompok tempat duduk peserta seminar. Senpai dan wakil ketua, tolong kerjakan bagian mengangkat benda-benda beratnya."

  Aye-aye! Aku mengangguk, membuat tanda peace di pikiranku, dan Isshiki nampaknya membalasku. Lalu dia menatap ke arah Yukinoshita dan Yuigahama.

  "Untuk para gadis, tolong bantu atur kursi-kursinya. Atur satu kursi di sisi tutor dan dua kursi di sisi siswa untuk acara konsultasi. Kalau selesai, tolong persiapkan teh untuk minum para tutornya."

  Isshiki memberi perintah sambil melihat print out di tangannya. Aku sangat terkejut bagaimana dia sangat efektif dan seperti seorang ketua OSIS yang berpengalaman. Si gadis sekretaris OSIS yang berada tidak jauh dengannya mengangguk mendengarkan instruksinya.

  Di lain pihak, ada seseorang yang dari tadi memiringkan kepalanya. Tentu saja, itu Yuigahama.

  "Tutor? Apa itu?"

  "Itu bukan nama hewan peliharaan..."

  Kita tidak sedang membicarakan tentang Nyanta, Hamtaro, Ebizou, atau Kikuzou disini. Aku tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa, Yukinoshita berjalan mendekati Yuigahama.

  "Tutor adalah orang yang memberikan saran dan support tentang pendidikan. Dalam kasus ini, mereka adalah orang-orang yang memberikan konseling."

  "Itu benar. Bersama dengan para guru, kita juga mengundang siswa kelas tiga dan alumni yang direkomendasikan oleh mereka," kata Isshiki.

  "Alumni..." Yukinoshita secara spontan mengatakannya.

  Kebetulan yang luar biasa. Sekarang, akupun membayangkan hal yang sama dengannya. Dan ini bukanlah prediksi yang menyenangkan.

  "Oke. Aku harus memberi tahu para tutor, jadi wakil ketua, tolong atur yang ada disini." Isshiki memberi perintah dan meninggalkan ruangan.

  Pengurus OSIS lainnya melanjutkan pekerjaan mereka sesuai instruksi wakil ketua.

  Sambil membawa barang-barang berat bersama wakil ketua, dia menatapku dan meminta maaf.

  "Maaf ya soal hari ini, kamu memang sangat membantu kami. Kami memang membutuhkan bantuan untuk mensetting ruangannya."

  "Ahh, ini bukan masalah besar. Kupikir ini bukan apa-apa dibanding kegiatan kita sebelumnya."

  Waktu Natal yang lalu, kita seperti berada di neraka karena tidak memiliki persiapan yang mencukupi. Dibandingkan itu, kurasa situasi yang sekarang memang terasa lebih baik kalau melihat bagaimana motivasi Isshiki tadi, suasana awkward di pengurus OSIS, atau hubungan diantara Yukinoshita, Yuigahama, dan diriku.

  Penyebabnya bisa apa saja dan apabila kita bisa membawa beban yang berat itu bersama-sama dan sedikit demi sedikit, maka kita bisa mengubah situasi yang terjadi.

  Kita memindahkan mejanya, berbaris menjadi meja yang lebih besar, pekerjaan tersisa hanyalah pekerjaan milik para gadis ini. Karena kami bekerja sangat efisien, kami punya banyak waktu luang sebelum kegiatan konseling dimulai.

  Disana, aku menemukan seseorang yang sejak tadi mengamati ruangan konferensi dari pintu, dan datang lebih awal dari yang lainnya. Rambut ponitail yang familiar bagiku itu tiba-tiba membalikkan badannya dan bersembunyi di balik pintu.

  Nama gadis ini kalau tidak salah, Honda, bukan, Suzuki, atau...Yamaha? Sepertinya barusan itu nama merk Sepeda Motor? Maksudku, penampilannya yang mencolok seperti itu sudah memberiku impresi. Sepeda motor, apa ya sepeda motor...sepeda motor, Kawasaki, apa itu sepeda motor? Yeah, nampaknya Kawasaki.

  Karena Kawasaki nampaknya khawatir apakah boleh atau tidak untuk masuk ke dalam, aku memutuskan untuk memberitahunya.

  "Hey, ruangan akan siap beberapa saat lagi."

  "...O-Oke."

  Kawasaki seperti membeku ketika aku berbicara kepadanya. Responnya sangat pendek, bahkan samar-samar. Bukankah dia sepertinya selalu bereaksi seperti ini?

  Tetapi melihatnya yang terus berdiri dan diam disana membuatku merasa kasihan karena dia sudah jauh-jauh datang kemari. Sampai ruangannya siap, aku memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan berbicara kepadanya.

  "Ngomong-ngomong, kamu kesini untuk seminar karir dan akademik?"

  "Na-nampaknya begitu."

  Sikap Kawasaki nampaknya seperti orang salah tingkah ketika menjawab pertanyaan tadi. Dia nampak seperti gadis biasa ketika dia bersikap seperti ini. Meski suasana seminar akan terasa sedikit kurang nyaman baginya, dia jujur pada dirinya dan berani datang kesini dan membuatnya tampak seperti anak yang baik. Bagian seperti ini dari dirinya membuatku bisa melihat sisi yang bercahaya dari dirinya.

  Ini adalah kesempatan yang bagus. Aku akan bertanya ke Kawasaki tentang pilihan jurusannya, meskipun aku sendiri tidak yakin kalau info ini akan berguna bagiku kelak.

  "Oh ya, sebenarnya kamu nanti mau memilih jurusan apa?"

  "Huh? Aku? Aku...sebenarnya ingin ke jurusan Liberal Art di universitas negeri... atau semacam itu."

  "Jawaban yang sangat spesifik dan kalimat terakhirnya membuatnya terasa membingungkan..." kataku.

  Dia menjawabnya dengan menjawab lengkap beserta jenis sekolahnya, namun dia menutupnya dengan kata-kata ambigu.

  Kawasaki lalu menatapku dengan setengah mata tertutup. "Ada masalah dengan itu?"

  "Tidak-tidak. Tidak ada, oke?"

  Aku berusaha menjawabnya dengan sopan. Tolong, lakukanlah sesuatu dengan caranya bersikap...? Sebenarnya aku tidak ada masalah dengan itu. Aku harap dia berhenti memancarkan aura Monk seperti di game RPG. Mungkin saja dia langsung menghajarku dengan jurus Raging Fist.

  "Tapi kalau sudah memilih jurusan kuliah, apa memang perlu datang kesini?"

  "...Yang kukhawatirkan adalah nilai-nilaiku, jadi aku kesini mau bertanya soal itu."

  Ketika kata-katanya sangat simple dan to the point, aku merasakan rasa percaya diri yang rendah pada dirinya. Nampaknya dia sangat ingin masuk ke universitas negeri.

  Ya, itu benar. Dia punya saudara bukan? Tiap keluarga pasti punya saudara, kerabat, atau semacamnya.

  Di setiap keluarga, tidak peduli siapa itu, memiliki semacam ikatan. Ini juga yang mungkin terjadi di Hayama dan Yukinoshita. Di kasus Kawasaki, dia memiliki banyak sekali saudara. Jadi dia memilih masa depannya dengan pergi ke sekolah negeri. Dia bahkan punya adik kecil di sekolah dasar juga. Jadi kupikiri tidak masalah ke sekolah negeri. Onee-chan yang sungguh baik. Berbanding terbalik dengan seorang Onee-sama yang kukenal diluar sana...

  "Ngomong-ngomong, apa adik kecilmu baik-baik saja? Siapa ya....Mii-chan?"

  "Huh? Siapa itu?" Kawasaki menatapku tajam.

  Ayolahhh, aku cuma salah menyebut nama...siscon sialan...Ngomong-ngomong, siapa ya namanya? Haa-chan? Bukan, itu kan sebutannya kepadaku. hachiman berubah menjadi Haa-chan. Oke, bagaimana kalau Kaa-chan...

  Aku mencoba mengumpulkan beberapa kemungkinan dan akhirnya muncul nama yang familiar.

  "Oh, namanya Saa--chan."

  Seketika, suasana menjadi sunyi. Lalu kawasaki mundur selangkah menjauhiku. Dengan wajah memerah, dia mengatakan dengan keras. "Huuh! Siapa yang kau panggil Saa-chan---Kamu tidak berhak memanggilnya begitu."

  "Oh yeeeah. Saki, bukan?"

  Ooh jadi begitu namanya disingkat jadi Saa-chan, masuk akal. Namun, Kawasaki nampaknya tidak terlalu senang dan mundur selangkah lagi.

  "H-Huuh!?"

  Tolong hentikan "hah,hah!?" apa kamu T-san yang lahir di kuil atau semacamnya? Di kasus Kawasaki, mungkin disingkat K-san? Ah benaaaar, nama adiknya adalah Kei-chan.

  "Kei-chan, benar? Kei-chan. Aku baru saja ingat," kataku.

  Kawasaki menatapku tajam. "Lain kali kalau lupa lagi, aku akan menghajarmu."

  "Be-begitu..."

  Aku tidak bisa mengatakan kalau aku lupa nama adiknya dan Kawasomething-san terlalu membingungkan untukku... Namun kalau berbicara tentang adiknya, dia mulai bersikap lembut dan berbicara dengan halus, sangat berbeda dengan sebelumnya.

  "Lain kali, um, kalau kau bertemu dengannya lagi...bisakah kau bermain dengan Kei-cha---Keika, lagi?"

  "Mm, yeah. Aku tidak bisa membayangkan kalau akan bertemu lagi dengannya, tetapi kalau memang bertemu lagi, tentu saja."

  "Okay..."

  Setelah mengangguk kepadanya, pintu ruang konferensi terbuka dan Yuigahama muncul keluar.

  "Hikki, kita sudah siap."

  Sesudah itu, Yuigahama menyadari keberadaan Kawasaki dan mengucapkan "ohh" sambil melambaikan tangannya. Kawasaki mengangguk dan sedikit membungkukkan badannya.

  "Apa kamu kesini mau ke seminar? Ayo masuk, masuk!" kata Yuigahama, dan mempersilakan Kawasaki masuk.

  Ketika aku melihatnya masuk ke ruangan, aku membuka secara penuh pintu ruang konferensi. Dengan begitu, membuat siswa yang lain lebih mudah memasuki ruangan konferensi.

  Ketika aku hendak memasang penahan pintu di kaki pintu geser, ada suara yang berbicara kepadaku dari atas.

  "Hey, aku lupa menanyakan kepadamu tadi...soal pilihan jurusanmu."

  "Aku mau ke jurusan Liberal Art di universitas swasta."

  "Uh huh...Jadi, Liberal Art ya." Kawasaki menjawabnya seolah-olah tidak tertarik dan mulai berjalan ke arah Yuigahama.

  ...Well, jurusan Liberal Art yang sama. Meski peluangnya sangat kecil kita akan berada di kelas yang sama untuk tahun depan, setidaknya aku diberi ijin untuk menyapa adiknya. Jadi, aku akan bermain dengannya kalau bertemu lagi.

  




*   *   *






  Setelah Kawasaki memasuki ruangan, peserta seminar yang lain mulai berdatangan. Aku melihat ke arah jam dinding dan mereka nampaknya datang sedikit lebih awal.

  Dari arah luar, suara yang berisik terdengar dari arah lorong. Yukinoshita yang berdiri di sebelahku sepertinya juga menangkap suara itu. Yuigahama berjalan menuju arah kami sambil menatap arah pintu dengan curiga.

  Suara tersebut nampak familiar denganku. Aku cukup yakin, pemilik suara itu sedang berjalan bersama Isshiki Iroha menuju ruang konferensi. Dan ternyata dugaanku benar, itu adalah Yukinoshita Haruno. Dan di belakangnya ada Meguri-senpai.

  Ketika Haruno-san melihatku, dia tiba-tiba melambaikan tangannya. "Loh, itu Hikigaya-kun. Hyahallo!"

  "Halo." aku sedikit menundukkan kepalaku.

  Haruno-san tersenyum kecil dan mengalihkan pandangannya ke Yukinoshita. Yukinoshita juga nampak sedang menatapnya dengan tajam.

  "...Nee-san."

  "Jadi Yukino-chan ada disini juga. Mmkay, onee-san siap mendengarkan semua cerita-ceritamu hari ini," Haruno mengatakannnya sambil bercanda.

  Yukinoshita nampak kesal dengan sikapnya. Situasinya nampaknya sudah sangat kritis...Serius ini, kalian berdua, tolong lakukan ini di rumah kalian saja...

  Menghindari terjadinya suasana yang semakin buruk, Yuigahama yang berdiri di samping Yukinoshita memulai percakapan dengan Haruno-san.

 "Ah, ternyata itu adalah Haruno-san ketika mereka mengatakan akan mengundang alumni?"

  "Yep, yep. Katanya kalau aku kesini aku akan mendapatkan hadiah..." Haruno-san tersenyum dengan ekspresi senang. "Jadi, disinilah diriku!"

  Orang ini pasti memiliki banyak sekali waktu luang atau bisa juga dia tidak punya teman...? Aku memang agak curiga kepadanya, tetapi Haruno-san adalah tipe orang yang mudah disukai siapa saja. Dia nampaknya punya seorang pengikut hari ini. Isshiki datang dan berdiri di samping Haruno-san memulai pembicaraan dengan mata berbinar-binar.

  "Saya sangat senaaaang kalau senpai yang luar biasa hadir kesini hari ini, anda sangat membantu kami kali ini!"

  "Eehh, benarkah? Sebenarnya bukan masalah bagiku, kok."

  Meskipun dia hanya memuji sebagai basa-basi, Haruno-san tetap tersenyum dengan percaya diri, entah mengapa ekspresinya tersebut terasa mengerikan bagiku.

  "Bukan begitu Haru-san senpai, anda seperti, sangat keren! Saya sangat mengagumi anda! Saya ingin seperti Haru-san senpai juga..."

  "Terima kasih."

  Haruno-san membalas perkataan Isshiki dan Isshiki terlihat memeluk lengannya. Di lengannya, Isshiki tersenyum malu-malu. Ahh, gadis ini mencoba mendapatkan perhatian dari orang yang terkenal dan jika bisa, dia ingin memperoleh ilmunya...

  Tetapi Haruno-san, lawan yang tidak bisa dipandang remeh, tertawa dengan  senyum yang lebar sambil menggosok-gosok rambut Isshiki, nampaknya dia sudah memperhitungkan responnya dengan matang untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

  Aku melihat sesuatu yang tidak menyenangkan...Jika mungkin, aku tidak ingin Isshiki berubah menjadi seperti Haruno-san. Tetapi Meguri-senpai memiliki senyum yang menyejukkan ketika melihat kedekatan mereka, pemandangan tersebut mungkin bisa diterjemahkan berbeda oleh mereka yang melihat hal tersebut.

  Jika menurut guyonan game Street Fighter tentang Solace no Hado, pengaruh kekuatan Megu Megurin, aku bisa merasakan kalau hatiku hampir jatuh menjadi penggemar beratnya.

  Ketika dia menyadariku, dia menyapaku sambil melambaikan tangannya, dia berjalan mendekatiku. "Hikigaya-kun, sudah lama tidak bertemu!"

  "Ah, benar...Senpai juga dipanggil kesini?"

  "Yep, mungkin karena aku menerima rekomendasi universitas dari sekolah ini dan bisa berbagi pengalamanku."

  Ketika kita berdiskusi, Yuigahama bergabung dengan kami. "Apa maksudnya dengan rekomendasi sekolah?"

  "Rekomendasi sekolah adalah sistem dimana universitas memberikan kuota slot mahasiswa dan sekolah memberikan rekomendasi nama-nama siswanya yang berpotensi mengisi slot tersebut. Siswa yang menurut sekolah berkualifikasi untuk slot tersebut dinominasikan dan menerima rekomendasi. Sistem ini memiliki peluang tertinggi untuk diterima di universitas dibanding cara-cara lainnya."

  Karena suatu alasan, Yukinoshita tiba-tiba menjawab pertanyaan Yuigahama. Meguri-senpai yang mendengarkan penjelasan tersebut mengangguk setuju.

  "Yukinoshita-san memang luar biasa. Kamu memiliki wawasan yang luas! Ada beberapa universitas yang memberikan kuota mahasiswanya ke sekolah kita. Jadi jika kamu memiliki nilai yang sangat baik di sekolah, kamu berkemungkinan besar untuk bisa mendapatkan rekomendasi itu."

  "Fufun", Meguri-senpai yang sedang ceria memang sangat mengagumkan. Gahh, aku sudah menjadi fans setiamu...

  Meski begitu, mantan ketua OSIS ini bukanlah orang yang santai. Ketika ada pekerjaan yang harus diselesaikan, dia akan melakukan apapun untuk menyelesaikannya. Kalau tidak, dia tidak mungkin bisa mendapatkan rekomendasi itu. Meguri-senpai tampaknya melihat ke arah jam dinding. Sebentar lagi seminar nampaknya akan dimulai.

  Dia berjalan mendekati Isshiki yang masih bergurau dengan Haruno-san dan bertanya, "Ketua, kita harus berada dimana?"

  "Ahh, Shiromeguri-senpai, anda mengisi kelompok di pojok sana dan Haru-san senpai berada di grup sebelahnya..."

  Setelah Isshiki kembali ke dunia nyata, dia mulai memberikan instruksi. Ketika dia melakukannya, Yukinoshita melihat ke arah jam dinding lagi. Dia lalu memanggil Haruno-san.

  "Nee-san, ada waktu?"

  "Hmmm?"

  "Aku ingin menanyakanmu sesuatu. Hikigaya-kun, Yuigahama-san, ada waktu juga?" kata Yukinoshita, dan dia meminta kita bergabung dengannya di pojok ruang konferensi.

  Karena dia mengatakan ingin menanyakan sesuatu dan meminta kami berkumpul, aku sudah bisa menduga apa yang dia ingin lakukan. Dia mungkin ingin bertanya ke Haruno-san tentang jurusan Hayama. Satu hal terlintas di kepalaku, orang yang memiliki hubungan terlama dengan Hayama, baik di dalam dan diluar sekolah, pastilah Haruno-san. Apa yang di pikiran Yukinoshita sudah benar.

  Kami berkumpul di pojokan ruang konferensi dan Yukinoshita bertanya, "Apa kamu tahu sesuatu tentang jurusan Hayama kelak?"

  Haruno nampaknya sudah siap menerima pertanyaan itu, dia mengedip-ngedipkan matanya. Lalu dia dia tertawa kecil. "Jurusan Hayato kelak? Hanya itu?"

  Nadanya yang kurang simpati barusan memberi kesan kalau dia memang sedang menyiapkan sesuatu.

  Tidak membeli itu, Yukinoshita menambahkan, "Kamu tahu sesuatu?"

  "Entahlah? Aku tidak begitu tertarik, jadi aku tidak menanyakannya. Aku berani bertaruh dia sudah memilih jurusannya sekarang." Haruno-san menjawabnya ringkas. Lalu dia menatap langsung ke Yukinoshita dengan tersenyum. Matanya dipenuhi aura sadis dan kegelapan. "...Lagipula, Yukino-chan, kau harusnya sudah ada ide apa itu tanpa bertanya kepadaku."

  "Aku tidak akan bertanya kepadamu jika aku tahu, nee-san," kata Yukinoshita, membalasnya dengan tatapan dingin dan tajam.

  Nada provokatif barusan membuat Haruno-san sedikit meringis.

  Lalu dia tiba-tiba mengatakan sesuatu dengan maksud ambigu, "Pikirkanlah sendiri."

  "....."

  Cara dia mengatakan hal tersebut membuat Yukinoshita kehilangan kata-katanya. Yuigahama, membuka matanya lebar-lebar dan menatap Haruno-san. Bahkan diriku juga hampir melakukannya. Nada tersebut tidak terasa begitu menekan dan kejam, dan lebih tepatnya seperti mempengaruhi pikiran kita secara tidak langsung.

  Haruno-san lalu melanjutkannya dengan senyum yang tidak menyenangkan.

  "Aku berpikir ini bisa kau selesaikan sendiri, namun kamu masih saja mengandalkan orang lain seperti dulu. Maksudku, itu membuatmu sangat menggemaskan ketika muda dulu. Oh, aku tahu," kata Haruno-san. "Ada yang penting, Yukino-chan, apa jurusanmu kelak?"

  Ketika dia bertanya ke Yukinoshita, dia menanggapinya dengan ciri khasnya. Dia memutar rambutnya ke samping dari bahunya dan melihatnya dengan tatapan rendah. "Aku percaya kalau aku tidak berkewajiban untuk memberitahukanmu, nee-san."

  "Ibu juga memintaku bertanya kepadamu. Kecuali ada kesempatan bertemu kamu lagi, jadi kesempatan bertemu seperti ini sekalian kumanfaatkan. Yukino-chan tidak pernah mengatakan hal-hal penting selama ini. Onee-chan tidak tahu harus berbuat apa." Haruno-san menaruh tangannya di dagunya dengan senyum kecil. Dia sepertinya sedang bercanda, lalu sikap itu menghilang dan dia menatapku. "...Benar, Hikigaya-kun?"

  "Ah, tidak..." aku tiba-tiba menjawabnya dengan spontan.

  Mata Haruno-san seperti mengetahui semua tentangku dan menjadikanku tawanannya. Seketika, di sudut pandanganku, aku bisa melihat Yukinoshita menggigit bibirnya.

  "...Itu tidak ada hubungannya denganmu, nee-san."

  "Sangat dingiiiiiiin. Ah, aku tahu. Hikigaya-kun, kenapa kamu tidak bertanya ke onee-chan tentang sesuatu?" kata Haruno-san. "...Aku bisa memberitahumu semuanya, mau tidak?"

  Dia mencubit pipiku dan menatap tajam wajahku. Karena kita sangat dekat, kerahnya, ditutup oleh syal, dan tercium wangi parfum yang manis---terlalu dekat, dekat, dekat!

  "Tidak, sebenarnya, aku sudah memutuskan jurusanku kelak..."

  Aku mengambil jarak dan mundur beberapa langkah. Haruno-san nampak tidak senang. Lalu dia menunjukkan ekspresi bosan dan beralih ke Yuigahama.

  "Aww. Oke, berarti aku akan bermain dengan Gahama-chan sekarang."

  "Apa aku cuma figuran disini!?"

  Yuigahama meresponnya dengan agak keras karena sikap dari Haruno-san, dan Haruno-san tertawa.

  Setelah itu, Isshiki dan Meguri-senpai datang. Mereka mungkin datang untuk memanggil Haruno-san. Nampaknya Seminar konseling karir dan akademik akan dimulai.

  Seperti biasanya, banyak siswa yang datang di menit akhir dan konferensi akhirnya dibuka.

  Dalam keramaian itu, aku melihat Hayama dan lainnya. Dia nampaknya hanya sekedar menemani Tobe, ataupun Miura.

  Nampaknya, dia menyadari keberadaan kami disana. Meski kami berada di pojokan ruangan, Haruno-san, orang yang di luar sekolah, menarik perhatian ruangan tersebut dengan mudahnya.

  Di dekat pintu masuk ruangan, terpisah agak jauh dari kami, Hayama memanggilnya.

  "Haruno-san..."

  "Ah, itu Hayato." Haruno-san menyapanya dengan melambaikan tangan.

  Lalu, suasana ruangan nampaknya memperhatikan mereka berdua. Haruno-san memiringkan kepalanya untuk merespon mereka.

  "Apa cuma aku saja atau tatapan mereka terasa agak aneh?"

  "Ya, karena kamu terlihat luar biasa."

  Tidak perlu kukatakan, dari sudut pandang orang awam, kecantikan Haruno-san ketika berjalan di kota akan menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Di lingkungan sekolah ini, kecantikannya seperti menarik semua mata ke arahnya.

  Namun wajah Haruno sepertinya tidak setuju dengan pemikiranku.

  "Aku merasa tatapan mereka agak berbeda dari biasanya..." kata Haruno-san.

  "Ahh, pasti itu karena gosip itu." Isshiki tidak sengaja mengatakan hal itu.

  Meguri-senpai menambahkan. "Oh, gosip itu! Gosip yang sangat luar biasa, benar tidak? Aku suka gosip semacam itu."

  "Gosip? Tentang apa itu, Iroha-chan?"

  Haruno-san langsung menatap Isshiki dengan tajam.

  "Ah, ummm..." Isshiki kebingungan apakah benar memberitahunya, sambil menatap ketakutan ke arah Yukinoshita dan Hayama dari jauh, dan kehilangan kata-katanya.

  Tetapi Haruno-san menaruh tangannya di bahu Isshiki dan memaksanya untuk menjawab. "Ayo beritahu aku?"

  Jika sudah begitu, aku yakin dia tidak bisa menolak. Kata-katanya sudah mengandung beban yang berat untuk ditolak. Haruno-san tersenyum seperti biasanya dan menunggu jawaban Isshiki. Setelah beberapa saat, Isshiki berbisik ke Haruno-san.

  Haruno-san mengangguk dengan ekspresi yang agak membingungkan. Ahh, jika orang ini mengetahui gosip itu, aku sudah menebak akan menjadi seperti apa ini setelahnya...

  Tetapi sikap Haruno-san tidak seperti yang kuduga.

  "Oh, jadi begitu...Itu sudah sering mereka alami dari dulu," kata Haruno-san dengan dingin.

  Setelah berterima kasih ke Isshiki, dia membalikkan badannya seperti tidak tertarik lagi.

  "Meguri, ayo mulai."

  "Okaaay."

  Haruno-san menemani Meguri-senpai ke posisi yang ditentukan. Ketika meninggalkan kami, dia melambaikan tangannya kepada kami.

  "Oke, sampai jumpa lagi!"

  Kedua ekspresinya sangat ceria, namun disampingku, Isshiki tersenyum kecut. Lalu dia berbalik menatapku dan membuat suara aneh dengan hembusan napas yang panjang.

  "Ta-Tadi sangat menakutkan...Itu jelas kakak kandung Yukinoshita-senpai, tidak ada keraguan tentang itu!"

  "Jangankan kamu, orang lain juga tidak ada yang ragu kalau itu kakaknya."

  "Itu pernyataan yang kurang sopan seakan-akan aku dan dirinya terasa sama." Yukinoshita memandangku, menekan dahinya seperti sedang punya sakit kepala.

  Yuigahama lalu menepuk pundaknya. "Itu tidak apa-apa! Yukinon tidaklah menakutkan!"

  "Ya, tetapi entah mengapa kata-katamu barusan juga agak menghina diriku..."

  "Eh? Itu tidak benar! Yukinon, kamu itu...bagaimana ya...kamu itu sangat imut!" Yuigahama mengepalkan tangannya dan berusaha meyakinkannya.

  Yukinoshita membuat tatapan ragu-ragu dan memalingkan wajahnya. Meski begitu, kalian berdua terlihat sangat akrab sekali...

  Ngomong-ngomong, seminarnya akan dimulai. Sayangnya, kita hanya diminta untuk mengatur ruangannya saja. Sisanya bisa ditangani pengurus OSIS lainnya.

  "Baiklah, Isshiki, kita kembali dulu..."

  "Ya, terima kasih banyak!" Isshiki membungkuk untuk menyatakan terimakasihnya.

  Aku mengangguk balik dan memanggil Yukinoshita dan Yuigahama.

  "Baiklah, ayo kita kembali ke klub."

  "Kurasa begitu."

  "Uh huh, ayo."

  Aku berjalan bersama mereka berdua keluar dari ruang konferensi dan melewati Hayama dan lainnya yang berdiri di dekat pintu. Aku melihat ke arah Hayama dan dia nampaknya sedang terlihat mengobrol dengan yang lain.

  "Beeh, aku nanti mau konsultasi ke siapa?"

  "Antrianmu masih lama, pikirkan saja dulu."

  Hayama tersenyum kecil menanggapi Tobe dan diam-diam melihat ke arah Haruno-san.

  "Hey Hayato...Kamu kenal baik dengan orang itu?" Miura mengatakannya sambil melihat ke arah Haruno tanpa menoleh ke Hayama.

  Hayama menatap ke arahnya, lalu agak terkejut. Lalu dia tersenyum. "...Dia hanya teman semasa kecilku dulu."

  Dengan pembicaraan itu di belakangku, aku meninggalkan ruangan itu dan berjalan menuju ke klubku.






*    *    *






  Di atas meja klub, terdapat kalender kecil. Sebenarnya itu bukanlah sebuah kalender, lebih tepatnya sebuah album kecil tentang kucing, gambar kucing memenuhi seluruh halamannya.

  "...Aku tuangkan tehmu."

  "Hmm? Ahh, terima kasih." aku meminum tehnya sambil menatap kalender tersebut.

  Yuigahama menatap kalendernya. "Waktu yang tersisa sebelum deadline requestnya sudah mau habis, huh?"

  "Yeah. Tetapi aku sudah kehabisan petunjuk disini..."

  Sejauh ini, aku bertanya secara langsung ke beberapa orang, tetapi tidak ada satupun jawaban yang berhubungan dengan pilihan jurusan Hayama. Bisa jadi itu karena aku kurang mampu dalam bertanya ke orang-orang, namun bila aku bertanya ke guru dan sejenisnya, aku akan mendapat masalah jika ketahuan. Aku secara langsung sudah ditolak ketika bertanya kepadanya. Sangat tidak nyaman jika aku ketahuan sedang mencari tahu kenapa dia tidak ingin memberitahu semuanya tentang jurusannya. Aku sebenarnya tidak peduli apa yang dia pikirkan tentang diriku, tetapi aku ingin Miura terhindar dari posisi yang tidak nyaman.

  Sambil berpikir tentang beberapa hal dan berhitung tentang hari yang tersisa sebelum deadline, ada suara cangkir teh yang ditaruh di piring cawannya.

  Aku memalingkan kepalaku dan ekspresi Yukinoshita seperti hendak mengatakan sesuatu.

  "Hikigaya-kun...Aku pernah mengatakan padamu mengenai orang tua Hayama sebelumnya, benarkah?"

  "Yeah. Sesuatu tentang pengacara dan dokter."

  "...Huh! Benarkah?" Yuigahama terkejut mendengarnya, nampaknya ini adalah pertama kali baginya mendengar hal itu.

  "Kamu tidak pernah bertanya?" kataku.

  Yuigahama seperti agak kesal kepadaku. "Kamu tidak biasanya berbicara tentang hal-hal seperti itu...Maksudku, akupun saja tidak tahu apapun tentang orangtuamu, Hikki."

  "Mereka berdua hanyalah budak perusahaan."

  "Ah, sama disini. Ibuku hanya Ibu rumah tangga..."

  Oh yeah, aku sendiri merasakannya... Melihat bagaimana dia tidak bisa memasak dan kurangnya aura Ibu Rumah Tangga dari dirinya, aku bisa melihat dari dirinya kalau Ibunya seorang Ibu Rumah Tangga.

  Kepribadianmu terbentuk dari lingkungan dimana kamu dibesarkan. Dalam hal ini, aku tidak ingin menjadi budak dari perusahaan, dan kudapat itu dari melihat bagaimana kedua orang tuaku tumbuh. Namun sisi baiknya, keuangan keluarga kami tidak pernah bermasalah karena kita mendapatkan pemasukan ganda, jadi aku cukup senang akan hal itu. Aku bukannya mendukung tentang emansipasi wanita karena kedua orang tuaku bekerja. Di masa depan, ketika Komachi sudah bekerja, pemasukan ganda kami akan menjadi pemasukan triple dan keuangan keluarga kami akan super aman.

  Ketika aku memimpikan rencana keluarga indahku, Yuigahama melanjutkan pembicaraannya.

  "J-Jadi apakah Hayato-kun akan mengikuti pekerjaan keluarganya?" tanya Yuigahama.

  Yukinoshita menaruh tangannya di dagu dan memiringkan kepalanya.

  "Hmm entahlah...Ayah dari Hayama-kun menjalankan sebuah firma hukum sedangkan kakeknya sendiri adalah dokter keluarga, jadi keduanya bisa jadi juga pilihan..."

  "Jadi kita sendiri tidak bisa menyimpulkan apakah dia akan ke kelas sosial ataukah sains."

  Menjadi pengacara atau dokter, keduanya adalah pekerjaan populer. Jika kita bisa tahu satu jenis pekerjaan saja dan kita mencoba memilah-milah mata pelajaran yang berhubungan dengan pekerjaan itu, mungkin saja kita bisa mencari dasar jurusannya, namun jika kemungkinannya ada dua seperti di atas, kitapun tetap tidak memiliki petunjuk berarti.

  Yuigahama mendengarkan percakapan tadi dan mengangkat wajahnya. "Tetapi bukankah akan sangat luar biasa jika dia tidak memilih untuk mengikuti kedua pekerjaan itu?"

  "Itu benar. Dari sudut pandang masyarakat awam, aku percaya keluarga juga memiliki pengaruh." Yukinoshita mengangguk.

  Tentunya, jika kita membicarakan tentang pengacara dan dokter, keduanya memiliki image pekerjaan yang bergelimang uang. Aku memang menyadari hal itu mengenai keluarga Hayama, tetapi aku tidak membayangkan akan memikirkan hal itu lagi. Mengapa orang dari keluarga seperti itu memilih menjadi siswa sekolah ini? Dia bisa saja pergi ke sekolah swasta yang elit.

  Jika kupikir-pikir, bukankah Yukinoshita juga seperti itu. Aku melihat ke arah Yukinoshita.

  "Sebenarnya, apakah benar kalau kau mengatakannya seperti itu?"

  "Jika kalau mau dihitung-hitung, mereka seperti sebuah sumber penghasilan. Aku merasa tidak sopan kalau mengatakannya kalau bagi keluarga mereka, anggota keluarga adalah sebuah aset." Yukinoshita mengatakannya dengan tenang dan santai.

  Gadis yang sudah dewasa seharusnya tidak mengatakan kata-kata tentang uang dan aset. Di lain pihak, Yuigahama menatap ke langit-langit, memutar kepalanya dan seperti mengatakan sesuatu.

  "Uang...kartu kredit?"

  Oh, jadi kamu tahu tentang kartu kredit? Baguslah, Yuigahama. Lain kali akan kuberi tahu tentang kartu debit.

  Mengesampingkan pemikiran Yuigahama, mari kita berpikir tentang pilihan karir Hayama.

  Pertama, tanpa ragu kunyatakan kalau dia berencana melanjutkan kuliah. Hayama adalah siswa teladan dengan nilai nyaris sempurna dan berada di ranking kedua di nilai terbaik sekolah kita. Jika dia tidak berniat untuk melanjutkan pendidikannya, mungkin akan terjadi banyak pembicaraan di ruang guru, tetapi jika menurut info dari Hiratsuka-sensei, itu tidak akan terjadi.

  Sejauh ini, masih sesuai rencana.

  Tetapi pilihan jurusan kuliahnya bukanlah hal yang ingin kuketahui. Paling bagus, adalah kelas yang akan dia pilih di kelas tiga nanti.

  "...Aku tidak ada petunjuk," aku mengeluh.

  Bersikap sama denganku, Yuigahama juga mengatakan hal itu.

  "Mungkin kelas sosial? Kulihat banyak orang-orang ingin pergi kesana."

  "Yeah. Itu sangat mudah untuk membayangkannya."

  Dalam kenyataan, orang-orang yang melihat Hayama Hayato mungkin akan berpikir demikian. Dia adalah orang yang tidak ingin hal-hal menjadi sulit, berkumpul dengan semuanya, bahkan memperlakukan orang seperti Zaimokuza dan diriku yang berada di kasta terendah sekolah dengan baik.

  Untuk sekarang ini, semua perbedaan dari info-info yang kudapat bermunculan. Aku tidak ada ide bagaimana aku seharusnya menarik kesimpulan dari itu.

  Ketika aku berpikir dan terdiam, Yukinoshita juga meniru hal yang sama denganku dan terdiam. Lalu dia melihatku seperti hendak mengatakan sesuatu. Aku meresponnya dengan mataku dan dia mulai berbicara perlahan-lahan.

  "Kupikir...dia mungkin akan memilih sains..."

  "Kenapa begitu?" tanya Yuigahama.

  Yukinoshita melihat kebawah dengan tatapan aneh. "Aku tidak bisa mengatakan kalau itu adalah alasan keluarga, tetapi kadang itu juga terpikirkan olehku, jadi..."

  "...Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk mengatakannya kalau kamu tidak ingin."

  Suara Yukinoshita bercampur dengan ragu dan keanehan sehingga aku langsung memotongnya. Meski begitu, dia tampak ragu-ragu hendak mengatakan lanjutannya atau tidak.

  "Tidak masalah...ini tidak seperti kau akan kehilangan sesuatu jika kau mengetahuinya, bukan?"

  Aku yakin yang akan dia katakan selanjutnya adalah hal yang tidak seharusnya orang lain ketahui, meski begitu aku tidak yakin kalau akupun punya hak untuk mengatakan hal tadi. Yuigahama dan diriku membetulkan posisi duduk kami dan menghadap ke Yukinoshita. Lalu dia perlahan-lahan berbicara.

  "Kalian pernah mengira kalau Hayama-kun memiliki hubungan dengan keluargaku, bukan? Ketika kita kecil, kami bertiga bersama nee-san sering bersama-sama. Karena nee-san orangnya seperti itu, kita biasanya menuruti apapun yang dia katakan..." kata Yukinoshita. "Secara sederhana, aku percaya kalau dia tumbuh dengan pengaruh nee-san yang kuat."

  Setelah dia mengatakannya, dia menghembuskan napas kecilnya.

  Apa yang dia katakan barusan tidak jauh berbeda dengan apa yang kudengar ketika liburan musim dingin kemarin. Tetapi aku sekarang mendengarkan secara langsung dari salah seorang dari ketiganya secara personal, aku seperti terjebak dalam sebuah realitas.

  Hayama Hayato di masa ini. Dan Hayama Hayato di masa lalu sudah kudengar dari orang yang berbeda. Yang kuperlukan adalah berpikir tentang Hayama Hayato di masa depan. Hal-hal diluar itu, aku taruh di pinggir dulu.

  "Um, Haruno-san dulunya memilih kelas sains bukan? Jadi mungkin saja dia memilih sains. Bisa saja dia mengikuti pilihannya ketika muda dulu." kata Yuigahama.

  "Ya...tetapi aku tidak bisa memastikannya."

  Jawaban dari Yukinoshita agak tidak jelas. Yuigahama dan diriku melihat ke Yukinoshita dan melanjutkan kata-katanya, "Memang agak kontradiksi, tetapi" dia berkata, "Jika dia berencana untuk melanjutkan hubungan baik antar keluarga di masa depan, maka aku percaya kalau dia akan memilih untuk melanjutkan usaha keluarganya di firma hukum."

  "Apa kamu mau bilang dia mungkin saja akan memilih kelas sosial?" kataku.

  Yukinoshita menjawab. "Ya meski itu bukannya satu-satunya pilihan untuk melanjutkan relasi antar keluarga, jadi..."

  Benar juga.

  Tidak hanya pengacara, tetapi bisnis lainnya juga bisa digunakan untuk menjaga relasi antar keluarga. Bisa juga bukan dari segi bisnis. Misalnya, pernikahan, meskipun jika melihat situasi sekarang, pernyataan barusan agak kurang tepat dilihat dari realita yang terjadi diantara mereka, ya opsi itu tetaplah opsi meski peluangnya sangat kecil.

  Ketika aku memikirkannya, Yukinoshita menambahkan. "Tentu saja, aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh keluarga Hayama. Aku juga kurang yakin kalau keluarganya akan mempengaruhi pilihan jurusannya. Tetapi aku tidak pernah melihatnya melawan orang tuanya."

  "Ahh, benar juga. Hayato-kun nampaknya sering mengerjakan urusan bisnis keluarganya, bukan?"

  Yukinoshita mengangguk ke kesimpulan Yuigahama. Setelah mendengarkan ceritanya, aku bisa mengambil beberapa kesimpulan tentang situasi keluarganya. Meski begitu, kita masih saja kekurangan solusi.

  Aku memikirkannya sambil menggaruk kepalaku dan menghembuskan napas kecil.

  "Aku ragu kita bisa bertanya ke orang tua Hayama. Tidak banyak yang bisa kita lakukan jika kita berencana masuk ke teritori keluarga."

  "Kurasa demikian..." Ekspresi Yukinoshita tampak gelap. "Meski begitu, Ibuku berharap keluarganya dapat terus melanjutkan hubungan ini ke depannya."

  Aku langsung memandangnya dengan tajam.

  "Baiklah. Untuk sekarang...Aku akan memikirkannya perlahan-pelahan." kataku, dan menghentikan pembicaraan.

  Sejujurnya, aku menginginkan waktu senggang untuk mengumpulkan informasi yang kudapat. Dalam hal ini, pilihan terbaik adalah mengambil kesimpulan dari semua kepingan informasi yang kudapat. Mari kita berpikir tentang jurusan Hayama untuk sekarang.

  Lagipula.

  Jika aku tidak sengaja menghentikan pembicaraannya, aku merasa kalau sesuatu yang buruk akan terjadi disini.

  Aku menghembuskan napas yang panjang untuk mengindikasikan pembicaraan berakhir, Yukinoshita dan Yuigahama tampak meringankan posisi duduknya. Semua orang meminum tehnya dan kesunyian yang damai tercipta. Teh yang hangat mengalir ke tenggorokanku terasa nyaman bagiku.

  Suara cangkir teh yang ditaruh memecahkan kesunyian dan  Yukinoshita perlahan-lahan membuka mulutnya.

  "Um..."

  "Hmm?"

  "Aku meminta maaf karena tempo hari Ibuku seperti hendak mengusir kalian...Jika saja aku bisa mengatakan sesuatu untuk membuat situasinya terlihat membaik bagi kalian ketika disana."

  Ketika selesai, dia menatap permukaan cangkir tehnya. Yuigahama secara lembut menyentuh bahu Yukinoshita.

  "Tidak apa-apa. Lagipula, kita tidak bisa melangkah masuk ke urusan internal keluarga. Benar, Hikki?"

  "Benar. Itu adalah sesuatu yang tidak perlu dipaksakan untuk dilangkahi bagi orang luar."

  "...Terima kasih."

  Yukinoshita tersenyum, dan merasa aneh dengan situasinya, lalu dia agak membungkukkan kepalanya ke Yuigahama dan diriku.

  Semua hal tentang dirinya, menurutku sangat cantik. Punggungnya yang lurus, tangannya yang menyatu di pangkuannya, jari kecil dan luwes miliknya, lalu bulu mata panjangnya yang berbaris di kelopak matanya yang tertutup.

  Ketika aku menatap dirinya, Yukinoshita mengangkat wajahnya dan kedua mata kami bertemu. Lalu kami berdua secara spontan memalingkan wajah masing-masing.

  "Ku-Kurasa aktivitas klub kita cukup untuk hari ini? Aku akan membersihkan tehnya."

  Melihat situasi yang cukup aneh diantara kita berdua, Yukinoshita berdiri dan terburu-buru membersihkan tehnya. Dia menaruh poci teh di nampan, dan nampaknya akan hendak membersihkannya.

  "A-Aku juga membantunya membersihkan!"

  "Tidak apa-apa, tunggulah sebentar disana."

  Yukinoshita menolak tawaran Yuigahama ketika dia hendak berdiri, lalu Yukinoshita membawa keluar peralatan tehnya untuk dicuci diluar ruangan. Yuigahama dan diriku ditinggal di ruangan klub dan kita saling menatap. Yuigahama tersenyum dan tertawa.

  "Hey, Yukinon mulai membicarakan dirinya sedikit demi sedikit. Sebelumnya, dia tidak pernah membicarakan tentang keluarganya sendiri?"

  "Itu...yeah, kupikir begitu."

  Mungkin, itulah cara dirinya untuk lebih dekat dengan kami. Meski, caranya agak aneh dan keluar dari track. Meski dia berusaha menampilkan dirinya sebaik-baiknya, aku merasa ada dirinya yang masih terlihat kasar.

  Tidak, aku tidak berada di posisi yang tepat untuk mengatakan orang lain.

  Suatu hari, aku akan bertanya kepadanya. Untuk saat ini, aku tidak ada ide tentang hal-hal yang kupikir boleh kutanyakan, namun suatu hari nanti, aku akan melakukannya.






*    *    *






  Aku berpisah dari Yukinoshita dan Yuigahama di pintu masuk sekolah dan berjalan menuju parkir sepeda.

  Matahari tampak sedang tenggelam dan dingin mulai merasukiku, angin musim dingin bertiup dari arah gedung sekolah menerpaku. Klub lainnya tampak sudah selesai melakukan aktivitasnya, jadi halaman sekolah tampak sangat sunyi.

  Aku berjalan di halaman sekolah, dan aku mendengar suara memanggil "Heey". Aku membalikkan badanku, namun tidak ada orang disana.

  "Lihat kesini, di atas!"

  Sesuai instruksi, aku melihat ke arah atas. Aku melihat ke ruang pengurus OSIS, ada jendela terbuka dan Yukinoshita Haruno melambaikan tangannya.

  "Hey, tunggu aku ya," dia mengatakannya singkat, lalu menghilang.

  "Apa yang dia lakukan?"

  Sekali lagi, Serius ini, berapa banyak sih waktu luang yang dia punya? Lalu, seseorang berdiri di jendela tersebut. Kulihat lebih dekat, itu adalah Isshiki Iroha. Dia menundukkan kepalanya, melambaikan tangannya dan mengucapkan selamat tinggal dengan tersenyum, lalu menutup tirai jendelanya. Ada apa dengannya...?


  Ketika melihat ke jendela di ruang OSIS dan membayangkan apa maksudnya, lalu terdengar suara langkah kaki mendekatiku. Aku membalikkan badan ke arah langkah kaki tersebut dan Haruno-san tampak berlari ke arahku.



  "Phew, aku tadi keasyikan mengobrol dengan Shizuka-chan dan Iroha-chan sehingga lupa waktu."

  Karena terburu-buru menyusulku, nampaknya Haruno-san sedang terengah-engah. Lalu dia melihat  ke sekitarku.

  "Dimana Yukino-chan? Kalian tidak pulang bersama?"

  "Dia bilang, dia harus mengejar kereta."

  "...Apa? Jadi aku menunggu daritadi hanya membuang-buang waktu."

  Ehh, katanya tadi asyik mengobrol? Orang ini ternyata sedang menunggu untuk menyergap seseorang, sungguh menakutkan...Nampaknya setelah seminar tadi, Haruno-san menghangatkan dirinya dengan pemanas di ruang OSIS sambil mengamati halaman sekolah. Aku yakin Isshiki mau mengobrol dengannya dan menghabiskan waktu. Ini bukan salahku, dan kenapa aku malah terkesan menyesal sekarang...

  Menemaniku berjalan, Haruno-san yang berada di sebelahku menepuk pundakku. "Baiklah, Hikigaya-kun saja sudah cukup. Temani aku ke stasiun, ya."

  "Huh?"

  Haruno-san nampak tidak puas dengan responku dan menaruh tangannya di lengannya dan merasa kurang puas. "Apa itu tadi? Apa kamu akan membiarkan seorang gadis pulang selarut ini? Menemaninya adalah tindakan gentleman loh!"

  Bukannya kamu sendiri yang sengaja mengobrol sampai pulang larut... Aku hampir mengatakannya, tetapi aku menelannya saja sendiri. Atau lebih tepatnya, aku menelan napasku.

  Haruno-san memegang lenganku dan membisiki telingaku seperti sedang membicarakan hal yang rahasia, "Kan jarang-jarang kamu bisa pulang bersama kakak cantik sepertiku!"

  Bzzt, perasaan dingin yang bukan berasal dari angin musim dingin membuat bulu kudukku berdiri. Aku agak menjauh darinya karena panik dan Haruno-san tertawa...Dia sepertinya hendak mempermainkanku. Tidak seperti Isshiki dan Komachi, sikap miliknya sudah berada di level Raja Iblis. Dan seperti yang kau tahu, kau tidak akan bisa lolos dari Raja Iblis.

  Aku menunjuk tempat parkir sepeda dengan pipiku.

  "Ya sudah tidak apa-apa...Aku ambil sepeda dulu ya?"

  "Oke, ayo kita berjalan bersama." Haruno-san menjawabnya dan mulai berjalan di sampingku.

  Di waktu seperti ini, jalan menuju stasiun sudah gelap, dan kami akan melewati taman dan sesudah itu akan melewati jalan dengan gang-gang kecil yang sudah mulai gelap.

  Aku sendiri adalah pria yang hidup di komunitas sosial Jepang yang menghormati senioritas dan menempatkan wanita di atas pria. Seperti, aku sangat lemah terhadap wanita yang lebih tua. Akupun juga sangat lemah terhadap wanita yang lebih muda, termasuk adikku. Meski begitu, aku juga tidak bisa bersikap kuat di depan para pria, jadi aku sendiri termasuk paling lemah diantara seluruh umat manusia.

  Kami meninggalkan tempat parkir sepeda dan keluar lewat gerbang samping. Sambil menuntun sepeda, Haruno-san dan diriku berjalan melewati malamnya kota Chiba.

  Sebenarnya stasiunnya tidak begitu jauh. Perumahan yang berada di dekat taman masih terlihat berbalut dekorasi, sepertinya itu dekorasi Natal, dan lampu-lampu penerangan jalan mulai menyala.

  Meski Haruno-san yang mengajakku jalan dengannya, dia cukup pendiam selama di jalan. Tentu saja, aku tidak mengatakan apapun sehingga hanya suara mobil yang berlalu lalang, suara kecil yang terdengar dari rumah, hembusan angin musim dingin, dan langkah kaki kami yang terdengar dari telingaku.

  Tidak lama kemudian, Haruno-san berkata.

  "Hikigaya-kun, apa jurusanmu nanti?"

  "Kelas sosial."

  "Oh oke. Kau memang suka membaca buku. Jadi itu pilihan dari anak yang suka membaca ini."

  "Ahh, aku tidak terlalu ..."

  Memang benar kalau waktu aku bertemu Haruno-san di kafe, aku sedang membaca buku. Tetapi aku sengaja membaca buku untuk menghindari suasana aneh...Hanya buku waktu itu yang memisahkan antara aku dan gerbang kematian. Karena alasan jelek tersebut, aku mengalihkan pandanganku dari Haruno-san.

  Tetapi setelah Haruno-san mengambil langkah agak di depanku, dia berada di depanku dan mengintip ke wajahku.

  "Buku macam apa yang kau baca?"

  "...Biasanya buku apa saja. Tapi aku tidak membaca buku terbitan luar negeri."

  "Mmmm. Bagaimana kalau buku tentang Akutagawa atau Daizai?"

  "Aku pernah membacanya sebagian...tetapi aku lebih suka membaca buku literatur."

  Jujur saja, aku sebenarnya cukup menikmati literatur jika aku memang berniat membacanya, tetapi nantinya pasti ada komentar "Wow, itu bacaan yang cukup berat! Memang bacaan itu terkenal bukan isapan jempol belaka! Ini pasti mahakarya, jadi kuberi bintang lima!" Dari itu, pekerjaan di dunia hiburan seperti penulis novel menerima banyak sekali komentar seperti itu, tetapi mereka tetap menikmatinya meskipun kurang menyenangkan, jadi light novel adalah yang terbaik! Apa-apaan caraku tadi?

  Seperti dugaanku, Haruno-san yang berjalan di sebelahku mengangguk setuju. Lalu dia berkata.

  "Oke, berarti kuliah jurusan jurnalis mungkin kurang cocok untukmu. Kupikir jurusan-jurusan sosial atau sejenis itu akan terdengar menyenangkan untukmu," kata Haruno-san.

  Ketika dia memberitahuku itu, mulutku diam tidak bergerak. Di beberapa hal, nampaknya barusan terlihat aku sedang melakukan konseling jurusan kepadanya. Aku tidak puas dengan hal itu karena aku tidak dalam mood, tetapi aku berterima kasih atas sarannya dan menunjukkan terima kasihku.

  "...Terima kasih."

  "Sama-sama." Haruno-san tersenyum dan berpura-pura batuk kecil. "Jadi, kamu dengar sesuatu dari Yukino-chan tentang jurusan kuliah yang dia inginkan, atau info-info seputar itu?"

  Sial, jadi ini sebenarnya tujuannya dari tadi! Aku mengucapkan terima kasih dengan sia-sia.

  "Tidak, aku tidak mendengar apapun tentang pilihan jurusannya."

  "...Memang, dia tidak akan memberitahukannya sendiri. Hikigaya-kun, pastikan untuk bertanya kepadanya, oke?"

  Dia menepuk punggungku. Um, bahkan jika kau memintakupun... Tetapi aku sendiri tidak berani untuk menanyakannya ke Yukinoshita. Aku sendiri ragu apakah Yukinoshita akan menjawabnya. Aku tidak bisa bertanya ke seseorang yang dia sendiri tidak ingin memberitahukan jawabannya.

  "Tolong pastikan untuk bertanya tentang itu kalau bertemu dengannya, ya." kata Haruno-san. Lalu dia berkata "Ah" seperti mengingat sesuatu. "Ngomong-ngomong, kamu sudah tanya ke Hayato langsung?"

  "Oh itu. Aku memang bertanya kepadanya, tetapi dia tidak memberitahuku apapun."

  "Ohh. Jadi Hayato tidak memberitahumu ya?"

  Haruno-san memalingkan wajahnya dariku dan menatap ke depan dan stasiun sudah mulai tampak di depan kami. Tetapi dia nampaknya tidak melihat ke orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar stasiun. Pandangannya, mata yang  terlihat cantik sedang tidak melihat ke arah apapun.

  "Begitukah. Jadi Hayato juga mengharapkan sesuatu juga."

  "Mengharapkan apa?"

  Kata-katanya barusan seperti tidak membahas diriku, tetapi aku secara spontan meresponnya. Lalu, Haruno-san melihat ke arahku dan tersenyum lebar.

  "Seseorang yang ingin menemukannya, kurasa begitu."

  Setelah mengatakannya, dia mempercepat langkahnya dan berdiri di depanku. Dia membetulkan lipatan jas merahnya dan berbalik kepadaku.

  "Kurasa cukup disini. Kita sudah di depan stasiun. Terima kasih sudah menemaniku jalan."

  "Baiklah, sampai jumpa lagi..."

  Ketika aku hendak menganggukkan kepalaku, Haruno-san menunjukkan jari telunjuknya tepat di depan wajahku dan melanjutkan kata-katanya dengan suara yang manis.

  "Jangan lupa bertanya ke Yukino-chan tentang jurusannya. Aku akan menanyakan hasilnya nanti kepadamu."

  "Kamu menyebutnya memeriksa hasilnya seakan-akan aku akan melakukannya...?" kataku.

  Haruno-san mencubit pipiku dan tersenyum. "Jangan membahas yang detail-detail. Sampai jumpa!"

  Dia melambaikan tangannya dan berjalan meninggalkanku. Aku melihatnya meninggalkanku sambil menggosok pipiku yang dicubitnya tadi. Dia terus berjalan tanpa melihat lagi ke arahku, dan akhirnya sosoknya mulai menghilang di kerumunan orang.

  Meski begitu, Yukinoshita Haruno masih bisa terlihat dengan jelas.




   







x Chapter VI | END x







  

  Well, kebetulan atau tidak, Hiratsuka Shizuka juga dulunya bukan berasal dari jurusan pendidikan.

  ...

  Patut dicurigai mengapa Ebina merasa Hachiman tahu banyak soal grup mereka. Artinya, Ebina sendiri tahu kalau Hachiman sering curi pandang ke grupnya. Dengan kata lain, ini sama saja mengatakan kalau Ebina sering mencuri pandang ke arah Hachiman.

  ...

  Ebina yang sebenarnya adalah Ebina yang di lorong dan bertemu Hachiman, persis seperti Ebina di atap stasiun Kyoto vol 7 chapter 9. Gadis yang dingin dan serius.

  ...

  Patut dicurigai ada sesuatu antara Iroha dengan Haruno. Menghabiskan waktu bersama sepulang sekolah dengan mengobrol di ruang OSIS.

  Juga, di vol 11 chapter 4 Iroha mengundang Haruno sebagai guru kursus memasak. Artinya, hubungan Iroha dan Haruno memang dekat. Karena menghubungi Haruno seperti itu, artinya Iroha harus bertemu langsung atau menelponnya.

  ...

  Entah Watari yang iseng atau bagaimana, Hachiman melakukan blunder kedua. Pertama di vol 6 chapter 9, mengatakan 'menyukai' Saki. Dan di chapter ini, Hachiman bertanya jurusan Saki kelak, ini sama saja dengan mengatakan tertarik dengan masa depan Saki. Terang saja Saki malu-malu menjawabnya.

  Uniknya, jurusan Saki sama dengan Hachiman, Liberal Art.

  Saki adalah gadis pertama yang bertanya tentang jurusan Hachiman. Sebenarnya jika Hachiman tidak 'bodoh', ini sama saja mengatakan kalau Saki juga tertarik dengan masa depan Hachiman.

  Alasan Saki tentang mengajak bermain Keika jelas dibuat-buat, tentunya untuk menyiapkan alasan logis ketika di masa depan Saki bertemu lagi dengan Hachiman. Mereka berdua bisa menjadikan Keika sebagai bahan obrolan atau alasan untuk mengajak Hachiman mampir. Bisa juga dijadikan alasan Saki untuk mampir, dengan membawa Keika.

  ...

  Hachiman adalah penggemar setia Meguri-senpai. Sejak volume 6 chapter 2.

  ...

  Yukino memanggil Yui dan Hachiman ketika hendak bertanya jurusan Hayama kepada Haruno. Ini jelas taktik yang mudah terbaca oleh Haruno. Jelas terlihat kalau masalah jurusan Hayama adalah pekerjaan Klub Relawan, bukan keinginan Yukino.

  Oleh karena itu, Haruno mencoba menyeret Hachiman ketika bertanya balik jurusan Yukino, menegaskan kalau itu urusan pribadi.

  ...

  Haruno memberikan kode berbahaya dengan menjawab "entahlah, aku tidak tertarik, jadi aku tidak menanyakannya", tentang jurusan Hayama.

  Ini sama saja mengatakan kalau orang yang bertanya jurusan seseorang, artinya tertarik dengan orang itu.

  ...

  Hachiman berbohong ketika menjawab pertanyaan Yui, kalau itu adalah momen pertama Yukino mau bercerita tentang dirinya.

  Banyak sekali momen di masa lampau dimana Yukino menceritakan dirinya sendiri kepada Hachiman.

  Hachiman tidak perlu berbohong soal itu, harusnya jujur saja kalau itu bukan kejadian pertama Yukino seperti itu. Tapi Hachiman memilih untuk berbohong.

  Mengapa harus berbohong? Karena Hachiman tidak ingin menyakiti Yui.

  Mari kita pikir secara logis. Apa yang ada dalam pikiran Yui jika Hachiman memberitahu Yui kalau Yukino sering menceritakan tentang dirinya ketika mereka sedang berduaan?

  Apakah Hachiman punya perasaan terhadap Yui? Itu sudah dibantah di volume 3 chapter 6, jawabannya tidak. Satu-satunya alasan logis Hachiman bersikap seperti itu karena Hachiman tahu Yui menyukainya. Hachiman pernah memberitahu kalau perasaan Yui itu tidak asli, karena dia penolong anjingnya. Tapi Yui mengungkit hal yang sama, ketika hendak menembak Hachiman di vol 5 chapter 6. Hachiman merasa sia-sia untuk menjelaskan lagi soal itu, dan memilih untuk menggantung Yui.

  Ini juga didukung vol 3 chapter 3 dimana Hachiman merasa bersalah setelah mengetahui kalau hubungan Yui-Yukino hancur hanya karena Hachiman mencoba menjelaskan kalau dirinya tidak bisa menerima cinta Yui. Ini juga dikuatkan monolog vol 11 chapter 3 yang mengatakan kalau hubungan Yui dan Yukino sebenarnya basa-basi dan akan hancur jika kebenaran request kue Yui di vol 1 terbongkar.

  Kita semua tahu, ada satu misteri tersisa di request kue Yui, yaitu siapa pria yang disukai Yui dan akan menerima kue tersebut.

  ...

  Hachiman mencoba mengingkari tentang fakta kalau pernikahan bisa menjadi salah satu solusi untuk menjaga relasi antar keluarga. Hachiman menyukai Yukino?

  ...

  Monolog Hachiman tentang Yukino adalah gadis yang cantik baginya, ketika Yukino meminta maaf soal Ibunya. Merupakan pembenaran saran Hiratsuka-sensei di vol 1 chapter 2 mengenai Yukino. Terlepas sikap Yukino yang seperti itu, Yukino tetaplah gadis yang cantik.

  ...

  Adegan awkward setelah monolog Hachiman tentang Yukino yang cantik, lalu mereka berdua memalingkan pandangannya. Jelas ada sesuatu yang memalukan (atau romantis) pernah terjadi diantara mereka berdua. Well, semua pembaca tahu itu, vol 9 chapter 8, Yukino memegang tangan Hachiman. Lalu vol 10 chapter 1, Yukino berpegangan kepada Hachiman selama di kereta.

  ...

  Haruno jelas berbohong mengatakan menunggu Yukino untuk pulang bersama dan tidak tahu Yukino pulang lebih dulu. Haruno punya nomor HP Yukino. Satu-satunya alasan logis Haruno ada disana adalah dia sengaja menunggu Hachiman.

  Untuk apa? Untuk meminta bantuannya soal jurusan Yukino.

  ...

  Haruno sendiri yang bercerita kalau Yukino tidak mau memberitahu jurusannya kepada Ibunya.

  Pertanyaannya: Mengapa Yukino merahasiakan jurusannya ke Ibunya?

  Kita semua tahu, vol 5 chapter 6, Ibu Yukino adalah pemilik kuasa tertinggi di keluarga. Bahkan tempat kuliah Haruno adalah pilihan Ibunya. Jika Yukino menolak memberitahu Ibunya, artinya Yukino tidak ingin Ibunya tahu tentang jurusannya. Tapi, kita semua tahu kalau cepat atau lambat Yukino harus memberitahu jurusannya kepada orangtuanya, minimal Ayahnya.

  Satu-satunya alasan Yukino tidak bisa memberitahu jurusannya, karena Yukino perlu memastikan sesuatu dengan jurusannya itu. Dimana, konfirmasi itu butuh pihak lain untuk memastikannya.

  Well, kita tidak perlu berputar-putar. Di vol 10 chapter 7, Yukino mengajak Hachiman untuk kuliah di tempat yang sama, dan jurusan yang sama. Hachiman menyepakati itu. Disini kita mendapatkan alasan mengapa Yukino tidak mau memberitahu jurusannya. Karena Yukino ingin memastikan kalau Hachiman akan tetap bersamanya setelah lulus SMA.

  Yukino butuh waktu untuk berembuk dengan Hachiman dahulu tentang masa depannya sebelum memberikan jawaban ke Ibunya.

  ...

  Menarik, Hachiman berjanji kepada dirinya sendiri untuk bertanya kepada Yukino tentang keluarga dan masa lalunya.

  Hachiman menyukai...ehemm.

  ...

  Haruno sudah memberi warning kepada Hachiman kalau Hayama dan Yukino tidak memberitahu jurusannya karena menunggu orang yang tepat untuk bertanya.

  Jika Haruno meminta tolong Hachiman untuk melakukannya, ini artinya Haruno yakin kalau satu-satunya alasan Yukino merahasiakan jurusannya karena Yukino menunggu Hachiman, dan hendak berdiskusi soal komitmen mereka berdua setelah lulus SMA.

  ...

  Sekali lagi, Hachiman menegaskan kalau dia tidak akan menuruti permintaan Haruno untuk bertanya jurusan Yukino.
  

  

3 komentar:

  1. Min..mau nanya nih..umm

    Pertama kali hachiman ketemu sama adik nya perempuan nya kawasaki itu di chap.berapa ya?

    BalasHapus
  2. Sebenarnya... momen Saki dan Hachiman itu manis banget 😂
    Eh gua ngebayangin kalau salah satu dari gadis2 yg suka pada Hachiman bertamu ke rumah keluarga Hikigaya ketika ibu dan ayahnya Hachiman sedang berada di rumah 😂
    Kaget bingit pasti "anakku yang punya mata busuk ini bisa dekat dengan gadis secantik ini?"

    BalasHapus